The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 87. Akhir Dari Sebuah Kisah (END)



7 tahun kemudian...


“Mami …!” teriak seorang anak perempuan kecil.


Hari sudah senja, tapi di halaman luas sebuah mansion antik nan elegan, terlihat masih ramai dengan anak-anak yang bermain, berlarian dan saling menjahili satu sama lain. Mansion sangat asri, nyaman dan aman, dengan penangkaran kupu-kupu di depannya dan dilengkapi air mancur yang menyejukkan.


“Mami lihat! Kakak tidak sayang aku, Mami! Kakak jahat padaku,” adu anak perempuan tadi, ketika melihat ibunya keluar dari dalam mansion.


“Tidak, Mami, Adik bohong, Kakak hanya bermain-main saja,” protes si kakak, tapi dengan tawa renyahnya.


“Aku tidak berbohong, Kakak nakal ….” Si adik perempuan menangis, membuat si kakak tak bisa berkutik lagi.


“Kakak?” Suara ibunya terdengar lembut, tapi tegas, sebagai petanda untuk mereka berhenti menggoda adiknya.


“Aku tidak melakukan apa pun, Mami, aku hanya bermain. Benarkan, Lian?” si kakak mencari dukungan pada saudara kembarnya.


Si Ibu menghembuskan napas, pasti saja seperti ini, berat sekali, tapi tidak apa-apa, dia suka. Si Ibu menggendong anak perempuannya. “Lian, Liqi?” panggil si Ibu.


“Iya, Mami,” jawab mereka serempak.


“Dengarkan Mami baik-baik, Mami tidak melarang kalian bermain, atau berlarian, Mami juga tidak melarang kalian bermain dengan adik kalian, tapi boleh tidak jika Mami minta kalian untuk menjaga adik kalian ini?” Ibunya menatap anak kembarnya itu.


Lian dan Liqi terlihat khidmat mendengarkan nasihat ibunya, mereka melihat ibunya dengan kesopanan yang sudah terdidik, dengan cara yang paling alami. Lian dan Liqi saling merangkul, memberi semangat satu sama lain.


“Mami tau, adik kalian ini sangat lucu ketika diganggu, tapi jika diganggu terus, dia juga akan merasa lelah, jadi Mami minta untuk berhenti, boleh? Dan Mami juga minta pada kalian yang sudah besar, adiknya dijaga, mainnya jangan berlebihan, menggodanya jangan berlebihan, kalian adalah tumpuan untuk satu sama lain, jadi kalian harus saling melindungi, paham Lian, Liqi?” si Ibu menasihati dengan lembut, agar nasihatnya tersampaikan.


“Paham, Mami, tapi adik sangat lucu jika sudah menangis, Mami,” ujar Lian.


“Benar, aku suka, wajahnya memerah,” tambah Liqi.


“Aku benci Kakak!” teriak si adik perempuan, tak terima.


Si Ibu langsung menenangkan. “Isaura, kakaknya juga harus disayang, jika mereka tidak ada, Isaura tidak ada teman main, dan tidak ada yang sayang sama Isaura selain Mami sama Papa, tidak akan ada yang memeluk, tidak akan ada yang menemani Isaura ketika Isaura sakit, jadi Isaura harus sayang sama kakak-kakaknya, Isaura hebat punya dua kakak,” bujuk si Ibu.


Lian dan Liqi mengejek Isaura karena gemas. “Lihat Mami, Kakak seperti itu lagi padaku,” rengek Isaura. “Kakak nakal ….” Isaura memeluk ibunya dan bersembunyi di tubuh ibunya.


“Kalian ini,” tegur ibunya lembut, yang ditegur hanya tertawa saja.


“Ada apa, Rumi?” tanya seseorang dari dalam mansion.


“Ars, seperti biasa, mereka menjahili Isaura,” jawab Rumi pada Arshaka Dean.


Arshaka Dean tersenyum, membawa Isaura dari gendongan Rumi. “Papa ….” Isaura memeluk leher Arshaka Dean.


