The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 46. Siasat Busuk



Setelah kesalahpahamannya dengan Rumi sudah terselesaikan, hubungan Arshaka Dean dan Rumi berjalan semakin dekat dan tidak terlihat canggung lagi. Rumi menepati janjinya untuk tidak menghindari Arshaka Dean.


Setiap pagi, sebelum semuanya bangun, Rumi menyempatkan diri untuk ke kamar Arshaka Dean. Arshaka Dean sudah memberikan akses kepada Rumi, ia bebaskan Rumi untuk datang ke kamarnya kapan pun, ia sepenuhnya percaya pada Rumi.


Seperti pagi ini, Rumi diam-diam ke kamar Arshaka Dean. Mereka biasanya akan berbincang, sekadar menukar isi pikiran, ataupun hanya saling memeluk satu sama lain, mengisi energi kembali.


Hubungan mereka tidak ada ikatan, tapi mereka sudah saling percaya. Rumi yakin dan percaya, bahwa Arshaka Dean suatu saat nanti pasti akan menemukan jawaban pasti akan perasaannya. Rumi tidak keberatan, ia akan tetap jatuh cinta pada Arshaka Dean.


Rumi masuk ke kamar Arshaka Dean, tidak seperti biasanya, Arshaka Dean sudah terbangun. Rumi mendekat dan memeluk Arshaka Dean dari belakang, Arshaka Dean sedang mengenakan pakaian ganti. Sepertinya habis mandi, rambutnya terlihat masih basah. Rumi heran, ini masih pagi sekali, tapi Arshaka Dean terlihat sudah siap bepergian.


“Kau, wangi,” ucap Rumi di punggung Arshaka Dean yang terasa sedikit dingin.


“Kau bangun pagi sekali,” kata Arshaka Dean.


“Aku selalu bangun di pagi hari, justru aku heran padamu, kenapa kau bangun pagi sekali, tidak seperti biasanya?” kata Rumi.


Arshaka Dean selesai mengancingkan kemejanya, ia memutar tubuhnya agar bisa melihat Rumi. Dipandangnya Rumi dengan senyuman cerah yang terukir di wajah Arshaka Dean, membuat desir halus terasa di hati Rumi, meremang ke seluruh tubuhnya.


“Aku harus pergi,” ucap Arshaka Dean, antusias.


Akhirnya setelah lama tidak turun langsung untuk memenangkan misi, hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini Arshaka Dean harus menjemput berlian yang bernilai triliunan. Arshaka Dean memang selalu terjun langsung untuk memastikan keaslian dari berlian yang ditawarkan.


Kali ini, bukan hanya untuk usaha Arshaka Dean saja, berlian akan dijual kembali di pasar gelap. Berlian selalu didapatkan secara tidak bersih, selalu melalui pertarungan berdarah, tapi Arshaka Dean tidak pernah gentar, apalagi kapok.


Keuntungan yang di dapat sangatlah besar, ditambah jika dirinya menang dalam negosiasi dengan client, sudah dipastikan dua, bahkan tiga mobil keluaran terbaru sudah bisa dia bawa pulang.


Lalu kenapa harus melalui cara yang ilegal? Jawabannya, karena tidak setiap berlian yang ditawarkan di pasar legal murni berlian, kebanyakan mereka mencampur ataupun memalsukannya, itu akan membuat kerugian yang lebih besar. Arshaka Dean jauh lebih percaya dengan taktik seperti ini, karena keaslian barangnya pasti terjamin, meskipun harus bertempur di medan bahaya terlebih dahulu.


Rumi yang mendengar rencana Arshaka Dean sedikit khawatir, tiba-tiba saja hatinya gelisah. Rumi sudah tau jika pekerjaan mafia, banyaknya beradu dengan waktu dan nyawa, tapi setelah hubungannya dengan Arshaka Dean membaik, perasaan resah tidak bisa ia sembunyikan.


“Apa kau harus terjun langsung? Tidak bisakah diwakilkan oleh Albert?” tanya Rumi.


Arshaka Dean tidak menghilangkan senyumannya, ia senang, ada orang lain di mansion-nya, yang mengkhawatirkan dan menunggunya untuk pulang. Arshaka Dean menangkup wajah Rumi. “Aku akan segera membawanya pulang,” ucapnya, kemudian Arshaka Dean mengecup kening Rumi, lama.


“Itu artinya, kau tetap akan pergi?” tanya Rumi.


“Benar,” jawabnya singkat.


“Aku tidak bisa mencegahmu, bukan?” kata Rumi.


“Aku pasti kembali,” jawab Arshaka Dean.


“Bukan hanya kembali, tapi pastikan kau pulang dengan selamat,” ucap Rumi, Arshaka Dean mengacak rambut Rumi, menggodanya.


Arshaka Dean tersenyum, debaran hatinya masih sama. Hari ini ia bersemangat lebih dari biasanya. Ada dua alasan yang membuatnya lebih antusias. Pertama, karena ia bisa terlibat lagi dengan misi ini yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Kedua, karena ada orang yang menunggunya di mansion dengan perasaan penuh untuk dirinya, membuat Arshaka Dean tidak sabar untuk menyelesaikan misi dan memamerkannya pada Rumi.


