
Rumi mengerti dengan keterkejutan Arshaka Dean dan Albert ini, ia sudah mengiranya, bahkan dari sebelum dirinya menceritakan siapa Rumi sebenarnya. Apa yang Rumi beritakan pasti menjadi informasi yang paling mengejutkan bagi Arshaka Dean.
Rumi pernah merasakan hal yang sama ketika dirinya diceritakan tentang kehidupan Birdella. Tapi kali ini, sepertinya Rumi harus pandai berkata, takut-takut jika nantinya timbul kesalahpahaman.
“Kau yakin nama ibumu Birdella, Rumi?” tanya Albert.
“Aku bukan anak kandungnya,” ujar Rumi.
Arshaka Dean mengacak rambutnya sendiri, jika benar apa yang Rumi katakan tentang Birdella, ia harusnya senang. Tetapi ia sudah sering dijatuhkan oleh ekspektasinya sendiri, jadi Arshaka Dean kali ini mencoba untuk tidak terlalu buru-buru, meskipun tentu saja ia berharap banyak tentangnya.
“Rumi, aku hanya akan bertanya satu kali ini saja, kau bisa putuskan untuk menjawab pertanyaanku atau tidak. Rumi, mungkinkah Birdella yang kau sebutkan tadi, ada sangkut pautnya denganku? Apakah mungkin ia sempat mempunyai anak?” tanya Arshaka Dean.
Rumi tangkup wajah Arshaka Dean, ia tau Arshaka Dean sedang berharap, karena bagaimanapun kuatnya seorang Arshaka Dean, tetap tidak akan bisa menahan emosi ketika orang terkasih yang lama pergi, akhirnya kembali lagi, bahkan sebenarnya Rumi berani menjamin, ia tidak pernah pergi dari hidup Arshaka Dean.
“Aku tidak bisa menceritakan lebih jauh lagi, Ars, tapi ….” Rumi tidak bisa mengambil alih cerita, maka biarkanlah Arshaka Dean yang menentukan, Rumi keluarkan ponselnya, mencari sesuatu di galeri ponselnya, dan memperlihatkan sebuah foto pada Arshaka Dean. “Maaf, jika hanya ini yang bisa aku perlihatkan padamu, kau boleh berasumsi, aku tidak mempunyai hak dalam urusan ini,” ujar Rumi.
Arshaka Dean ragu-ragu untuk melihat foto yang sekarang terpampang di layar ponsel Rumi, ia lagi-lagi merasa takut, takut ekspektasinya mengkhianati dirinya lagi. Arshaka Dean tidak pernah punya akses, juga tidak pernah tau orang terkasihnya ada di mana, dengan informasi dari Rumi, membuat dia ragu juga bingung.
Perlahan-lahan, Arshaka Dean sambut ponsel Rumi, dan melihat sebuah foto, di sana. Arshaka Dean menahan napas, melihat nanar, sesak dadanya, akhirnya orang yang selama ini selalu ia cari, selalu ia harapkan peluk tubuhnya, bisa ia lihat meskipun hanya sekadar foto dari ponsel.
Semua emosinya keluar, rindunya yang menggebu akhirnya bisa ia lampiaskan, Arshaka Dean menitikkan air mata. “Dia … benar, dia ibuku, dia … aku ingin bertemu dengannya. Bagaimana caranya, Rumi,” ucapnya lirih, sarat akan rasa sakit.
Rumi usap air mata Arshaka Dean yang menetes, Rumi dekap tubuh bergetarnya, tangisan Arshaka Dean semakin terdengar pilu. “Aku butuh dia, Rumi,” ucap Arshaka Dean dalam pelukan Rumi.
Keinginan sudah disebut, Rumi berjanji akan memfasilitasi Arshaka Dean untuk mempertemukan Birdella dan dirinya. Dari awal, takdir memang kuat, akhirnya semesta mengijinkan salah satu keinginan Arshaka Dean terwujud.
Arshaka Dean mungkin bukan orang yang baik, tapi setidaknya setelah dendam telah terbalaskan, Arshaka Dean juga ingin merasakan dirinya dipilih, dan kesempatan itu datang tepat di saat Arshaka Dean membutuhkan sosoknya. Semesta tidak pernah meninggalkan Arshaka Dean, begitu juga Birdella, Arshaka Dean hanya tidak tau saja.
***
Lorong rumah sakit yang sepi, menjadi saksi berdirinya dua insan yang terpaksa mengubur rindu. Meskipun keduanya berdiri saling berjauhan, tapi perasaan mereka yang menggebu, sampai pada tiap-tiap hati yang sudah lama tak terisi.
“Nak,” panggil Birdella, lirih.
Arshaka Dean mematung, meskipun jauh, suara Birdella terdengar dan itu membuat hati Arshaka Dean tak karuan. “Ibu …,” lirih Arshaka Dean nyaris tak terdengar, tapi Birdella bisa melihat gerak bibir Arshaka Dean memanggilnya, runtuh sudah pertahanan Birdella.
