
Setelah semua keributan yang terjadi di mansion-nya, Arshaka Dean tiba di tempat tujuan, diantar dengan mobil mewah berwarna hitam kesukaannya. Ia berhenti di depan perusahaan yang begitu cantik khas perusahaan berlian. Gedung megah itu berdiri kokoh, lengkap dengan mozaik wajah Arshaka Dean yang tersusun atas berbagai batu permata, juga terukir kata “Hermanos Diamantes” sebagai nama perusahaan yang diletakkan di paling atas gedung, menambah kesan elegan.
Arshaka Dean keluar dari mobil diikuti Albert, kharisma yang dipancarkan Arshaka Dean begitu kuat. Hari ini Arshaka Dean mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas panjang berwarna biru gelap, serta sepatu hitam mengkilap, menambah kesan gagah pada diri Arshaka Dean. Arshaka Dean sangat tampan, apalagi dirinya memakai kaca mata hitam dengan rambut terikat rapi, sudah pasti membuat semua orang yang melihatnya terpesona, terutama para wanita.
Arshaka Dean memasuki lobi perusahaannya, disambut oleh sejumlah karyawan dan para tukang pukul yang berjajar di samping kiri dan kanannya. Beberapa dari mereka memang ditugaskan di kawasan perusahaan. Begitu Arshaka Dean berjalan di antara mereka, semuanya menunduk memberi hormat.
Arshaka Dean terus berjalan, membuka kacamata, tidak peduli dengan sambutan yang khusus diberikan padanya. Ia berjalan tergesa, ada sesuatu yang harus segera ia selesaikan membuat ia terburu-buru menuju lift.
“Kau sudah pelajari berkas-berkasnya, Albert?” tanya Arshaka Dean di dalam lift.
“Sudah, semuanya dapat memicu kerugian, tetapi jika kita bisa sigap dengan konsumen, kita tidak perlu mengalami hal buruk itu, Ars,” jawab Albert, di dalam lift hanya ada mereka berdua, jadi tidak masalah jika mereka membicarakan tentang strategi mereka.
“Bagus, kurasa kita tidak akan menemui kerugian, aku akan cari bukti siapa yang menyelundupkan perhiasan itu ke perusahaan ini, aku tidak yakin jika mereka tidak tau perusahaan ini tercatat di pemerintahan. Kurasa mereka sengaja membuat runtuh nama baik perusahaan ini, tapi mereka salah sasaran, mereka kurang pengalaman dengan seorang mafia,” kata Arshaka Dean percaya diri.
“Apa kau mencurigai seseorang?” tanya Albert.
“Semuanya masih samar, Albert, tapi kurasa masih kelompok yang sama,” jawab Arshaka Dean.
Sebelum Arshaka Dean tertidur, tepat sehari sebelumnya, ada kabar jika perusahaan miliknya mendapat serangan dari seseorang yang tidak dikenal. Mereka mengatasnamakan konsumen yang biasa bekerja sama dengan perusahaan Arshaka Dean.
Perusahaan Arshaka Dean dituduh menyelundupkan perhiasan ilegal. Tidak ada yang mengetahui asalnya, hingga memasuki perusahaan milik Arshaka Dean. Tak tanggung-tanggung, mereka didenda triliunan, karena kasus ini tercium oleh pihak keamanan kawasan setempat.
Dari awal perusahaan milik Arshaka Dean tercatat secara resmi dalam badan hukum negara Ekuador, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di negaranya. Reputasi Arshaka Dean pun sangat baik di kalangan pejabat negara, tetapi entah siapa yang melakukan sabotase ke perusahaan mereka.
“Maafkan aku, Ars, aku tidak bisa mencegah semuanya terjadi,” sesal Albert.
“Siapa yang tau jika semua ini akan terjadi, Albert? Apalagi keadaanku waktu itu tidak memungkinkan untuk melawan, biarkan saja dulu, kita ikuti permainan mereka,” kata Arshaka Dean.
