
“Kau marah padaku?” tanya Arshaka Dean kepada Rumi.
“Kau mengajakku ke taman hanya untuk bertanya seperti itu? Menyebalkan,” jawab Rumi, kesal.
Setelah berbincang sedikit keras dengan Edmund dan Agatha, Arshaka Dean mengajak Rumi ke taman rumah sakit. Rumi tidak banyak berkata, dia ikut saja ketika Arshaka Dean menggandeng tangannya.
Rumi tidak menggubris wajah cemberut Arshaka Dean, dia tinggalkan saja Arshaka Dean, dan duduk di salah satu kursi taman yang biasa dipakai perawat dan dokter untuk sekadar istirahat makan ataupun berbincang.
Arshaka Dean langsung berlari, menghampiri Rumi. “Astaga, jangan seperti itu. Aku salah, tolong maafkan,” rengeknya. “Tersenyumlah, aku suka ketika kau tersenyum, kau sangat cantik.” Sempat-sempatnya Arshaka Dean menggoda Rumi. “Apa ketika kau bekerja, kau juga menunjukkan wajah cantikmu itu pada penjahat? Ah, aku tidak rela, aku kesal sekali membayangkannya,” gerutu Arshaka Dean, meminta perhatian.
Hey, kenapa perkataan seperti itu membuat wajah Rumi langsung memerah? Rumi pasti sudah terhipnotis. “Kau selalu menggodaku, kau jahat. Kau penjahatnya di sini, tapi kenapa aku cinta mati padamu? Aku tidak paham dengan hatiku ini,” decak Rumi.
“Hey, kau tidak perlu melakukan itu, aku sudah jatuh cinta padamu, aku menyayangimu, jadi tetaplah bersamaku,” rengek Arshaka Dean. “Rumi hanya untuk Arshaka Dean, titik! Tidak boleh ada yang menyentuhnya, hanya aku saja,” ucap Arshaka Dean, ketika bersama Rumi, Arshaka Dean akan berubah 180°, tapi itu yang membuat Rumi semakin ingin bersandar padanya.
“Sudah cukup, Ars. Kau hampir membunuhku,” protes Rumi, tapi kemudian, Rumi tiba-tiba menatap Arshaka Dean dengan serius. “Ars, apa kau bahagia?” tanya Rumi.
Arshaka Dean tidak terkejut dengan pertanyaan itu, ia merangkul Rumi. “Jika kau bertanya tentang perasaanku, aku sungguh bahagia, Rumi,” ucap Arshaka Dean, menggantung.
Oh, Arshaka Dean berkata seperti itu, tapi kenapa hati Rumi terasa sakit, ini pasti ada yang salah. Rumi memeluk Arshaka Dean dari samping, ia tau, Arshaka Dean membutuhkan ini untuk menenangkan dirinya.
“Aku selama ini berlari untuk mengejar hal yang itu-itu saja, tapi ketika berhadapan dengan kenyataan, aku selalu takut, apalagi ketika aku berkunjung melihat Edmund yang masih terbaring waktu itu.” Arshaka Dean kembali menggali kepingan bayangan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam itu.
Rumi paham, ini pasti sangat berat untuk Arshaka Dean, tiba-tiba ia menyesal bertanya seperti itu.
“Aku pikir, aku sudah baik-baik saja ketika Edmund bangun dari tidur panjangnya, tapi ternyata tidak, melihat Edmund berjuang dari bawah lagi, membuatku terpukul, aku sempat berpikir, kenapa tidak aku saja yang mengalami hal berat seperti itu, kenapa harus dia, tapi sungguh, aku bahagia sekarang,” ungkap Arshaka Dean.
Rumi menegakkan tubuhnya, Arshaka Dean ternyata masih dirundung gelisah, ini saatnya Rumi yang menenangkan, mencoba menjadi kekasih yang berguna. “Ars, percayalah, Edmund orang yang cerdas.” Rumi mengawali.
Itu benar, Edmund terbangun dengan keadaan yang baik, otot dan otaknya berkembang dengan pesat. Dokter dan perawat sempat tak percaya dengan kenyataan itu, hingga terciptalah berbagai macam jurnal dari penelitian yang objeknya hanya Edmund seorang.
“Dia bisa paham apa yang ada di pikiranmu, dan apa yang sedang kau rasakan. Ars, kau harus tau, kau juga melewati banyak penderitaan, jika kau terus menekan dirimu sendiri, Edmund pasti tidak suka. Jadi, menurutku, kau sebaiknya fokus pada hidupmu mulai sekarang, biarkan Edmund merasakan kehidupannya juga, aku paham kau mengkhawatirkannya, tapi aku pikir, Edmund pasti bisa melewati semua ini.”
Arshaka Dean terlihat merenung, Rumi masih tetap mendekapnya, ini saat yang tepat untuk Arshaka Dean berpikir dan mencoba untuk melihat ke depan.