Setelah Rumi mengungkapkan tentang Birdella, Rumi menghubungi Birdella dan sekaligus memberitahu jika Arshaka Dean ingin jumpa dengannya. Kabar itu disambut gembira oleh Birdella, tapi ia masih takut jika nantinya Arshaka Dean akan menolak kedatangannya, untunglah Rumi berhasil meyakinkan Birdella, jika hal itu Arshaka Dean langsung yang meminta.
Birdella bergegas ke alamat yang diberikan Rumi, sempat terkejut karena alamat rumah sakit yang Rumi berikan, tapi tak berlangsung lama. Birdella dapat memahami jika Arshaka Dean mungkin butuh perawatan, Birdella masih belum tau tentang Edmund.
Birdella menatap mata Arshaka Dean, anaknya masih sama, masih memberikan kesejukan pada hatinya. Gurat-gurat di wajahnya, menandakan jika Arshaka Dean sudah berkelana mengelilingi semesta. Sakit hati Birdella, rasa bersalah selalu bersama hidupnya, selama penantian itu.
Birdella mulai melangkah, Arshaka Dean juga bergerak dari kejauhan sana. Perasaan Arshaka Dean tak menentu, ia bingung, tapi juga ada hati yang membuncah kala melihat Birdella di depannya. Rindu dan rasa bersalah, juga sama-sama Arshaka Dean rasakan, akhirnya mereka berdua bisa bertatap lebih dekat.
“Ibu ….” Arshaka Dean memeluk Birdella, air matanya tak kunjung berhenti, debar jantungnya tak juga usai, rindu yang sempat putus asa, akhirnya bisa tersampaikan langsung pada Birdella. “Ibu ….” Tidak ada kata lain yang bisa Arshaka Dean katakan, jadi biarlah tindakannya yang mewakili kata.
“Astaga, Nak.” Birdella juga sama, pertemuan ini adalah harapan yang tidak berani Birdella semogakan. Berpisah dengan Arshaka Dean begitu lama, membuat Birdella tak mengharapkan sambutan hangat, tapi sikap Arshaka Dean memutarbalikkan keraguannya. “Nak, maafkan ibumu. Astaga, kau pasti kesulitan, maafkan ibumu, kau boleh marah padaku, kau berhak untuk itu, aku tidak akan melarang,” kata Birdella.
Tidak, Arshaka Dean tidak bisa melakukan semua itu, ia sudah menanti dari lama, tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Lorong sepi itu, kini diisi suara isakan tangis dari kerinduan yang akhirnya tertambat, meskipun sempat melihat dari jauh, tapi pertemuan ini sangatlah berharga.
“Ibu … jangan tinggalkan aku lagi …,” ucap lirih Arshaka Dean di pelukan ibunya.
Birdella nyeri hatinya mendengar penuturan Arshaka Dean, sungguh tak pernah sekalipun ia ingin meninggalkan anaknya, hanya saja ia sudah tak sanggup pada saat itu. Birdella peluk tubuh Arshaka Dean, sang mafia terlihat menanggalkan jubah ketegasannya jauh-jauh, ia butuh ibunya, jadi biarkan dia nikmati pertemuan ini.
“Maafkan ibumu ini, Nak, tak bisa melawan waktu itu, maafkan ibumu yang harus egois memilih jauh dari kalian. Ibu ada di sini, Nak, Ibu akan selalu bersamamu, bersama Edmund.” Birdella seolah tersadar, jika Edmund dan Agatha belum juga menampakan diri. “Di mana adik-adikmu, sayang? Ibu rindu, Ibu rindu anak-anak hebat, Ibu. Di mana dia, Nak?” tanya Birdella.
Arshaka Dean tak bisa menjawab, bagaimana bisa, ia juga tidak tau Edmund ada di mana, tubuhnya masih saja terbaring, tapi Edmund masih betah berkelana. Arshaka Dean membawa ibunya ke salah satu ruangan rumah sakit, menunjukkan di mana Edmund berada.
Birdella sampai dan seketika terdiam, kehilangan semua kata-katanya, mulutnya ditutup dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya ia gunakan untuk berpegangan pada sisi kursi yang tersedia di sana.
“Tidak ….” Birdella menangis, meraung, tak mengira anak yang ia tinggalkan dalam keadaan mulus, sehat, sekarang terbaring dengan alat-alat medis di tubuhnya. Hati ibu mana yang tak hancur, bertambahlah rasa bersalah dalam diri Birdella.
“Edmund … Edmund, anakku … anakku sayang ….” Tangis Birdella semakin menjadi, tak ada jawaban dan respons dari Edmund.
“Kenapa bisa seperti ini, Nak? Astaga, Ibu bodoh, Ibu sudah meninggalkan kalian, Ibu pantas dihukum, Nak, bangunlah hukum Ibu sekarang juga.” Birdella membawa tangannya untuk meraba wajah Edmund. “Anakku … astaga … bangun, Nak. Ibu datang menjengukmu, Edmund.” Terus Birdella mengatakan kata-kata penyesalannya.
Pada saat itu pintu ruangan diketuk, lalu seseorang masuk. “Agatha ….” Birdella menubrukkan diri pada Agatha, memeluknya dengan takaran rindu yang sama.