
Rumi diam di bawah kungkungan Arshaka Dean, tangannya ditekan oleh tangan besar Arshaka Dean. Rumi tidak memberontak, ia tatap Arshaka Dean yang juga tengah menatapnya. Entah mengapa, tatapan Arshaka Dean terlihat berbeda dari biasanya. Mata Arshaka Dean terlihat lebih indah dilihat dari bawah sedekat itu. Tatapan Arshaka Dean lembut, nyaman ketika Rumi menatapnya.
Tidak ada yang mendahului, mereka masih menikmati deru napas masing-masing dalam diam. Aroma maskulin Arshaka Dean mendominasi penciuman Rumi. Semakin terhanyut, Rumi bisa membayangkan seberapa kuat pria yang ada di atasnya ini. Mata mereka masih saling mengunci, menjelajahi gelenyar yang berusaha meraba hati masing-masing.
“Kita sudah sedekat ini, bukankah kau sangat ingin menyentuhku?” seringai jahil Arshaka Dean, ia perlihatkan pada Rumi.
“Bukankah, kau sudah membayangkan ini sebelumnya?” tanyanya lagi, napasnya terdengar berat.
“Aku sudah memberimu kesempatan, sentuhlah. Lain kali, kau belum tentu bisa seperti ini denganku.” Tangan Arshaka Dean yang tadi menekan tangan Rumi, mulai berpindah lembut, ia buka telapak tangan Rumi perlahan. Arshaka Dean menyentuhnya telapak tangan Rumi dengan lembut, dan akhirnya tangan mereka saling bertaut.
“Inilah saatnya kau wujudkan setiap bayangan di pikiranmu itu.” Arshaka Dean semakin mengeratkan tautan tangan mereka. Ia dekatkan tubuhnya dengan Rumi, tidak sadar mereka sudah semakin menempel. Arshaka Dean merasakan sesuatu yang lembut di sana, dadanya berdesir, tampaknya ia terbawa permainannya sendiri. Wajah mereka sudah terlalu dekat, hingga setiap hembusan napas terasa menyapu wajah masing-masing.
“Kau ….” Rumi menghembuskan napas berat, ia juga merasakan desir yang sama, tubuh bagian depannya tertekan.
“Oh, kau sudah berani bersuara. Jangan hanya membayangkan saja, lakukanlah sekarang juga.” Arshaka Dean semakin menekan.
Wajahnya semakin ia dekatkan dengan wajah Rumi, napas mereka memburu, meskipun tidak ada pergerakan yang memicu. Rumi menatap Arshaka Dean penuh resah, terjadi konflik batin pada dirinya. Katakanlah dirinya sudah tidak waras, karena pada kesempatan yang diberikan Arshaka Dean ini, ia sangat berminat, sangat.
Ia sudah lama tidak bersentuhan dengan seorang pria, meskipun tidak pernah sejauh yang ingin dilakukan. Bagian suci Rumi masih belum terjamah oleh siapa pun, jika ia harus melakukan pengalaman pertamanya dengan Arshaka Dean, ia tidak akan menyesal.
Tetapi di sisi lain, hatinya menolak. Ini yang pertama untuknya, ia tidak ingin melakukannya tanpa ada perasaan di sana, ia tidak ingin jika hanya untuk memberi makan nafsunya saja. Ia ingin sebuah ikatan resmi, ia ingin berbagi cinta, saling merasakan kasih, bukan sekadar menyatukan peluh.
Di tengah perang yang ingin berakhir senang itu, Arshaka Dean memiringkan wajahnya, tinggal menggapai ranum Rumi. Rumi paham apa yang akan terjadi, ia tanpa sadar menutup kedua matanya.
Tidak apa-apa Rumi, anggap saja ini hanya bersenang-senang. Nikmati saja, untuk ke depannya, lihatlah nanti. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi, biar saja, aku sudah terpikat olehnya, batinnya.
Arshaka Dean melihat itu, ia melihat bagaimana mata Rumi menutup, ia tersenyum, menarik wajahnya menjauh dari Rumi. Ia tatap wajah itu, hatinya merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Detak jantungnya berbeda dari biasanya, gelenyar itu terasa lagi, sulit baginya untuk mengartikan perasaan apa itu.
Merasa tidak ada pergerakan lebih dari pria yang sedang mengukungnya, Rumi membuka mata perlahan-lahan, dilihatnya Arshaka Dean tengah tersenyum padanya. Wajah Rumi semakin merah, ia akhirnya bisa melihat Arshaka Dean tersenyum di dekatnya.
“Kau sangat ingin melakukannya? Kau seorang yang berpendidikan tinggi, aku tidak sangka pikiranmu sangat kotor,” ucapnya.
“Kau,” ucap Rumi geram.
“Kenapa?” tanya Arshaka Dean.
Rumi tak bersuara lagi, ia tatap tajam Arshaka Dean, kali ini ia merasa kesal, ia dipermainkan. Seharusnya ia tidak pernah berharap lebih dari Arshaka Dean, tetapi Rumi terlalu naif, ia jatuh pada permainan tuannya. Sudah terlambat baginya untuk memberontak.
