The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 43. Rasa Yang Memburu



Rumi tersentak begitu tangannya ditarik oleh Arshaka Dean. Cengkeraman tangan Arshaka Dean terlalu kuat, Rumi meringis kesakitan. Arshaka Dean membawanya dengan kasar, terus berjalan terburu-buru, Arshaka Dean sudah seperti dikejar-kejar musuh.


“Aw, sakit, Ars. Lepaskan aku!” teriak Rumi, ketakutan.


“Kenapa terburu-buru, Ars?” tanya Rumi, tangannya terus ditarik oleh Arshaka Dean.


“Lepaskan tanganku, Ars, kau menyakitiku!” desak Rumi.


Rumi bukan tidak mau mengikuti Arshaka Dean tapi ini terlalu mendadak dan sungguh menyakitkan. Rumi takut, Arshaka Dean terlihat sangat marah, wajahnya merah padam.


“Diamlah! Ikuti saja!” sentak Arshaka Dean.


“Kau kenapa?” tanya Rumi geram.


Arshaka Dean semakin cepat berjalan, membawa Rumi yang kewalahan. Seingat Rumi, ia tidak melakukan kesalahan kepada Arshaka Dean. Rumi bahkan sudah tidak terlalu melirik Arshaka Dean karena rasa bersalah, karena Arshaka Dean pernah tak sadarkan diri setelah Rumi menyatakan perasaannya pada Arshaka Dean.


Rumi tidak tau saja, jika Arshaka Dean sekarang tengah menggebu-gebu, hatinya berdetak sangat kencang. Rasa marah dan takut, memenuhi hati Arshaka Dean. Marah karena Watson dengan berani menggoda Rumi di depannya.


Takut, Arshaka Dean bingung kenapa dirinya bisa takut seperti ini, tapi yang sudah jelas Arshaka Dean takut sekali jika Rumi berpaling darinya, padahal Arshaka Dean sendiri belum menemukan arti dari debaran jantungnya setiap melihat Rumi itu. Arshaka Dean belum pernah jatuh cinta.


Arshaka Dean membawa Rumi ke dalam ruang baca. Salah satu ruangan di dalam mansion Arshaka Dean, memang sengaja dibuat untuk tempat buku-buku diletakkan, daripada ruang baca, ruangan ini lebih terlihat seperti perpustakaan pribadi.


Sejuk, begitu Rumi masuk ke dalam ruangan itu. Berbagai buku ada di dalamnya, nyaman dan juga sepi. Rumi tidak tau kenapa dirinya dibawa ke dalam sana, dia sedang tidak ingin membaca apa pun. Jika Arshaka Dean memaksanya untuk membaca, dia tidak akan bisa konsentrasi, Rumi sudah ketakutan.


“Kenapa aku dibawa ke sini?” tanya Rumi, gelisah.


“Ars?”


Tidak sampai di sana, Arshaka Dean terus membawa Rumi hingga ke ujung. Rak-rak yang dipenuhi buku, menjadi saksi betapa Rumi merasa tersiksa, bukan hanya diperlakukan dengan kasar, tapi Rumi tersiksa karena hatinya berdebar tak karuan. Arshaka Dean meskipun mengintimidasi, ia terlihat sangat tampan dan menggoda. Membuat Rumi sulit mengendalikan diri.


Arshaka Dean menyudutkan Rumi di antara sekat rak buku. Arshaka Dean tatap Rumi yang sudah bergetar. Mata Arshaka Dean sudah membulat, sempurna, seakan-akan siap menerkamnya. Memang benar, tanpa aba-aba, setelah menatap Rumi lekat-lekat, Arshaka Dean langsung menerkam ranum merah muda milik Rumi.


Arshaka Dean menuntut, membuat Rumi terkejut. Mata Rumi membulat, merasakan ranumnya dipaksa bermain oleh Arshaka Dean. Suara detak jantung masing-masing terdengar sangat kencang. Arshaka Dean terus memburu, tidak mengindahkan Rumi yang coba memberontak.


“A-aarshh ….” Rumi mencoba untuk bernegosiasi, ini sungguh tidak nyaman, Arshaka Dean terlalu menuntut.


Arshaka Dean terus menekan, menyesap, dan memaksa Rumi untuk membalasnya. Tidak bisa, Rumi tidak bisa seperti ini, Rumi memang menginginkan Arshaka Dean tapi tidak seperti ini. Arshaka Dean terlihat menakutkan. Ruangan yang sepi itu terasa sangat dingin, ia tidak suka dengan perasaan mengintimidasi ini.


Arshaka Dean terpaksa menghentikan diri, ia tersadar Rumi tidak nyaman dengan tindakannya. Arshaka Dean menyatukan kedua kening mereka, Arshaka Dean tatap Rumi. Napas mereka saling memburu, rasanya sesak.


“Kau mau membunuhku …,” lirih Rumi, masih belum bisa mengendalikan diri.


Arshaka Dean semakin menekan keningnya dengan kening Rumi. Arshaka Dean tidak pernah ada niatan buruk terhadap Rumi. Arshaka Dean hanya tidak paham dengan rasa panas yang menjalar ketika Rumi berdekatan dengan Watson.


