
Dengan infus yang masih di tangan dan berjalan pun masih tertatih-tatih dan penuh kehati-hatian, Arshaka Dean harus bertandang ke sebuah kamar yang mana di dalamnya ada orang yang amat sangat dia benci. Tapi, entahlah, Arshaka Dean nyatanya masih punya hati, ia menyetujuinya ketika diminta oleh Chadla untuk menemui orang ini, padahal semua orang sudah melarangnya.
Arshaka Dean menolak ketika Albert dan yang lainnya menawarkan diri untuk menemaninya, hanya Chadla saja yang ia ijinkan. Sekarang Arshaka Dean sudah berada di depan pintu, tinggal mendorongnya saja, orang itu akan tampak. Arshaka Dean memasang wajah tak ramah, dengan satu dorongan, pintu pun terbuka.
Orang yang sedang menanti kedatangannya, seketika langsung bangun, antusias. “Kau datang, Ars?” ucapnya.
“Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi, katakan saja apa maumu?” ucap Arshaka Dean, ketus.
Orang ini tidak terkejut sedikit pun, ketika Arshaka Dean memasang wajah ketat seperti itu. “Kemarilah, Ars, ijinkan aku melihatmu lebih dekat,” pintanya.
“Sepertinya tidak perlu,” tolak Arshaka Dean. “Cepatlah katakan, waktuku bukan untuk kau saja,” tambah Arshaka Dean, tegas.
“Apakah kau semarah itu pada ayahmu ini, Ars?” tanyanya lagi, benar, Arshaka Dean sedang berada di ruang rawat Victor, ayahnya.
Victor mengalami koma, setelah pertemuan terakhirnya dengan Arshaka Dean, dan baru dua hari lalu Victor siuman. Pasti banyak yang menduga jika Victor sudah tiada, tapi tidak, Arshaka Dean tidak sekejam itu, dia merawatnya dan membawa ke rumah sakit yang sama dengan tempatnya dirawat, hanya berbeda gedung saja.
“Apa kau masih butuh penjelasanku, setelah semua yang telah terjadi? Kau masih mempertanyakan itu? Kau tidak pernah punya perasaan. Sudahlah, jika hanya itu aku pergi saja, kau tidak berguna,” jawab Arshaka Dean, dingin. “Antar aku, Chadla, dia tidak pernah berubah,” lanjut Arshaka Dean, hendak pergi dari ruangan itu.
“Tunggu dulu, Ars!” seru Victor.
“Suaramu masih saja menakutkan, ternyata. Aku kira, aku sudah kebal dengan trauma masa lalu itu, tapi ternyata suaramu masih membuatku terperosok ke dasar jurang kesengsaraan, kau masih menakutkan, dan aku semakin membencimu,” ungkap Arshaka Dean.
“Itu tujuanku memanggilmu, Ars, aku ingin meluruskan semuanya. Ars, aku sudah banyak membuat kesalahan padamu, ijinkan ayahmu ini meminta maaf, Nak, ijinkan ayahmu ini menembus semua kesalahanku di masa lalu, Ars, maafkan aku, Ars, maafkan aku,” ucap Victor, kali ini suaranya merendah.
Arshaka Dean meradang hatinya, otaknya mendidih, marah, mendengar penuturan Victor tentang hidupnya. Tubuh Arshaka Dean panas, bahkan melebihi sambaran api dalam kebakaran tempo hari.
“Sudah cukup! Aku muak, mendengarnya!” berang Arshaka Dean, memunggungi Victor.
Victor merasa heran. “Apa memang tidak ada kesempatan lagi untukku? Apa sesulit itukah memaafkan kesalahanku, Ars? Apa aku terlalu membuatmu menderita? Kenapa kau menyulitkanku seperti ini, Ars?” Dengan pongahnya Victor bertanya seakan-akan ia tidak pernah melakukan kesalahan fatal, benar-benar tidak tau malu.
Chadla tertegun dengan pertanyaan Victor, ia tak habis pikir, hingga ia mempertanyakan orang yang ada di depannya ini benar-benar orangtua Arshaka Dean atau bukan? Tapi sayangnya orang tua itu memanglah ayah kandung dari Arshaka Dean, tapi tak menyangka, Victor bisa seburuk ini, hatinya sungguh sudah busuk dan terlalu beku.
Arshaka Dean langsung menghadapkan lagi tubuhnya pada Victor, menatap Victor dengan tatapan penuh kebencian, paling mematikan, dan paling ditakuti oleh semua orang, tapi Victor bersikap biasa saja.
Arshaka Dean maju. “Kau tidak sadar juga?!” hardik Arshaka Dean.
Chadla waspada, Arshaka Dean emosinya sudah di puncak, ia harus lebih memperhatikan Arshaka Dean lebih hati-hati.
Arshaka Dean menunjuk Victor. “Kau tau, jiwaku hilang, sudah lama tak menemukan tumpuan? Kau tidak tau, jiwaku terpecah, hidupku berantakan gara-gara semua yang kau lakukan?!” berang Arshaka Dean.
Arshaka Dean melampiaskan semuanya, biarlah orang mengatakan jika dia kurang ajar pada orangtuanya, karena faktanya orangtua yang ada di hadapannya ini, tidak pernah bertindak selayaknya orangtua pada umumnya.
Victor yang ada di depannya, bergetar, hatinya hancur, seburuk itu ternyata dirinya di mata Arshaka Dean. Victor baru pertama kali merasa tak berdaya, Victor menatap mata Arshaka Dean, hatinya tiba-tiba terasa diserang lebah, sakit dan perih.
