The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 66. Identitas Rumi Yang Sebenarnya



Rumi menatap Arshaka Dean penuh ketegangan, pertanyaan Arshaka Dean menyadarkan Rumi, jika Arshaka Dean sebenarnya telah mengetahui bahwa Rumi bukanlah pengajar biasa. Arshaka Dean masih tersenyum, menanti jawaban dari Rumi, ia mengelus rambut Rumi yang tergerai.


Lama tidak bertemu dengan Rumi, membuat Arshaka Dean rindu, hatinya masih bergetar, apalagi ketika melihat Rumi bertarung bersamanya, tapi Arshaka Dean masih belum paham dengan perasaannya itu.


Di ruangan itu biasanya Arshaka Dean sendirian, merenung dan menyalahkan diri sendiri. Kali ini perasaannya lebih tenang, karena ia bisa terbuka tentang hal besar yang sudah ia sembunyikan berpuluh-puluh tahun lamanya.


Arshaka Dean kembali tersenyum, ia paham Rumi pasti ragu untuk memberitahu kebenarannya, maka ia coba memberi kenyamanan dan keamanan pada Rumi, ia mengelus punggung Rumi. “Aku sadar, kau bukanlah wanita biasa Rumi,” ujar Arshaka Dean.


“Aku juga mulai curiga padamu, Rumi. Aku beberapa kali melihat kau diam-diam menerima panggilan telepon, dan yang lebih membuatku curiga, kau sempat mengambil gambar dari foto yang Edmund temukan itu,” aku Albert, menimpali.


Rumi menegakkan tubuhnya, mungkin sudah saatnya ia membuka jati diri yang sebenarnya tentang siapa dirinya itu. “Aku seorang mata-mata,” ucap Rumi dalam satu tarikan napas.


“Mata-mata? Untuk memata-matai Ars, kau berkomplot dengan organisasi mafia mana, Rumi?” tanya Albert, mengerutkan kening, menyiapkan kewaspadaan.


Atas informasi itu, membuat Albert melirik setiap ruangan, takut-takut ada penyadap yang sengaja Rumi pasang. Albert terlihat lebih banyak bergerak, bahkan melihat ke bawah kursi, untuk memastikan bahwa ruang tunggu mereka aman.


“Kau berlebihan, Albert, dengarlah dulu penjelasanku, aku tidak mungkin melakukan sabotase di tempat ini,” ujar Rumi, tertawa kecil.


“Lalu, siapa yang sedang kau selidiki, Rumi?” tanya Arshaka Dean, tenang.


Rumi menoleh, menatap Arshaka Dean. “Watson, aku dikirim untuk mengawasi dia,” jawab Rumi.


“Watson?”


Flashback On


Rumi berdiri di ruangan elegan milik seorang wanita paruh baya yang cantik, dan sangat ramah. Rumi sengaja dipanggil oleh wanita yang selalu ia panggil ibu itu, Rumi yang sedang mengajar di salah satu sekolah, langsung meluncur ke ruangannya.


“Rumi, aku membutuhkan keahlianmu,” ucap ibu itu, Birdella namanya.


“Apa itu, Ibu?” tanya Rumi.


Rumi adalah anak yang diangkat oleh Birdella, waktu itu Rumi datang dalam keadaan lusuh, Birdella kebetulan tinggal seorang diri, ia putuskan untuk mengangkat Rumi. Birdella membesarkan Rumi seperti anaknya sendiri, Birdella perhatikan semua kebutuhan Rumi, sampai ia tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Birdella, sekolahkan dia dalam pendidikan khusus seorang mata-mata, hingga akhirnya ia bergabung dalam organisasi mata-mata rahasia.


“Bantu aku untuk mengawasi orang yang berada di foto ini.” Birdella menyerahkan satu lembar foto pada Rumi. “Laki-laki itu sangat berbahaya, aku ingin kau membawanya dalam keadaan hidup maupun mati kepadaku, dia tergabung dengan organisasi paling berbahaya, dia memiliki tato yang sama dengan lambang organisasi itu,” jelas Birdella.


Rumi memperhatikan foto di tangannya dengan seksama, ia belum pernah melihat laki-laki itu, terlihat seperti laki-laki biasa saja, jika Birdella tidak menjelaskannya, tapi timbul satu pertanyaan. “Tapi, Ibu, kenapa aku harus mengawasi dia?” tanya Rumi, pekerjaan utamanya adalah seorang mata-mata, ia tentu harus tau latar belakang dari tugasnya ini.


Birdella menatap Rumi penuh harap, seakan hanya Rumi lah yang dapat membantunya itu, dan memanglah hanya dia yang bisa. “Aku harus menyelamatkan anakku,” jawab Birdella, sedih.


Rumi tertegun, tapi ia mengerti, pada saat itu pula, Rumi bulatkan tekadnya. “Baik aku mengerti, akan aku kerjakan, Ibu,” jawab Rumi, tersenyum.


