
Hari menjelang malam, Arshaka Dean masih berada di ruangan kerjanya, ia harus memastikan sendiri kabar kemenangan itu. Hari-hari yang lalu, kejadian tidak terduga datang ke perusahaan miliknya, hingga menyebabkan perusahaannya didenda oleh aparat atas tuduhan penyelundupan berlian. Hari ini, meskipun Arshaka Dean baru terbangun dari tidur panjangnya, ia segera mengatasi masalah di perusahaannya, dengan cara khas Arshaka Dean tentunya.
Arshaka Dean tidak hanya diam saat menunggu kabar dari anak buahnya, ia mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, ia lakukan semuanya ditemani oleh Albert. Meskipun seorang mafia, ia juga sangat profesional jika menyangkut perusahaannya. Pekerjaan utamanya adalah mafia, tetapi orang-orang hanya mengetahui bahwa Arshaka Dean pemilik perusahaan berlian yang sangat terkenal dan paling disegani.
“Ars!” seru Albert yang baru saja menerima kabar dari anak buahnya.
“Ada apa, Albert? Kau tidak perlu berteriak, kita hanya berdua di sini, aku bisa mendengarmu dengan baik,” ujar Arshaka Dean.
“Ah, maafkan aku. Tapi, Ars, mereka berhasil, kita berhasil, Ars. Kau menang,” pekiknya.
Arshaka Dean berdiri dari duduknya. “Bagus, tidak sia-sia aku melatih mereka,” kata Arshaka Dean.
“Albert, beri hadiah untuk mereka, aku senang! Lain kali teruslah seperti ini, jangan sia-siakan uangku,” kata Arshaka Dean.
“Kau bisa mengandalkan mereka, Ars, ini semua juga berkat kerja kerasmu, Ars,” ucap Albert.
“Tentu saja!”
“Aku bisa pulang dengan tenang,” katanya.
“Ah, hampir lupa. Albert pastikan kabar ini senyap dari awak media, tapi kabarkan kepada kelompok lain tentang kemenanganku ini, jika sempat kirimkan video proses penghancuran mereka. Mereka harus tau, sedang berhadapan dengan siapa, jangan sampai meremehkan aku dan pasukanku,” ucapnya kejam.
“Segera kerjakan, Albert!” katanya tegas.
“Akan aku pastikan semuanya aman, Ars. Dan untuk video, kau jangan khawatir, mereka mempunyai cara yang terbaik untuk memberitahu musuh tentang siapa kau, Ars. Mereka mengirim sisa-sisa pertempuran tepat di hadapan mereka, Ars. Menurutku itu lebih menarik,” jelas Albert.
“Tidak buruk, ternyata kau lebih kejam dariku, Albert,” ujar Arshaka Dean tersenyum puas.
“Aku jauh lebih tau mental musuh dibandingkan kau, Ars, percayalah,” ucap Albert percaya diri.
“Kau berani berkata seperti itu?” Arshaka Dean melirik Albert yang sedang salah tingkah. “Kau kejam, Albert, tapi aku suka cara kerjamu, lanjutkan,” tambah Arshaka Dean, Albert menghembuskan napas lega.
“Pekerjaanku telah selesai, mari kembali, Albert,” ajak Arshaka Dean.
“Mari, Ars,” jawab Albert.
“Setelah ini, kau harus menemui Chadla, Ars. Kau sudah berjanji padanya tadi,” kata Albert mengingatkan.
Arshaka Dean menoleh. “Albert, bisakah kau, melihat situasiku, aku sedang senang karena menang. Kau jangan menghancurkan perasaan itu,” ucapnya geram.
“Tapi itu untuk kebaikanmu, dengan begitu kau bisa mendapat kemenangan yang lainnya,” kata Albert tidak mau kalah.
“Aku tidak suka denganmu,” ketus Arshaka Dean.
“Terima kasih, Ars,” kata Albert, Albert tau Arshaka Dean tidak mungkin menolaknya, karena itu ia berterima kasih.
Arshaka Dean tidak menjawab lagi, ia berjalan keluar, memakai lift yang sama untuk turun ke lantai dasar. Arshaka Dean senang, tetapi tidak berdampak besar, ini hanya kemenangan biasa, ia tidak begitu antusias. Ia menikmati eforia itu dengan senyum yang lebar, tetapi semua itu harus hancur, ketika Albert mengatakan hal yang sangat ia benci.
“Ars, maaf jika aku mengganggu kesenanganmu.” Albert mengingat sesuatu rupanya.
“Kau sudah menghancurkannya, Albert,” jawabnya tidak peduli.
