
Edmund terkesiap dengan foto yang ia temukan, meskipun familiar dengan orang-orang yang ada di foto itu, ia tetap tidak mau mengasumsikan sendiri. Di foto itu, dua anak kecil saling merangkul, tengah tersenyum, mengenakan pakaian yang serasi. Edmund kemudian membalikkan foto itu, ada tulisan tangan di sana, bertuliskan kata “maaf” berulang kali.
Tiba-tiba saja tangan Edmund gemetar, hatinya terasa hampa, tulisan itu seakan mengatakan penyesalan yang sangat mendalam dan membekas. Edmund buru-buru keluar, tidak bisa, ia tidak bisa seperti itu, ia harus segera mencari tahu.
“Paman?” panggilnya, masih berjalan dan bergetar tubuhnya.
“Paman?” panggilnya, sekali lagi.
Ia harus segera bertemu dengan Albert, dalam pikirannya, Albert pasti mengetahui tentang foto yang ia bawa itu. Edmund tiba di ruang berkumpul, di sana semua orang sedang beristirahat, Albert juga ada di sana.
“Paman?”
“Ada apa, Edmund? Kau membutuhkan sesuatu, bekas operasinya terasa sakit lagi?” tanya Albert.
“Bukan … i-ini … kau … kau tau siapa mereka?” tanya Edmund, suaranya tak terdengar jelas karena gemetar.
Edmund memperlihatkan selembar foto pada Albert, meskipun tampak kusam, foto itu masih tercetak dengan jelas. Albert melihatnya, Agatha dan Rumi ikut melihat juga, mereka penasaran, karena Edmund terlihat sangat panik dengan temuannya itu.
“Paman, kau tau mereka?” tanya Edmund, tak sabaran.
Albert melihat foto itu, lalu melihat ke arah Edmund, seperti mencocokkan sesuatu. Albert sekali lagi melakukan itu, jika rambut panjangnya dipangkas, pastilah Edmund dan dengan anak yang ada di dalam foto itu terlihat sama.
“Aku tidak bisa memastikannya, Edmund. Aku belum pernah melihatnya, tapi anak ini sedikit mirip denganmu, Edmund. Di mana kau menemukannya?” jelas Albert.
Bukan jawaban ini yang Edmund inginkan, merasa sedikit kesal, Edmund duduk di salah satu sofa panjang di ruangan itu. Albert melirik Edmund, ia merasa bersalah, karena Edmund sudah percaya diri, jika Albert pasti tau semuanya, tapi mau bagaimana lagi, Albert tidak mengetahui perihal foto yang sekarang ada di tangannya itu.
“Coba kulihat, Albert,” pinta Agatha.
“Kau pernah melihatnya?” tanya Albert, sembari menunjukkan foto misterius itu.
Agatha melihatnya dengan seksama, mengernyitkan kening, hingga menyipitkan kedua matanya. Agatha menggelengkan kepala, sembari melihat ke arah Albert, tidak tau, Agatha tidak pernah melihatnya. Agatha tak sengaja membalikkan foto itu, Albert menangkap sesuatu.
“Tunggu dulu,” cegah Albert.
Edmund segara beranjak lagi. “Paman ingat sesuatu?” seru Edmund.
“Bukan seperti itu, Edmund, tapi, ini tulisan tangan Ars,” kata Albert.
Buru-buru Edmund menghampiri Albert. “Paman yakin?” tanya Edmund, antusias.
“Aku yakin, Edmund,” jawab Albert, tak kalah antusias.
“Tunggu dulu, kau dan Ars, bukankah kalian satu ….”
“Tulisan mereka berbeda, Rumi, kau tidak akan mempercayainya, bukan?” kata Albert, tau ke arah mana, Rumi akan bertanya.
“Adakah yang seperti itu?” tanya Rumi, heran.
“Memang tidak dapat dipercaya, Rumi, tapi memang seperti itulah kenyataannya,” jawab Albert.
“Apakah foto ini ada hubungannya dengan, Kakak, Albert?” tanya Agatha.
Albert teringat sesuatu, jika ini ada hubungannya dengan Arshaka Dean, ia bisa memastikan satu hal, foto itu penting bagi Arshaka Dean. Di pikiran Albert sudah menemukan jawaban atas pertanyaan ketiga orang ini, tapi untuk saat ini, ia akan menyimpannya terlebih dahulu.
Albert harus mendiskusikannya dengan Chadla, jika orang-orang yang ada di foto itu sesuai dengan apa yang ia pikirkan, trauma masa lalu Arshaka Dean akan segera terungkap. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari informasi lebih lanjut tentang foto itu.
