
Rumi di kamarnya menangis, bukan sedih atas jawaban Arshaka Dean, tapi ia marah pada dirinya sendiri yang sudah berani mengharapkan hal yang begitu mustahil. Rumi menenggelamkan wajahnya pada bantal, mengutuk dirinya dengan keras.
Rumi melihat tangannya yang telah berani menampar Arshaka Dean, air matanya semakin mengalir. Dia seketika menyesal menampar wajah tampan Arshaka Dean, tapi mau bagaimana lagi, Rumi sudah kepalang malu. Tangannya ia tatap lagi, tanda merah di sana masih jelas terlihat, kehangatan bibir Arshaka Dean masih terbayang.
Di ruang baca tadi, perasaannya sempat membuncah dan tak percaya, Arshaka Dean akan bersikap manis seperti itu. Tapi hal itu tak berlangsung lama, Rumi kecewa, menganggap hubungan mereka akan semakin dekat, nyatanya itu hanya perasaan sepihak Rumi yang tak terbalas.
Sementara di ruang santai, Arshaka Dean tengah mendapat nasihat dari Albert, Watson juga adiknya, Agatha. Agatha yang menangkap basah Arshaka Dean dan Rumi keluar dari ruang baca, tengah bertanya kritis.
“Kau yakin sudah memperlakukan Rumi dengan baik?” tanya Agatha.
“Kau yakin?” tanya Watson, memicingkan mata.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?!” sentak Arshaka Dean, merasa jengah dengan mereka.
“Dia perempuan, Kakak, jangan samakan dia dengan anak buahmu! Tatap matanya, tersenyumlah padanya, jangan tunjukkan sisi dinginmu itu. Kau menyukainya, bukan?” cecar Agatha.
“Ars, kau sudah memenangkan hatinya, sebenarnya sudah lebih mudah untukmu, kau hanya perlu bersikap lebih manis lagi padanya,” tambah Albert.
Arshaka Dean melirik, tak percaya mendengar Albert berbicara seperti itu. Bersikap manis, tidak pernah ada dalam kamus Arshaka Dean, bahkan tidak sanggup dia membayangkannya.
Tapi, setiap Arshaka Dean memikirkan Rumi, hatinya terasa penuh dengan taman bunga. Arshaka Dean tak menampik jika dirinya tertarik pada Rumi, tapi jika harus bersikap manis kepada Rumi, dia berpikir ulang.
“Kau sudah membuat perempuan menangis, minta maaflah padanya,” ujar Agatha.
Benar, Arshaka Dean tak menyangka Rumi akan menangis karena dirinya. Hati Arshaka Dean ikut sendu mendengar Rumi menangis. Arshaka Dean tidak ada niat untuk merendahkan Rumi, tapi ia juga bingung degan perasaannya sendiri.
Arshaka Dean meninggalkan ruang santai, sudah tidak kuat dinasihati seperti itu. Memang, semua orang mengatakan hal yang benar, tapi tunggu dulu, Arshaka Dean butuh waktu untuk melakukan itu semua.
Arshaka Dean terlihat merenung, ia teringat surat yang ditinggalkan Edmund untuknya. Arshaka Dean baca kembali surat itu, ia serius membaca setiap kalimatnya sampai akhir. Dikatakan di dalam surat itu, jika Arshaka Dean ingin bahagia, kunci satu-satunya adalah membuka hati dan perasaannya kepada orang lain. Mungkinkah ini saatnya? Apakah yang dikatakan Edmund benar?
Arshaka Dean keluar kamar, melihat sekitar, memastikan semua orang sudah berada di kamar mereka masing-masing. Arshaka Dean berjalan lurus, kemudian berhenti tepat di depan kamar Rumi. Ia diam di sana lama, ragu untuk mengetuk pintu. Arshaka Dean putuskan untuk membukanya langsung tanpa mengetuk pintu, ia yakin, Rumi sudah terlelap.