Suara lift terdengar, menandakan mereka telah sampai di ruangan Arshaka Dean, pintu lift terbuka, mereka langsung menuju ruangan Arshaka Dean. Ruangan Arshaka Dean dipenuhi dengan furnitur mewah, juga terdapat sample-sample perhiasan hasil kerja keras para karyawan. Arshaka Dean langsung menduduki kursi kebanggaannya, sekaligus kursi yang membuat dirinya terlibat banyak masalah.
“Dia belum datang juga?” tanya Arshaka Dean kesal.
“Sepertinya sudah, mau aku panggilkan?” tanya Albert.
“Panggil dia, Albert,” katanya.
Albert mengangkat gagang telepon yang berada di meja Arshaka Dean, menekan nomor yang sudah ia hapal di luar kepala. Panggilan telepon akhirnya terhubung dengan seseorang di bawah sana.
“… ada yang bisa saya bantu?” jawab seorang wanita diseberang telepon sana.
“Ini Albert, Lucy. Bisa tolong panggilkan Watson untuk datang ke ruangan Ars? Katakan padanya, kami menunggu di sini,” pinta Albert.
“Baiklah. Akan aku sampaikan, mohon tunggu sebentar,” jawab Lucy, ia adalah seorang resepsionis.
“Terima kasih, Lucy,” tutup Albert, ia kembali meletakkan gagang telepon itu.
“Ada apa dengan dia, Albert? Apa dia sudah tidak ingin bekerja? Membuat jengkel saja,” gerutunya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Albert memutuskan untuk tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian seseorang memasuki ruangan Arshaka Dean, ia datang dengan pakaian rapi dan seringai cerah di wajahnya, ia tidak tau saja Arshaka Dean tengah panas hatinya. Watson masuk, setengah berlari ke arah Arshaka Dean dan tiba-tiba memeluknya dari samping.
“Ars!” serunya.
“Kau sudah kembali? Aku khawatir padamu,” katanya sembari terus memeluk Arshaka Dean, wajahnya menunjukkan kekesalan.
“Kau!” gertak Arshaka Dean. “Apa-apaan kau, Watson!”
Arshaka Dean melepas paksa, ia memukul mundur, hingga Watson menjauh dari Arshaka Dean. Watson menyerah dan menjauh dari Arshaka Dean. Watson adalah teman dari Arshaka Dean, merangkap rekan bisnisnya, Watson selalu terlibat dalam pekerjaan Arshaka Dean baik sebagai mafia maupun sebagai pengusaha.
“Kapan kau kembali?” tanya Watson.
“Kau tidak perlu tau,” jawab Arshaka Dean ketus.
“Aku sangat merindukanmu, Ars, kau tidak bisa lembut sedikit saja kepadaku,” goda Watson.
“Ini juga salahku, Ars,” ucap Albert.
“Cukup, Albert,” kata Arshaka Dean.
“Oh, terima kasih, Albert. Kau memang selalu bersamaku,” ucap Watson.
“Tidak, Watson, terima kasih,” ucap Albert.
“Kau menolakku, Albert? Aku tidak menyangka,” ucap Watson menggelengkan kepalanya.
“Sudah hentikan, Watson!” bentak Arshaka Dean.
Watson terdiam, ia mendekati Arshaka Dean, sejak tadi ia memegang berkas di tangannya, ia letakkan di atas meja Arshaka Dean.
“Sudah sampai mana kau menyelidiki kasus ini?” tanya Arshaka Dean.
“Kau bisa membuka berkas itu, Ars, aku sudah bekerja dengan giat untuk ini, tolong hargai sedikit,” kata Watson.
Arshaka Dean langsung membawa berkas yang Watson simpan tadi, tidak tertarik dengan rengekan Watson. Ia buka berkas itu, mengamatinya dengan seksama, ia sebenarnya sudah mempunyai firasat siapa yang melakukan sabotase terhadap perusahaannya, tetapi demi meyakinkan prasangkanya, ia butuh petunjuk lebih banyak.
