
Ruangan megah yang dipenuhi tukang pukul dan pegawai mansion itu kini hening, hanya suara napas gusar saja yang terdengar. Peserta rapat tidak ada yang berani mengeluarkan pendapatnya lagi, mata Edmund menyorot satu persatu siapa pun yang hadir. Albert yang sedang fokus dengan yang ditampilkan di layar besar, melirik ke arah Edmund, ia menyadari sinyal bahaya yang Edmund perlihatkan. Albert harus segera mengambil alih, jika tidak, bukan tidak mungkin akan ada kejadian lebih buruk dari tindakan Edmund, seperti kejadian yang sudah-sudah.
Cadhla yang diam-diam mengamati, mencatat beberapa kesamaan antara Arshaka Dean dan Edmund Dean. Cadhla mulai menyadari, meskipun mereka berbeda antara satu sama lain, tetapi dalam hal menciptakan suasana yang tak nyaman mereka mempunyai kesamaan. Cara Edmund mengeluarkan sikap yang mengintimidasi sama dengan Arshaka Dean, dan akibat yang ditimbulkan pun sama, meskipun tidak sehebat yang dilakukan Arshaka Dean.
Robert yang sedang dirundung rasa bersalah pun, semakin terpuruk. Ia kemudian berpikir, apakah Edmund akan lebih buruk dari ini ketika tidak ada yang mendampingi? Apakah akan baik-baik saja, jika tidak ada guru pengganti untuknya? Pikiran-pikiran itu sibuk hilir mudik, Robert sudah lama bersama Edmund, dan baru kali ini dirinya merasa berat hati untuk meninggalkan mansion. Tidak ada jalan lain, Robert harus segera mencari pengganti guru pribadi untuk Edmund, dengan begitu ia bisa tenang dan bisa sedikit ikut andil dalam membantu pemulihan Arshaka Dean.
“Edmund, maksud mereka tidak seperti itu,” tegur Albert menengahi suasana yang canggung itu.
“Mereka hanya ingin memastikan, apakah ada tempat yang lebih tepat selain yang sudah kau putuskan, Edmund, dan jika kemungkinan ada, tidak menjadi masalah bukan, untuk didiskusikan?” Albert memberi pengertian.
Mendengar Albert berkata demikian, Edmund sontak tersadar akan perbuatannya. “Ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menakuti, aku hanya … tidak tau kenapa aku jadi tidak suka jika ada yang membantahku. Maafkan aku Paman dan maafkan aku semuanya.” Edmund menundukkan kepala, tanda jika ia benar-benar menyesali perbuatannya, mereka yang hadir merasa takjub, belum pernah sekalipun mereka melihat Arshaka Dean mengakui kesalahannya seperti ini, tetapi pemikiran itu langsung mereka singkirkan. Di hadapannya adalah Edmund, jika itu Edmund apa saja bisa terjadi.
“Tidak masalah Edmund, lanjutkan saja dengan rencanamu, kami pastikan akan membantumu, sebisa kami,” jawab tukang pukul tadi.
“Tapi, Edmund.” Robert yang bersuara sekarang. “Kami semua tidak mengerti bagaimana cara membangunnya, bagaimana jika kau libatkan seorang ahli, agar semuanya sesuai dengan standar dan prosedur,” usul Robert.
“Untuk saran itu, aku setuju. Jangan khawatir, nanti aku saja yang menyiapkan semuanya. Kau catat saja apa yang dibutuhkan selain bahan-bahan untuk membuat penangkaran ini, Edmund.” Albert menimpali dan secara cepat memberi solusi.
“Baiklah, aku serahkan padamu untuk masalah itu, Paman. Untuk yang lainnya, aku membutuhkan tumbuhan yang berbunga maupun yang tidak berbunga, juga beberapa jenis ulat bulu, jadi untuk itu aku meminta pertolongan dengan tulus, untuk membantuku menyiapkannya. Aku ingin jenis yang terbaik dari semua yang aku minta,” jelas Edmund.
“Ulat bulu?!” Seseorang berteriak di antara kerumunan.
