The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 7. Ketulusan Albert



Albert bagai tersambar petir di siang bolong, mendengar satu kalimat yang diucapkan oleh Edmund. Albert sebenarnya sudah kebal dengan segala tingkah laku Edmund, tetapi kali ini, hanya dengan satu kalimat saja sudah bisa membuat Albert ingin menghilangkan Edmund selamanya. Albert begitu khawatir, apa yang dikatakan oleh Edmund menjadi kenyataan, Albert memang sudah memperhitungkan segala macam kemungkinan terburuk mengenai Arshaka Dean. Albert tidak bisa bila dirinya diposisikan harus memilih antara Arshaka Dean atau Edmund Dean, meskipun keduanya menempati raga yang sama.


“Apa yang terjadi, Edmund?” tanya Albert tak mengerti.


“Ada apa dengan semua yang kau katakan?” tanyanya lagi.


“Edmund, aku tidak bisa berpikir dengan baik sekarang,” akunya.


Jauh dari dasar hatinya, Albert lebih memilih dirinya saja yang menghilang, dibandingkan harus menerima kemungkinan terburuk dari kondisi Arshaka Dean. Albert memang tidak memiliki ikatan darah dengan Arshaka Dean, tetapi Albert akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Arshaka Dean, baginya Arshaka Dean sudah lebih dari seorang keluarga, Arshaka Dean adalah hidupnya, pegangan hidupnya.


“Kau pasti bercanda, bukan?” tanya Albert putus asa.


Albert dengan senang hati menjaga Arshaka Dean, dia juga akan menerima dengan tangan terbuka jika Arshaka Dean membutuhkan sosok seorang ayah. Begitu pula ketika Arshaka Dean membutuhkan seorang kakak, dia juga akan dengan penuh kasih sayang menjaga Arshaka Dean seperti adiknya. Begitu sangat berarti Arshaka Dean bagi kehidupan Albert, sungguh dia akan merasa hancur jika yang dikatakan Edmund benar-benar terjadi.


“Paman, tidak semua yang paman lihat itu sebuah kebenaran. Akan ada waktunya kalian mengetahui segalanya. Tentang Kakak, tidak perlu khawatir, aku juga akan memastikan Kakak baik-baik saja,” hibur Edmund.


“Kakakmu, akan baik-baik saja, bukan?” tanya Albert penuh selidik.


“Luka Kakak jauh lebih besar dari yang pernah kita perkirakan, hanya Kakak yang mampu untuk mengobatinya. Paman tidak perlu terlalu jauh berpikir, bisa saja yang paman khawatirkan tidak pernah terjadi.” Pemikiran Edmund jauh lebih dewasa dibandingkan siapa saja ketika sedang dalam keadaan baik-baik saja, tetapi ketika dirinya sulit dikendalikan hanya Arshaka Dean yang mampu menahan dan menyadarkannya kembali.


“Untuk saat ini biarkan Kakak bekerja dengan baik, kita hanya mampu untuk mendukungnya saja, dan selalu bersama di dekat Kakak. Paman akan selalu bersama Kakak, bukan?” tanya Edmund sembari memperhatikan wajah Albert yang begitu sedih.


“Dengan segala yang aku bisa dan semua jiwa ragaku. Aku siap berada bersama Kakakmu, Edmund. Bahkan bila harus selamanya, aku selalu ada untuk kakakmu, Edmund. Percayalah padaku,” ucap Albert dengan ketulusan yang bisa dirasakan oleh hati Edmund, ucapannya begitu menusuk dan menghanyutkan hingga jiwa Arshaka Dean yang sedang tertidur di dalam jiwa Edmund pun ikut terenyuh mendengar ketulusan Albert.


“Baguslah, aku senang mendengarnya. Aku jadi tidak perlu khawatir lagi jika aku harus meninggalkan Kakak lebih lama,” kata Edmund.


“Itu juga berlaku untukmu, Edmund. Aku akan siap sedia bersamamu, jangan berkecil hati, aku akan ada untukmu juga, Edmund. Kakakmu dan dirimu adalah dua orang yang tidak akan aku biarkan kesepian, percayalah sekali lagi padaku, Edmund.” Dengan ini Albert mengikrarkan dirinya, bahwa dalam hidupnya akan selalu menambahkan dan memprioritaskan dua bersaudara dalam satu raga ini.


“Jangan seperti itu, Paman. Aku jauh lebih mempercayaimu dibandingkan siapa pun, bahkan dibandingkan Kakak, aku lebih percaya padamu, Paman,” ucap Edmund sembari menarik kedua sudut bibirnya, sangat indah. Dengan begini, Albert bisa melihat dua orang sekaligus, Edmund yang sedari awalnya merupakan anak yang ramah, selalu menyejukkan ketika melihatnya tersenyum, sebaliknya Albert juga bisa melihat senyuman Arshaka Dean yang begitu langka. Arshaka Dean selalu menyendiri dan selalu menyembunyikan dukanya, sehingga sulit sekali melihat dirinya tersenyum.


