The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 25. Sebuah Pilihan



Awal baru telah dimulai, mansion sudah lengkap dengan penghuninya. Setelah beberapa pekan lalu sempat dirundung ragu dan ketidakpastian, akhirnya kemarin sudah dipertemukan dengan titik tenang.


Guru pribadi dan dokter pribadi sudah bekerja sesuai dengan tuntutan tuannya, meskipun terbilang orang baru di mansion, keberadaan Rumi tidak membawa dampak besar. Satu-satunya yang diuntungkan adalah perasaan Albert yang tidak lagi was-was terhadap kemungkinan besar munculnya Edmund tanpa seorang pendamping. Selebihnya semuanya berjalan dengan semestinya, kecuali satu orang yang tampak belum terlihat sedari pagi.


Rumi keluar dari kamarnya berpapasan dengan Arshaka Dean yang juga baru keluar dari kamarnya. Sebagai syarat dari Arshaka Dean, Rumi menyetujui tinggal di mansion, sejak kemarin ia sudah bermalam di mansion, menempati salah satu kamar yang berada tepat di sebelah kamar Agatha.


“Hai, pagi,” sapa Rumi kepada Arshaka Dean, hatinya masih belum bisa terbiasa jika berurusan dengan Arshaka Dean, tetapi untunglah ia bisa mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan di depan Arshaka Dean.


Malang bagi Rumi, sapa canggung yang terlewat berani itu tidak mendapat jawaban, ia terabaikan. Kesan pertama Arshaka Dean terhadap Rumi tidak begitu baik, jadi harap dimaklumi jika sikap Arshaka Dean begitu adanya. Arshaka Dean tidak membenci perempuan, tetapi biar bagaimanapun, kesan pertama itu memang selalu membekas di hati seseorang.


Albert kebetulan melewati mereka, ia juga baru keluar dari ruang kerjanya, memperhatikan Rumi dan Arshaka Dean. Albert mengamati Rumi, ia tersenyum melihat mata Rumi yang berbinar malu melihat ke arah Arshaka Dean, sedangkan yang ditatap dengan penuh rasa, hanya memandang kosong entah melihat apa.


Arshaka Dean melihat Albert yang tengah tersenyum ke arahnya, sekali lagi Arshaka Dean mengabaikan tatapan orang-orang. Sikap dinginnya tidak akan mudah dimasuki siapa saja, Arshaka Dean sepertinya sudah ditakdirkan untuk menjadi sisi yang ditaklukkan, ia tidak akan berbaik hati untuk memulai.


“Albert, apa dia belum pulang? Aku belum melihatnya hari ini?” tanya Arshaka Dean merujuk pada Agatha.


“sepertinya belum kembali, Ars, ia masih bersenang-senang bersama teman-temannya. Biarkanlah, Ars, ia mungkin ingin mengusir penat, dan jangan khawatir aku sudah menugaskan para tukang pukul untuk mengawasi mereka dari jauh, bila ada yang mencurigakan mereka pasti bergerak cepat,” jelas Albert.


“Jika begitu aku serahkan urusan perempuan itu kepadamu, dan jangan biarkan dia terlibat masalah, aku sudah muak berurusan dengan semua permasalahannya,” kata Arshaka Dean.


“Akan kupastikan Agatha dalam kondisi aman, Ars,” jawab Albert.


“Sudah seharusnya, Albert, mereka aku rekrut memang untuk itu, jika mereka lengah jangan harap mereka masih bisa bernapas di tempatku,” ancamnya tegas.


“Akan aku sampaikan pada mereka, kau tenang saja. Omong-omong, Chadla menunggumu di ruangannya,” kata Albert.


Arshaka Dean membuang napas kasar. “Menyebalkan,” dengusnya, ia berjalan meninggalkan Albert dan Rumi yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka.


Dalam diamnya Rumi sayup-sayup mendengar seorang perempuan disebut, hatinya risau, ia tau tidak seharusnya ia seperti ini, tetapi rasa gundah dari beratnya sapa yang tidak mendapat balasan sedikitnya membuat hatinya sedikit retak. Ia tidak bisa memastikan siapa perempuan itu, Rumi tak ingin dirinya kalah dalam pertanyaan yang menyakitkan itu sendirian, ia harus segera mencari tau tentang Arshaka Dean.


Dengan langkah penuh harap, ia menatap Albert mencoba mencari jawaban, nihil, ternyata tidak segampang itu menemukan tenang. “Albert, apakah Ars sudah mempunyai pendamping? Sepertinya ia khawatir, aku tidak bisa memastikannya, tapi dari cara ia berkata, aku pikir ia mengkhawatirkan seseorang.” Meskipun ragu, Rumi bertanya dan berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa hampanya ketika membahas perempuan lain.


Alih-alih menjawab, Albert hanya menatap Rumi, tidak perlu melibatkan seorang ahli untuk mendeteksi perasaan seorang Rumi, Albert bisa melihatnya secara gamblang. Albert pastikan Rumi sedang dalam keadaan tidak percaya diri. “Pendamping?” Albert tatap lagi ke dalam mata Rumi. “Maksud Anda, istri? Jika itu yang Anda pikirkan, Ars tidak pernah bersama seorang wanita dalam hidupnya, ia terlalu sibuk dengan pemeriksaannya, hingga tidak ada waktu untuk sekadar mencari teman kencan.” Albert tidak tega mendiamkan Rumi lebih lama dengan pemikirannya sendiri.


