
Lembab, pertama kali Edmund menapakkan kakinya, terasa begitu lembab. Edmund belum tahu dirinya ada di mana, tetapi dapat ia rasakan pijakan kakinya terasa seperti tanah basah.
Bau pepohonan tercium samar oleh hidung Edmund, kepalanya masih ditutup kain hitam, agar ia tidak tau akan dibawa ke mana, beberapa kali dirinya menginjak ranting pohon yang sudah mengering.
“Cepatlah!” seru si pria, mendorong Edmund hingga nyaris terjatuh.
Berjalan dengan mata tertutup dan tidak melihat apa yang ada di depan sana, membuat langkah Edmund sedikit melambat. Bukan kematian yang ia takutkan, tapi kehilangan raga Arshaka Dean adalah hal yang paling ia hindari.
Sejak mengetahui dirinya hanya menumpang hidup pada tubuh Arshaka Dean, membuat Edmund hati-hati dalam bertindak, meskipun ia pernah ingin menyudahi petualangannya itu. Dihadapkan dengan marabahaya yang jelas-jelas tengah mengancam, sedikitnya membuat Edmund berpikir, jika kehidupan Arshaka Dean harus diselamatkan.
“Cepat! Kau terlalu lambat!” serunya.
“Bos, Arshaka Dean tidak sehebat itu!” seru teman-teman si pria. “Kau ternyata lebih payah dari seekor kura-kura, belajarlah berlari dari kelinci, kau bodoh!” cibirnya, mendorong tubuh Edmund dengan laras panjang.
Tangan yang terikat ke belakang, membuat Edmund kesulitan untuk membuka ikatan, dapat ia rasakan di belakang sana, senjata beberapa kali ditodongkan pada tangannya, jika seperti itu, akan sulit baginya untuk meloloskan diri.
“Aku bukan Arshaka Dean,” kata Edmund.
“Apa? Kau ternyata bisa bicara?” Tawa meremehkan terdengar menggelegar di hutan rindang itu. “Kau tak berhak menentukan dirimu, kami tidak peduli dengan itu.” salah satu pria di dekatnya, menjambak rambut panjang Edmund. “Rambutmu tidak menguntungkan untuk kami, bagaimana jika aku musnahkan mahkotamu ini?”
Kepala Edmund tertarik ke belakang, rasanya sakit, tapi ia masih bisa menerima semua perlakuan itu. Edmund hanya tidak suka jika Arshaka Dean direndahkan seperti itu, orang-orang ini pengecut, berani melakukan tindakan keji seperti ini, ketika Arshaka Dean tidak berdaya.
Langkah mereka berhenti, Edmund simpulkan jika mereka telah sampai di tempat yang sudah mereka rencanakan. Edmund meraba-raba dengan kakinya, kali ini pijakannya keras, tidak ada ranting.
Terdengar suara pintu terbuka, meskipun matanya tertutup, Edmund segera tau jika di sana ada sebuah bangunan. Dari tempat pertama ia diturunkan, hingga ia sampai di depan sebuah bangunan ini, jaraknya sangat jauh, sulit untuk menemukan orang luar jika seperti ini.
“Maju! Terus maju, kau bedebah!”
Edmund maju, dorongan-dorongan kasar pada tubuhnya terasa nyeri, ditambah tangannya kini digenggam erat, juga ditarik kasar. Napas Edmund tertahan, dadanya terhenyak, rasa ngilu di perut bagian bawahnya terasa kembali, mungkin karena kelelahan atau Edmund terlalu memaksakan diri menahan rasa sakitnya.
“Mangsa sudah kami dapatkan!” teriak seorang pria bersuara berat.
Semua orang bersorak, riuhnya mengalahkan orang-orang yang ada di mansion Arshaka Dean. Kali ini Edmund dikepung, wajah-wajah beringas dengan tatapan maut, serentak melihat ke arah Edmund.
“Bravo! Bravo!” seru seseorang, terdengar jauh di depan Edmund.
“Kau hebat, kau memang anak buahku,” puji seorang pria paruh baya, suaranya berat dan serak.
“Levon tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu,” ucapnya.
Setelah pertemuan terakhirnya dengan Arshaka Dean, Levon musuh bebuyutannya, masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Berbeda dengan Arshaka Dean, meskipun jiwanya masih terbaring di alam tak terlihat sana.
“Kunci bocah tengik itu!”
Edmund segera didudukkan pada sebuah kursi yang terasa kasar, napas Edmund sudah tidak nyaman, untunglah pada saat itu ikatan penutup kain hitam di kepalanya dibuka. Sebagian lainnya mengunci pergerakan Edmund, kakinya diikat dengan baja lunak, lalu tangannya disatukan dan diikat kencang dengan kursi.
Penutup kain dilepas dengan kasar, Edmund tertutup matanya, menghirup napas dalam-dalam, ia harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Perlahan-lahan matanya terbuka, menyisir penjuru ruangan, ternyata benar, dirinya sedang dikepung. Orang-orang di sana memakai baju serba hitam dan dilengkapi dengan senjata laras panjang.
