The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 50. Bencana Besar



Berita dibatalkannya misi sudah sampai di telinga seluruh penghuni mansion, saat itu juga, kepanikan tidak terelakkan. Para bibi langsung berkumpul, terkejut, apalagi mengingat Arshaka Dean berpamitan dahulu sebelum pergi, itu sungguh di luar kebiasaan tuannya. Firasat-firasat buruk coba mereka abaikan, meskipun terus memberi rasa sesak di dada karena khawatir.


Kecemasan di mana-mana, dada mereka berdegup kencang, harap-harap cemas menunggu kabar selanjutnya. Kabar tertembaknya Arshaka Dean, membuat semua orang terpukul, air mata tidak mampu lagi mereka tahan, suasana mansion menjadi sendu. Panik, cemas dan khawatir menjadi satu, beberapa orang terlihat mondar-mandir demi menstabilkan perasaan mereka kembali.


Ini sungguh kabar yang paling mengejutkan. Sebuah kekalahan tidak akan membuat mereka bereaksi seperti ini, tapi ketika mendengar Arshaka Dean tertembak, itu lain cerita. Arshaka Dean sangat membenci senjata itu, ia selalu berusaha untuk menjaga peraturan itu, dan tentu saja tidak pernah ada seorang musuh pun yang melanggar peraturan Arshaka Dean. Entah kenapa, hari ini begitu berat, tidak sangka Arshaka Dean bisa kecolongan dengan benda yang sangat ia benci itu.


Gelisah hati Rumi terjawab sudah, ia sedari tadi tidak enak hati, apa pun yang ia lakukan pasti selalu teringat dengan Arshaka Dean. Rumi cemas, juga khawatir, meskipun sebelum pergi Arshaka Dean sudah memeluk dan memberi ketenangan, tapi tetap saja debar di hati Rumi tak kunjung membaik. Dengan mendengar kabar Arshaka Dean tertembak, membuat Rumi lemas tak percaya.


“Chadla!” panggil Rumi berteriak ketika mendengar laporan dari salah satu tukang pukul yang berada di mansion.


“Ada apa ini?” tanya Agatha yang baru turun dari kamarnya.


“Agatha.” Rumi memeluk Agatha, seketika menangis, tak kuasa menahan emosi yang menyesakkan dadanya.


“Kau kenapa, Rumi? Apa yang terjadi?” tanya Agatha, melihat orang-orang di sekelilingnya menangis dan menunduk, mendekap dada mereka masing-masing.


“Tuan Ars, Nona ….”


“Kakak, kenapa?” tanya Agatha sudah mulai tak enak perasaan.


“Tuan, Ars … tertembak …,” lapor salah satu Bibi.


“Apa?!” Agatha terkejut, ini belum pernah terjadi, Arshaka Dean tidak pernah memakai senjata dalam setiap misinya. Kenapa Arshaka Dean bisa tertembak?


Rumi semakin meraung, ia tidak sanggup membayangkan keadaan Arshaka Dean yang sudah pasti berlumuran darah dan tak berdaya. Agatha membalas pelukan Rumi, mencoba untuk menenangkannya, meskipun dirinya pun berdebar tak karuan.


“Rumi, kita harus bergegas, cari tau informasi, kita tidak boleh seperti ini. Kakak, pasti akan sedih jika kau seperti ini,” hibur Agatha, mengelus punggung Rumi.


“Chadla?” panggil Agatha begitu melihat Chadla turun terburu-buru, bahkan Chadla tak sempat mengenakan kacamatanya.


“Bagaimana keadaannya? Apa kabar ini benar? Siapa yang menghubungi ke sini?” cecar Chadla, panik.


Arshaka Dean mempunyai trauma, ia takut pemicu yang lainnya bangun, jika seperti itu kondisi Arshaka Dean akan sulit ditangani. Chadla sebenarnya tidak tau pasti, jika senjata menjadi trauma Arshaka Dean, ia hanya mengira-ngira dari perilaku yang ditunjukkan Arshaka Dean. Jika benar salah satu trauma Arshaka Dean adalah senjata, keadaannya akan fatal. Chadla tidak ada di samping Arshaka Dean saat ini, membuatnya khawatir bukan main.


“Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat, dan sekarang masih di perjalanan,” jelas tukang pukul yang melaporkan pertama kali.


“Apa keadaannya parah?” tanya Chadla.


“Aku belum dapat laporan lainnya, aku sedang menunggu kabar lebih jelasnya dari mereka,” jawabnya.


“Bisakah, kau hubungkan aku dengan Albert, atau siapa pun yang berada dekat dengan Ars, sekarang juga?” Chadla perlu memastikan.


“Akan aku coba,” jawabnya.


Tukang pukul itu sibuk menghubungi Albert dan Watson. Lama tidak ada balasan dari mereka, membuat suasana semakin mencekam juga panik. Rumi sudah ditenangkan oleh Chadla, sudah bisa mengontrol emosinya. Agatha terlihat menggigit kuku-kuku jarinya, takut, ia takut kehilangan Arshaka Dean. Agatha baru saja bisa dekat dengan Arshaka Dean, ia tidak ingin melihat kepergian lagi.


“Sudah tersambung!” pekiknya.


Semua orang mengerubungi Chadla yang mengambil alih ponsel. Sambungannya belum stabil, suaranya terputus-putus, Chadla sabar menunggu, ia harus tau situasi terkini dari Arshaka Dean.