“Apa tidak ada CCTV yang merekam aksi ini?” tanya Arshaka Dean setelah selesai mempelajari berkas yang dibawa Watson.
“Aku sudah meminta beberapa, dan baru aku terima pagi ini. Aku akan sambungkan dengan komputermu, Ars,” kata Albert.
“Cepatlah,” kata Arshaka Dean, tegas.
Albert segera menghubungkan hasil pencariannya, dengan kecanggihan teknologi jaman sekarang, semuanya mempermudah segala urusan, termasuk mencari bukti tanpa melibatkan aparat setempat. Rekaman CCTV segera menampilkan yang diminta, terdapat delapan tangkapan video, semuanya memperlihatkan keadaan pada saat terjadi sabotase.
Albert dan Watson lebih mendekat ke meja Arshaka Dean, mereka memperhatikan tampilan komputer dengan sungguh-sungguh. Kejadian lima hari lalu semuanya terekam, tampak sangat jelas, mungkin Arshaka Dean bisa bernapas lega sekarang.
“Kau mengenal mereka, Ars?” tanya Watson.
Arshaka Dean tersenyum, sangat mengerikan jika dibandingkan dengan senyuman milik Edmund. “Sangat jelas, Watson.” Saat ini, wajah Arshaka Dean memperlihatkan sisi seorang mafia, begitu mengintimidasi.
“Albert, kau lihat? Ini mudah sekali, sebentar lagi akan ada pesta, Albert,” ucap Arshaka Dean membuat bulu kuduk seketika berdiri.
“Albert segera eksekusi, lakukan dengan senyap, dan bawa kemenangan kepadaku,” ucapnya. “Tidak sulit, bukan? Mereka main-main dengan orang yang salah.” Seringai mengerikan itu muncul lagi.
Perintah sudah dijatuhkan, Albert bergegas menghubungi anak buahnya, memberi mereka kabar untuk segera bersiap “bekerja” malam ini, seseorang menerimanya dengan antusias. Tidak perlu lama membuat strategi, mereka sudah terlatih dengan baik, malam ini sudah pasti satu kelompok akan menjadi santapan empuk sang mafia. Ia tidak perlu turun ke lapangan. Menyingkirkan kelompok kecil seperti ini tidak akan memakan waktu lama, Arshaka Dean pasti akan menang.
“Semua sudah siap, Ars, mereka akan segera memberi kabar, mereka pastikan akan membawa kemenangan untukmu,” ucap Albert.
“Sudah seharusnya, Albert,” ucapnya, Arshaka Dean tersenyum sembari mengangkat kedua kakinya ke atas meja.
“Watson, kau seharusnya belajar dari anak buahku, mereka cepat tanggap,” ucap Arshaka Dean.
“Kau tak percaya padaku, Ars, aku sudah beker—“
“Dengan membuat perusahaanku rugi besar?” potong Arshaka Dean.
“Itu tidak disengaja, aku tidak menyangka akan mengalami hal itu,” protes Watson.
“Setidaknya kau bisa mencegah itu terjadi, jangan lengah,” kata Arshaka Dean.
“Kau kembalilah bekerja, dan pastikan kali ini tidak ada kerugian. Malam nanti kita bersenang-senang,” putus Arshaka Dean.
“Senang berbisnis denganmu, Ars,” jawabnya antusias.
Arshaka Dean melepas Watson begitu saja, tetapi tidak dengan Albert, setelah melihat rekaman CCTV tadi Albert menyadari satu hal, tetapi ia usir jauh-jauh prasangka buruk itu. Untuk saat ini, ia akan tutup mulut, ia harus pastikan dulu kebenarannya, ia tidak akan membiarkan seseorang mengkhianati Arshaka Dean, ia akan cari tau semuanya. Ia sudah berjanji dengan Edmund, ia akan selalu menjaga Arshaka Dean dari marabahaya.
Karena sibuk memperhatikan CCTV tadi, Albert melupakan sesuatu yang harus ia katakan kepada Arshaka Dean. Setelah ia ingat nanti, sepertinya Albert akan menyesal.