The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 62. Pertemuan Ruang dan Waktu



Laki-laki dari cahaya itu menyapa, Edmund mundur, membentuk pertahanan diri. Cahaya dari tubuh laki-laki itu perlahan menghilang, Edmund akhirnya dapat melihat dengan jelas siapa yang datang mendekatinya.


Mulut Edmund menganga, tidak percaya dengan yang dilihatnya, laki-laki yang biasanya hanya bisa ia lihat pada foto yang menempel di dinding, kali ini benar-benar ada di hadapannya. Edmund maju dan menghampiri, memperhatikan lebih dekat lagi, dirinya masih belum berkata, masih sibuk mencari kepercayaan diri.


“Edmund, kau kah itu?” tanyanya.


“Ka-Kakak?” Edmund tergagap.


Laki-laki itu tersenyum. “Iya, ini aku, Edmund. Kakakmu, Arshaka Dean,” jelas laki-laki itu yang ternyata adalah Arshaka Dean.


Pertemuan yang sangat diinginkan oleh Edmund akhirnya terwujud, tempat di antara ruang dan waktu ini, menjadi media pertemuan dua jiwa dalam satu raga ini. Mata Edmund berkaca-kaca, melihat sosok yang serupa dengan dirinya, tetapi dengan penampilan yang jauh berbeda.


Suasananya tenang, membuat mereka bisa leluasa meluangkan waktu berbincang tanpa gangguan dari luar. Arshaka Dean melambaikan tangannya, memanggil Edmund agar duduk di sampingnya, entah dari mana asalnya, kursi kayu sudah ada di sana.


“Kemari, Edmund, bukankah kau sangat ingin bertemu denganku?” kata Arshaka Dean.


“Kakak, benarkah ini dirimu?” tanya Edmund masih tidak percaya.


“Benar, inilah aku, Edmund, sosok yang kau banggakan, padahal pengecut,” katanya, tersenyum getir.


“Kakak!” Edmund berteriak seraya berlari memeluk Arshaka Dean.


Arshaka Dean menyambutnya dengan tangan terbuka, Edmund tak tahan menahan bahagia, hingga air matanya menetes. Edmund menemukan dirinya yang lain, sungguh pertemuan yang sangat tidak mungkin terjadi, apabila tidak ada ijin dari kehidupan.


Edmund merangkul, memeluk, menyalurkan semua rasa bahagia, dan seketika semua amarahnya melebur. Arshaka Dean membalas, mengelus rambut panjang Edmund yang dibiarkan tergerai, tidak seperti dirinya yang selalu terikat rapi.


“Kakak, aku … aku senang bisa bertemu denganmu, Kakak aku tidak percaya jika bisa bertemu denganmu, itu kemungkinan yang sangat mustahil, tapi aku bahagia bisa bertemu seperti ini,” kata Edmund, menggebu-gebu.


Edmund melepaskan pelukannya, menatap wajah Arshaka Dean, tiba-tiba Arshaka Dean memakai kacamata. Edmund menatapnya lekat, benar-benar mirip dengannya, yang membedakan hanya pakaian dan rambutnya saja.


“Maafkan aku, Edmund,” ucap Arshaka Dean.


“Maafkan aku, tidak bisa menyelamatkanmu,” ujarnya.


“Sungguh, maafkan aku, Edmund,” ucapnya penuh penyesalan.


Edmund tak mengerti, menyelamatkan dirinya dari apa? Bukankah selama ini Arshaka Dean lah yang kesusahan? Lantas untuk apa Arshaka Dean meminta maaf? Tidak paham, Edmund tidak mengerti.


“Kenapa meminta maaf padaku?” tanya Edmund.


“Maafkan aku, Edmund, aku tidak bisa mencegah orang tua itu untuk berhenti menyakitimu,” jawab Arshaka Dean.


Tidak masuk akal sekali, bukankah yang ada di mimpi Edmund, Arshaka Dean lah yang disiksa oleh ayahnya. “Aku tidak mengerti, Kakak,” kata Edmund.


“Kau yang harusnya hidup, Edmund. Bukan aku,” ucap Arshaka Dean, hatinya sesak, tak kuat melihat masa lalu.


Tiba-tiba suasana berubah menjadi temaram, dingin rasanya, dan mencekam, membuat Edmund melihat ke atas, waspada, meskipun tidak ada apa-apa di sana.


“Orang tua itu yang memisahkan kita, Edmund, orang tua itu!” Arshaka Dean berteriak, frustrasi.


