The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 73. Akhirnya Tersampaikan



“Robert?” ucap Arshaka Dean, ragu, kepada pria yang menghampirinya.


Arshaka Dean menghela napas, padahal suasananya sudah mendukung, tiba-tiba buyar begitu saja, kata-kata yang sudah ia persiapkan pun mendadak lenyap.


Arshaka Dean tidak mungkin marah pada Robert, salahnya juga tidak mengantisipasi hal ini, meskipun heran dengan adanya Robert, tapi kemudian ia teringat jika mereka sedang berada di kampus tempat Robert mengabdikan diri.


“Apa kabar, Ars? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini?” Robert mengulurkan tangan, antusias. Arshaka Dean tak ada pilihan, selain menyambut hangat uluran tangan Robert.


“Apa yang membawamu datang jauh-jauh ke sini, Ars?” tanya Robert.


Arshaka Dean tidak menjawab, ia menoleh pada Rumi, kemudian menarik tangan Rumi untuk ia genggam. Hati mereka masih menggebu-gebu, tapi tak bisa berbuat banyak, jadi Arshaka Dean berinisiatif untuk memegang tangan Rumi, mencari kenyamanan di sana, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan Robert.


Robert memahaminya, mungkin ia datang pada waktu yang kurang tepat, tapi mau bagaimana lagi, Robert terlanjur antusias ketika melihat Arshaka Dean di kampusnya. “Oh, kau menemui Rumi,” ujarnya. Robert teringat sesuatu. “Ah, aku ikut prihatin dengan keadaan Edmund, aku sudah mendapat kabar dari Rumi begitu ia kembali. Aku tak dapat membayangkannya, Ars, kau hebat,” kata Robert, tiba-tiba saja.


Ketika Rumi datang di kotanya, orang pertama yang ia temui adalah Robert, karena menurutnya Robert harus tau tentang semua yang terjadi dengan Arshaka Dean dan Edmund. Robert sudah pasti sangat terkejut mendengarnya, ia bahkan menangis karena tidak tega dengan penderitaan yang dialami oleh Arshaka Dean.


“Terima kasih, Robert, kau juga banyak membantu kami,” jawab Arshaka Dean, bingung harus mengatakan apa lagi.


“Aku tidak berbuat banyak, Ars, tapi, sebenarnya aku hendak menemuimu, ada yang harus aku katakan padamu tentang Watson, syukurlah kita bisa bertemu di sini,” ujar Robert.


Arshaka Dean, menatap Robert tak mengerti, kenapa Robert tiba-tiba membahas Watson. “Watson, ada apa dengan dia?” tanya Arshaka Dean.


Dua hari lalu setelah mendapat kabar dari Rumi, Robert merasakan ada kejanggalan dengan cerita Rumi, karena ada nama Watson yang tiba-tiba disebut dan menjadi pengkhianat dari tubuh Arshaka Dean.


Robert kemudian mencari tahu alasan Watson melakukan pengkhianatan. “Ars, aku menemukan informasi yang mengejutkan. Ternyata, keluarga Watson adalah salah satu korban dari kekejian Victor. Watson sengaja mendekatimu untuk menghancurkan kekuasaan Victor, dengan mengincarmu, bahkan ia sudah merencanakan untuk menggunakan Rumi demi menghancurkanmu,” jelas Robert.


Darah Arshaka Dean berdesir cepat, rahangnya mengeras mendengar pernyataan Robert, apalagi begitu nama Rumi disebut. “Kurang ajar,” gumamnya, Rumi merasakan tangannya diremas kuat oleh Arshaka Dean.


“Watson mengetahui jika kau anak dari Victor, tapi kemudian dia menyadari jika kau sama sekali tidak peduli dengan Victor. Watson merasa gagal, entah bagaimana Watson berbalik menyerangmu, sepertinya Watson sudah terhasut oleh Victor dan dendamnya sendiri, hingga ia lupa dengan tujuannya sendiri,” jelas Robert lagi.


Jika dipikir ulang, semuanya masuk akal, Watson tidak mungkin tiba-tiba melakukan penyerangan pada Arshaka Dean. Watson mungkin sudah terlalu putus asa karena tidak bisa membalaskan dendamnya pada Victor, sehingga ia mencari cara lain dengan Arshaka Dean sebagai sasaran.


Padahal jika Watson berbicara kepada Arshaka Dean secara baik-baik, tentu Arshaka Dean akan membantunya, tapi Watson terlalu berpikir sempit, dan berakhir tidak mendapat apa-apa.


“Karena aku mengalami hal yang sama, aku bisa mengerti perasaan Watson, tapi sungguh disayangkan, dia salah melangkah,” ucap Arshaka Dean, merenung.