“Kau siap, Ars?” tanya Albert, begitu Arshaka Dean keluar kamar.


Albert memerhatikan Arshaka Dean, ia lega akhirnya Arshaka Dean bisa menjalani hari-harinya sedikit normal. Misi hari ini, Arshaka Dean ditemani oleh Albert dan Watson. Rumi mewanti-wanti Albert agar senantiasa menjaga Arshaka Dean. Rumi tidak tau saja, Albert tidak perlu diminta pun, ia akan selalu pasang badan untuk tuannya. Ingatkan Rumi, jika Arshaka Dean di atas segalanya untuk Albert.


Arshaka Dean menghela napas, meskipun pagi hari ini cuaca dingin, tapi tak menyurutkan semangat Arshaka Dean. Arshaka Dean masuk ke dalam mobil khusus tempur, kemudian mengencangkan sabuk pengamannya. Arshaka Dean duduk di kursi belakang ditemani Albert di sampingnya dan empat tukang pukul di belakangnya, sedangkan Watson berada di depan bersama tukan pukul yang menjadi pengemudi hari ini.


Mereka tidak hanya satu mobil, masih ada belasan tukang pukul yang mengikuti mereka dari belakang, juga beberapa yang mengendarai motor. Atas komando Arshaka Dean, semua kendaraan melaju serempak, dengan begitu misi mafia Arshaka Dean, resmi dimulai.


“Ini menegangkan, Kawan,” ujar Watson.


“Apa ini misi pertamamu, Watson? Kenapa kau terlihat norak sekali?” celetuk Arshaka Dean.


“Kau, kenapa kau selalu emosi terhadapku? Apa karena aku pernah menggoda, Rumi?” tanya Watson.


“Watson …,” guman Albert.


“Jangan membawa Rumi di tengah-tengah misi kita. Sehebat apa pun usahamu, kau tak akan bisa mendapatkan dia,” kata Arshaka Dean, percaya diri.


Watson melirik ke belakang, melihat Arshaka Dean yang sedang tersenyum meremehkan dirinya. Kalah, sudah kalah dari awal cerita, kenapa Watson masih bersikukuh menggoda Arshaka Dean? Watson tidak pernah gentar, apalagi takut terhadap Arshaka Dean, tapi kali ini dirinya jengah.


“Oke, fine. Anggap saja dia milikmu, aku tidak akan mengatakannya lagi, sakit hatiku,” kata Watson, memulai drama.


“Watson, apa kau tidak punya kekasih?” tanya Albert, tiba-tiba saja.


“Jangan memulai perang, Albert, ini masih awal perjalanan,” jawab Watson, membuat Arshaka Dean tertawa.


“Kau tertawa untuk apa, Kawan?” tanya Watson. Albert yang melihat Watson penuh keluhan, hanya bisa mengulum senyuman.


“Sudahlah, fokus saja dengan misi kita, aku tidak ingin semua rencana kita gagal gara-gara dirimu. Aku sudah menyusun ini satu minggu lebih, jangan biarkan aku mengamuk dan melempar kau saat ini juga,” tegas Arshaka Dean.


Tanpa mereka ketahui ada yang sedang melancarkan rencana lain untuk menghambat kesuksesan Arshaka Dean. Terhitung ada satu mobil yang diam-diam mengikuti mereka dari kejauhan. Mereka sengaja mengamati dari kejauhan, tidak takut tertinggal rombongan, karena mereka sudah mengantongi rute yang akan dilewati Arshaka Dean.


Misi kali ini sangat menguntungkan, baik bagi Arshaka Dean maupun para pengepul lainnya. Tapi resiko yang menanti rombongan Arshaka Dean juga tidak kalah berat dari sebongkah berlian. Arshaka Dean masih belum menangkap siasat busuk dari musuh, hatinya masih penuh dengan Rumi.


Sementara di mobil musuh, orang-orang dengan tampang kasar memenuhi kursi mobil, suasananya mencekam. Bos yang mereka segani, hari ini turun langsung untuk menghadapi Arshaka Dean, terlihat garang sejak keluar dari kawasan mansion Arshaka Dean.


“Bos, kenapa kita tidak mendekati mereka saja, dan langsung tembak dari dekat, lumpuhkan secepatnya. Bukankah itu akan lebih efektif?” tanya anak buahnya.


“Tidak perlu terburu-buru, kita lihat dulu cara kerja pengkhianat mereka, ini pasti akan banyak menguntungkan kita. Tidak perlu khawatir dengan strategi, kita pasti menang, asalkan si pengkhianat tidak diketahui oleh bocah ingusan itu,” ucap Levon Lathan.


“Kali ini bocah tengik itu, akan mati di tanganku,” ucapnya sarat akan intimidasi.


Levon tertawa diikuti oleh kelima anak buahnya. Taktik-taktik mengerikan sudah ia rencanakan, tujuannya adalah melenyapkan Arshaka Dean. Levon tidak peduli dengan berlian yang sedang Arshaka Dean incar, tujuan Levon hanya satu mengubur nama Arshaka Dean hidup-hidup.


“Kau pasti mati, tunggu saja!”