“Halo ….” Seseorang menyapa dari seberang telepon, dari suaranya Chadla bisa pastikan jika itu Albert.


“Albert? Kaukah itu?” tanya Chadla, suara dari ponsel sengaja Chadla keraskan, agar semua orang bisa mendengar.


“Ini aku, Chadla!” seru Albert.


“Albert, bagaimana situasi di sana?” tanya Chadla.


Arshaka Dean di mobil sana mendengar suara lirih Rumi, sungguh hatinya rasanya sakit, lebih sakit dari tembakan tadi. Mungkin, ini rasanya, ketika kita sudah menaruh perhatian lebih pada seseorang yang istimewa. Arshaka Dean merasa menyesal telah membuat Rumi menangis, ia sedikit menegakkan posisi duduknya, sembari memegang perut yang terkena tembakan.


“Aku baik-baik saja, Rumi,” ucap Arshaka Dean.


Begitu Arshaka Dean terdengar suaranya, semua penghuni mansion, mengucap syukur, tuannya masih ada bersama mereka.


“Ars … astaga! Kau baik-baik saja? Kenapa bisa ada tembakan di sana?” tanya Rumi.


“Ini bukan apa-apa, Rumi,” jawab Arshaka Dean.


“Albert, kau mendengarku?” tanya Chadla.


“Iya, aku mendengarmu!” seru Albert.


“Albert, bisa kau ceritakan keadaan Ars padaku?” tanya Chadla.


Albert ceritakan kronologisnya penembakan secara singkat, ia juga katakan pada Chadla jika Arshaka Dean tertembak di perut bagian bawahnya dan peluru masih bersarang di sana. Albert sebisa mungkin melaporkan keadaan Arshaka Dean secara detail, meskipun ia juga kesusahan menyesuaikan laju mobil dengan keseimbangan tubuhnya, ditambah Albert harus memastikan bebat di perut Arshaka Dean tidak longgar. Chadla dan semua orang yang tengah berkumpul di mansion, mendengarkan dengan fokus, tidak ada yang menyela Albert.


“Yang lain bagaimana keadaannya, Albert?” tanya Chadla.


“Kami semua baik-baik saja, Chadla, semua aman,” jawab riuh dari ujung telepon.


“Kami pastikan tidak ada yang terluka serius, Chadla,” tambah Albert.


“Baiklah, terus informasikan pada kami Albert, kau juga harus jaga diri, Albert, obati semua luka kalian,” ujar Chadla.


“Siap, Chadla,” jawab mereka serempak.


“Berhati-hatilah, aku akan segera menyusul kalian,” pungkas Chadla.


“Pasti, Chadla, jangan khawatir,” balas Albert.


Sambungan telepon berakhir, semua orang bisa bernapas lagi dengan normal. Mereka belum sepenuhnya tenang, tapi setidaknya sudah ada informasi yang valid dari Arshaka Dean langsung. Chadla langsung bergegas untuk menyusul rombongan Arshaka Dean ke rumah sakit yang disebutkan oleh Albert tadi.


“Apa aku boleh ikut denganmu?” Rumi memegang tangan Chadla, Rumi ingin melihat sendiri bagaimana keadaan Arshaka Dean. Tapi Chadla menggelengkan kepalanya. “Kau tunggulah di sini, Rumi, akan aku pastikan Ars pulang dengan selamat,” kata Chadla, mengelus tangan Rumi, meminta pengertian. Rumi menunduk sedih, ia tidak bisa memaksa, ia pasrah, dan menyerahkan semuanya pada Chadla.


Rombongan Arshaka Dean yang masih di perjalanan, meskipun mobil mereka melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, tapi karena jarak rumah sakit jauh, perjalanan terasa sangat lambat. Albert tengah fokus memegang bebat di perut Arshaka Dean, darah masih keluar, tapi kemudian semua orang tiba-tiba panik, melihat Arshaka Dean menutup mata.


“Ars!” seru mereka.


“Astaga! Bantu aku memegang perutnya!” seru Albert.


Albert menepuk-nepuk wajah Arshaka Dean, tidak ada respons, Albert semakin panik. Rumah sakit masih jauh, Albert berusaha untuk membuat Arshaka Dean tersadar kembali. Bahaya, jika Arshaka Dean sampai tak sadarkan diri, bukan tidak mungkin nyawanya akan menghilang, apalagi darah terus keluar meskipun sudah dibebat oleh Albert.


“Ars! Bangunlah, kau tidak boleh tertidur, Ars! Kumohon ….”


Arshaka Dean akhirnya membuka matanya, meringis kesakitan, ia terlihat bingung dengan semuanya. Matanya melihat sekitar, lalu meringis lagi, memegang bagian sakit di tubuhnya. Semuanya terasa sakit dan tidak enak, ia melirik Albert, heran, ia seperti baru kali ini melihat Albert. Albert menggelengkan kepala, harap-harap cemas.


“Paman ….” Panggilan ini tidak mungkin, Albert benar-benar paham dengan suara ini, tapi tidak mungkin, ini pasti hanya mimpi, Albert tidak ingin mempercayai kejadian hari ini.


“Edmund!” seru semua orang. Tukang pukul yang ada bersamanya pun ikut terkejut dan bertambah panik.


“Aku kenapa, Paman?” tanya Edmund, menahan sakit, matanya menutup.


Ini benar-benar bencana, Edmund muncul!