“Ars?” panggil Albert, mengejutkan Rumi.
“Ups ….” Albert terkejut dengan pemandangan di depannya, Albert buru-buru membalikkan badan.
Rumi panik, ia langsung mencari sumber suara. Mati sudah, mereka tertangkap basah oleh orang lain, Rumi memalingkan wajah, ia tidak ingin dilihat. Berbeda dengan Arshaka Dean, ia bertingkah layaknya tidak terjadi apa-apa, ia bahkan tidak repot bangun dari tubuh Rumi, ia hanya menolehkan wajah melirik ke arah Albert.
“Ada apa, Albert?” tanya Arshaka Dean tenang.
“Bukan salahku, Ars. Kalian tidak menutup pintu,” belanya, padahal Arshaka Dean tidak mengatakan apa pun.
Benar, sedari tadi pintu kamar Arshaka Dean tidak tertutup, mereka tidak sadar dengan bagian yang paling penting itu. Tetapi itu tidak menjadi soal, dari awal Arshaka Dean tidak ada niat lebih jauh dengan Rumi.
“Kalian terlalu bersemangat,” ujar Albert, Rumi semakin merasa malu, ia tiba-tiba mengharapkan dirinya mempunyai kekuatan super, ingin menghilang saja rasanya. Situasi ini begitu canggung, sudah pasti menimbulkan kesalahpahaman.
“Ada apa, Albert? Ada sesuatu mendesak terjadi?” tanya Arshaka Dean.
Sadar yang tengah berada dalam kungkungannya merasa tidak nyaman, Arshaka Dean mengangkat tubuhnya, ia berdiri membiarkan Rumi meratap. Arshaka Dean berjalan begitu saja menghampiri Albert.
“Ars ….” Albert menatap Arshaka Dean yang sudah ada di sampingnya.
“Bicarakan saja, Albert,” katanya, ia berjalan keluar menggiring Albert, kali ini ia menutup pintu, membiarkan Rumi sendirian di kamarnya. Ia tau, Rumi pasti tidak akan berani keluar dari kamar setelah tertangkap basah oleh Albert. Ia coba untuk menyelamatkan Rumi, meskipun itu tidak ada gunanya untuk Rumi.
“Kau bisa bicara sekarang, Albert.” Albert melirik ke belakang pintu yang tertutup.
“Biarkan dia di sana, jangan mengganggunya,” kata Arshaka Dean.
“Ah … baiklah,” ucap Albert, salah tingkah.
“Kau ingin membicarakan hal apa denganku, Albert?” tanya Arshaka Dean lagi, karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Albert.
“Ah, maafkan aku, Ars. Fokusku hilang, biarkan aku mencerna semuanya, aku hampir melupakan tujuanku,” jawabnya.
“Kau berlebihan, Albert. Kau pria dewasa, tidak mungkin ini pertama kalinya kau melihat adegan seperti itu,” kata Arshaka Dean.
“Bukan seperti itu, Ars …. Ah, aku ingat, semua sudah dibereskan, Ars. Pemuda yang terlibat pertengkaran dengan Agatha sudah aku urus, tapi untuk bar, mereka menginginkan kau membayar tempat itu, Ars,” lapor Albert.
“Di mana tempatnya? Apa aku akan mendapat keuntungan?” tanya Arshaka Dean, kritis.
“Tempatnya bagus, sangat cocok untuk bersenang-senang. Mereka sudah mengelola tempat itu dari lama, hanya saja mereka kekurangan modal,” jelas Albert.
“Pastikan semuanya bersih, Albert. Telusuri keuangan utamanya, jika semua terbukti aman dan tanpa ada sangkut pautnya dengan musuh, aku bisa pertimbangkan menanam modal di sana. Ingat, pastikan bersih dari apa pun yang akan menghambat kehidupanku, Albert,” tegas Arshaka Dean.
Perbincangan mereka berlanjut, sementara Rumi yang berada di kamar Arshaka Dean, tengah berguling-guling, memikirkan nasibnya. Mulai saat ini, pandangan orang-orang padanya akan berubah, ia tidak menyangka akan mendapat reputasi buruk di sarang mafia seperti itu. Semenjak kepindahannya ke mansion milik Arshaka Dean, banyak hal tak terduga yang ia alami, tetapi malam ini merupakan pengalaman paling memalukan selama hidupnya.
Rumi melampiaskan rasa malu yang menggerogoti dirinya dengan memukul-mukul bantal yang berada di pelukannya. Ia marah pada nasib malang yang datang tiba-tiba itu, ia malu, sudah kepalang malu. Sudah beberapa kali dirinya dipermalukan oleh Arshaka Dean, tapi hatinya tak urung benci, ia masih memuja tuannya itu.
Seberapa pun buruk perangai Arshaka Dean, di pikiran Rumi ia terlihat sangat menggoda, hanya saja ia tak tau harus bersikap seperti apa jika bertemu dengan Albert nanti.
“Argh …,” geramnya.