The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity

The Mafia Who Is Looking For The Truth His Identity
Chapter 26. Pada Akhirnya Dia Juga Manusia



Arshaka Dean keluar dari ruangan Chadla dengan wajah merah padam, menahan amarah yang sudah siap meledak. Albert dan Rumi yang masih berada di lantai yang sama dengan Arshaka Dean, sontak terkejut dengan dentuman pintu yang dibanting oleh Arshaka Dean. Ashaka Dean mengacak rambutnya kasar, terlihat sangat frustrasi, kacau sekali.


“Ars? Kau tidak apa-apa?” Albert segera menghampiri Arshaka Dean, meninggalkan Rumi yang masih menata hati karena terkejut.


“Kenapa kau peduli padaku, Albert!” bentak Arshaka Dean. Hatinya sedang tak siap untuk menerima sambutan, ia kacau, ia tak tau harus seperti apa lagi menyikapi hidup. Arshaka Dean menjambak rambutnya dengan kasar, menyalurkan semua kacau hatinya, menyalurkan semua marah kepada jiwa yang tak bisa ia kendalikan sendiri.


“Jangan …!” teriak Albert panik melihat Arshaka Dean membenturkan kepalanya ke dinding.


“Ars …! Hentikan, Ars!” Albert terus saja berseru panik.


Albert menarik Arshaka Dean, ia mencoba menjauhkan tuannya dari dinding, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan tuannya dari hal yang lebih fatal. Arshaka Dean memberontak, ribut melepaskan diri dari cengkraman Albert.


“Lepaskan aku, Albert!”


“Tidak bisa, Ars, jangan seperti ini, kumohon,” bujuk Albert.


Mendengar suara ribut di luar ruangan, Chadla keluar. Dilihatnya Arshaka Dean tengah berusaha membenturkan kepala yang ditahan oleh Albert, ia juga melihat Rumi yang terlihat begitu panik dan terkejut.


“Astaga, Ars!” pekik Chadla.


“Tenangkan dirimu, Ars,” ujar Chadla, ia membantu Albert menahan tubuh Arshaka Dean. Arshaka Dean sangat kuat, meskipun sudah ditangani oleh dua orang ia tetap saja bisa melepaskan diri.


“Kenapa kalian seperti ini padaku?!” teriak Arshaka Dean dengan tatapan tajam, mengintimidasi.


“Ars, tenang, aku akan membantumu. Tenangkan dirimu, kau bisa, Ars. Kau pasti bisa,” bujuk Albert. Hati Albert berdebar, pikirannya kosong, ia tidak tau harus bergerak seperti apa lagi, keringatnya bercucuran.


“Ars, kami di sini, kau bisa berbagi dengan kami. Ars, aku pasti akan mendukungmu, aku pasti akan membantumu keluar dari ini semua. Kumohon, tenangkan dirimu, Ars, berhenti menyakiti dirimu, Ars,” bujuk Chadla, ia sekali lagi berusaha menghalangi Arshaka Dean.


Chadla dan Albert berusaha untuk menjauhkan Arshaka Dean dari apa saja yang bisa menyakiti dirinya. Rumi masih melihat itu, ia melihat semuanya, ia tak percaya, sosok yang ia lihat sempurna dan kokoh, kenyataannya sangat rapuh dan banyak menyimpan luka.


“Ars …,” lirihnya, nyaris tak terdengar oleh siapa pun dan memang tidak akan ada yang mendengar, mereka tengah fokus menangani tuannya itu.


“Bagaimana caramu menerimaku, Chadla? Aku saja tidak bisa menerima diriku sendiri, aku saja tidak tahan dengan diriku sendiri, aku saja sangat ingin meledakkan kepalaku sendiri, Chadla. Bagaimana kau bisa menerimaku? Jawab aku, Chadla?!” Lepas sudah, semua luka hatinya ternyata tak mampu ia bendung sendiri lagi, ia sudah tidak berdaya lagi. Bagi Arshaka Dean, setiap hidupnya adalah ketakutan, setiap kemenangannya adalah tekanan, tak ada yang mudah bagi Arshaka Dean.


“Aku, aku mau menerimamu, Ars, kau bisa membagi semuanya pada kami, Ars. Kau tidak sendirian, kau berarti bagi kami, Ars. Jangan berpikir seperti itu,” ujar Albert.


“Omong kosong, Albert! Tidak ada orang yang bisa menerima orang lain tanpa pamrih, Albert, tidak ada!” berangnya.


“Percaya padaku, Ars, aku tulus padamu, aku selalu dipihakmu, Ars,” kata Albert.


Chadla menangkap kilat masa lalu dari teriakan Arshaka Dean, lagi-lagi ia hanya bisa menduga apa yang terjadi pada Arshaka Dean. Kali ini, Chadla mendengar sedikit luka hati Arshaka Dean, terdengar pilu dan terlalu suram.


