
“Ambulance datang!” teriak Albert.
“Bawa dia, cepat!” teriak Chadla.
“Bawa dia ke rumah sakit tempat Edmund dirawat, di sana lebih aman. Rumi dan Agatha kau ikut, laporkan perkembangannya padaku, aku akan tetap di sini,” jelas Albert.
Albert langsung mengambil alih, api masih terus membara dan semakin membesar. Untunglah lima mobil pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi, petugas langsung bergegas menjinakkan si jago merah.
“Albert?”
Albert langsung memeluk Agatha, bergetar tubuh Agatha, ia menangis, terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Agatha pikir setelah Arshaka Dean berhasil menaklukkan ayahnya, semuanya akan kembali normal dan tidak akan ada pertarungan lagi. Tapi, ternyata tidak, masih ada orang-orang yang mendukung Victor, dan membalaskan dendam seperti ini dan kali ini terlewat berani dan nekat.
Kejadian kali ini benar-benar tidak diantisipasi oleh Arshaka Dean dan pasukannya, karena mereka anggap tidak akan ada lagi yang berani pada Arshaka Dean. Semua penghuni mansion akan mulai merenungkan diri, atas kejadian ini, menjadikan pelajaran untuk ke depannya. Kali ini mereka harus siap kehilangan mansion, kehilangan tempat terindah yang sudah menampung mereka puluhan tahun.
“Albert, aku takut,” ucap Agatha.
“Aku akan segera menyusulmu, kuatkan hatimu, Agatha,” ujar Albert memberi dukungan. “Pergilah, pastikan Ars selamat, aku akan berdoa dari sini,” lanjut Albert.
“Agatha, kau sudah siap? Kami akan segera pergi!” teriak Rumi, yang sedari tadi menemani Arshaka Dean di dalam ambulance.
Agatha segera berlari, menoleh sebentar melihat mansion yang sedang berusaha dipadamkan. Air matanya menetes kembali, mansion indah itu tidak akan ada lagi, hancur hatinya, padahal Victor sudah tidak berdaya, tetapi kenapa dia tetap saja mengganggu kehidupan mereka.
Rumi yang sedang memegang tangan Arshaka Dean menoleh, menatap Agatha yang masih menangis. Oh, sungguh, Rumi sakit sekali melihat Agatha yang selalu terlihat kuat, menangis tersedu seperti itu. “Dia pasti bertahan, Ars sangat kuat, aku minta maaf, untuk semuanya,” ucap Rumi, dengan perasaan bersalah.
“Kau tidak sengaja melakukannya, kau tidak salah, Rumi, tapi kumohon tetaplah berada di pihak Kakak, apa pun yang terjadi,” pinta Agatha. Agatha sudah mengetahui, identitas Rumi yang sebenarnya, ia berkata seperti itu, takut-takut, jika Rumi mengkhianati Arshaka Dean, meskipun itu tidak mungkin terjadi.
“Tidak akan, hidupku adalah dia, Agatha. Aku bahkan lebih memilih ikut bersamanya ke sini, dan meninggalkan Ibu, aku tidak bisa jauh dari dia, Agatha, aku tidak bisa.” Pertahanan Rumi runtuh sudah, Rumi menangis, air matanya berderai deras, dadanya sesak, melebihi kesesakan ketika di dalam mansion yang terbakar tadi. Rumi dekatkan tangan Arshaka Dean ke wajahnya, mengecupnya beberapa kali, untuk menyalurkan rasa sakitnya.
\*\*\*
“Amankan area! Pasien segera masuk! Semua bersiap!” teriak tim medis.
Mobil ambulance yang membawa Arshaka Dean, yang masih tidak sadarkan diri sudah tiba. Tim medis sudah bersiap di depan rumah sakit, mobil ambulance terbuka, Arshaka Dean dikeluarkan dan langsung ditangani dengan cepat oleh tim medis. Rumi dan Agatha turun, mengikuti tim medis yang membawa Arshaka Dean dengan berlarian.
“Ars!” teriak Rumi, merangsek masuk ke dalam ruang perawatan.
“Mohon tunggu di luar, Nona, kami akan berusaha semaksimal mungkin,” tim medis menahan Rumi yang hendak masuk ke ruang perawatan, Rumi tidak berdaya, tubuhnya lemah dan seluruh tubuhnya terasa sakit.
“Rumi, kita harus menunggu,” ajak Agatha, membawa Rumi duduk di kursi yang sudah disediakan.
Rumi duduk, ia terlihat menyatukan tangannya, menutup mata dengan khidmat, berharap dan berdoa yang terbaik untuk orang terkasihnya itu. Sedangkan, Agatha yang berada di sampingnya, tak henti mengusap-usap lengan Rumi. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
Arshaka Dean sedang ditangani, terlihat tim medis bergerak cepat, memeriksa tekanan darah, denyut jantung, dan suhu tubuh Arshaka Dean. “Ganti dengan masker oksigen, dan bersihkan saluran pernapasannya,” perintah dokter, semua tim medis langsung bergerak, tanpa diperintah dua kali.
