The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
RENCANA BESAR



Setelah pulang dari Transylvania, Fergie dan semua anggota koloni membuat acara pemakaman untuk Joseph. Mereka semua memberikan penghormatan terakhir untuk Joseph sebelum peti jenazahnya di masukkan ke dalam tanah.


Suasana duka dan tetesan air mata mengiringi acara pemakaman tersebut. Untuk pertama kalinya, mereka kehilangan sosok pahlawan yang gugur di medan pertempuran.


Setelah semuanya selesai memberi penghormatan, peti Joseph pun di angkat dan di masukkan ke liang lahat secara perlahan-lahan. Tatapan semua orang menuju ke arah peti yang sedang di turunkan tersebut, ekspresi sedih terpancar jelas di wajah semua orang ketika peti itu sudah tertutupi oleh tanah.


Bahkan Fergie sampai tak mampu untuk membendung air matanya yang mengalir deras membelah pipinya, ia tak menyangka akan kehilangan salah satu orang yang ia banggakan secepat ini.


"Tak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan, dan pengorbanan akan sia-sia jika kemenangan tidak di dapatkan, akan aku pastikan pengorbanan mu tidak sia-sia, Joseph" ucap Fergie sembari menaburkan bunga di atas makam Joseph.


Setelah itu, orang-orang pun mulai bergantian menaburkan bunga di atas makam. Hingga membuat makam Joseph di penuhi dengan bunga-bunga yang indah. Orang-orang pun mulai pergi satu persatu, dari orang dewasa, remaja hingga anak-anak mereka semua benar-benar berduka atas kepergian Joseph untuk selama-lamanya.


"Aku tunggu kalian di ruangan, ada hal penting yang ingin aku sampaikan" ucap kepada para ketua sebelum ia beranjak pergi.


"Baik" sahut semua ketua secara serentak.


Fergie pun berjalan pergi dari pemakaman di ikuti oleh semua remaja termasuk Alexander dan teman-temannya. Sekarang, hanya tersisa Ace, Clara, Charlotte dan para ketua yang masih berada di pemakaman.


"Andai saja aku melawan perintahnya, pasti tuan Joseph masih hidup sekarang" gumam Clara sembari meneteskan air mata.


Mendengar hal itu, Eddie pun berjalan menghampirinya dan memegang bahunya.


"Joseph akan kecewa jika kau menyelamatkannya" ujar Eddie.


"Huh?" Ace nampak kebingungan dengan maksud dari ucapan Eddie.


"Bagi Joseph, mati dalam pertarungan jauh lebih baik dari pada harus selamat karena bantuan orang lain" timpal Paul.


"Benar, separah apapun luka yang ia dapat ketika bertarung, ia tidak akan pernah mau di obati, Joseph akan selalu membiarkan lukanya sembuh dengan sendirinya" sahut Bernard.


"Tapi bukankah misi kita untuk menyelamatkan umat manusia dari ancaman para hantu? Tuan Joseph adalah orang yang sangat penting dalam misi ini..."


"Dia sudah menyelamatkan manusia" potong Charlotte secara tiba-tiba.


Semua orang pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Charlotte. Sedikit terkejut memang karena Charlotte yang dari tadi terus diam kini tiba-tiba berbicara.


"Apa yang kau bicarakan Van Helsing?" Tanya Paul.


"Joseph sudah menyelamatkan manusia, jika dia tidak menyelamatkannya, maka gadis ini tidak akan berada di sini sekarang" ujar Charlotte sembari menunjuk Clara.


Ace pun langsung mendepak tangan Charlotte yang sedang menunjuk ke arah Clara. Semua orang terkejut ketika melihat hal itu, mereka semua menatap Ace secara serentak dan melihat amarah yang terpancar jelas di wajahnya.


"Kau ingin menyalahkan dia?! Apa kau tahu dampak ucapanmu terhadap perasaannya?!" Tanya Ace dengan tatapan tajam.