“Sekarang dengan mudahnya kau ucapkan permintaan maaf, kau pikir aku percaya?! Kau sudah lemah seperti ini saja, masih mengganggu kehidupnaku, bahkan nyaris membunuh orang-orang yang selalu ada untukku, mendukungku. Kau brengsek! Kau bedebah! Kau Argh …!” Arshaka Dean berteriak dan menangis, perasaannya kalut, marah, juga frustrasi dengan tindakan Victor selama ini.
Chadla tersayat hatinya, ini percakapan orangtua dan anak yang paling menyakitkan. Belum pernah ia melihat Arshaka Dean semarah itu, apa yang dilakukan Victor sepertinya sudah terlalu fatal, dan tak dapat Arshaka Dean tolerir lagi.
“Aku sepertinya sudah terlalu banyak membuat kesalahan padamu, Nak. Baiklah, aku mengerti, Nak, aku akan tuntaskan ini sekarang juga,” ucap Victor, sembari mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya.
Arshaka Dean matanya membulat sempurna, tidak menyangka Victor bisa menyelundupkan senjata ke rumah sakit itu. Chadla langsung berlari, melindungi tubuh Arshaka Dean, merentangkan tangannya, waspada, takut Victor menembak orang-orang yang ada di sana. Mata Chadla sudah mencuri tatap pada tombol alarm darurat, untuk antisipasi jika Victor bertindak lebih jauh dengan pistol itu.
Arshaka Dean menangis, suaranya nyaris hilang, menggelengkan kepalanya. “Apa … yang … akan … kau … lakukan?” tanya Arshaka Dean, terbata-bata.
“Aku akan melakukan ini.” Victor mengarahkan pistol yang tadi ke kepalanya. “Kau sudah tak menginginkanku lagi, aku tidak ada pilihan lain, selain menghilang dari hidupmu, bukan?” Victor menarik pelatuk pistol itu, perlahan.
Victor sengaja menekan Arshaka Dean, mencoba untuk menindasnya untuk terakhir kalinya. Tapi, maaf saja, Arshaka Dean tidak semudah itu terpengaruh dengan gertakan seperti itu, dia bukan lagi anak kecil, yang mudah diperdaya.
“Kau bodoh!” teriak Arshaka Dean.
“Aku memang bodoh, tapi bukankah ini jauh lebih baik?” tanya Victor. “Kau tidak akan memaafkanku, bukan? Aku lebih baik pergi saja,” kata Victor, memandang Arshaka Dean untuk yang terakhir kalinya, mencoba mencari celah, tapi ternyata tidak ada, kemarahan Arshaka Dean murni, dan penuh kekecewaan.
“Tidak, kau bodoh! Kau bodoh, Ayah! Aku sudah memberimu kesempatan, tapi ini yang kau pilih? Kau sungguh bodoh, kau manusia paling bodoh!” teriak Arshaka Dean, tidak habis pikir dengan pemikiran ayahnya itu.
Victor tersenyum, hatinya yang diselimuti noda hitam itu, tiba-tiba saja muncul satu titik terang kecil di dalamnya. “Aku salah Ars, maafkan aku.” Dan tak lama kemudian suara tembakan nyaring terdengar.
“Jangan!” teriak Chadla, tapi sayang, semuanya sudah terjadi, darah sudah ke mana-mana.
“Argh …!” teriak Arshaka Dean keras, ia terus menangis, entah kenapa luka hatinya terasa ringan, tapi sungguh, bukan ini yang ia inginkan.
“Ars?” Chadla memegang tubuh Arshaka Dean yang lemas dan terkulai di lantai, memeluk lututnya dengan infus yang masih tergantung.
Victor sejatinya pergi dalam keadaan senang, di detik terakhirnya ia mendengar Arshaka Dean memanggilnya dengan sebutan “Ayah” itu sudah cukup untuknya, itulah yang ingin ia dengan selama ini, itulah yang ia tunggu-tunggu, karena setelah sesuatu terjadi pada Edmund, Arshaka Dean tidak pernah mengakuinya sebagai seorang ayah.
Adapun kenapa Victor memilih pergi dengan cara yang tragis itu, karena ia tidak sanggup menahan diri lagi, benar apa yang dikatakan Arshaka Dean, hampir setiap manusia yang ia temui pasti berakhir di tangannya. Victor tidak ingin mengulanginya lagi, dengan ia pergi, ia berharap ketenangan akan terwujud untuk semua orang, terutama untuk anak-anaknya.
Victor sesungguhnya tidak tau harus menebus kesalahannya dengan cara apa, karena dia merasa tidak bisa berhenti. Setiap kali ada kesempatan, Victor pasti menyusun rencana untuk menghilangkan orang yang ia rasa tidak bisa memuaskan keinginannya.
Sampai saat ini, ia masih tetap meneror Birdella, dan terus mencari cara untuk melenyapkan nyawa mantan istrinya itu. Victor sadar, jika dirinya tidak bisa berhenti, karena itulah Victor memilih cara yang sama dengan apa yang ia lakukan dulu pada orang-orang.
Dengan Victor mengakhiri petualangan hitamnya, atas keputusan dirinya sendiri, diharapkan anak-anaknya akan kembali ceria, dan orang-orang akan terselamatkan. Bersama bayangan anak-anaknya yang berlarian, tertawa dan ceria, ia menarik pelatuk itu, hingga menyebabkan dirinya tewas di tempat.