
Setelah Edmund muncul, Arshaka Dean sudah pasti tertidur di balik dunia semu ciptaannya sendiri, sebenarnya sudah bukan hal baru lagi, tapi kali ini tidak seperti biasanya. Edmund akan mengambil alih tubuh Arshaka Dean jika Arshaka Dean merasa tertekan setelah mengalami kemenangan sebuah misi mafianya. Tetapi, kali ini sungguh tidak ada yang menduganya, sehingga baik Albert maupun Chadla merasa heran dengan kedatangan Edmund secara tiba-tiba ini.
“Wajahmu persis sama dengan kakakmu, tapi kenapa kau sangat berbeda dengan kakakmu, Edmund?” tanya Rumi, sembari terus menatap wajah Edmund. Edmund adalah kepribadian lain yang diciptakan Arshaka Dean, Edmund entah mengapa selalu memproklamirkan diri, jika ia adalah adik dari Arshaka Dean. Belum ada benang merah yang menyatukan kisah Arshaka Dean dan Edmund ini, semuanya masih terlalu misteri.
Rumi dan Edmund sudah berada di ruangan kerja yang biasa dipakai oleh Arshaka Dean. Setelah pemeriksaan selesai, Edmund pamit kepada Chadla dan Albert. Edmund tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu kepada Rumi, berakhir mereka bergelut dengan lembaran-lembaran kertas berisikan rancangan lainnya milik Edmund.
“Kau berbicara padaku?” tanya Edmund, ia tengah fokus dengan laptopnya, tidak menyadari Rumi yang sedari tadi sibuk memperhatikan wajahnya.
Edmund menoleh. “Kenapa kau menatapku seperti itu, Rumi?” tanya Edmund, menatap Rumi terheran-heran.
“Ah. Kau tau Edmund? Kalian berdua sama, kau dan kakakmu, Ars. Kalian sama, tapi berbeda sekali.” Rumi sadar dengan perkataanya, itu bisa memicu kecurigaan. “Edmund? Perkataanku membingungkan, bukan? Kau mirip dengannya, tapi berbeda, kau mengerti maksudku?” Rumi tersenyum, salah tingkah.
“Aku mengerti, tapi aku bukan dia, Rumi,” jawabnya, tersenyum.
Kenyataan itu menampar Rumi, melihat senyuman Edmund sungguh berbeda sekali dengan Arshaka Dean. Rumi menangis di dalam hati, ia kini menyadari apa yang selama ini Albert rasakan. Sakit sekali rasanya, tubuh Arshaka Dean tepat di depannya, tapi bukan jiwa Arshaka Dean yang menempatinya, rasanya hancur.
“Kau benar, Edmund. Maafkan aku, aku … aku masih bingung membedakan kalian, aku … janji akan lebih mengenal kalian, aku janji, Edmund.” Rumi berusaha untuk mengendalikan hatinya, Rumi terbawa suasana, seketika Rumi merindukan sosok Arshaka Dean.
Edmund tersenyum. “Rumi, apa mungkin kau menyukai kakakku?” tanya Edmund, membuat Rumi gelagapan.
“Ah … ti-tidak,” jawab Rumi canggung. Tak sangka jika akan langsung ketahuan seperti itu.
“Tidak perlu menutupinya, kau bisa mengatakan semuanya padaku. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Kakak, dia sangat tampan dan berkharisma. Tidak akan ada yang menolak Kakak, tapi sayang, Kakak terlalu menutup diri,” kata Edmund.
“Kapan terakhir kali kau bertemu dengan, Ars, Edmund?” tanya Rumi.
“Sudah lama sekali, aku pernah sekali melihat Kakak sedang bertarung dengan seseorang, darahnya bercucuran, aku tidak tega melihatnya, lalu aku pergi dari sana, aku tidak ingin membebani Kakak.” Edmund menatap Rumi, siap melanjutkan cerita.
“Aku bertemu lagi dengannya, wajah Kakak tidak banyak berubah, ia masih tampan dan masih peduli padaku, tapi akhir-akhir ini Kakak tidak sering menemuiku, ketika aku datang, Kakak selalu berada di luar. Mungkinkah, Kakak menjauh dariku, Rumi?” ungkap Edmund.
Rumi terdiam, ia tau jika seorang mafia pasti tidak akan jauh-jauh dari pertempuran. Tetapi Rumi tidak menyangka jika masa lalu Arshaka Dean begitu kelam seperti ini, hingga menyebabkan jiwanya terpecah. Dari kisah Edmund, Rumi bisa menyimpulkan, Edmund memang tidak seharusnya ada di dunia ini, tapi Rumi yakin jika sebenarnya Edmund pernah menjadi nyata dan berinteraksi dengan Arshaka Dean.
“Hidup kalian sepertinya sangat berat, Edmund, kalian hebat,” ujar Rumi.
“Aku tidak melakukan apa pun, Kakak lebih banyak menderita dibandingkan aku,” ungkap Edmund.
“Bolehkah aku memandang wajahmu, Edmund? Aku sepertinya sedikit merindukan, Ars,” aku Rumi.