Arshaka Dean membuka kamar Rumi, ia sudah siapkan kunci ganda, jika kamar Rumi kebetulan dikunci dari dalam. Perlahan Arshaka Dean tarik gagang pintu kamar Rumi, mudah, ternyata kamar Rumi tidak dikunci. Rumi tak sempat mengunci pintu, dirinya terlalu larut dalam tangis, hingga sulit untuk beranjak dari tempat tidur.
Ia masuk dengan perlahan-lahan, tidak ingin membangunkan Rumi, kali ini dirinya tak lupa untuk menutup pintu dan menguncinya. Arshaka Dean mendekat, dilihatnya wajah Rumi yang sedang terlelap, manis. Arshaka Dean terus menatap Rumi, suara halus dari Rumi, menenangkan hatinya. Arshaka Dean, berlutu demi bisa melihat Rumi lebih dekat. Dari samping, Arshaka Dean bisa melihat Rumi lebih jelas.
Arshaka Dean membawa tangannya untuk menyentuh wajah Rumi, tapi begitu ia ingin menyentuh Rumi, tiba-tiba saja Rumi menggeliat. Rumi membuka matanya, tersentak kaget begitu melihat Arshaka Dean tepat di sampingnya.
“Ars!”
“Sstt ….” Arshaka Dean menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Rumi langsung terbangun, menatap takut Arshaka Dean, Rumi masih terngiang-ngiang jawaban atas pertanyaannya. Rumi menjauh dari Arshaka Dean, menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Kenapa kau di sini?” tanya Rumi.
“Kau takut padaku?” Arshaka Dean menjawab dengan pertanyaan lain, Rumi terlihat benar-benar ketakutan, membuat Arshaka Dean sedikit terguncang hatinya.
Rumi tidak menjawab, jelas ia takut. Siapa yang tidak akan takut, jika seseorang tiba-tiba ada di kamarnya tanpa permisi. Rumi semakin menarik selimutnya, Rumi tadi melihat tangan Arshaka Dean di dekatnya, ia takut Arshaka Dean menyakitinya.
Rumi tidak kunjung menjawab, Arshaka Dean bangun dari berlututnya, ia kemudian menempatkan diri di sisi Rumi. Arshaka Dean menatap Rumi penuh rasa sakit, tak sangka jika akibat dari perbuatannya akan membuat Rumi bereaksi sejauh ini.
Rumi seketika membuka selimutnya, melihat lebih dekat wajah Arshaka Dean. Rumi perhatikan lekat-lekat, ia ingin memastikan jika itu benar-benar Arshaka Dean, bukan Edmund. Rumi dekatkan lagi wajahnya, ia lihat tidak ada yang mencurigakan, tapi ia harus meyakinkan hatinya.
“Kau, mungkin saja kau … Edmund?” tanya Rumi.
Arshaka Dean terkejut, bagaimana mungkin Rumi berpikir jika dirinya Edmund? Apa meminta maaf sebuah larangan baginya? Apa dirinya sungguh aneh? Arshaka Dean balik menatap Rumi.
“Aku bukan anak itu? Tatap aku! Aku, Arshaka Dean,” tegas Arshaka Dean.
Rumi kembali lagi ke posisi semula. “Lalu, kenapa kau di sini?” tanya Rumi.
“Bukankah, kau menyukaiku?” tanya Arshaka Dean, tiba-tiba.
“Itu semua sia-sia saja, bukan? Aku ini hanya salah satu anak buahmu, bukan?” sindir Rumi.
“Maafkan aku. Aku bingung, aku tidak tau harus menjawabmu seperti apa, tapi percayalah padaku, kau lebih dari itu. Aku ingin memulai semuanya, tapi ijinkan aku untuk lebih memahami perasaan baru ini, aku tidak suka kau menjauh dariku, aku ingin kau tetap berada di dekatku,” jelas Arshaka Dean, mencoba menyelesaikan kesalahpahaman.
“Apa jawabanku masih kau butuhkan?” tanya Rumi.
“Aku tahu pasti kau membenciku setelah kejadian terakhir kita, jika kau memang ragu padaku, kau tidak perlu memaksakan diri. Biarkan aku yang mendekatimu, ijinkan aku menebus air matamu, tapi sebagai gantinya, tunggu aku untuk memahami ini semua,” kata Arshaka Dean.