“Iya lakukan itu, bawa pasien ke ruang CT-scan, laporkan padaku hasilnya,” jawab ketua dokter di rumah sakit itu.
“Baik.” Perawat membawa Arshaka Dean ke ruang CT-scan untuk memeriksa apakah di paru-parunya ada kerusakan akibat terlalu banyak menghirup asap atau tidak.
Dengan kecepatan dan ketepatan tim medis yang menanggulangi Arshaka Dean, semua bisa berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Arshaka Dean sedang berada di ruang CT-scan, tapi masih tidak sadarkan diri.
Rumi yang melihat semua orang bergerak cepat, semakin gelisah hatinya, ia takut, takut Arshaka Dean tidak bisa bersama dengannya lagi, takut Arshaka Dean tidak pernah bangun lagi. Rumi terus memohon, meminta pada sang Pemilik Semesta agar Arshaka Dean bisa kembali lagi padanya, kembali mewarna hidupnya lagi dan membelainya seperti terakhir kali bertemu.
Lama berselang, dokter datang menghampiri kedua wanita yang sedang menunduk pilu ini. “Nona?” panggil dokter, tak kuasa melihat keduanya tertunduk lesu.
Rumi dan Agatha serentak berdiri, panik. “Ada apa, Dok? Bagaimana dengan kakakku? Apa dia baik-baik saja?” tanya Agatha memberondong.
“Nona, kami sudah berusaha, kami sudah melakukan sesuai prosedur, tapi ….”
Perkataan dokter yang menggantung membuat mereka lemas, sudah putus harapan, bahkan Rumi sudah menjatuhkan diri, tak sanggup lagi dirinya menopang tubuh lemahnya itu. Dokter sigap menangkap tubuh Rumi, meskipun tidak membawa pengaruh apa pun pada Rumi.
“Tuan Ars, masih belum sadarkan diri, Nona, paru-parunya sudah dibersihkan, dan kami pastikan tidak ada kerusakan, tapi, Tuan Ars tidak merespons kami,” jelas dokter itu.
Rumi menengadahkan wajahnya, sedikit lega mendengar penuturan dokter itu, meskipun sesak di dadanya masih terus menyiksanya. “Apa dia akan terbangun lagi, Dok? Dia pasti bangun lagi, Bukan? Dok, tolong jelaskan lebih rinci kepadaku,” ucap Rumi lirih, menyayat hati.
“Tuan Ars, pasti kembali, Nona, mungkin tiga atau empat hari ke depan, Tuan Ars sudah siuman, sekarang Tuan Ars kami observasi terlebih dahulu,” jelas Dokter.
“Dok, bisakah kami menjenguk kakakku?” tanya Agatha.
“Kalian dapat melihatnya, tunggulah dalam 24 jam ke depan,” jawab Dokter.
“Tolong satukan ruangan Ars dengan Edmund, Dok, mereka pasti ingin bersama, hanya itu yang dapat menyelamatkan keduanya,” ucap Rumi.
Dokter itu terlihat berpikir, dan sepertinya tidak keberatan, setelah mempertimbangkan, akhirnya Dokter yang menangani Dean bersaudara itu, menganggukkan kepala, tanda menyetujui permintaan Rumi.
Dokter itu kembali lagi ke ruangan awal, dan memerintah pada tim medis untuk memindahkan Arshaka Dean ke ruangan yang ditempati Edmund.
“Ars, pasti kembali, bukan? Dia tidak akan seperti Edmund, bukan?” tanya Rumi, serak, karena terlalu lama menangis.
Agatha yang mendengarnya pun, tidak kuasa menjawab pertanyaan Rumi. Agatha pun mempunyai kekhawatiran yang sama, dengan riwayat kesehatan Arshaka Dean yang hampir tidak pernah baik-baik saja, jujur saja Agatha takut. Takut, jika kakaknya terbangun dengan jiwa orang lain, ia takut, karena bukan tidak mungkin kepribadian lainnya muncul.
Kisah Arshaka Dean selalu berjalan ajaib, tapi, apakah kali ini keajaiban itu berpihak padanya sekali lagi? Bentuk keajaiban yang diharapkan semua orang, keajaiban yang tentunya dapat membawa kebahagiaan bagi semua orang, dapatkah itu terjadi?
Kita tidak pernah menduganya, karena tetap, semua keajaiban atas kehendak semesta, maka marilah berdoa sekali lagi pada Pemilik Semesta, agar keajaiban dapat dirasakan oleh Arshaka Dean, dan kisah ini dapat berakhir dengan indah, tidak mengawang-awang lagi seperti saat ini.