Arshaka Dean seakan dicambuk hatinya, perkataan Rumi begitu menusuk dan tepat sasaran. “Kau benar, terima kasih,” ucap Arshaka Dean. “Kau tau Rumi, ketika kepalaku dipenuhi pemikiran buruk, ada wajah senyummu yang selalu meneduhkanku lagi, dan aku selalu tersadar kembali, kau sangat kubutuhkan Rumi, kau menjadi pembersih dari setiap perputaran hidupku yang banyak masalah ini, dan itu cukup, aku cukup denganmu saja, semuanya akan kembali normal,” aku Arshaka Dean.
“Kau ternyata orang seperti ini, aku mulai takut, bukankah kau terlalu menempel padaku? Kau terlalu bergantung padaku, bagaimana ini, aku tidak bisa berlari lagi darimu? Kau melakukan apa padaku, hingga aku tergila-gila seperti ini padamu? Kau harus tanggung jawab atas semua ini, Tuan Ars.” Rumi menangkup wajah Arshaka Dean, memandangnya, dan mengecup ujung bibirnya sekilas.
“Kau …,” lirih Arshaka Dean, dan menarik tengkuk Rumi, menyatukan kedua kepala mereka, kemudian Arshaka Dean melihat wajah tersenyum Rumi, sekali lagi, wajah itu memberi ketenangan padanya. Arshaka Dean tidak salah memilih, dia tidak akan melepaskan Rumi lagi.
Tidak menunggu lama lagi, Arshaka Dean pertemukan ranumnya kembali dengan ranum Rumi, menyapukan ranumnya lembut, memberikan segala afeksi, menyalurkan segala resah, dan menyapa setiap kelembutan di dalam sana. Arshaka Dean bergerak dengan lembut dan halus, tidak terburu-buru, tidak ada gairah, dia benar-benar menyerap energi Rumi agar dirinya kembali hidup.
Arshaka Dean terus menyesap dengan begitu pelan, agar Rumi juga merasakan bagaimana perasaan membuncah dirinya itu. Air mata Arshaka Dean menetes, hatinya bahagia, cintanya tersampaikan dengan baik, dan hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya, meskipun banyak yang harus dikorbankan, tapi tak mengapa, Arshaka Dean dapatkan hasil yang lebih baik, dia bahagia.
“Aku mencintaimu Rumi,” ucapnya di depan ranum Rumi yang bergetar.
“Aku juga, aku juga mencintaimu,” jawab Rumi, tegas.
Keduanya kembali menyatukan diri, indah, semuanya indah, taman itu seketika dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan cantik, memberikan musim semi pada mereka berdua. Perut Rumi serasa diaduk dengan rasa hangat nan menggelitik dari pertemuan mereka, hati Rumi dipenuhi kupu-kupu, seakan beterbangan di dalam sana dengan bebas.
Arshaka Dean melepaskan tautan, kali ini bukan untuk menghirup oksigen, tapi ada satu hal yang tertinggal. “Rumi, menikahlah denganku,” ucapnya, tegas.
Setelah pengorbanan yang terlalu menguras kehidupan itu, Arshaka Dean akhirnya mengeratkan diri untuk bisa membahagiakan orang lain. Dirinya sudah menerima cinta yang begitu setia dari Rumi, dia tidak mungkin membuang kesempatan, dirinya butuh Rumi, dan ingin membahagiakan Rumi, dan dengan kata-kata sederhana itu, lebih kurangnya adalah sebuah lamaran.
Rumi terharu, ini kisah paling rumit yang pernah Rumi alami, kisah penuh tantangan dan air mata, kisah yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melewatinya dan Rumi berhasil melewati itu semua.
Rumi menatap mata yang selalu dipenuhi keraguan dan kemarahan itu, merabanya dengan lembut, menyapa sekali lagi dia yang selalu menjadi mimpinya. Tidak menyangka, dari yang tadinya tidak mengerti apa-apa tentang cinta, Arshaka Dean mampu berkata seperti itu, Arshaka Dean ingin berkomitmen.
Perasaan Rumi penuh, ia bahagia, melebihi rasa bahagianya ketika Arshaka Dean tersadar dari tidurnya, melebihi awal pertemuan mereka, melebihi segala jenis bahagia yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan penuh keyakinan Rumi menganggukkan kepala. “Aku mau, aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Ars, aku bersedia, aku bersedia menikah denganmu,” sambut Rumi.
Arshaka Dean menghambur tubuh Rumi, memeluknya erat, sempurna, semuanya terasa sempurna. Perasaannya sungguh murni, cintanya tak akan terhenti, dan hidupnya sudah pasti bersama Rumi sampai mati.
Kisah mereka mungkin, bukan kisah cinta paling mempesona, bukan kisah cinta yang ditulis dengan sempurna oleh seorang pujangga, tapi kisah mereka akan selalu terjaga, akan selalu menyembuhkan setiap dahaga, akan selalu ia ingat sampai di surga. Sampai nanti keduanya sudah kehabisan tenaga, akan terus bersama membangun sebuah benteng kehidupan yang bernama keluarga, hingga salah satunya siap mengucapkan dua kata, yaitu sampai jumpa.