“Anak manis Papa, kenapa menangis?” tanya Arshaka Dean menghapus air mata Isaura.


Lian dan Liqi di dekap oleh Rumi, selalu seperti itu, ketika menasihati, mereka akan saling memberi ketenangan bagi anak-anak mereka, itu berlaku agar anak-anaknya tidak merasa dibuang dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, jadi anak-anak mereka tidak merasa orangtua mereka pilih kasih.


“Kakak Lian dan Kakak Liqi, terus mengganggu aku, Papa. Aku tidak suka Kakak, Kakak nakal,” adu Isaura, merengek manja.


“Sudah jangan menangis lagi, nanti Papa kasih hukuman kakak-kakak kamu itu, ya? Sekarang berhenti menangis, okay?” Arshaka Dean memberikan elusan pada rambut Isaura, lalu beralih menatap kedua anak laki-lakinya. “Kalian sekali saja tidak mengganggu adiknya, tidak bisa, ya? Lihat, Mami sampai berkeringat seperti itu,” tegur Arshaka Dean, bersuara lembut, tapi sedikit tegas.


“Dia lucu, Papa, aku tidak bisa berhenti,” ucap Liqi.


Arshaka Dean menatap anak perempuannya, lalu menatap Lian dan Liqi kembali. “Papa setuju dengan yang satu itu, adikmu lucu ketika menangis,” jawab Arshaka Dean.


“Kau sama saja,” seru Rumi, memukul lengan Arshaka Dean, pelan.


Arshaka Dean dan anak laki-lakinya tertawa. “Maafkan aku,” ucap Arshaka Dean, mencuri kecupan dari bibir Rumi.


“Aku pulang!” teriak seseorang.


“Paman Edmund!” teriak anak-anak serempak. Rumi dan Arshaka Dean tersenyum lega, karena bala bantuan sudah tiba.


Lian dan Liqi langsung berlari, memeluk Edmund yang baru kembali dari kampus. “Hey, hey, tunggu dulu aku belum siap,” protes Edmund, yang diserbu oleh anak-anak menggemaskan itu.


“Paman Edmund?” panggil Isaura.


“Hey, gadis cantik, kenapa kau menangis?” tanya Edmund, membelai pipi Isaura. “Kau apakan lagi dia, Tuan Ars?” mengejek Arshaka Dean. “Kau itu Papa seperti apa, kenapa dia selalu menangis ketika di tanganmu?” hardik Edmund pada Arshaka Dean, semakin menggoda.


“Aku? Hey, aku tidak melakukan apa pun, ini ulah teman-temanmu itu,” tunjuk Arshaka Dean pada Lian dan Liqi.


“Jangan membuat alasan, Kakak,” balas Edmund, tidak terima.


“Astaga! Kenapa jadi aku yang disalahkan, Rumi?” tanya Arshaka Dean, merasa tertuduh.


“Jangan coba-coba membelanya, Rumi,” kata Edmund.


Rumi hanya tertawa geli, kedua kakak beradik ini sungguh konyol. “Kau tidur di sini, Edmund?” tanya Rumi.


“Tidak, aku hanya mampir, aku akan pulang ke rumah Ibu,” jawab Edmund.


“Aku ikut!” teriak anak-anak bersamaan.


Edmund melihat ke segala arah. “Jika Papa kalian memberi ijin, aku akan mengajak kalian,” jawab Edmund. Edmund menoleh pada Arshaka Dean, memberi kode agar anak-anak mereka tidak diijinkan pergi dengan Edmund, sungguh akan repot jika mereka ikut bersamanya. Edmund bermaksud untuk mengistirahatkan diri di rumah Ibunya, ia ingin istirahat sebentar dari keriuhan dunia.


Arshaka Dean menangkap sinyal itu, tapi ide jahilnya tiba-tiba muncul, ia ingin membalaskan dendam. Arshaka Dean menatap Rumi, dan Rumi segera mengerti, lalu menganggukkan kepalanya. “Papa, ijinkan kalian ikut, tapi ingat jangan membuat Nenek kelelahan, okey?” Arshaka Dean tersenyum jahil pada Edmund yang mengerucut bibirnya.