“Aku memang membencimu,” kata Rumi, Arshaka Dean tidak bisa berbuat banyak, selain pasrah. “Tapi … kau tidak pernah sekalipun menghilang dari pandanganku, hatiku masih memburu ketika melihatmu, fantasiku masih sama. Kau selalu menjadi peran utama di sana, dan sepertinya akan selalu menjadi yang utama, apalagi aku telah merasakan kehangatanmu. Untuk permintaanmu itu, aku percaya, jika suatu hari kau pasti akan menemukan perasaan yang sesungguhnya, hingga itu terjadi aku akan tetap di sini, aku akan tetap bertahan, itu pun jika kau tak membunuhku,” lanjut Rumi.
“Apa maksudmu? Kenapa kau berpikir aku akan membunuhmu? Taukah kau, aku bergelut sendirian karena tidak suka kau didekati oleh pria lain? Dan, kau tau, aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu? Aku tidak bisa jauh darimu, bagaimana mungkin aku membunuhmu,” ungkap Arshaka Dean.
Arshaka Dean melihat Rumi, kemudian ia meraih tubuh Rumi, ia rangkul Rumi dari samping. Rumi tidak menolak, detak jantung Arshaka Dean yang ribut adalah jawaban dari pernyataan Arshaka Dean tadi. Arshaka Dean memeluknya erat, seakan-akan ia akan pergi esok hari. Arshaka Dean mengelus rambut Rumi, memberi kenyamanan padanya.
“Tetaplah pandang aku, aku mohon.”
Arshaka Dean memohon! Mafia yang terkenal kejam, akhirnya luluh oleh diamnya seorang perempuan. Rumi hebat, ia bisa membangkitkan kehangatan Arshaka Dean yang sudah terkubur dalam. Rumi berhasil, Arshaka Dean akhirnya mengakui bahwa ia membutuhkan orang lain dalam hidupnya.
“Berapa lama aku harus menunggu?” tanya Rumi.
“Apa kau keberatan jika aku memintamu untuk menunggu selamanya?” Arshaka Dean menatap Rumi.
“Aku tidak keberatan untuk menunggumu, tapi berjanjilah untuk selalu berbagi denganku, Ars. Kau juga harus berbagi dengan Albert dan lainnya, kau membutuhkan mereka, meskipun kau menyangkalnya,” jawab Rumi.
Arshaka Dean mengangguk sebagai kesediaan dirinya untuk mulai terbuka pada orang lain, khususnya pada orang-orang terdekatnya. Arshaka Dean mendekatkan wajahnya, ia kemudian mengecup pangkal hidung Rumi.
“Kau tau? Aku selalu membayangkan menghabiskan waktu berdua bersamamu, sejak awal kita bertemu,” aku Rumi.
“Bolehkah?” Arshaka Dean meminta ijin.
Rumi tersenyum dan mengangguk. Mendapat ijin dari Rumi, Arshaka Dean mendekatkan lagi wajahnya. “Terima kasih,” ucapnya, tepat di depan ranum Rumi. Arshaka Dean memulai dengan lembut, tak ada gerakan yang sia-sia, ia terus di sana, menikmati setiap manis yang selalu keluar dari Rumi.
Wajah Rumi sangat cantik ketika memerah, Arshaka Dean tersenyum di tengah pagutannya. Belum puas sampai di sana, Arshaka Dean meminta akses untuk mengunjungi dalam ranum Rumi. Rumi paham, ia membukanya sedikit, Arshaka Dean tak banyak kata, ia langsung melesatkan miliknya, bertemu dengan bagian tak bertulang milik Rumi. Mereka saling memagut dan menyesap, menikmati waktu bersama.
Kebersamaan mereka masih berlangsung, Arshaka Dean tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Biarlah, mereka aman, tidak akan ada yang mengganggu, pintu telah terkunci, dan lampu sudah Arshaka Dean temaramkan. Malam ini berakhir dengan manis dan romantis, semoga malam-malam berikutnya pun, mereka bisa menghabiskan dengan indah bersama.