“Mereka selalu menginginkan aku hebat di mata mereka, Albert. Mereka selalu menjadikanku tujuan paling utama dalam setiap aksi mereka, selalu menempatkan aku di tempat paling atas lalu mereka jatuhkan aku begitu saja, Albert.” Arshaka Dean berhenti berucap, ia tatap Rumi yang tengah melihatnya penuh khawatir, ia tak peduli.


“Tidak ada lagi yang akan mererimaku apa adanya, kau juga tidak akan ada di sini jika aku bukan mafia, Albert.” Albert terdiam, ucapan Arshaka Dean ada benarnya, ia tidak mungkin ada di mansion ini, jika bukan karena keluarga Arshaka Dean dari kalangan mafia.


“Dari dulu, Albert, dari dulu aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, aku dituntut untuk sempurna. Tapi apa yang mereka berikan padaku? Tidak ada, Albert, tidak ada … aku hancur sendirian, sampai aku tidak mengenali diriku sendiri. Kau tau itu, Albert? Tidak, bukan?”


Arshaka Dean tersenyum getir, ia tidak peduli lagi dengan citra dirinya dari pandangan orang lain, mungkin ini saatnya ia keluar dari tempat paling sepi dari hatinya. Mungkin ini saatnya, ia keluar dari belenggu masa lalu yang tak ingin ia jamah lagi, mungkin ini saat yang tepat.


“Berhenti, Ars. Kau bisa berhenti sekarang juga, jangan pedulikan ekspektasi orang lain lagi, bersandarlah pada kami, buat ekspektasimu sendiri, Ars. Kau pantas mendapatkan semuanya, kau tidak perlu menjadi sempurna, kami akan di sini bersamamu. Mari berjuang lagi, aku bantu untuk keluar, Ars, kau past—“


“Bohong …! Semua orang sama saja!” potong Arshaka Dean, ia menatap semua orang yang di sana.


Para tukang pukul dan bibi berada di bawah, mendengarkan dengan kekhawatiran yang sama, bahkan sesekali mereka terisak mendengar penuturan Arshaka Dean yang begitu menyayat hati. Mereka seolah ikut merasakan apa yang terjadi di masa lalu terhadap Arshaka Dean.


Sesungguhnya Arshaka Dean sangat diterima, tetapi ia terlanjur menjatuhkan penghakiman pada dirinya sendiri, sehingga tak bisa merasakan lagi ketulusan orang lain padanya, ia selalu menaruh curiga terhadap apa pun yang terlibat dengan dirinya.


Setelah teriakan demi teriakan telah terlontar, Arshaka Dean semakin merasa frustrasi, ia tiba-tiba berlari menuruni tangga membuat semua orang panik, tak ada yang bisa mencegahnya, ia terus berlari.


“Ars …!” teriak Albert, ia ikut berlari mengejar Arshaka Dean, sedangkan Chadla menenangkan yang lainnya.


Rumi menjatuhkan diri di lantai, ia tak sangka akan melihat kejadian seperti ini langsung di depan matanya. Semua imajinasi yang sering ia putar ketika membaca jurnal-jurnal psikologi, hari ini ia lihat langsung, ia observasi langsung. Ia tak menyangka akan ikut merasakan sakit seperti ini, rasanya sangat sesak, ia tidak berani membayangkan kesakitan yang terus dialami Arshaka Dean.


Setelah dirasa semua telah tenang, meskipun tidak sepenuhnya baik-baik saja, Chadla akhirnya ikut mengikuti Albert yang tengah mengejar Arshaka Dean. Arshaka Dean masih terus berlari, mengitari mansion, hingga berhenti tepat di depan penangkaran kupu-kupu milik Edmund.


Arshaka Dean melihat ke arah penangkaran kupu-kupu, dilihatnya ke dalam. Ulat-ulat bulu itu telah berubah menjadi warna-warni kupu-kupu. Terlihat indah beterbangan, sesekali hinggap di dedaunan, menggerakkan sayapnya.


Arshaka Dean melihat semua pergerakan itu, ia terus melihat, hingga satu kupu-kupu berwarna kuning emas terbang. Arshaka Dean terus menatap, ia menghindar, seolah-olah kupu-kupu itu mendekat ke arahnya. Ia menepis udara kosong, mencoba mengusir kupu-kupu itu. Malang, kupu-kupu itu terus beterbangan di pikirannya, tak bisa ia usir begitu saja.


“Argh …!” teriaknya frustrasi, ia terus menepis dan mencoba menghindar. Kepalanya tiba-tiba terasa berat dan sakit, tangan yang ia gunakan untuk menepis kupu-kupu dalam bayangan semu itu, ia bawa untuk memegang kepalanya, meremas rambutnya dengan kuat.


“Argh …!” teriaknya lagi, kini terdengar lebih keras.


Albert dan Chadla datang serempak, bergegas menghampiri Arshaka Dean yang terlihat begitu tersiksa.


“Ars!” Tangan Albert langsung menahan tubuh Arshaka Dean yang tumbang. Tubuhnya kokoh, tetapi hatinya telah rapuh dan terluka, Arshaka Dean terkulai lemah.