“Aku lega, Edmund. Aku mohon, berbahagialah. Aku bersumpah akan membahagiakan kalian berdua, Edmund.”


Hati Edmund dipenuhi dengan rasa percaya diri dan di dalamnya tumbuh kuncup-kuncup bunga yang siap bermekaran. Saat ini memang belum sempurna merekahnya, tetapi bila terus disirami dengan perasaan tulus dari orang-orang yang menerima kehadiran dirinya, padang bunga pasti akan terhampar dalam hatinya. Sehingga tak perlu lagi dirinya bersembunyi di balik rasa bersalah, Edmund siap jika dirinya harus menghilang demi mereka yang mencintai keberadaannya.


Albert tersenyum mendengar penuturan dari Edmund, seraya merangkul tubuh bugar Edmund. “Sudah pasti siap, Edmund. Mari kita bergegas,” ajak Albert. Jika itu Arshaka Dean, dia bersumpah akan sangat bahagia bisa merangkul tubuhnya seperti yang dilakukan Albert saat ini, tetapi sayang, meskipun sudah memantapkan hati akan menganggap Edmund sebagai Arshaka Dean, hati Albert tidak pernah bisa dibohongi.


Albert tetap ingin merangkul Arshaka Dean, sebagaimana dirinya leluasa merangkul Edmund. Mengingat susah sekali bagi dirinya untuk bisa lebih perhatian kepada Arshaka Dean, dia tidak bisa menaklukkan benteng keras yang menyelimuti hati Arshaka Dean. Mungkin suatu saat Albert akan bisa merangkul Arshaka Dean, situasi seperti itu akan terwujud dalam waktu dekat, kita tidak pernah mengetahui jalan takdir ini akan melaju ke arah mana, kita hanya bisa berharap.


Mereka berdua pun berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga yang begitu indah ini. Edmund Dean dalam langkahnya terlihat beberapa kali memandangi seisi mansion, ada yang mengusik perhatiannya. Edmund sepertinya mengetahui bahwa telah terjadi kekacauan, dia bahkan mengira bahwa malam tadi, situasi mansion berantakan.


Edmund dan Albert tiba di lantai dasar, mereka langsung menuju meja makan, di sana sudah ada Robert yang merupakan guru pribadi dari Edmund Dean. Robert lulusan terbaik dari universitas terkemuka, ia hebat, reputasinya jangan diragukan, sudah banyak melakukan seminar di berbagai belahan bumi sana, jurnalnya banyak direkomendasikan. Arshaka Dean tidak akan memasukkan orang sembarangan ke dalam mansion-nya.


“Halo, Robert. Apa kabar? Aku sepertinya sudah lama tidak mendengar suaramu,” sapa Edmund.


“Kabarku baik, Edmund. Bagaimana denganmu, kudengar kau baru bangun, kenapa telat sekali?” Edmund dan Robert saling berjabat tangan.


“Aku tidak tau, aku juga merasa aneh, tidak seperti biasanya. Kali ini, aku bahkan bangun dengan berpakaian milik Kakak, apakah itu bisa terjadi, Robert?” Edmund mendudukkan dirinya di salah satu kursi dengan meja makan di depannya, berbagai hidangan tersaji di atasnya.


“Mungkin saja kau mabuk.” Robert yang sudah mengetahui tabiat Edmund menanggapi pertanyaan itu dengan santai, tidak seperti pelayan yang tiba-tiba gemetar ketika menuangkan sup ke dalam mangkuk untuk Robert karena mendengar pertanyaan Edmund.


“Terima kasih, kau tidak perlu gugup begitu denganku, kita sudah sering bertemu, bukan?” ucap Robert kepada sang pelayan, mencoba untuk menenangkan suasana, tetapi gagal, pelayan itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Kau sakit?” Edmund menambah beban di pundak pelayan itu.


“Ah tidak, silakan, nikmati makannya, Tuan,” jawabnya.


“Aku sudah bilang berkali-kali, jangan memanggilku tuan, aku tidak nyaman,” kata Edmund.


“Ah, maafkan aku, silakan nikmati makannya, Edmund,” koreksinya.


“Terima kasih,” jawab Edmund dengan senyum sumringah mendengar namanya disebut.


Jika dia Arshaka Dean, Robert sudah pasti akan senang sekali melihat senyumannya, apa boleh dikata. Melihat Edmund tersenyum, Robert juga ikut tersenyum, tetapi hatinya tidak bahagia. Robert sebenarnya datang ke mansion bukan karena dipanggil oleh Albert, sudah dari jauh-jauh hari Robert merencanakan untuk berkunjung. Robert sedang dilema, dirinya membawa kabar yang akan mengejutkan semua orang, seketika hatinya gelisah ketika ia teringat dengan tujuannya itu. Kabar seperti apa yang akan mengejutkan semuanya? Mari kita semua berharap, bukan kabar yang akan menimbulkan sebuah perpecahan yang dibawa Robert.