The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 37. Kejutan Pahit



Keesokan harinya, Rumi terbangun, seketika membuka matanya, masih merasa malu mengingat kejadian tadi malam. Wajah Arshaka Dean terbayang, sangat tampan, ia bahkan masih bisa merakan sisi dominan yang Arshaka Dean perlihatkan semalam. Menurutnya itu sangat seksi, memikat dirinya lagi dan lagi.


Rumi tiba-tiba tersenyum, ia bukan wanita nakal, tetapi kepada Arshaka Dean dia berani membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Ia bahkan merasa menyesal ketika semalam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Arshaka Dean. Rumi memiringkan tubuhnya, coba menghela napas lembut, ia menutup mata, mencari aroma maskulin yang semalam tercium sangat kuat.


Ia menghirup udara begitu rakus, ia tidak tau jika aroma Arshaka Dean akan membekas seperti ini. Aromanya tercium begitu kuat, seakan dirinya berdekatan dengan Arshaka Dean. Penasaran dengan penciumannya, ia membuka mata, dan…


“Aaa …!” teriak Rumi, ia melihat seorang pria di tempat tidur, membelakanginya.


Merasa terganggu dengan teriakan Rumi, pria itu menggeliat dan membalikkan tubuhnya, telentang.


“Ars …!” Rumi tersentak begitu melihat Arshaka Dean membalikkan tubuhnya, Arshaka Dean tidur bersamanya! Arshaka Dean ada di kamarnya! Bagaimana mungkin?


“Kenapa kau ada di kamarku?!” sentaknya.


“Berisik! Apa kau bodoh? Ini kamarku,” jawab Arshaka Dean menambah keterkejutan Rumi.


“Tidak mungkin …,” lirihnya.


“Kau tidak mengingatnya? Kau menggodaku, kau ingin aku tidur bersamamu di sini? Kau tidak ingat? Kau tidak ingat perbuatan kita semalam?” cecar Arshaka Dean, membuat Rumi semakin bingung.


Begitu selesai Arshaka Dean mencecarnya, Rumi langsung memeriksa seluruh tubuhnya. Pakaian yang ia kenakan masih lengkap dan tidak ada tanda-tanda yang aneh di tubuhnya. Ia mengernyitkan dahi mencoba mengingat semuanya.


Semalam setelah dirinya dan Arshaka Dean tertangkap basah oleh Albert, ia ditinggalkan oleh Arshaka Dean di kamarnya. Karena malu dan tidak berani keluar kamar, ia memutuskan untuk menunggu keadaan mansion sepi di kamar Arshaka Dean dan berakhir tertidur di sana.


Begitu pula dengan Arshaka Dean, setelah selesai mengurus permasalahan yang disebabkan adiknya, Arshaka Dean kembali lagi ke kamarnya. Ia kira Rumi sudah keluar, ternyata Rumi masih di kamarnya dan sudah tertidur lelap. Arshaka Dean tidak enak hati untuk membangunkan Rumi. Ia juga tidak mungkin memindahkan Rumi ke kamarnya, akan ada lebih banyak kesalahpahaman nantinya. Alhasil dirinya mau tidak mau tidur di samping Rumi. Itulah awal kenapa mereka bisa tidur di tempat tidur yang sama.


“Kau berbohong,” geram Rumi, setelah berhasil mengingat semuanya.


“Memang,” jawab Arshaka Dean.


“Aku benci padamu,” ketus Rumi.


“Tidak mungkin, kau tidak mungkin bisa secepat itu membenciku. Aku sangat tau isi pikiranmu, kau pasti menyesal, karena semalam tidak terjadi apa-apa pada kita. Aku tau kau sangat menginginkan itu, hingga kau tertidur di kamarku. Tidak perlu mengalihkan topik pembicaraan, mengaku saja,” godanya.


Rumi beranjak dari sana, ia tak tahan lagi, sudah cukup dirinya menerima olok-olok dari Arshaka Dean, ia tidak sanggup lagi menanggung malu. Lebih dari itu, ia takut tertangkap basah lagi seperti semalam.


Masih penuh dengan kekesalan, Rumi keluar dari kamar Arshaka Dean, berharap tidak akan bertemu dengan penghuni lainnya. Bisa panjang urusannya, jika ada yang tau ia keluar dari kamar tuannya.


