The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 58. Kembali Ke Mansion



Kepulangan Edmund disambut dengan meriah oleh penghuni mansion, pesta kecil-kecilan diadakan, beberapa makanan kesukaan Edmund disiapkan. Semua orang larut dalam suka cita, membuat perasaan Edmund membaik dan merasa diterima kembali.


Beberapa koper telah dipindahkan, Edmund berbaur dengan penghuni mansion lainnya, berbagi kebahagiaan dengan mereka. Kini Edmund telah mengetahui semua rahasia di dalam mansion ini, termasuk para paman yang sejatinya adalah tukang pukul terlatih yang sudah bertahun-tahun membantu Arshaka Dean.


Edmund berkeliling, mencari makanan kesukaannya, hatinya dipenuhi taman bunga, dengan perasaan itu, Edmund berharap Arshaka Dean yang jauh di dalam tubuhnya, bisa ikut merasakan kehangatan sore ini. Banyak hal yang masih menjadi tanda tanya di benak Edmund, tapi itu ia ke sampingkan terlebih dahulu, ia ingin menikmati kebersamaan ini terlebih dahulu.


“Bibi, terima kasih sudah menyiapkan ini untukku,” ucap Edmund pada Bibi yang menuangkan minuman soda di gelas Edmund.


“Tidak, jangan seperti itu, aku yang harusnya berterima kasih padamu. Terima kasih sudah kembali lagi ke sini, Edmund, kami sungguh menantikanmu selalu,” kata Bibi itu.


Edmund tersenyum, ternyata tidak ada yang berubah. Jika dibandingkan Edmund, para bibi dan lainnya, justru sudah lebih lama mengetahui rahasia mansion ini, jadi tidak mungkin ada yang berubah ketika Edmund datang.


“Aku mau bertanya, ini sangat mengganggu pikiranku,” ucap Edmund.


“Silakan, Edmund,” jawab Bibi.


“Wajah kami sama, ah, Bibi pasti tau apa yang sedang aku bicarakan.” Bibi itu mengangguk dan tersenyum. “Bagaimana kalian bisa tau jika aku ini bukan Arshaka Dean?” tanya Edmund.


“Kalian memang menempati raga yang sama, tapi kalian berbeda, kepribadian kalian sangat bertolak belakang, bahkan sebagian dari kami, lebih menyukaimu dari pada tuan Ars. Ah, Edmund, aku harap kau tidak keberatan dengan ini, maafkan kami,” jawab Bibi.


“Itu bukan masalah besar, Bibi,” kata Edmund.


“Kau istimewa, Edmund, kepribadianmu yang lembut membuat kami terpesona, tuan Ars selalu terlihat tegas dan murung, sulit bagi kami untuk mendekatinya, tetapi denganmu, kami selalu ingin terus melihatmu.” Bibi menghela napas, ia sedikit berpikir untuk melanjutkan kisahnya.


“Mungkin ini tidak baik, tapi melihat versi tuan Ars darimu memberi kami kepercayaan, bahwa mungkin lain kali, kami pun dapat melihat tuan Ars ceria kembali, tapi jika pun tidak, itu semua tidak menjadi soal, kami akan terus menjaga kalian, menjaga mansion ini. Kami bisa bertarung, Edmund, jangan anggap kami lemah, tuan Ars tidak akan memasukkan orang sembarangan ke tempatnya,” jelas Bibi.


“Kalian bisa bertarung?” Edmund terkejut dengan informasi yang baru ia dengar ini, Bibi itu hanya tertawa menanggapi respons Edmund, mengundang para bibi yang lain, sehingga di bagian kursi Edmund terjadi kerumunan kecil.


Para bibi saling bertukar pikiran dan cerita, tiba-tiba ruangan menjadi ramai dengan canda tawa, sesekali para tukang pukul menimpali celotehan para bibi, membuat seisi ruangan dipenuhi gelak tawa.


Kini Edmund percaya, bahwa dirinya seratus persen diterima oleh orang lain, mereka tidak pernah mengintimidasi Edmund, tidak pernah pula memberikan tekanan padanya. Memang, selalu ada hikmah dari setiap kejadian buruk yang menimpa kita, semuanya berjalan dengan penuh keajaiban.


Menjelang senja, Edmund dengan gelas di tangannya berjalan-jalan menyusuri halaman belakang, ada yang harus ia lihat, demi membuktikan sesuatu. Ia harus melihat penangkaran kupu-kupu, jika teorinya benar, dia tidak akan bertemu dengan kupu-kupu jenis tertentu karena sudah mati.


Edmund tiba di depan pintu penangkaran kupu-kupu, warnanya masih sama, tapi kali ini jauh lebih indah dari sebelumnya, ditambah nyala lampu yang memantulkan cahaya indah dari ukiran di dalamnya, membuat penangkaran kupu-kupu semakin penuh warna.