Edmund sedikit terkejut dengan teriakan itu, ia langsung mencari sumber suara dan menatapnya. “Kenapa berteriak, Bibi?” tanya Edmund.
Sadar dirinya diperhatikan oleh Edmund, ia gugup, tetapi mencoba untuk menyuarakan isi kepalanya. “Edmund, apa itu tidak berlebihan? Maksudku, bukankah lebih mudah jika kita langsung menyiapkan beberapa jenis kupu-kupu saja?” tanya salah satu Bibi yang biasa mengurus rumah tangga di mansion.
“Kenapa, apa Bibi takut?” tanya Edmund menggodanya.
“Ah, Edmund, sejujurnya aku membenci hewan itu,” jawabnya.
“Ya sudah, Bibi tidak perlu membantu mencari hewan berbulu itu, padahal menggemaskan sekali, Bibi,” ujar Edmund.
“Jika diperbolehkan, aku tidak ingin berurusan dengan hewan itu,” ucap Bibi, bergidik, membuat suasana menghangat kembali, dengan tawa yang menggelegar.
“Jangan khawatir, aku akan tanyakan kepada rekanku dan segera memintanya untuk membawa ke sini. Kalian cari saja sisanya, masalah hewan berbulu itu, biar menjadi urusanku,” ujar Robert membuat tenang perasaan orang-orang yang keberatan dengan permintaan Edmund, sepertinya banyak yang takut dengan hewan menggemaskan berbulu itu.
“Terima kasih, tuan Robert, sungguh terima kasih,” ujar Bibi itu.
Rapat besar itu ditutup dengan ucapan terima kasih dari Edmund. Albert langsung menghubungi seorang ahli yang kompeten di bidang penangkaran kupu-kupu, dan yang lainnya melaksanakan pekerjaan sesuai instruksi dari Edmund. Para tukang pukul langsung meninjau tempat yang sudah diputuskan, untuk membangun penangkaran kupu-kupu, mereka mulai membersihkan dan merapikan tempatnya.
Edmund ingin membuatnya dengan megah dan cepat, maka dari itu semuanya bekerja dengan gesit. Para bibi mulai berbenah dan menghubungi toko bunga, juga ahli kehutanan, guna menanyakan tumbuhan seperti apa yang sesuai dengan penangkaran kupu-kupu. Mereka tinggal di mansion Arshaka Dean, sudah tentu mengetahui bagaimana tabiat Arshaka Dean, mereka tidak ingin asal tebak untuk tuannya itu.
Untuk ulat bulu, Robert menghubungi rekannya yang kebetulan mengembangkan beberapa jenis kupu-kupu, karena Edmund ingin melihat perkembangan kupu-kupu, maka ia hanya meminta rekannya untuk mengirimkan ulat bulunya saja tanpa kupu-kupu. Untuk biaya, jangan mengkhawatirkan tentang itu, ingatlah Arshaka Dean adalah mafia paling kaya, uangnya tidak akan habis, meskipun Edmund menginginkan seribu mobil keluaran terbaru saat ini juga, uangnya akan selalu tersisa.
“Edmund, ulat bulu sudah siap, sedang dikirim,” kata Robert setelah selesai dengan panggilan teleponnya.
“Baiklah, terima kasih Robert. Ah, hampir lupa, aku ingin ulat bulu yang bagus, Robert,” jawab Edmund.
“Tenang saja, semuanya sudah sesuai dengan yang kau inginkan,” kata Robert.
“Syukurlah jika begitu,” ucap Edmund.
“Cepat sekali, kalau begitu langsung saja persiapkan. Apa bahan-bahan sudah tiba, Paman?” tanya Edmund.
“Sudah, Edmund. Mereka datang membawa bahan-bahan yang diperlukan, aku memesan langsung dari mereka,” jawab Albert.