Arshaka Dean yang melihat itu, tertawa keras, memukul-mukul tempat tidur, melampiaskan kesenangannya, ia terlihat puas sekali. Rumi tau itu, ia mendengarnya, tapi ia mengabaikan semua itu, bahkan ketika Arshaka Dean memanggil namanya, ia tidak bergeming.


“Kau?” seru Agatha terkejut melihat Rumi keluar dari kamar kakaknya, Rumi tersentak.


Harapan Rumi melebur sudah, padahal ia sudah kuat memohon. Rupanya, ia tak diijinkan melewati hari dengan mudah, kali ini. Sudah terbilang dua kali, Rumi tertangkap basah.


“Tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan, ini salah. Kau berpikir salah tentang ini,” ribut Rumi mencoba meluruskan.


“Itu bukan urusanku,” kata Agatha.


Agatha tersenyum penuh arti, tidak mudah menyembunyikan fakta itu. Mau terjadi sesuatu ataupun tidak, itu tidak menjadi masalah untuk Agatha, tapi sedikitnya Agatha berharap lebih dari keduanya.


Sudah terlalu lama, Agatha melihat kakaknya hidup hanya dengan anak buahnya. Sudah saatnya kakaknya memadu kasih, dan dengan Rumi, ia tidak keberatan. Agatha melanjutkan langkahnya, membiarkan Rumi dengan pikirannya sendiri. Kepanikan Rumi sudah menjadi jawaban untuk Agatha, ia tidak perlu menanyakan ini dan itu.


Sementara itu, Rumi masih mematung di depan kamar Arshaka Dean, tidak sangka jika dirinya akan menjalani hidupnya seperti ini. Setelah lama merenung, Rumi berjalan ke kamarnya, setengah berlari. Begitu sampai di dalam, Rumi langsung melompat ke tempat tidurnya, menjatuhkan diri.


“Argh …! Bagaimana ini?! Ibu, aku ingin pulang … aku malu ….” Rumi menggeram, kakinya sibuk ia gerakkan, menendang ujung kasur.


“Dasar, orang itu! Aku tidak suka, aku benci dia ….”


Seperti itulah, penyesalan-penyesalan yang Rumi hadapi, ia malu, jadi biarkanlah Rumi mengadu pada tempat sunyi, ditemani seseorang yang setia memperhatikannya. Kamar Rumi tidak tertutup dengan benar, sehingga semua yang Rumi lakukan saat ini terlihat dari luar.


“Semakin menarik,” ujar Arshaka Dean, tersenyum.


“Hari ini kau terlihat bahagia, Ars. Aku senang melihatnya, aku harap setiap hari bisa melihatmu seperti hari ini,” ujar Albert.


Arshaka Dean seharian ini tidak keluar dari mansion, ia menghabiskan hari dengan berbincang dengan Chadla di ruangannya. Karena ada Agatha, mereka tidak bisa membahas perkembangan Arshaka Dean di sembarang tempat. Selama ada Agatha, Chadla berperan sebagai dokter pribadi keluarga, bukan sebagai psikiater, agar Agatha tidak curiga.


“Benarkah? Tidak, Albert, itu perasaanmu saja,” elaknya.


Arshaka Dan tersenyum, bukan tanpa sebab harinya terasa sangat cerah, ia berhasil mengerjai Rumi. Kesenangan yang ia rasakan, setara dengan memenangkan sebuah pertempuran sengit, ia puas.


“Bar itu sudah resmi jadi milikmu, Ars. Aku sudah mendapat laporan, semuanya sudah beralih atas namamu. Kau kini mempunyai bar, Ars,” lapor Albert.


“Ah, aku hampir melupakan itu. Hey, dia ada di mana, Albert? Aku belum menghukumnya, kenapa dia sudah berani berkeliaran lagi?” tanya Arshaka Dean, menanyakan keberadaan Agatha.


“Setelah kuberi tahu tentang bar itu, dia langsung pergi ke sana, Ars,” jawab Albert.


“Albert, kenapa kau tidak melarangnya?!” tanya Arshaka Dean, geram.


“Dia tidak menuruti aku, Ars. Aku sudah melarangnya,” bela Albert. Arshaka Dean tidak melanjutkannya, ia sudah jengah. Arshaka Dean memilih untuk menenangkan diri di tempat biasanya.


