
Hening sesaat, Chadla dan Albert melihat Arshaka Dean yang terbaring di tempat tidur. Hati Albert sakit melihat tuannya terbaring seperti itu, pertanyaan yang diajukan oleh Albert juga yang menjadi pertanyaan Chadla. Begitu melihat reaksi Arshaka Dean terhadap kupu-kupu, Chadla juga curiga pada hal yang sama, tetapi kenapa kupu-kupu?
“Aku tidak tau, Albert. Kita sama-sama tidak ada di masa lalu, Ars, semua masih dugaan, tetapi jika terus berulang seperti ini, mungkin kita bisa sama-sama simpulkan, jika pemicu yang lainnya, mungkin saja kupu-kupu.” Chadla terlihat merenung sesaat.
“Sulit untuk mencari tau jika Ars sendiri tidak mau kita ajak diskusi. Albert, kita harus bekerja keras mulai sekarang.” Chadla menatap Albert.
“Keadaannya semakin tidak bisa dikendalikan, aku khawatir … apa yang sama-sama kita takutkan terjadi. Aku takut suatu saat nanti … Ars … benar-benar menghilang,” jelas Chadla, berat sekali.
“Kau tidak bersungguh-sungguh, bukan? Kau pasti bisa menyembuhkan Ars, bukan? Kau pasti bisa, bukan?” tanya Albert memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
“Kita tidak bisa memastikan seratus persen, tetapi jika dilihat dari kacamata kedokteran, indikasi untuk menuju ke sana, sangat mungkin, Albert,” kata Chadla.
Rumi yang menolak untuk percaya dengan kondisi Arshaka Dean, sedikitnya ada rasa ingin merangkul, ingin memeluk Arshaka Dean. Ia tatap wajah tegang Arshaka Dean, desir di hatinya datang lagi, kali ini diikuti dengan rasa cemas yang kian mendera. Rumi menghela napas, ia harus melakukan sesuatu, jika ingin memasuki hati Arshaka Dean, ia harus berbuat lebih untuk mencuri perhatiannya.
Rumi kemudian mendekati Albert dan Chadla yang tengah serius membicarakan tuannya. “Apa yang bisa aku bantu, Albert? Apa yang bisa kubantu agar Ars tidak mengalami itu? Albert, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?” ucapnya.
“Oh, astaga, terima kasih Rumi, kau tidak perlu berbuat apa-apa, jadilah dirimu sendiri, Rumi. Sejujurnya, aku pun tidak tau, tindakan apa yang tepat untuk membantu Ars, untuk saat ini, sepertinya kita hanya bisa berharap Ars mau mengikuti terapi. Itu sepertinya satu-satunya jalan, Rumi,” kata Albert.
“Dia juga butuh dukungan, Rumi, jika kau bersedia untuk selalu ada untuknya, itu akan jauh lebih baik lagi,” tambah Chadla.
“Aku bersedia, Chadla. Akan kupastikan, Ars mau mengikuti saran kalian,” kata Rumi.
“Aku senang banyak yang peduli padanya, aku sudah lama menghadapi keadaan ini sendirian. Aku bersyukur kali ini banyak orang yang mau membantunya, aku senang. Teruslah, bersamanya, Rumi,” ucap Albert penuh syukur.
“Mulai dari sekarang akan banyak lagi yang peduli padanya, Albert. Kau tidak perlu khawatir lagi, aku tidak akan pergi dari kalian,” kata Chadla, membuat hati mereka tenang untuk sesaat.
Dulu sekali, ketika hanya Albert saja yang mengetahui fakta tentang Arshaka Dean, semuanya serba sulit. Albert terpaksa mengatasi sendirian, sempat putus asa, sempat ingin keluar dari mansion, karena sosok Edmund tidak semudah itu dikendalikan.
Pernah suatu waktu, Edmund berada di tempat paling tinggi di mansion itu, ia hendak menjatuhkan diri, untunglah pada saat itu Chadla datang bersama dengan Robert. Meskipun dengan cara yang alot, Edmund akhirnya bisa dikendalikan, dengan menyuntikkan obat penenang.
Waktu itu hanya dengan cara seperti itu, Edmund bisa dikendalikan, lalu Robert menjadi sosok yang menenangkan bagi Edmund, ia jelaskan tentang ilmu pengetahuan, hingga Edmund bisa lebih fokus dengan kehidupannya.
