
Malam ini mansion begitu ramai, berbagai jenis mobil terparkir di depan mansion, tidak beraturan. Terlihat seperti sedang terjadi pengepungan di mansion Arshaka Dean. Di dalam mansion jauh terlihat lebih ramai, para pengawal berpakaian serba hitam berkumpul di depan Albert.
Albert langsung mengadakan rapat darurat bersama para pengawal yang pergi bersama Agatha, adik Arshaka Dean. Albert harus tau, kejadian detailnya, kenapa Agatha bisa datang dalam keadaan mabuk? Bukan hanya mabuk, Agatha sempat terlibat pertengkaran dengan seorang pemuda, bahkan mengacaukan sebuah bar. Arshaka Dean sudah memerintahkan Albert untuk mengurus semuanya, itu artinya malam ini juga semua harus diselesaikan.
Sementara itu, Agatha masih berada di gendongan Arshaka Dean, ia tak berhenti meracau hal-hal yang tidak jelas, Arshaka Dean beberapa kali terlihat menghela napas. Ia baru saja tersadar, dan tengah menikmati makan malam, tidak menyangka akan dikacaukan oleh adiknya sendiri.
Rumi yang melihat kedatangan Agatha, kini mengikuti Arshaka Dean yang tengah menggendong Agatha. Ia melihat punggung Arshaka Dean, ia masih terlalu terkejut untuk membayangkan hal-hal yang membuat dirinya membisu, tapi ia tidak bisa mencegahnya.
Arshaka Dean sadar dirinya diikuti dari belakang, ia mendengar langkah malu-malu itu, terbesit di benaknya untuk sekali lagi menggoda Rumi. Secara tiba-tiba ia pelankan langkahnya, dan tersenyum sendiri setelah membayangkan respons Rumi atas kelakuannya.
“Bagaimana punggungku, Rumi? Sangat menggoda, bukan?” Arshaka Dean sudah memulai, ia tak sabar.
“Atau jangan-jangan kau juga ingin aku gendong, Rumi? Kau tau, aku sangat kuat, Rumi, aku tidak tau ini penting bagimu atau tidak, tapi aku bisa semuanya, Rumi,” lanjutnya.
“Asal kau tau, aku tidak pernah menggendong perempuan sebelumnya, dia yang pertama, kau mau jadi yang kedua, Rumi?” Arshaka Dean semakin gencar melancarkan aksinya.
Arshaka Dean terus menggoda Rumi, benar apa yang dia katakan, Arshaka Dean kuat, ia masih bisa menggoda Rumi ketika dirinya tengah menggendong adiknya. Tidak ada napas terengah-engah yang terdengar, Arshaka Dean benar-benar kuat, membuat Rumi semakin kagum padanya.
“Kau masih belum puas, Ars?” tanya Rumi.
“Aku tidak pernah puas, Rumi,” katanya.
Mereka sampai di depan pintu kamar Agatha, Rumi berbaik hati membantu membukakan pintu. Arshaka Dean masuk, Rumi sigap merapikan tempat tidur Agatha yang sedikit berantakan. Arshaka Dean merebahkan adiknya hati-hati, ia cekatan, untuk kali ini ia perlihatkan kasih sayangnya. Rumi tersenyum simpul, melihatnya.
“Berantakan sekali di sini, dia ini perempuan, kacau sekali,” gerutunya, Arshaka Dean membantu Agatha melepaskan sepatunya.
“Kakak …,” lirihnya.
“Diamlah, kau harus berganti baju,” ucap Arshaka Dean.
Agatha memberontak ketika jaketnya dilepas paksa oleh Arshaka Dean, ia menatap Rumi.
“Kau, bantulah aku mengganti bajunya, kau tidak mau bukan aku melepaskan baju perempuan sembarangan? Jadi kau lakukanlah untukku,” kata Arshaka Dean.
“Kau … kau meminta bantuan kepadaku?” Rumi menunjuk dirinya sendiri.
“Bukankah, kau bilang tadi bersedia membantuku? Mulailah dari sini,” katanya.
“Aku tunggu di luar, pastikan dia mengenakan pakaian yang nyaman. Lihat lemari itu.” Arshaka Dean menunjuk sebuah lemari besar berwarna merah muda di kamar adiknya. “Di sana semua pakaian adikku, kau pilihlah sendiri,” lanjutnya.
Arshaka Dean berjalan keluar kamar, sebelum menutup pintu ia berkata, “Jangan berbuat macam-macam pada adikku.” Ia tersenyum menyeringai, setelah puas melihat ekspresi wajah Rumi, ia menutup pintu.
“Aku tidak tau dia tipe manusia seperti itu, untung saja ia tidak mengetahui tindakanku tadi.” Rumi menghembuskan napas pasrah.
Rumi memilih pakaian yang akan dikenakan Agatha, semua jenis pakaian ada di lemari itu dengan warna-warni yang khas seorang perempuan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Arshaka Dean, Rumi memilih pakaian tidur berbahan satin berwarna merah muda untuk Agatha. Ia membawanya ke tempat tidur Agatha, kemudian ia mulai membantu Agatha mengganti pakaian.
“Kakak ....” racaunya.