“Bukan masalah yang tadi.” Mereka memasuki lift yang sudah terbuka, Albert menekan tombol turun. “Ada hal lain yang aku lupakan, dan baru kuingat sekarang,” kata Albert.
“Apa itu? Kuharap tidak ada hubungannya dengan anak itu,” kata Arshaka Dean merujuk pada Edmund.
“Sayangnya, ini berhubungan dengannya, maafkan aku, Ars, aku tidak bisa mencegahnya,” jawab Albert.
“Mau bagaimana lagi, katakan saja, kebetulan semuanya telah hancur,” jawab Arshaka Dean, ia bersandar di dinding lift yang sedang bergerak turun, menyilangkan tangannya di depan dada, terlihat tampan dan memikat.
“Ars, ini masalah Robert,” ucap Albert.
“Ada apa dengan dia?” tanya Arshaka Dean, tangannya ia masukkan ke saku celana.
“Robert, tidak bisa mengajar lagi karena suatu alasan,” kata Albert.
“Apa?!” Arshaka Dean seketika berdiri dengan tegap, melihat ke arah Albert tak percaya.
“Apa maksudmu?” tanyanya lagi.
“Robert tidak bisa mengajar Edmund, karena suatu alasan, tapi percayalah Ars, aku sudah membujuknya, aku bahkan menawarkan bayaran yang tinggi, tapi dia tidak bisa, dia sudah berjanji dengan profesornya,” jelas Albert.
“Albert, apa dunia ini tidak memberiku sedikit saja kesenangan, aku baru saja menerima kabar kemenangan, dan sekarang kau membawa kabar yang menjatuhkan semuanya, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? Kenapa kau baru memberitahu sekarang? Ada apa dengan semua orang?” cecar Arshaka Dean, sejatinya ia tidak terima dengan segala keputusannya di dunia ini.
“Maafkan aku, Ars. Aku tau, dan tidak ada yang bisa aku perbuat lebih dari ini,” ujar Albert penuh sesal.
“Lalu sekarang bagaimana, Albert? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Arshaka Dean.
“Aku tidak punya ide, tapi ada satu hal yang bisa dicegah,” kata Albert.
“Kau harus mencegah Edmund keluar, kau harus mengendalikan dirimu, Ars, itu satu-satunya cara agar semua ini bisa segera teratasi, setidaknya hingga kita bisa cari jalan keluar,” saran Albert.
“Bagaimana caranya, Albert?! Kau tau sendiri bagaimana keadaanku!” Suara Arshaka Dean menggema di dalam lift.
“Jalani terapi seperti yang diminta Chadla, itu satu-satunya cara,” ucap Albert penuh keyakinan, dulu ia sangat sulit untuk meminta Arshaka Dean menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatannya, sekarang ia punya alasan lain untuk membuat Arshaka Dean memeriksakan diri demi kelangsungan hidupnya, seakan ia diberi kesempatan dengan tidak adanya Robert.
“Aku tidak peduli, lihat saja nanti, Albert,” jawabnya.
Lift terbuka tanda mereka telah sampai di lantai dasar, Arshaka Dean keluar lebih dulu meninggalkan Albert yang masih mematung di dalam sana. Ia tidak bisa menyembunyikan betapa kerasnya ia berpikir untuk membujuk Arshaka Dean.
“Cepatlah, Albert, aku butuh istirahat setelah semuanya kau hancurkan begitu saja,” tegur Arshaka Dean.
“Ah, tunggu aku.” Albert segera bergegas.
Mobil yang akan mereka tumpangi sudah berada di depan mereka, pengawal dengan cekatan membukakan pintu mobil untuk tuan mereka. Arshaka Dean langsung masuk ke dalam mobil diikuti oleh Albert, segera setelah mereka duduk dengan nyaman, sang supir melajukan mobilnya. Hening, tidak ada pembicaraan, membuat suasana di dalamnya mencekam, sang supir tidak berani bersuara, ia hanya mencuri lirikan ke belakang dari kaca mobil yang ada di depannya.
Sesungguhnya Arshaka Dean sedang mempertimbangkan saran dari Albert tentang kelanjutan pemeriksaan dirinya, tentang saran Chadla yang memintanya untuk segera melakukan terapi, ia berpikir terlalu dalam hingga menyebabkan keheningan yang tidak disengaja. Albert, melihat keluar jendela mobil, mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya tentang kelangsungan hidup tuannya.