“Hati-hati, Rumi, aku memang berharap banyak padamu, tapi jika kau menjerumuskan diri dalam bahaya, itu akan sia-sia, kau sangat berharga bagiku, aku tidak ingin kehilanganmu,” pesan Birdella, Rumi mengangguk terharu.


Misi sudah ia terima, dan sudah mendapat informasi jika laki-laki di foto itu bernama Watson, dia dekat dengan anak dari Birdella. Rumi mulai mencari tau semuanya, hingga ia mendengar bahwa Robert, gurunya sendiri kenal dekat dengan anak Birdella itu, Rumi mengambil kesempatan itu untuk bisa masuk ke tempatnya.


Hari pertama di tempat itu membuat Rumi menganga, karena Birdella sama sekali tidak pernah membahas anaknya, atau mungkin Birdella tidak pernah tau. Tapi akhirnya ia bisa bertemu dengan Watson, laki-laki di foto itu, mulai dari situ Rumi mengawasi setiap pergerakan Watson.


“Ibu aku sudah bertemu dengannya, dia sangat ahli, Ibu, dia sama sekali tidak terlihat seperti pengkhianat,” lapor Rumi pada Birdella.


“Terus awasi dia, Rumi, dia sangat licik, dia akan melakukan segala cara untuk menghancurkan apa saja, dan hati-hati jangan sampai menimbulkan banyak kecurigaan,” kata Birdella.


“Baik, Ibu,” jawab Rumi.


“Rumi, bagaimana kabar anakku?” tanya Birdella.


“Dia luar biasa, Ibu. Tapi ….”


Awalnya semuanya berjalan dengan lancar dan penyamarannya tidak tercium oleh siapa pun, tapi Rumi mulai lengah karena terlalu jatuh pada pesona Arshaka Dean. Rumi tidak memperhatikan sekitar, karena Watson tidak banyak bergerak, hingga di hari itu Arshaka Dean dibawa oleh Watson.


“Periksa setiap CCTV yang mengarah jalan dan mansion, cepat!” perintah Rumi. “Kita harus cepat! Dia dalam bahaya!”


Rumi panik dan mengerahkan semua kemampuannya, ia melacak keberadaan Arshaka dean, dan akhirnya bisa menemukan tempat penyekapan Arshaka dean, begitulah cara Rumi menyelamatkan Arshaka Dean.


“Ars!”


Flashback Off


“Kecurigaanku ternyata terbukti,” ujar Watson setelah Rumi menceritakan kisahnya.


“Kau tau sesuatu, Albert?” tanya Arshaka Dean.


“Ah, kau ingat kasus penyelundupan ke perusahaanmu itu, Ars? Kita sempat memeriksa video bersama, dan aku sekilas melihat Watson ada di video itu, mengarahkan orang-orang. Aku tidak membicarakannya padamu, karena aku tidak yakin dengan yang aku lihat itu,” jelas Albert.


“Kau tidak terkejut, Ars?” tanya Rumi.


Selama Rumi bercerita, Arshaka Dean terlihat biasa saja, tidak seperti bayangan Rumi, yang mengira Arshaka Dean akan sangat marah pada Watson.


Arshaka Dean menarik napas. “Aku sudah menduganya, dia berubah setelah lama menghilang, dan beberapa kali dia juga mencoba menggagalkan misiku, entah apa tujuannya, tapi setelah kejadian kemarin, aku baru mengerti, jika dia berkomplot dengan orang tua itu. Tapi aku tidak pernah melihat tato yang kau bilang itu, Rumi,” jelas Arshaka Dean.


Setelah mendengar penjelasan Arshaka Dean, Rumi paham kenapa Arshaka Dean tidak terkejut dengan kabar darinya. “Tato itu ada, dan itu tidak jelas terlihat, tapi jika kau memperhatikan dengan seksama, kau akan menemukannya, dan itu lambang organisasi Victor, berbentuk kupu-kupu,” kata Rumi.


“Kupu-kupu? Jadi, yang disebutkan oleh Edmund itu semuanya benar,” ujar Albert mengingat pembicaraannya dengan Edmund.


Arshaka Dean merenung, Edmund ternyata menyelami ingatannya, Arshaka Dean tidak paham bagaimana caranya, tapi yang pasti Edmund telah menyelamatkan hidupnya. Ia tak sabar untuk bertemu Edmund, Arshaka Dean yakin, keajaiban itu ada, dan Edmund pasti akan kembali lagi padanya.


Seakan terhipnotis oleh cerita Rumi, Arshaka Dean melupakan satu nama di kisah Rumi, dan kelimpungan ketika ia mengingatnya. “Tunggu dulu.” Arshaka Dean bangun dan menatap Rumi dengan serius. “Kau bilang nama ibumu, Birdella?” tatapan mata Arshaka Dean menyipit. “Kau suruhan Birdella?” tanya Arshaka Dean lagi.


“Birdella?” seru Albert.