The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 6. Edmund Dean



Edmund Dean adalah kepribadian baru yang diciptakan sendiri oleh Arshaka Dean sebagai pelariannya dari kondisi buruk suatu keadaan. Ketika sebuah keadaan sudah tidak bisa diatasi sendiri oleh Arshaka Dean, di sanalah Edmund Dean muncul sebagai tameng. Penyebab kondisi Arshaka Dean masih belum ditemukan, tetapi beberapa penelitian sedang dilakukan oleh dokter pribadinya. Dugaan awal dari kondisi ini dikarenakan trauma masa lalu yang terus menghantui Arshaka Dean, sehingga dia secara tidak langsung memunculkan kepribadian lain.


Timbullah pertanyaan, trauma seperti apa yang dialami Arshaka Dean sehingga menyebabkan jiwanya terpecah? Sayangnya, dokter pribadi yang menangani Arshaka Dean masih belum mengetahui pasti, karena Arshaka Dean cenderung menutupi kebenarannya. Keadaan seperti inilah yang ditakutkan oleh Albert, karena kita tidak akan pernah tahu kapan Arshaka Dean akan muncul lagi sebagai pemilik asli dari raganya. Semua penghuni mansion akan berharap-harap cemas ketika Edmund Dean muncul.


“Sepertinya begitu, tapi selera Kakak, harus segera diperbaiki. Melihat lemari Kakak, aku yakin, Kakak hidupnya terlalu suram,” ucap Edmund.


Edmund masih di ruang pakaian, ia berkata seperti itu setelah melihat pakaian Arshaka Dean penuh dengan pakaian warna gelap. Maklum saja, karena mereka dua pribadi yang berbeda, pastilah selera berpakaian pun berbeda. Albert yang sedang melihat Edmund berpakaian tertegun mendengar kalimat yang dilontarkan Edmund.


“Suram?” tanya Albert.


“Bagaimana kau mengetahui kata itu, Edmund?”


“Aku tidak pernah mengajarimu kata itu, Edmund,” lanjut Albert.


“Itu tidak penting, Paman,” jawab Edmund santai. Dengan jawaban Edmund, Albert memutuskan untuk tidak membahasnya lagi.


“Bukan suram, Edmund. Kakakmu hanya tidak menyukai sesuatu yang berlebihan,” bela Albert.


Edmund menoleh pada Albert, menatap mata Albert, kemudian bola matanya ia gulirkan untuk menyisir seluruh ruangan itu.


“Lalu bagaimana dengan mansion yang besar ini, Paman? Bukankah ini terlalu berlebihan? Lihatlah sekelilingmu, Paman, semua barang-barang mewah, tapi sayangnya di sini terlalu mencekam,” kata Edmund kritis.


“Ditambah lagi dengan pegawai yang banyak, bodyguard di mana-mana. Terkadang aku berpikir, ini bukan mansion, ini sudah layak disebut penjara, Paman,” tambahnya.


“Ini sebuah kebutuhan, Edmund, mungkin kau tidak memahaminya, tetapi suatu saat kau juga akan paham,” jawab Albert. “Dan lagi Edmund, tidak baik menyamakan sebuah hunian yang nyaman ini dengan penjara, karena kita semua tau bagaimana keadaan penjara,” lanjut Albert.


“Oh, ya? Kita hanya tidak tau saja, Paman. Padahal di dalamnya, ada sebuah hierarki yang tidak bisa dipatahkan, mereka bisa mengubah tahanan layaknya seorang presiden yang harus dilindungi dan diprioritaskan, tempatnya pun bisa lebih nyaman dari hunian kita,” jelas Edmund.


“Kau juga pasti tau tentang fakta itu, bukan?”


“Aku tidak tau, Edmund. Aku tidak bisa berpendapat tentang ini, mungkin kau jauh lebih tau dari aku. Tapi Edmund, aku hanya mengatakan bahwa, kakakmu sudah melakukan hal yang tepat dengan kami dan dirinya sendiri,” kata Albert.


“Sudahlah, Paman. Hari ini ia tidak ada, kenapa Paman masih membelanya?” protes Edmund.


“Aku tidak membelanya. Ma-maafkan aku, Edmund,” sesal Albert.


“Tidak perlu, Paman. Sebaiknya kasih tau saja Kakak, agar merubah penampilannya,” katanya.


“Akan aku sampaikan nanti, Edmund. Sekali lagi, aku tidak bermaksud membela kakakmu, mungkin karena aku lebih lama dengannya, aku bisa lebih paham,” kata Albert.


“Benarkah?” tanya Edmund.


“Kupikir tidak semuanya, Paman. Kakak tidak akan memberitahumu tentang masa-masa sulitnya, aku yakin itu,” ucap Albert.