“Kau tidak perlu meminta ijin, sungguh berat bukan, jika yang ada di depanmu hanya seseorang yang mirip saja? Aku paham perasaan itu, aku sering mendapati Albert tengah memandang wajahku penuh harap,” jawab Edmund.
“Dia pasti juga merasakan hal yang sama sepertiku, karena kalian sangat mirip,” kata Rumi.
“Tapi, Rumi, kau harus tau satu hal, aku memang sangat mirip dengan Kakak, tapi aku bukan dirinya, aku berbeda dengannya. Jika kau memang benar-benar menyukai Kakak, kau harus segera mengungkapkan itu padanya, itu yang akan membuatnya lebih baik,” lanjut Edmund.
“Kau benar, kalian berbeda,” jawab Rumi sendu. “Tapi aku tidak paham dengan yang kau sebutkan, dia akan lebih baik dari hal apa, Edmund?” tanya Rumi, merasa rancu dengan kata-kata Edmund.
Perbedaan yang sangat mencolok antara Arshaka Dean dan Edmund di antaranya adalah cara berpakaian dan rambutnya. Edmund selalu memakai pakaian santai seperti kebanyakan anak muda, cerah dan berwarna, sedangkan Arshaka Dean selalu rapi dan berkharisma dengan warna gelap. Arshaka Dean selalu mengikat rambut panjangnya dan disisir rapi ke belakang, sedangkan Edmund selalu menggerai rambutnya dan membiarkannya berantakan, sehingga terlihat lebih bersahabat.
“Iya, aku sempat bertemu dengannya,” jawab Rumi.
“Selain ia tampan, apakah Kakak terlihat baik-baik saja?” tanya Edmund, terlihat merenung.
“Dia terlihat hebat, Edmund. Sempurna, dia dikelilingi banyak orang hebat yang selalu berada di pihaknya,” jawab Rumi.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya, semoga selalu banyak orang yang mendukung, Kakak, dan sekarang kau bergabung dengan kami, aku senang, Kakak tidak akan kesepian lagi,” ujar Edmund.
“Kesepian? Maksudmu bagaimana, Edmund?” tanya Rumi.
“Ah, tidak, itu mungkin akan menjadi rahasia Kakak,” kata Edmund, enggan menjawab pertanyaan sensitif itu. “Jika kau ingin mengetahuinya, tanyakan langsung pada Kakak,” lanjut Edmund.
“Aku sangsi dia akan memberitahuku, Edmund, aku tau bagaimana watak, Ars. Aku tidak mungkin bisa membuat dia membuka dirinya, Edmund. Kepada Albert saja, dia tertutup, apalagi padaku, orang baru,” kata Rumi.
“Ada satu yang bisa kau lakukan, Rumi,” ucap Edmund melirik Rumi.
“Apa itu?” tanya Rumi, penasaran.
“Buatlah dia jatuh cinta padamu, buat Kakak percaya padamu, aku yakin Kakak akan terbuka pada orang yang dia percaya. Pasti akan sulit, tapi jika kau memang tulus, semua itu bukan apa-apa,” jawab Edmund.
Rumi teringat terakhir kali dirinya dan Arshaka Dean bertemu. Rumi menyatakan cintanya di depan penangkaran kupu-kupu, dan tanpa ia duga Arshaka Dean mengecup bibirnya. Tapi pada akhirnya Arshaka Dean jatuh, tak sadarkan diri hingga memanggil tameng bernama Edmund.
Rumi sempat berpikir, dirinya yang menyebabkan Arshaka Dean melarikan diri dan memanggil Edmund. Tetapi kemudian ia teringat kembali dengan delusi Arshaka Dean yang terjebak dengan pengepungan kupu-kupu dalam bayangan semunya.
“Apakah aku bisa melakukannya, Edmund? Apa menurutmu, aku bisa menaklukkan kakakmu, Edmund?” tanya Rumi.
Wajah Edmund ia tatap penuh rasa cinta, melihat Arshaka Dean berperilaku lembut seperti ini, sedikitnya membuat dia membayangkan jika Arshaka Dean tengah berbincang dengannya. Edmund memberi kesan hangat, berbeda sekali dengan Arshaka Dean.
“Kakak …!”
Pertanyaan Rumi belum sempat terjawab, seseorang tanpa disadari masuk ke dalam ruang kerja Arshaka Dean. Rumi melirik, ia terperangah ketika melihat Agatha sudah ada di dalam, rasa takut dan terkejut menjadi satu, Rumi tak tau harus berbuat apa.
“Kakak? Kau memanggilku, Nona?” tanya Edmund, merasa asing dengan wanita yang sedang menatapnya, kaget.
“No … no-nona? Ada apa ini?” Agatha melangkah mundur, melirik ke dalam, suaranya bergetar, tak percaya dengan yang ia lihat.
“Agatha!” Rumi segera menghampiri Agatha.
“Di- … di … di-dia … si-siapa … Rumi? Dia kakakku, Rumi, dia Arshaka Dean? Rumi aku yakin, dia kakakku.” Tubuh Agatha melemah, kakinya tak kuat menopang keterkejutannya, ia jatuhkan diri di hadapan Rumi.
“Agatha!”