“Kau bekerja terlalu keras, Paman, tapi terima kasih banyak, sudah mengijinkan aku membangun penangkaran kupu-kupu ini,” ucap Edmund dengan senyum indahnya, wajah Edmund sangat tampan, apalagi jika dirinya tersenyum, kadar tampannya bisa naik berkali-kali lipat, tidak akan heran jika perempuan selalu terpesona dengan dirinya, baik pada saat jiwa Edmund yang mengambil alih, maupun sebagai Arshaka Dean yang merupakan pemilik asli dari raganya.
“Bukan masalah besar, Edmund, aku senang bisa membantumu,” jawab Albert.
Seorang bibi mendekat. “Edmund, tumbuhan sebentar lagi akan tiba, jika ada yang kurang, aku bisa memesannya lagi,” ujarnya.
“Terima kasih, Bibi. Ulat bulu juga akan segera tiba, Bibi, kau bisa melihatnya lebih dulu jika penasaran,” goda Edmund.
“Terima kasih, Edmund. Tapi ijinkan aku untuk berlari jika hewan itu datang,” jawab Bibi itu. Sontak Edmund, Albert dan Robert tertawa mendengarnya.
Para ahli sudah datang, pembuatan penangkaran kupu-kupu resmi dimulai. Mereka datang rombongan, membawa kaca yang paling berkualitas, dan bahan-bahan tambahan lainnya dengan kualitas paling super, sesuai permintaan. Bahan material diturunkan, para tukang pukul ikut membantu, saling bertegur sapa dan meneruskan pekerjaan mereka.
Setelah pengukuran tempat dan lainnya selesai dilakukan, mereka mulai membuat rancangan sesuai yang diarahkan oleh Edmund. Bentuk penangkaran yang diinginkan oleh Edmund, belum pernah mereka buat sebelumnya, ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Meskipun begitu, pembuatannya terbilang cepat, semua orang dikerahkan, dengan teliti dan perencanaan yang matang, penangkaran kupu-kupu sudah hampir jadi.
Di tengah kesibukan pembuatan penangkaran kupu-kupu, Watson Varun datang berkunjung ke mansion Arshaka Dean. Watson adalah teman sebaya dari Arshaka Dean yang sudah lama berteman dengannya. “Ars …!” teriak Watson begitu melihat Edmund.
Albert yang menghampiri Watson. “Dia belum kembali, Watson,” kata Albert.
“Astaga, aku lupa, Albert. Tapi, Albert, ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?” tanya Watson melihat semua orang sibuk berlalu lalang.
“Ah, tidak ada apa-apa, hanya saja … Edmund menginginkan sebuah penangkaran, Watson, jadi kami membantunya,” jawab Albert.
“Di tempat ini?” tanya Watson heran, ia mengetahui kesakralan tempat itu.
“Ya, seperti yang kau lihat, kami tidak bisa menolaknya, Watson,” jawab Albert lagi.
“Aku mengerti, lagi pula, mereka orang yang sama,” ucap Watson.
“Kau benar. Ada apa, Watson? Ada yang bisa kubantu?” tanya Albert.
“Tidak, aku hanya ingin bertemu dengannya, kukira dia sudah kembali, Albert,” kata Watson.
“Sepertinya masih lama ia kembali, Watson,” ucap Albert.
“Tidak masalah, Albert. Bukan sesuatu yang mendesak, aku bisa kembali lagi lain waktu,” kata Watson.
“Masuklah, Watson, maafkan jika mansion sedikit berantakan,” ujar Albert.
“Jangan khawatirkan aku, lanjutkan saja, aku akan pergi melihat-lihat, sepertinya menarik,” kata Watson.
“Lakukanlah, aku harus kembali, Watson. Banyak yang harus aku lakukan,” pamit Albert.
“Silakan, jangan hiraukan aku, Albert,” kata Watson.
Mereka berpisah, Albert pergi meninjau pembuatan penangkaran kupu-kupu, sedangkan Watson pergi melihat-lihat kesibukan orang-orang. Tidak akan ada yang menyangka sedikit pun, bahwa tempat bermeditasi Arshaka Dean dibangun sebuah penangkaran kupu-kupu. Meskipun terlihat antusias, tetapi semua orang tengah cemas dengan reaksi Arshaka Dean jika ia sudah kembali nanti.