“Apa kita tidak bisa mencari dari arsip keluarga, Albert?” tanya Rumi. “Siapa tau, mereka berhubungan satu sama lain,” tambah Rumi.
“Kakak meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong,” tambah Agatha.
“Lalu bagaimana ini, Paman?” tanya Edmund.
“Untuk sekarang, kita tidak bisa melakukan apa-apa, kita hanya mengantongi pemilik tulisan tangan itu saja, yang lainnya biarkan aku cari tau sendiri,” jawab Albert.
“Kau tidak akan membaginya dengan kami?” tanya Rumi, yang juga akan ditanyakan oleh Edmund.
“Jika ini berhubungan dengan keluarga, aku harus mencari informasi dari sarangnya, dan aku tidak ingin membahayakan orang lain,” jawab Albert.
Rumi dan Agatha segera paham dengan jawaban Albert, tidak dengan Edmund, ia terlihat tidak puas dengan jawaban Albert. “Tidak bisa seperti ini, Paman, ini bisa saja melibatkan aku juga, aku ingin tau,” desak Edmund.
“Maafkan aku, Edmund, aku tidak bisa, ini sangat berbahaya, aku janji akan langsung memberitahumu jika aku sudah menemukan jawabannya,” kata Albert.
“Sudahlah, Edmund. Albert pasti melakukan yang terbaik untuk kita, sekarang kau jelaskan, dari mana kau mendapatkan foto itu?” tanya Agatha, mencoba mengalihkan fokus Edmund.
Agatha tau apa yang akan Albert lakukan, menyusup ke dalam lingkungan keluarganya, sangat beresiko tinggi. Albert pasti tidak ingin melibatkan siapa pun dalam operasinya nanti, bahkan Agatha sendiri yang nanti akan menawarkan diri membantunya, akan jauh lebih aman jika Agatha yang diam-diam kembali ke tempat yang ia tinggalkan itu.
Edmund menghela napas kasar, kesal sudah, tapi pendirian Albert tidak bisa diganggu gugat. “Di dalam ruang baca,” jawab Edmund, ketus.
Mendengar ruang baca membuat Rumi meremang, tiba-tiba panas aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, menyebabkan wajah Rumi memerah, semerah kepiting rebus. Rumi teringat kembali kejadian indah yang membuat gelenyar aneh itu datang lagi, ruang baca menjadi kata terlarang bagi Rumi.
“Kenapa wajahmu merah, Rumi?” tanya Edmund, menyadari sesuatu dengan perubahan wajah Rumi. Berhasil, strategi mengalihkan perhatian Edmund yang Agatha rencanakan, berhasil.
“Apa kau teringat sesuatu dengan ruang baca itu, Rumi?” goda Agatha.
“Tidak tau,” jawab Rumi, menahan malu. Rumi berpaling dari perhatian orang-orang, dan keluar dari kelompok kecil itu, ia merasa diinterogasi.
“Mau ke mana kau?” Agatha kembali menggoda Rumi, lalu tertawa terbahak-bahak, Edmund hanya melongo saja, tidak paham.
“Kenapa kau melihatku?” tanya Agatha.
“Kau aneh,” jawab Edmund.
“Apa kau bilang?” Agatha menggertak, tidak terima.
“Kau aneh,” kata Edmund, meninggikan suaranya.
“Sudahlah.” Edmund, berjalan keluar, semua orang hanya membuat pikirannya kacau saja, apalagi, tingkah Agatha yang selalu membuat kepalanya meledak.
Bagian depan mansion tidak kalah luas dari halaman belakang, Edmund berjalan di sana, melihat jalan di depannya terlalu lengang. Jalanan di depan mansion, memang tidak terlalu ramai, karena bukan jalan utama, jalan itu seperti jalan pribadi bagi Arshaka Dean.
Di jalan yang lengang itu, tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah melintas, Edmund melihat ke sana, ia tidak punya pikiran buruk. Keluarlah seseorang dari mobil itu, tidak seperti biasanya, seorang pria itu tidak memasukkan mobilnya ke dalam mansion.
“Kenapa dia turun di sana?” gumam Edmund.
Pria tadi berlari ke arah mansion, terlihat seperti dikejar-kejar hantu, buru-buru sekali. Pria itu masuk ke dalam mansion, sesegera mungkin harus segera tiba di depan Edmund, Edmund heran, ada apa dengan pria itu.
Pria itu tiba di depan Edmund. “Edmund … gawat, kau harus ikut denganku, kami memerlukanmu,” ucap pria itu.
“Ada apa? Aku harus memberitahu Albert dulu,” jawab Edmund.
“Tidak ada waktu, Edmund, kau harus segera ikut denganku,” desak si pria.