Bangunan ini sepertinya gudang yang sudah lama tak terpakai, banyak sarang laba-laba di dalamnya. Bau-bau menyengat tercium oleh Edmund, ruangan itu terasa penuh, meskipun ruangannya luas.
“Selamat datang bocah sok pemberani, apa kabar?” tanya seorang pria paruh baya, tertawa.
Edmund tidak langsung menjawab, ia menyadari sesuatu. “Mungkinkah kau … ayah dari Kakak?” tanya Edmund.
Pria paruh baya itu seketika menghentikan tawanya, menatap tajam pada Edmund, ia heran dengan pertanyaan Edmund, tidak masuk akal. “Siapa kau?” hardiknya.
“Namaku Edmund,” jawab Edmund, berani.
Pria paruh baya itu maju, memutari Edmund yang tengah duduk, pria ia memperhatikan Edmund dengan mata yang membulat. Suasana mencekam, dingin ruangan itu semakin terasa, anak buahnya mundur, memberi jalan pada tuannya.
“Edmund? Kau Edmund? Bagaimana bisa?”
Pria paruh baya itu mencengkeram rambut Edmund hingga tertarik, Edmund menengadah kesakitan. “Siapa kau sebenarnya?” Semakin kencang saja cengkeraman di kepala Edmund.
“Aku, Edmund,” jawabnya.
“Brengsek!”
Wajah Edmund kena amukan pria paruh baya itu, tinjuan mentah ia layangkan pada wajah tampan Edmund, darah segar keluar dari bibir Edmund, hidung Edmund pun mengeluarkan darah.
“Siapa yang kau sebut Edmund? Dia telah lama mati! Tanganku sendiri yang sudah menghabisi nyawanya!” Suaranya menggelegar, membuat Edmund tersentak, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan pria paruh baya di depannya itu.
“Aku ini ayahmu! Jangan main-main denganku, kau Ars!” bentaknya pada Edmund.
“Aku, Edmund,” ucap Edmund membenarkan pria paruh baya yang mengaku ayah dari Arshaka Dean itu.
Pria paruh baya itu menendang kursi yang dipakai Edmund, hingga bergeser tempat. Wajah Edmund menjadi sasaran empuk, beberapa kali ditampar, juga dihajar dengan keji, kini darahnya berderai di pelipisnya.
“Kau tidak bisa membohongiku! Di mana Arshaka Dean yang terkenal garang itu? Kenapa kau lembek berhadapan denganku? Kau sudah takut padaku? Tidak mungkin! Kau paling pemberani menentangku!” berangnya.
Pria yang dikenal Edmund sebagai kenalan Arshaka Dean, memperhatikan dari samping. Hatinya marah dan penuh dendam, tapi melihat Edmund babak belur seperti itu, bergetar tubuhnya.
“Dia bukan Ars,” ucapnya.
Pria bengis itu menoleh padanya, menatap tajam dan penuh curiga, pria paruh baya itu mendekatkan wajahnya. “Lelucon macam apa ini? Kenapa kau berkata dia bukanlah Ars? Kau main-main denganku, ingat perjanjian kita!” Napasnya memburu, tapi tak lantas membuat dia mundur.
“Tubuh dan rupa yang kita lihat memanglah tubuh milik Ars, tapi jiwa yang bersemayam di tubuhnya adalah Edmund. Ars, sakit, dan seperti inilah keadaannya, inilah rahasia yang telah ia sembunyikan selama ini,” jelasnya.
Pria paruh baya itu langsung mendekat pada Edmund, memegang wajahnya dengan kedua tangannya, menekannya kuat. “Apa yang terjadi di sini? Di mana Ars? Di mana dia sekarang? Dasar kau brengsek! Bedebah!” Tendangan ia layangkan pada tubuh Edmund, tubuhnya beberapa kali terkena hantaman tangannya.
Pada saat itu Edmund merasakan dirinya terpanggil, Edmund melemah dan menutup matanya. Tubuh Edmund terkulai, jika tangan dan kakinya tidak terikat kuat, tubuh Edmund pasti akan terjatuh dari kursi.
Tubuhnya terkulai, tapi Edmund tidak merasakan apa pun, tidak sakit, juga bersih badannya, dan yang paling membuat heran, dirinya masih sadarkan diri.
Tiba-tiba saja hembusan angin kencang menghisap tubuhnya, hingga ia terlempar ke tempat yang tidak ia ketahui sebelumnya, tidak ada apa-apa di sana, hanya dirinya. Edmund melihat kedua tangannya, bercahaya, tubuh Edmund memancarkan cahaya.
“Di mana ini?” tanya Edmund, bingung.
Di tengah kebingungan yang merasuki Edmund, sebuah cahaya putih muncul di depannya, lalu keluar sosok laki-laki gagah dari dalam cahaya itu. Edmund menutup matanya dengan lengan, menghalau cahaya yang terlalu terang.
“Siapa kau?” selidiknya, hati-hati.
Laki-laki itu terus berjalan, masih diselimuti cahaya yang menyilaukan, membuat penglihatan Edmund terbatas. Edmund terus mencari celah, tetapi cahaya itu membuat matanya sulit melihat dengan jelas.
“Edmund, ini aku.”