Keduanya mempunyai kesamaan, Albert terlalu takut akan kehilangan, sedangkan Arshaka Dean takut ia tidak bisa menemukan jati diri yang ia inginkan, dengan kata lain Arshaka Dean takut kehilangan dirinya.
Meski dalam keheningan, mobil melaju dengan aman. Tak berapa lama mereka sampai di pelataran mansion milik Arshaka Dean. Pengawal yang sedang bertugas, bergegas membukakan pintu mobil.
“Selamat malam, Ars,” sapa pengawal itu, yang disambut hanya menganggukkan kepala.
Arshaka Dean melangkah, ia tidak menunggu Albert, ia sudah penat, sudah ingin beristirahat. Di dalam sana Chadla sedang bergelut dengan laptopnya menyaksikan kelas umum yang biasa ia hadiri, ia menoleh begitu Arshaka Dean melewatinya.
“Ars?” sapanya.
“Kau masih bekerja, Chadla?” Arshaka Dean sebenarnya tidak ingin berbasa-basi, tapi apa boleh buat, ia tidak bisa melewati Chadla begitu saja.
“Aku harus melihat kelasku, Ars. Bagaimana harimu, kudengar kau menangkap pelakunya, semua berjalan dengan lancar?” tanya Chadla antusias tidak mengetahui Arshaka Dean sedang jengah dengan topik itu.
“Semuanya berjalan lancar, sebelum Albert bertingkah.” Mendengar namanya disebut, Albert tidak bisa berbuat banyak, ia hanya menunduk merasa bersalah.
Chadla mengerutkan dahinya tak mengerti. “Ada apa, Ars?” tanyanya.
“Kau tanyakan saja padanya.” Arshaka Dean menunjuk Albert yang tengah menunduk. “Aku naik dulu, Chadla, aku sudah lelah sekali hari ini, biarkan aku istirahat,” pamitnya.
“Tentu saja, Ars.” Chadla membiarkan Arshaka Dean berlalu kali ini, ia tidak akan menanyakan lebih lanjut kepada Arshaka Dean.
Chadla menatap Albert, ia mendekati. “Ada apa sebenarnya?”
Albert dengan lesu menjelaskan tentang Robert, Chadla tak bisa menutupi diri jika dirinya juga terkejut. Chadla tak mungkin bertanya lebih lanjut lagi, melihat Albert begitu putus asa membuat dirinya tak ingin memperkeruh suasana.
“Kau istirahatlah dulu, aku yakin akan ada jalan terbaik nanti,” hibur Chadla. Albert tak menjawab ia berlalu menuju tempatnya biasa beristirahat.
Di kamarnya Arshaka Dean merebahkan diri sembari berpikir keras, kepalanya mendadak sakit, tapi tidak begitu menyulitkan. Untuk menenangkan pikirannya, ia bangun dan terduduk di atas tempat tidur, kemudian ia menoleh ke atas nakas, ia terlihat fokus melihat sesuatu di sana.
Sebuah surat dengan tulisan tangan, ia lihat baik-baik, dan mendapati jejak seseorang di dalamnya. Ia membuka dan perlahan membaca surat itu, kata demi katanya ia cerna.
...Dear Hermano Mayor...
...Hai…...
...Canggung sekali, bukan?...
...Kakak, ini aku Edmund, kuharap kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu, aku yakin kau pasti sudah bekerja keras....
...Kakak, aku bahagia bersama Albert dan lainnya, Albert bahkan berjanji akan melindungiku dan selalu mendukung Kakak....
...Kakak aku akhirnya merasakan diterima di tengah-tengah orang banyak, aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa membuka diriku kepada orang-orang, dan ternyata itu tidak terlalu buruk....
...Kakak kau hebat, kau sudah banyak melakukan hal yang luar biasa. Ah, kau harus segera bisa mulai membuka diri dan berbincang dengan yang lain dengan lebih jujur, biarkan orang lain mengetahui semuanya, Kakak, dengan begitu kita tidak merasa sendiri lagi, dan tidak lagi kesepian....
...Kakak, aku kira membagi beban dengan orang lain tidak terlalu berlebihan, aku harap Kakak bisa menemukan bahagia, meskipun tidak dalam waktu dekat-dekat ini, tetapi aku harap Kakak bisa menemukannya sesegera mungkin....
...Itu saja Kakak, sekali lagi Kakak hebat, dan aku bahagia sekali....
...Aku membuatkan hadiah untukmu, kau pasti sudah melihatnya, bukan?...
...Jika kita bertemu nanti, aku akan jelaskan semuanya....
...Kuharap kau suka....
...Dari adikmu yang selalu merindukanmu....
...Edmund....