“Lalu, apa yang terjadi pada mereka, Ars?” tanya Robert.


“Aku pastikan mereka mendapat balasan yang setimpal, Robert.” Genggaman tangannya semakin mengerat pada tangan Rumi, menyalurkan rasa marahnya yang muncul tiba-tiba. “Aku buat mereka merasakan apa yang Edmund rasakan,” jawab Arshaka Dean.


Ah, Robert sungguh sakit hatinya mendengar semua yang terjadi pada Arshaka Dean, ia menghela napas. “Ini berat, bukan? Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, hiduplah dengan bahagia setelah ini, Ars,” ucap Robert.


Begitu mendengar kata bahagia disebut, jari-jari Arshaka Dean bertaut dengan punya Rumi, seakan ingin mengatakan bahwa dirinya akan bahagia dengan Rumi. “Aku baik-baik saja, Robert, kau tidak perlu khawatir, aku ingin hidup, itu satu-satunya yang kuinginkan sekarang, Robert,” kata Arshaka Dean, sarat akan banyak makna.


“Baguslah jika seperti itu, aku ikut senang mendengarnya. Mampirlah sebentar ke tempatku, Ars, ada teh hijau yang kau sukai,” ajak Robert.


“Mungkin lain kali, Robert, ada yang ingin kusampaikan padanya,” tolak Arshaka Dean, melirik Rumi yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


“Astaga, apa aku sudah mengganggu waktu kalian?” Robert panik.


Iya kau benar-benar mengganggu, bisakah pergi lebih cepat, sebelum kubunuh kau, ucap Arshaka Dean dalam hati, ia tidak mungkin mengatakannya secara langsung, meskipun sikapnya sudah menunjukkan jika dirinya memang terganggu.


“Maafkan aku, aku terlalu senang bisa bertemu denganmu lagi, aku akan segera pergi, nikmatilah waktu kalian,” ucap Robert, kemudian ia pamit dan meninggalkan mereka berdua.


Arshaka Dean menghadap pada Rumi, sementara Rumi melirik tangannya yang sedari tadi saling bertaut. Rumi tersenyum membalas tatapan Arshaka Dean, tangannya ia ayunkan, rasanya sungguh luar biasa, dan Rumi menyukainya, tangan Arshaka Dean terasa pas, jika boleh ia ingin meminta lebih.


“Rumi?”


Astaga apa lagi ini?! Bisakah semua orang enyah dari dunia ini! gerutu Arshaka Dean dalam hati.


Arshaka Dean menunjukkan wajah yang tidak bersahabat, Rumi tau itu, dan sebelum kesalahpahamannya menjadi masalah, Rumi harus segera bertindak. “Thomas, pria yang bersamaku ini, Ars.” Rumi menunjuk Arshaka Dean dengan tangannya. “Dan Ars, ini teman sekaligus partner kerjaku, Thomas,” jelas Rumi.


Thomas mengulurkan tangan. “Senang berkenalan denganmu, Kawan,” ucap Thomas, berusaha mengakrabkan diri.


Arshaka Dean tidak menjawab, tapi menerima uluran tangan dari Thomas, mereka berjabat tangan, dengan Arshaka Dean yang sengaja mengeratkan jabatan tangannya. Thomas paham dengan situasi ini, Arshaka Dean pasti sudah salah paham dengannya terhadap Rumi. Arshaka Dean melepaskan jabatan tangannya lebih dulu, membuang muka dari Thomas.


Thomas hanya tersenyum. “Aku harus pergi, Rumi, suamiku sudah menunggu di luar, aku harus segera menemuinya sebelum dia berubah menjadi Hulk,” kata Thomas, setengah bercanda.


Rumi tertawa menanggapi gurauan Thomas. “Baiklah, kuharap kita bisa bertemu kembali, sampaikan salamku untuknya,” ujar Rumi.


Arshaka Dean tercengang, dengan fakta yang baru saja ia dapat, Arshaka Dean dibuat mati kutu. Ia sudah berpikir macam-macam tentang Thomas, dan berencana untuk menjauhkan Rumi dengannya. Kini Arshaka Dean tak bisa berkata-kata lagi, ia diam-diam melihat wajah Thomas karena tidak percaya, menyadari Thomas memergoki dirinya, Arshaka Dean buru-buru membuang muka, malu sepertinya.


Thomas langsung pamit dan meninggalkan mereka, Arshaka Dean menoleh sebentar, melihat punggung Thomas hingga tak terlihat lagi. Arshaka Dean tak menyangka dengan fakta itu, sungguh tak terlihat jika Thomas seperti itu, memang benar kita tidak boleh menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya saja.