“Asyik …!” teriak anak-anak kegirangan, sedang Edmund memukul dahinya, dan ditertawakan oleh Arshaka Dean dan Rumi.


***


“Ah, rasanya damai sekali,” ujar Arshaka Dean, merebahkan tubuhnya dengan paha Rumi yang dijadikan bantal.


“Jarang-jarang kita bisa santai seperti ini,” balas Rumi, memainkan rambut suaminya itu.


“Sepertinya kita memang harus punya waktu berdua saja seperti ini, Rumi, kita harus menjadwalkan ini,” saran Arshaka Dean.


“Boleh, asalkan Edmund mau saja menjaga anak-anak kita,” jawab Rumi.


“Kau juga tidak berubah, masih sangat menyebalkan seperti dulu,” balas Rumi.


Arshaka Dean membangunkan tubuhnya, membuat Rumi heran, tapi kemudian Arshaka Dean menggendong Rumi ala-ala pengantin baru. “Ars, apa yang kau lakukan?” protes Rumi.


“Di sini terlalu dingin, kita pindah ke depan perapian,” jawab Arshaka Dean.


“Kenapa harus seperti ini? Aku masih bisa berjalan,” protes Rumi lagi, memukul-mukul lengan Arshaka Dean.


“Memang harus seperti ini, ibu dari anak-anakku tidak boleh kelelahan,” ucap Arshaka Dean.


“Kau berlebihan Ars.”


Keduanya tertawa bersama, Arshaka Dean kemudian berjalan ke depan perapian. Mansion yang ditempati Arshaka Dean dan keluarga kecilnya, sungguh lengkap, tapi berbeda dengan yang dulu. Mansion yang baru ini, penuh dengan sentuhan wanita, dan banyak mainan, serta ruangan kerja.


Setelah kejadian beberapa tahun lalu, yang menghanguskan mansion Arshaka Dean. Arshaka Dean memutuskan untuk memindahkan semua kehidupannya ke kota di mana Rumi tinggal. Arshaka Dean juga sudah tidak menjadi mafia lagi, dia fokus dengan kehidupannya, dan perusahaannya.


Penangkaran kupu-kupu dibangun kembali, dan perancangnya Edmund, seperti yang pertama kali dibuat, bedanya, Edmund yang sekarang nyata dan ada di dunia. Semua penghuni mansion memiliki tempat tinggal yang masih satu kawasan dengan Arshaka Dean, dan semuanya masih bekerja pada Arshaka Dean, bedanya mereka memiliki pekerjaan yang tetap. Kehidupan mereka masih sama, kesejahteraannya semakin terjamin, dan sekarang lebih aman, mereka tidak diselimuti perasaan was-was di setiap langkah mereka.


Arshaka Dean sudah merebahkan Rumi di sofa depan perapian, ia menyalakan musik klasik, juga meredupkan lampu dengan bantuan ponselnya. “Begini lebih baik, bukan?” kata Arshaka Dean.


“Aku suka,” jawab Rumi.


Arshaka Dean membelai wajah Rumi. “Kau sudah hidup lama denganku, apa kau tidak merasa bosan?” tanya Arshaka Dean.


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau bosan hidup denganku?”


Wah, Arshaka Dean salah bertanya rupanya. “Bukan begitu maksudku,” ribut Arshaka Dean, mencoba meluruskan. “Aku hanya ingin tau saja.” Arshaka Dean meraih lengan Rumi, dan menciumi setiap sudutnya, membuat Rumi menggeliat resah.


“Aku tidak punya alasan untuk bosan, hidup denganmu selalu penuh kejutan,” jawab Rumi, jujur.


Arshaka Dean semakin gila saja menciumi Rumi, tidak pernah puas ketika sudah menyentuh Rumi, kini Arshaka Dean pindah ke leher jenjang Rumi, menyesap bagian itu. “Aku semakin mencintaimu setiap harinya,” bisik Arshaka Dean, membangunkan remang-remang di tubuh Rumi.