“Kau, mau ke mana, Ars?” tanya Albert.


“Mencari lawan,” jawab Arshaka Dean.


Albert yang mendapat jawaban menggaruk tengkuknya, Albert paham dengan perubahan suasana hati Arshaka Dean, mau bagaimana lagi, Albert yang memulai. Arshaka Dean sudah keluar, tadinya ia hendak ke tempat biasa ia bermeditasi, tapi kemudian Arshaka Dean sadar jika di sana sudah ada penangkaran kupu-kupu milik Edmund.


Sudah terlanjur keluar, ia tidak mungkin berdiri tanpa tujuan, jadilah ia memutuskan untuk melihat-lihat mansion-nya. Sudah hampir, lebih dari sepuluh tahun dirinya tinggal di mansion itu, tapi ia tidak pernah secara khusus melihat-lihat seperti ini. Arshaka Dean menikmati pemandangan, matanya menjelajah ke setiap penjuru.


Ia tak menyangka bisa bertahan di tengah kondisinya yang tidak stabil itu, ia juga tidak menyangka akan bisa hidup lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan-bayangan masa lalu, hadir kembali ke pikiran Arshaka Dean. Ia melihat dirinya sempat berada di titik ingin menghancurkan hidup, menyerah pada semua yang terjadi di masa lalu, tapi kemudian akhirnya ia bisa melewati itu semua.


Setelah mengitari mansion-nya beberapa saat, mata indah Arshaka Dean menangkap sosok perempuan tengah berdiri di depan penangkaran kupu-kupu. Arshaka Dean kembali menyunggingkan senyum, ia tahu siapa yang berdiri di sana. Pikiran liarnya mengusik lagi, Arshaka Dean melangkah, menghampiri yang tengah asyik memandang ke dalam penangkaran.


“Kenapa kau ada di sini?” tanya Arshaka Dean. Tidak ada jawaban, Arshaka Dean melangkah lagi, mensejajarkan diri dengannya.


“Kau marah padaku?” tanyanya lagi.


“Kau menghindariku hari ini. Kau tidak harus seperti itu, jika tidak mau banyak orang curiga kepadamu,” kata Arshaka Dean.


“Ars …?”


“Aku di sini, Rumi. Kau tidak perlu takut dengan orang lain, mereka tidak akan membuka mulut tentang kejadian semalam,” kata Arshaka Dean.


“Ada yang ingin kukatakan padamu, Ars,” ucap Rumi.


“Katakanlah, aku siap mendengarkan,” jawab Arshaka Dean.


“Aku ….” Sejenak Rumi ragu dengan yang akan dikatakannya, ia menunduk mencari kepercayaan diri. “Aku sepertinya mencintaimu …,” ucapnya.


“Aku tau.” Rumi tersentak, ia menatap Arshaka Dean tak percaya, Arshaka Dean berdiri di depan Rumi.


“Kau berharap apa dariku, Rumi?” tanya Arshaka Dean.


Rumi diam, bingung harus menjawab seperti apa. Arshaka Dean memegang kedua bahu Rumi, ditatapnya lembut mata Rumi. “Aku tidak punya kehidupan, Rumi.” Arshaka Dean mendekatkan wajahnya dengan wajah Rumi. Sebelum dipermainkan, Rumi menjauhkan wajahnya dari Arshaka Dean, Rumi berpaling.


Arshaka Dean tidak kehilangan ide, ia tangkup wajah Rumi, melihatnya sekilas dan mengecup ranum milik Rumi secara tiba-tiba. Rumi terkejut, ia tidak siap dengan serangan tiba-tiba ini. Arshaka Dean masih terdiam, merasakan miliknya menempel dengan ranum Rumi. Ia coba menikmatinya dengan memejamkan mata, tak ada pergerakan, Arshaka Dean masih di sana.


“Itu sebagai ganti satu kalimat yang sangat ingin kau dengar,” ucapnya di depan bibir Rumi.


Arshaka Dean menjauhkan dirinya dari Rumi, tersenyum dan tiba-tiba dirinya melemah. Senyumannya masih di sana, Arshaka Dean secara perlahan-lahan terjatuh dengan sendirinya.


“Ars …!”