“Aku salah Edmund, bagaimanapun, kau pasti jauh lebih tau, maafkan aku,” jawab Albert menyadari sesuatu.


“Kenapa suka sekali minta maaf, Paman. Tidak ada yang salah, hanya saja sepertinya Kakak, kurang tepat dalam berpikir,” kata Edmund ambigu.


“Tidak ada,” jawab Edmund.


Edmund Dean adalah kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan Arshaka Dean, kepribadian yang diciptakan Arshaka Dean adalah seorang pelajar yang kejeniusannya selalu membuat guru pribadinya kewalahan. Edmund Dean sangat pendiam, takut akan dunia luar, itu yang menjadi alasan kenapa dia hanya bersekolah di rumah. Meskipun dia sangat pendiam, dia sangat ramah kepada penghuni mansion lainnya, dia juga tidak segan untuk membantu mereka. Satu sisi itulah yang kemudian membuat penghuni mansion lebih memilih Edmund Dean dibandingkan Arshaka Dean, meskipun tetap saja perasaan khawatir terus mereka rasakan ketika Edmund muncul. Edmund Dean membuat semua orang nyaman, sedangkan Arshaka Dean selalu membuat semua orang yang ada di dekatnya tertekan.


“Kakak, sepertinya marah padaku, Paman,” ucap Edmund kepada Albert setelah selesai berganti pakaian.


“Tiba-tiba saja?” Albert berusaha menutupi rasa bersalahnya, karena tidak bisa memberitahu kebenaran tentang dirinya.


Edmund menoleh, manik cantik itu saling bertemu, yang satu menaruh rasa bersalah di dalamnya, satunya lagi berusaha memberikan sinyal akan sesuatu yang ditutupi.


“Kenapa selalu berpikir seperti itu?” tanya Albert lagi.


“Tidak tau, Paman. Hanya saja, aku, selalu melihat Kakak marah, aku juga selalu melihat Kakak sendirian,” katanya, Albert belum bisa mencerna setiap perkataan Edmund.


“Di mana kamu melihat kakakmu, Edmund?” tanya Albert.


“Aku bahkan pernah melihat Kakak dipukuli oleh Ayah, Paman,” katanya lagi, pertanyaan Albert dijawab dengan sebuah fakta yang membuat Albert terkejut.


Albert memang sudah lama bekerja dengan Arshaka Dean, tetapi tentang penyebab dari traumanya, dan penyiksaan oleh ayahnya, Albert tidak tau. Arshaka Dean selalu mengalihkan pembicaraan ketika dokter menyinggung tentang masa lalunya.


“Ba-bagaimana bisa? Kau melihatnya di mana? Atau ada lain yang kamu tahu, Edmund?” tanya Albert, siapa tahu dengan menggali informasi dari Edmund, Albert bisa melaporkan kepada dokter pribadi Arshaka Dean, agar keadaannya bisa diteliti lagi lebih jauh.


“Aku tidak akan mengatakan kejadian sebenarnya. Paman bisa tanyakan langsung pada Kakak nanti,” jawabnya.


“Baiklah, akan aku tanyakan ketika dia pulang nanti.”


“Sepertinya akan sulit,” guman Edmund.


“Maksudnya?” tanya Albert.


“Ah, tidak. Ayo, kita turun, Paman,” ajak Edmund.


Albert sangat yakin bahwa dia tadi mendengar gumaman Edmund, tentang Arshaka Dean, tetapi bagaimana lagi, dirinya tidak bisa memaksa Edmund untuk berbicara lebih jauh lagi. Albert menyadari bahwa Edmund mengetahui sesuatu tentang Arshaka Dean yang selama ini ditutupinya dengan rapat. Untuk Edmund Dean, dia hanya mengetahui Arshaka Dean sebagai kakaknya, dia juga tidak mengetahui bahwa Arshaka Dean adalah seorang mafia. Keadaan ini biasanya akan semakin rumit, ketika Edmund Dean mulai bertanya tentang keberadaan kakaknya, karena bagi Edmund seorang kakak sudah seharusnya menjadi contoh bagi adiknya, tetapi bagi Arshaka Dean, Edmund tidak seharusnya ada di dunia ini.


“Aku tidak tahu, Kakak akan bertahan berapa lama lagi,” ucap Edmund, mengejutkan bagi Albert. Mendengar penuturan Edmund, Albert berhenti dari langkahnya dan mematung seketika, meskipun dia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi, Albert tidak ingin kehilangan Arshaka Dean.


“Bagaimana? Kakakmu kenapa, Edmund?” tanya Albert panik.


“Aku salut karena Kakak, bertahan selama ini.” Edmund tidak menjawab pertanyaan Albert.


“Apa kamu tahu sesuatu, Edmund?” pertanyaan itu terulang lagi.


“Sepertinya Kakak akan pergi jauh …,” lirihnya.


“Pergi jauh?!”