Edmund masuk, dilihatnya ratusan kupu-kupu beterbangan di depannya, bunga-bunga bermekaran, harum semerbak tercium olehnya.


“Teori pertama terpecahkan,” katanya, sembari meletakkan gelas yang ia bawa.


Edmund berdiri di tengah, melihat ke atas, dan merentangkan kedua tangannya ke samping. Edmund menutup mata, menghirup udara dengan rakus, seakan-akan tidak akan merasakannya lagi. Satu kupu-kupu hinggap di ujung jarinya, dapat ia rasakan sangat jelas, lalu beberapa kupu-kupu lain pun ikut mendaratkan diri di ujung-ujung jari yang lainnya.


Edmund rasakan semuanya, terasa nyaman, ia melupakan sejenak tentang takdirnya. Penangkaran ini adalah hadiah untuk kakaknya, Arshaka Dean, ukiran nama yang tersemat di atasnya pun, ia pesan khusus untuk menyadarkan Arshaka Dean.


Volar maravillosamente yang berarti terbang dengan indah itu, memiliki makna yang sangat dalam. Edmund ingin Arshaka Dean menerbangkan semua keraguannya pada dunia, agar Arshaka Dean segera mengingat masa lalunya, dan ia bisa memaafkan dirinya sendiri.


“Kakak, aku selalu merasa kau adalah kakak kandungku, aku tidak tau, aku juga ingin segera mengetahuinya. Apakah kita bisa bertemu satu sama lain, Kakak, beritahu aku yang sebenarnya terjadi, mimpi-mimpi itu terlalu samar,” ucap Edmund.


Edmund membuka mata, kupu-kupu yang hinggap di tangannya melarikan diri, merasa terancam dengan pergerakan Edmund. Edmund lalu berjalan lagi, ada teori lain yang ingin ia buktikan.


Edmund melihat ke bawah, mencari sesuatu, dan begitu menemukannya hatinya terasa panas. Ia buru-buru mendekat pada objek yang dari tadi ia cari, membawanya dan menatapnya lamat-lamat. Seekor kupu-kupu yang sudah lama ingin ia lihat, ternyata telah mati, dan hampir mengering, sekarang bukan hanya panas, tapi ada rasa marah yang kembali terasa di hatinya.


“Ternyata semua ini benar,” gumamnya. “Hidupku, bukan hanya milikku seorang.”


Berdiri di sana membuatnya kembali berkelana, penangkaran kupu-kupu ini seakan menjadi saksi, jika dirinya berbagi kehidupan dengan orang lain. Tapi tetap saja, ia merasa pernah hidup di alam ini, pernah bercengkerama langsung dengan Arshaka Dean.


Keinginannya bertemu dengan Arshaka Dean semakin menjadi, ia berharap, meskipun satu kali saja, ia sangat ingin bertemu dengan Arshaka Dean, dalam wujud asli, bukan dalam mimpinya.


“Astaga, kenapa air mataku keluar,” ujarnya, kemudian mengusap air matanya.


Bukti dari teorinya sudah didapat, ia keluar dari sana, tak lupa membawa gelas yang tadi ia letakkan. Edmund tidak menoleh lagi, ia kemudian meraba bekas operasinya, terasa nyeri, tapi ia terus melanjutkan langkahnya.


Ia tidak kembali ke dalam mansion melewati jalan yang tadi, melainkan melewati jalan lain yang langsung menuju ke ruang baca. Ada yang harus ia lihat dan baca, kepalanya sedang kacau, ia butuh soal yang rumit untuk ia kerjakan.


Ketika pikirannya tengah kacau, Edmund biasanya mencari buku tebak untuk ia baca, tapi saat ini sepertinya terlalu rumit, ia memilih untuk mengerjakan soal-soal sulit, demi menetralkan pikirannya kembali. Kita tidak akan bisa mengikuti Edmund, ingatlah, Edmund sangat jenius, tentu caranya menyelesaikan masalah, sangat berbeda dengan kita.


Ia perlahan membuka pintu ruang baca, bau khas buku tercium, langsung menenangkan pikirannya. Ia masuk, tak lupa menyalakan lampu, ruangan pun menjadi terang, semuanya terlihat dengan jelas.


Edmund terus masuk, mencari buku fisika terapan yang biasanya ia gunakan. Tangannya menyapu bagian samping buku yang tertata rapi, dilihatnya satu-satu, tangannya berhenti di salah satu buku yang menarik perhatian Edmund. Ia tarik buku itu dan membukanya, halaman pertama kosong, tak ada satu goresan apa pun, ia melanjutkan membuka halaman berikutnya, masih juga bersih, hingga ia tak sengaja meraba sebuah foto.


Foto itu terlihat usang, ada dua sosok yang ada di foto itu, salah satunya seperti familiar di mata Edmund, untuk yang satunya lagi, Edmund menyipitkan mata.


“Apa ini?”