Saat ini, ketika terjadi lagi hal yang menyulitkan, Albert tidak sendirian lagi, telah banyak orang yang membantu, tetapi hatinya tetap saja gusar. Bukan hanya ingin banyak yang membantu, lebih, lebih dari itu, Albert menginginkan tuannya kembali lagi. Albert ingin Arshaka Dean yang dulu lagi, meskipun selalu berlumuran darah akibat bertarung, setidaknya dulu tidak ada Edmund, tidak ada tameng bagi Arshaka Dean untuk berlindung dari dirinya sendiri.
Semuanya berubah, ketika Arshaka Dean beranjak dewasa. Albert sempat kehilangan jejak Arshaka Dean selama dua tahun lamanya, itulah mengapa banyak hal yang Albert tidak ketahui tentang Arshaka Dean. Albert bekerja di mansion keluarga Arshaka Dean sudah dari lama, dari Albert masih sangat muda, tetapi ia baru terlibat langsung dengan Arshaka Dean, ketika Arshaka Dean berumur belasan tahun.
Arshaka Dean meninggalkan mansion keluarganya di umur dua puluh tahun. Albert sedikitnya hanya mengetahui kehidupan remaja Arshaka Dean yang tidak seberapa, ia bertemu lagi dengan Arshaka Dean ketika ia berada di mansion ini, dan memutuskan untuk bekerja kembali pada Arshaka Dean.
Keluarga Arshaka Dean dulu adalah keluarga yang paling terkenal, tetapi ada satu kejadian yang menyebabkan Arshaka Dean keluar dari mansion keluarganya. Dari sanalah, Albert baru mengetahui ada sosok lain yang hidup di raga Arshaka Dean, yang hingga sekarang ia tidak pernah tau penyebab dari terpecahnya jiwa Arshaka Dean ini.
“Ars …!” Seseorang berteriak di bawah mansion, membuyarkan lamunan Albert.
“Ars …!” teriakan itu terdengar semakin dekat.
“Ars … kau ada di atas!” teriaknya lagi.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekati kamar Arshaka Dean, semakin dekat, langkahnya kian terdengar.
“Ars, kau berjanji padaku untuk bermain golf bersama, aku sudah di sini, Ars …!” teriaknya di ambang pintu.
“Watson!” pekik Albert.
Watson terkejut, ia buru-buru masuk ke dalam kamar Arshaka Dean, Watson melihat Arshaka Dean terbaring di tempat tidur.
“Ars?” Watson masih terkejut.
Albert memegang kedua bahu Watson, memandang teman lama dari tuannya ini, ia tatap Watson begitu lamat, mencoba mencari kebahagiaan tuannya ketika bercengkerama dengan Watson.
“Albert?” Watson memegang tangan Albert.
“Watson, Ars ….” Suaranya nyaris tak terdengar.
“Ada apa ini, Albert? Sesuatu terjadi lagi padanya? Katakan padaku, ada apa lagi ini? Dia hanya tertidur, bukan?” tanya Watson bertubi-tubi.
“Dia tak sadarkan diri, Watson. Sudah lebih dari satu jam, kami tengah cemas menunggu, kami bahkan tidak tau yang akan bangun nanti Edmund ataukah Ars.” Chadla yang memberikan penjelasan, Albert masih betah dengan lamunannya, hingga ia tak sadar dirinya ditanyai ini dan itu.
“Albert, kau baik-baik saja?” tanya Watson, Rumi mendekat dan menepuk pundak Albert.
Watson melihat ke arah Rumi dan menyadari sesuatu. “Hey, dia bukan Agatha, siapa dia Albert?” tanya Watson.
Albert tiba-tiba saja tersadar, ia menurunkan tangannya dari pundak Watson perlahan-lahan. “Watson, maafkan aku, aku terlalu emosional. Ah, dia … dia memang bukan Agatha, dia yang menggantikan Robert.” Albert terdiam lagi.
“Pengganti Robert?” tanya Watson.
“Benar, Robert tidak bisa mengajar lagi, ia lalu merekomendasikan Rumi pada kami. Ah, ia namanya Rumi, Watson. Mulai sekarang ia akan bekerja di mansion ini,” jelas Albert.
Rumi yang mendengar namanya disebut, melirik Watson, ia perhatikan Watson dari ujung kepala hingga ujung kaki, menelusuri setiap inci tubuhnya. Tatapannya seolah menguliti tubuh Watson di depannya.
Seperti ini orangnya, batin Rumi. Aku menemukanmu, akhirnya, sepertinya ini akan semakin seru, Ibu, lanjut Rumi masih bermonolog di dalam hatinya.
Akan aku perhatikan dia dari dekat, Ibu. Jangan khawatir lagi, Rumi berbicara dalam hati, seolah ia tengah mengadu kepada seseorang.