“Jangan menyentuhku, siapa kau berani-beraninya.” Agatha menolak tangannya dipegang oleh Rumi.
“Aku mohon, bekerja samalah denganku,” ucap Rumi.
Ia membuka gaun Agatha dengan cepat, sebelum Agatha memberontak lagi. Berhasil, Rumi tinggal memakaikan baju tidur untuknya, meskipun sulit diatur, akhirnya Rumi selesai juga.
“Kakak, aku tidak ingin kembali lagi ke rumah itu … aku takut Kakak … mereka akan membunuhku.” Agatha berkata dalam mabuknya, ia berguling-guling di tempat tidurnya. “Aku takut … aku takut …,” ulangnya terus menerus, matanya terpejam.
“Sepertinya sesuatu terjadi,” gumam Rumi.
“Kenapa lama sekali? Kau tidak melakukan hal bodoh, bukan?!” teriak Arshaka Dean di depan pintu.
Rumi membalikkan tubuhnya, ia berjalan dengan kesal, kemudian membuka pintu dengan kasar. “Berhenti berteriak,” kata Rumi.
“Adikku tidak kau buat macam-macam?” tanya Arshaka Dean tajam.
“Kau pikir, aku ini apa?” Rumi berkata dengan geram.
Arshaka Dean tidak menjawab, ia menerobos masuk. Setelah memastikan Agatha berpakaian nyaman, Arshaka Dean menyelimuti adiknya. Ia lihat samping kanan dan kirinya, semuanya berantakan. Ia cari penutup mata milik Agatha, lama ia mencari, Rumi tidak tau apa yang Arshaka Dean cari, ia tidak ikut membantu.
Arshaka Dean akhirnya menemukan penutup mata milik Agatha di bawah tumpukan baju, ia bawa. Sebelum memakaikannya pada Agatha, ia sentuh dahi Agatha, memastikan jika suhu tubuhnya normal.
“Apa kau juga hidup seperti ini di rumah itu? Aku tidak bisa membayangkannya,” ujar Arshaka Dean mengacu pada kamar Agatha yang berantakan, Arshaka Dean menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tidak sanggup berada di sini lebih lama,” katanya.
“Hey, kau?” panggil Arshaka Dean pada Rumi.
“Kau telah bekerja dengan baik, teruslah seperti ini,” ujarnya.
“Sudah? Seperti itu saja?” tanya Rumi mengernyitkan dahi.
Karena dipikir Rumi, Arshaka Dean seharusnya menambahkan satu kalimat, jika memang dirinya merasa terbantu oleh Rumi. Tentu saja, Arshaka Dean tidak akan mengatakannya. Ia seorang pria yang dikenal sebagai mafia kejam, tidak pernah memberi ampun kepada lawannya, jadi jangan berharap hal manis darinya.
Arshaka Dean tidak mengindahkan perkataan Rumi, ia lewati Rumi yang tengah mematung menanti keajaiban terucap, nihil, Rumi tidak mendapat apa yang dia inginkan.
Arshaka Dean melirik Rumi. “Jika kau tidak berniat untuk membereskan tempat ini, keluarlah. Jangan mengganggu adikku, “ ucapnya.
“Yang benar saja,” ucap Rumi, kesal.
“Ada apa? Aku salah bicara?” tanya Arshaka Dean.
“Kau … benar-benar. Tidakkah, kau melupakan satu kalimat?” tanya Rumi.
“Apa? Tidak ada yang salah dengan kata-kataku,” jawab Arshaka Dean.
Sebenarnya Arshaka Dean sadar dengan apa yang diinginkan Rumi, tapi demi harga diri yang berusaha ia bangun kembali, ia tidak mungkin mengatakannya.
“Apa kau hanya bersikap lembut pada adikmu saja?” dengusnya, kesal
“Hey, jangan bicara sembarangan, aku tidak pernah bersikap lembut kepada siapa pun,” jawabnya.
“Sudahlah, kau hanya akan membuat adikku terganggu.” Arshaka Dean keluar mendahului Rumi.
“Apakah kau tidak mengetahui ada kalimat ‘terima kasih’ di dunia ini?” tanya Rumi sembari berjalan mengikuti Arshaka Dean.
“Apa maksudmu? Tentu saja aku tau, tapi apa aku terlihat peduli tentang itu?” balasnya.
“Jika kau belum pernah mengatakannya, ini waktu yang tepat untuk mengatakannya.” Rumi tidak sadar jika dirinya mengikuti Arshaka Dean ke dalam kamarnya.
“Kau berisik sekali.” Arshaka Dean menarik tangan Rumi, ia lalu membaringkannya di tempat tidur. Arshaka Dean menindihnya dari atas, menahan pergerakan Rumi. Tangan Rumi ia kunci dengan kedua tangannya, ia tak bertindak lembut. Ia membawa tangan Rumi di kedua sisi tubuh Rumi, menekannya.
Rumi tepat ada di bawahnya, ia pastikan mata Rumi menatap padanya. Sekali lagi, pikiran Arshaka Dean penuh dengan keinginannya untuk menggoda Rumi. Bukankah ini saat yang tepat?
“Apa seperti ini yang ada di pikiranmu, Rumi?”