Ingatan Arshaka Dean dipaksa untuk kembali lagi ke masa itu, di mana semuanya bermula, awal dari terpecahnya jiwa Arshaka Dean. Sebuah bangunan besar menjadi latar belakang kejadian itu, sudah lama sekali, ketika Arshaka Dean masih kecil.


Mereka asyik bermain, hingga suara keras terdengar dari dalam bangunan, membuat mereka berhenti berlari. Mereka saling menatap, lalu beralih melihat ke dalam bangunan itu, penasaran sang kakak mengajak adiknya untuk melihat.


“Apa itu?” tanya si adik.


“Aku tidak tau, ayo kita lihat saja,” ajak si kakak.


Dengan rasa penasaran khas anak kecil, mereka mengendap-endap masuk ke dalam melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Mereka masuk, ternyata ada pertemuan besar di ruangan itu, dan mereka melihat ayah mereka di depan dengan raut wajah tegas.


“Itu ayah,” ucap si adik.


“Ssstt … kita harus diam, jangan berisik.”


Si adik menurut, mereka diam saja. Di depan mereka terlihat ayahnya, tapi kali ini ayahnya benar-benar terlihat sangat kejam, melebihi hari-hari biasanya. Di samping kanan dan kiri ayahnya, ada dua orang berdiri membawa senjata, wajahnya ditutupi dengan kain hitam dan berkacamata hitam.


Pertemuan ini sepertinya sangat penting, terlihat tamu yang datang menundukkan kepalanya, khidmat. Tapi tiba-tiba saja darah mengalir dari lantai, membuat si adik ketakutan, ia kemudian maju melihat lebih dekat lagi apa yang sebenarnya terjadi.


Begitu melihat ke arah depan, si adik melihat seseorang ditembak kepalanya oleh ayahnya sendiri, si adik berlari.


“Jangan!” cegah si adik pada ayahnya.


“Ayah jangan!” teriaknya.


Si ayah berang, mendekati si adik dan memegang tangannya, menyeretnya dari sana, dibawanya ia ke depan, menghadap tamu yang datang. Si kakak buru-buru berlari, sebagai seorang kakak ia mempunyai insting alamiah untuk melindungi adiknya.


“Jangan, ayah, jangan,” ucap si kakak ketakutan.


“Siapa yang menyuruhmu masuk!” hardik si ayah.


“Sini kalian! Lihat ini.” Si ayah menembak seorang lagi dari tamu itu, di depan anak kembarnya sendiri.


Si kembar melihat prosesnya secara langsung, darah bercucuran, tubuh orang yang sudah ditembak ayah mereka terkapar. Proses sadis itu disaksikan langsung oleh anak kecil, betapa bengis ayah mereka.


Si kembar mulai menangis, tidak suka dengan apa yang mereka lihat, mereka memegang kaki ayahnya. “Jangan, berhenti ayah, aku mohon,” ucap si adik.


“Diam kalian!” Si kembar terbanting ke samping, semakin menangis, mereka terjatuh di lantai.


Si ayah datang menendang kedua anak itu. “Sakit … Ayah … jangan … berhenti, Ayah.” Tendangan pertama membuat retak tulang dada si adik, tendangan kedua membuat tangan si kakak terkilir dan wajahnya penuh lebam, dan tendangan lainnya membuat si adik tak sadarkan diri.


Semua tamu yang melihat itu tidak ada yang bisa menghentikan si ayah, mereka merapatkan diri pada kursi yang mereka duduki.


“Lihat, inilah aku, Ars. Inilah pekerjaanku, kau harus mencontohku, hidupmu tidak akan pernah berhasil jika tidak menurutiku,” ujar si ayah.


Si ayah mendekati lagi si adik, merebut senjata dari orang di sampingnya. “Diamlah, jangan menangis lagi, berisik! Kau mengganggu saja, dari awal kau selalu menggangguku! Jadi rasakan sekarang!”


Satu tembakan lolos, membuat si adik terkapar, si kakak menjerit melihat adiknya tak berdaya. Si kakak melihat ayah mereka, dengan marah, tak kuat melihat itu semua, awan hitam menutupi penglihatannya dan Arshaka Dean kembali lagi pada Edmund.


Kisah dari masa lalu itu begitu membuat Arshaka Dean terguncang, sehingga membuatnya mengubur diri dan juga mengubur rahasia dirinya dalam-dalam, sekali lagi tubuhnya bergetar, akibat bayangan masa lalu itu.


Tapi itu masih belum semuanya, masih ada satu hal yang Arshaka Dean tutupi. Rahasia itu masih belum terungkap hingga detik ini, penyakitnya bukan apa-apa jika dibandingkan sesuatu yang Arshaka Dean tutupi hingga saat ini, bahkan dari Albert sekalipun.