“Benarkah?” Rumi terdengar bahagia, senyum yang tadi sempat terlepas kini menghiasi wajah indahnya kembali. “Albert, apakah dia memang selalu bersikap dingin seperti itu? Aku pastikan Albert, aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki sedingin dia dalam hidupku,” akunya.


“Ars, bukan tidak suka perempuan, tetapi dia terlalu berpikir keras dengan hidupnya, mohon dimaklumi, Nona Ru—“


“Ah, Albert mulai sekarang kau bisa memanggilku hanya dengan namaku saja. Panggil aku Rumi saja, Albert, tidak perlu terlalu formal denganku,” potong Rumi.


“Maafkan aku, Nona … maksudku Rumi. Untuk sikap dinginnya, aku tidak bisa banyak membantumu, aku juga tidak bisa membuat dia bersikap hangat, Rumi. Mohon maafkanlah aku,” kata Albert.


Rumi mengibaskan tangannya. “Tidak, tidak, kau tidak perlu seperti itu. Aku hanya penasaran saja,” katanya. “Albert, jika bukan pendampingnya, lalu siapa yang kalian bicarakan tadi? Agatha … siapa dia? Apa dia tinggal di sini?” tanya Rumi semangat.


“Lalu, ke mana ia sekarang?” tanya Rumi lagi.


“Kemarin ia sedikit berseteru dengan kakaknya, kemudian ia memutuskan untuk bermain dan hingga saat ini masih belum kembali, sepertinya ia sudah lama tidak bersenang-senang,” jawab Albert antusias.


“Ah, aku mengerti, pasti dia sangat cantik, bukan? Hingga kau bahagia sekali setiap membahasnya,” goda Rumi.


“Ti-tidak.” Albert menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara itu Arshaka Dean menemui Chadla di ruangannya, tidak ada hal yang darurat, ini hanya pemeriksaan rutin, meskipun sudah terbiasa, Arshaka Dean sangat membenci sesi ini di setiap harinya.


“Ars, kau sudah datang, kemarilah,” sapa Chadla.


“Kupikir kau melupakannya hari ini, Chadla, ternyata aku terlalu berharap lebih,” ujar Arshaka Dean.


“Aku tadi mengisi seminar online di salah satu universitas. Maaf sudah mengecewakanmu,” kata Chadla.


“Apa lagi hari ini, Chadla?” tanya Arshaka Dean.


“Ars, bagaimana dengan saranku untuk memulai terapi itu? Apa sudah kau pikirkan dengan sungguh-sungguh?” tanya Chadla.


“Entahlah, aku tidak berpikir tentang itu, hal itu masih jauh, bukan? Kau masih punya waktu,” jawab Arshaka Dean.


“Kita harus segera mencobanya, Ars,” kata Chadla lembut.


“Kenapa kau begitu peduli dengan hidupku, kau tau betapa sulitnya aku bertahan hingga detik ini? Aku sudah bilang padamu untuk mematikan sebagian dari diriku, itu lebih mudah dilakukan, dibandingkan menungguku,” tolak Arshaka Dean.


“Ars, kau pasti tau betul tentang konsep kehidupan. Ars, di dunia ini tidak ada yang bisa hidup selamanya dan tidak ada yang abadi. Bukankah akan jauh lebih baik, jika kita menjalani sisa hidup kita dengan menjadi diri kita sendiri dan menerima diri kita sendiri, manusia yang menempati raganya secara utuh? Kita tidak bisa menjamin metode ini akan berhasil, tetapi setidaknya kita sudah berusaha. Kau tidak keberatan bukan dengan rencanaku?” kata Chadla.


“Aku sudah lelah, Chadla, aku sudah memberimu pilihan, aku yang mati atau anak itu yang menghilang,” tolak Arshaka Dean.


“Untuk menghilangkan salah satu dari kalian, kau harus bekerja sama denganku, aku tidak bisa bekerja sendirian,” jawab Chadla.


“Apa lagi yang harus aku lakukan? Aku sudah menuruti semua yang kau minta,” kata Arshaka Dean.


“Kau belum melakukannya, Ars, selama ini kau masih saja menutup diri.” Chadla menampilkan sebuah gambaran di layar komputernya, kemudian ia perlihatkan pada Arshaka Dean.


“Cara kerja dari psikoterapi adalah mengembangkan kesadaran kita terhadap suatu masalah, dengan begitu aku bisa memahami proses berpikirmu, kemudian aku bisa mengubah perilakumu dengan konsep yang lebih baik.” Chadla berhenti menjelaskan untuk melihat reaksi dari Arshaka Dean, tetapi yang ia dapat hanya pandangan tidak peduli dari Arshaka Dean.


“Tapi yang kita lakukan jauh dari itu, Ars. Kau tetap tertutup, kau tidak pernah mengijinkan kami untuk masuk ke dalam dirimu. Menurutmu, apakah cara kerja seperti itu akan berhasil, Ars? Kurasa tidak, karena aku tidak tau apa penyebab dari keadaanmu ini, aku tidak bisa mengembangkan lebih jauh lagi, yang aku lakukan sejauh ini hanya meraba-raba, tanpa penjelasan yang pasti darimu. Jadi Ars, aku mohon, mulailah percaya pada kami, biarkan kami membantumu, jangan berjuang sendirian,” jelas Chadla.


“Chadla, aku muak dengan pembicaraan ini.” Arshaka Dean meninggalkan ruangan Chadla. “Aku tidak peduli lagi, kau lakukan sesukamu,” ucapnya sebelum ia membanting pintu ruangan Chadla.