“Suami? Dia sudah punya suami? Jadi kau dan dia ….” Arshaka Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Benar, dia bersuami, memangnya apa yang sudah kau pikirkan tentangnya?” tanya Rumi, menyelidik wajah Arshaka Dean yang terlihat malu-malu.


“Lupakanlah,” ucap Arshaka Dean, membuang muka.


Rumi tertawa. “Kau pikir dia berusaha mendekatiku?” tanya Rumi, menggodanya, sikap Arshaka Dean sungguh menggelikan.


Arshaka Dean mengangguk, tersenyum kikuk, ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. Baru pertama datang ia dikejutkan dengan kabar kepergian Rumi, yang ternyata hanya pergi ke kampus, lalu ia dibuat marah karena melihat Rumi dengan pria lain, dan berakhir malu sendiri.


“Hey, apa-apaan itu, dia bahkan tidak suka perempuan,” ucap Rumi.


Arshaka Dean menatap Rumi, dan menautkan kembali tangannya pada tangan Rumi. “Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri, aku tidak mau kehilanganmu lagi, sudah cukup satu minggu ini aku hidup tanpa kau, Rumi. Berat sekali, Rumi, aku tidak ingin merasakannya lagi,” aku Arshaka Dean.


Rumi seketika berhenti tertawa, suasana tiba-tiba menjadi serius. Rumi terenyuh hatinya, Rumi dapat merasakan ketulusan Arshaka Dean. “Lalu, apa yang membawamu datang ke sini, Ars?” tanya Rumi, Rumi merasa harus bertanya soal ini, ia tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.


Arshaka Dean menegakkan tubuhnya, ini saatnya dia membuktikan diri, Arshaka Dean siap kali ini. “Untuk ….” Begitu memulai kata, ia merasakan tempat itu tidak tepat untuknya menyampaikan perasaan. “Argh … aku tidak bisa Rumi, bawa aku ke tempat lain, aku tidak mau ada yang mengganggu lagi,” ucapnya, membuat Rumi tersenyum, mengerti.


***


Taman belakang kampus yang di sekitarnya terhampar hijau rerumputan dan sejuknya danau, menjadi tempat paling tepat untuk mereka beradu kasih. Arshaka Dean dan Rumi duduk bersandar pada bangku taman yang hanya ada satu-satunya di sana.


Mereka masih berpegangan tangan, menikmati kedamaian yang tercipta di taman itu. sebelum menyampaikan perasaannya, Arshaka Dean butuh ketenangan, dengan berdiam diri sebentar, ia coba untuk menciptakan waktu.


“Rumi?” panggilnya, membuat yang dipanggil menoleh.


“Aku tau ini sangat terlambat, tapi sepertinya ini patut kau dengar, aku sudah jauh-jauh datang ke sini, tujuannya hanya satu, Rumi, tapi sebelum itu, aku ingin tau, apa kau masih menungguku, Rumi?” tanya Arshaka Dean, mengantisipasi kalau-kalau Rumi sudah tak mencintainya lagi.


“Selalu,” jawab Rumi tak banyak berpikir, membuat Arshaka Dean lega.


“Rumi, setelah kau pergi dari tempatku, sungguh perasaanku kalut, aku tidak mengerti awalnya kenapa, tapi semakin hari, aku semakin ingin melihatmu, bersenang-senang denganmu, juga mendengar suaramu,” akunya.


Arshaka Dean semakin mendekatkan tubuhnya pada Rumi, menatap tepat di matanya, menikmati mata indah itu yang sangat ia rindukan.


“Kemudian aku berpikir, jika aku membutuhkanmu, Rumi, aku sudah merasakannya, aku sudah mendapat jawaban dari debar di hatiku ini. Kau sudah mengatakannya padaku, dan ….”


Arshaka Dean berhenti sejenak, hatinya berdebar-debar, seakan jantungnya akan berhenti. Perasaan itu pun sama seperti yang Rumi rasakan, setelah menenangkan diri, lalu Arshaka Dean berkata, “Rumi, aku mencintaimu.” Tangan Rumi bergetar, satu titik air matanya menetes.


Akhirnya kata-kata itu terlontar juga, kata yang sangat keduanya nantikan, kata yang membuat Arshaka Dean tidak bisa tidur, tidak enak makan, bahkan membuat emosinya tak karuan.


Akhirnya Arshaka Dean berani untuk menaklukkan perasaannya sendiri, akhirnya Arshaka Dean mengakui, jika dirinya jatuh, sejatuh-jatuhnya pada Rumi dan hanya pada Rumi seorang.