Arshaka Dean merasa sangat kompleks dengan emosi yang ia timbulkan sendiri, ia tidak nyaman, marah, dan merasa dirinya terancam dengan sesuatu yang tak pasti. Perasaan yang membuat Arshaka Dean bingung, kita biasa menyebutnya kecemburuan. Tetapi Arshaka Dean tidak pernah tau dengan kata itu, sehingga ia merasa tersiksa sendirian.


“Bukan itu yang aku inginkan,” kata Arshaka Dean.


“Kenapa kau seperti ini?” tanya Rumi menatap mata Arshaka Dean.


“Aku takut,” aku Arshaka Dean.


“Takut apa?” tanya Rumi, menyelidik.


“Aku tidak tau,” jawab Arshaka Dean.


“Kau menginginkan aku?” tanya Rumi, berani.


Arshaka Dean tidak menjawab, ia tangkup wajah Rumi dengan kedua tangannya, melihat Rumi sendu. Takut, Arshaka Dean beberapa kali ucapkan ketakutannya di dalam hati. Arshaka Dean bingung, ia belum pernah merasa takut seperti ini, apalagi terhadap perempuan, tapi ia bingung takut karena apa. Arshaka Dean yang malang, jatuh cinta saja membuat ia terbebani seperti ini, sungguh malang.


Cinta tidak pernah ia rasakan dalam hidupnya, jadilah ia bingung dengan perasaan yang baru saja ia rasakan. Selain kepada Rumi, ia tidak pernah seperti ini, tidak pernah ia melihat sesuatu yang membara layaknya kobaran api seperti ini. Selama hidupnya, Arshaka Dean hanya melihat pencapaian dan tuntutan, tidak pernah ada yang menunjukkan cinta di dunianya. Bahkan ketika orangtuanya masih berada di sisinya, ia tidak pernah merasakan itu.


“Aku tidak tau ini apa, tapi aku tidak suka melihat kau bersama orang lain, jangan pernah ada yang mendekatimu! Kau jangan berani-berani menggoda orang lain! Kau mengerti!” tegasnya, lebih membentak.


“Kau tidak bisa seperti ini,” kata Rumi.


“Aku bisa,” balas Arshaka Dean.


“Aku ingin ….” Arshaka Dean melihat lagi ranum Rumi yang terlihat berkilau itu, Arshaka Dean menelan ludah, kasar. “Aku ingin,” ulangan lagi.


Arshaka Dean mencoba lagi, kali ini ia tidak menuntut. Pelan-pelan ia tempelkan bagian kenyal miliknya dengan ranum merah muda Rumi. Arshaka Dean bergerak teratur, menyamankan dengan milik ranum Rumi.


Rumi paham dengan semua ketakutan Arshaka Dean, tapi ia tidak bisa menyimpulkan sendiri, harus ada ucapan yang pasti dari Arshaka Dean, tapi untuk yang kedua kalinya, Rumi bisa membalas keinginan Arshaka Dean. Rumi mencoba menikmatinya, ia menutup mata untuk merasakan kehangatan di hatinya.


Arshaka Dean coba tekan, ia hisap lembut dan sesap dengan hati-hati, ia ingin Rumi juga merasakan melayang seperti dirinya. Rumi membalas pelan, Arshaka Dean lega, ia teruskan hingga keduanya saling memburu. Menggerakkan kepalanya ke samping kiri dan kanan, menyeimbangkan perasaan mereka.


Keduanya membuncah, tetapi tidak saling memaksa dan menuntut, Arshaka Dean bisa mengendalikan diri kali ini, Rumi juga bisa menyamankan dirinya pada Arshaka Dean. Mereka berhenti bukan karena ingin mengakhiri, sebab paru-paru mereka membutuhkan tambahan oksigen.


Mereka saling tatap, mengucapkan kasih dalam hati masing-masing. Arshaka Dean melihat tangan Rumi yang memerah, akibat dirinya yang terlalu kasar menarik tangannya tadi. Arshaka Dean genggam tangan Rumi, ia lihat dan dekatkan tangannya ke wajahnya, dan tiba-tiba Arshaka Dean kecup tangan Rumi yang memerah itu dengan lembut.


“Maafkan aku,” ucap Arshaka Dean, menggetarkan perasaan Rumi. Detak jantung Rumi tak karuan, Arshaka Dean terlalu tiba-tiba, ia tidak bisa menerimanya sekaligus.


Arshaka Dean kecup lagi ranum Rumi, enggan berhenti setelah mengetahui rasa nyaman dari perbuatannya. Perasaan ini akan terus diingat sampai kapan pun oleh Arshaka Dean. Ia tidak keberatan jika esok atau lusa dirinya tiada, karena ia sudah merasakan keindahan di dunia.


Dirasa sudah cukup, mereka menghentikan kegiatannya. Ranum Rumi terlihat merah juga bengkak, Arshaka Dean merasa bersalah melihat itu, tapi juga merasa puas. Arshaka Dean tersenyum, berterima kasih dalam hati, katakanlah dirinya pengecut karena tidak sanggup mengucapkannya secara terus terang.


Rumi menengadah. “Lalu, kita ini apa?” tanya Rumi, telak.