“Arshhh … aku … juga samahh,” jawab Rumi, dibarengi dengan ******* halus, karena perlakuan cinta yang terus diberikan Arshaka Dean.


Setelah merasa hampir di puncak gairah, Arshaka Dean berhenti dari semua kegiatannya. “Tubuhmu masih sama, meresponsku dengan sangat baik, Rumi aku mencintaimu, aku tidak main-main,” ucap Arshaka Dean, tulus.


“Aku juga, jawaban apa yang kau harapkan dariku, Ars, aku juga sama, aku juga mencintaimu, sangat, sungguh,” balas Rumi.


Arshaka Dean merasakannya lagi, merasakan perasaan bergejolak seperti pada awal mereka bertemu, perasaan itu terasa kembali, sungguh indah dan membuncah. “Rumi tetaplah bersamaku,” pungkasnya dan kembali melanjutkan keintiman mereka.


“Pasti,” tegas Rumi, menerima semua afeksi cinta dari Arshaka Dean.


Malam ini di tengah suasana yang temaram, dan diiringi alunan musik yang menelisik telinga, Arshaka Dean dan Rumi memadu kasih, memutar kembali memori indah pada waktu pertama kali mereka menyatukan diri. Malam ini menjadi malam tak terlupakan lainnya untuk mereka berdua, malam yang akan membuat hubungan mereka semakin harmonis dan romantis.


***


“Kakak …!” teriak Agatha dari luar. “Kau masih tertidur?” Agatha melihat ke dalam mansion yang masih sepi. “Albert, dia tidak menyahutku, ah, akan lama jika seperti ini, buka saja, Albert,” geram Agatha.


“Dia tidak akan marah, bukan?” tanya Albert, tapi ia tetap membuka mansion itu dengan kunci yang selalu ia bawa.


“Tidak akan, lagipula aku ini adiknya, dan keponakan kesayangan mereka ingin bertemu, buka saja, Albert, aku pegal,” jawab Agatha, merengek.


“Baiklah.”


Dan pintu mansion pun terbuka, Agatha masuk, dan terus berjalan, mencari Arshaka Dean, hingga ia melihat sesuatu yang familiar. “Kakak …!” Agatha terkejut dengan keadaan mansion yang berantakan, baju Arshaka Dean dan Rumi ada di sembarang tempat, dan ruangan dipenuhi aroma percintaan, sungguh pemandangan indah di pagi hari.


Arshaka Dean yang masih tertidur menggeliat, kemudian membuka mata, dan mendapati Agatha tengah menganga mulutnya, dengan perut yang sudah membulat sempurna. “Ya! Apa yang kau lakukan di tempatku?” seru Arshaka Dean, bingung dan kaget.


Mendengar suara ribut itu, Rumi pun terbangun. “Ada apa, Ars?” tanya Rumi, dengan suara khas bangun tidur.


“Ada pengganggu,” jawabnya, sembari mengecup bibir Rumi.


***


Kisahku sungguh luar biasa


Memintaku untuk terus bersikap dewasa


Bahkan membuatku harus siap memangsa dan dimangsa


Kisahku sungguh pelik dan penuh tipuan rasa


Tapi aku berhasil menemukan cinta


Di tengah aku merayakan euforia yang nyaris membuatku buta


Aku bertemu dengan seseorang yang lebih berharga dari permata


Dan aku tidak perlu lagi menggunakan senjata


Aku akan terus hidup dengan bahagia


Agar aku tidak perlu lagi mengubur rahasia


Aku berjanji akan terus setia


Kepada dia yang sudah memberiku keindahan dunia


***


“Kau sudah datang? Bagaimana dengan mereka?” tanya seorang pria.


“Mereka hidup dengan bahagia, kau tidak perlu khawatir,” jawabnya.


Si pria tersenyum. “Baguslah,” katanya.


END