"Aku tidak menyalahkan siapapun, aku juga berada di sana saat peristiwa itu terjadi" sahut Charlotte dengan santainya.


"Jadi kau ingin menyinggung ku karena tidak ada di sana?!" Ace mulai tak terima dengan ucapan Charlotte.


Joker yang terdiam sedari tadi memilih untuk berjalan pergi dari pemakaman. Sedangkan para ketua yang lain segera menahan tubuh Ace agar tidak ada perkelahian yang terjadi.


"Hentikan! Jangan mengotori upacara pemakaman ini!" Tegas Paul.


"Tidak apa-apa Ace, dia memang benar" ujar Clara dengan ekspresi sedih.


"Charlotte!!" Bentak Bernard.


"Ah iya? Ada apa?" Sahut Charlotte yang baru sadar.


"Hati-hati dengan ucapanmu, kau adalah anggota baru di sini, jika kau sampai berani macam-macam, maka aku sendiri yang akan menghabisi mu!!" Geram Bernard.


Beberapa orang memang menaruh rasa benci pada Charlotte dan Arthur, mereka mengira kalau Charlotte dan Arthur tidak bisa menjaga diri mereka sehingga membuat Joseph harus meregang nyawa. Faktanya, justru Arthur dan Charlotte lah yang paling menderita sekarang.


Para ketua berjalan pergi meninggalkan Charlotte sendirian yang masih berdiri di samping kuburan Joseph. Tatapannya fokus menuju ke batu nisan yang tertulis nama Joseph di atasnya.


Charlotte meraih sebuah korek dari sakunya dan duduk di samping makam Joseph.


"Kau berhenti merokok karena istrimu menyuruhmu untuk berhenti, kau sampai memberikan korek ini kepadaku sebagai bukti kalau kau benar-benar sudah berhenti" gumam Charlotte sembari memandangi korek pemberian Joseph.


"Ya ampun, di era kutukan ini mendapatkan makanan saja sudah sangat sulit, dan kau masih memikirkan tentang rokok mu" sambungnya.


Tiba-tiba, sebuah air mata jatuh membasahi korek api yang sedang di genggam oleh Charlotte. Ya, Charlotte sedang menangis sekarang. Ia sudah menahan air matanya sedari tadi, Joseph adalah satu-satunya teman yang di miliki oleh Charlotte.


"Temui lah keluarga tercintamu, sebagai gantinya, aku akan membunuh semua hantu untukmu, aku tidak akan membiarkan pengorbanan mu sia-sia, kawan" ujar Charlotte dengan air mata yang berlinang.


...----------------...


"Tuan?! Apa anda benar-benar serius?!" Eddie tak percaya ketika mendengar ucapan Fergie.


"Ya, aku benar-benar serius dan tidak bercanda sedikitpun" sahut Fergie dengan nada dingin.


Saat ini, para ketua sedang mengadakan sebuah rapat di ruangan utama. Rapat kali ini benar-benar berbeda dari rapat yang sering mereka lakukan sebelumnya.


"Kita baru saja berduka, apa anda benar-benar yakin ingin bertarung melawan Albert besok?" Tanya Bernard.


"Ya, aku yakin, dan aku tidak akan pernah merubah keputusanku" jawab Fergie dengan mantap.


Fergie yang di kuasai oleh amarah langsung memerintahkan anggotanya untuk memulai pertempuran melawan Albert, sang hantu legenda ke 4. Namun, mereka tidak mengetahui kalau Albert telah mati di tangan Venus.


"Kita punya Ace, kekuatannya bisa membawa kita ke Albert dalam sekejap mata" ujar Fergie.


"Tapi tuan..." Eddie masih merasa keberatan dengan rencana Fergie.


"Keputusan ku sudah bulat!! Jika kalian tidak terima maka bicaralah sekarang!!!".



Fergie berteriak dan bahkan sampai mengeluarkan Angelnya, semua orang langsung terdiam dan tidak berani berbicara ketika melihat Fergie mengeluarkan Angelnya. Baru kali ini mereka melihat Fergie semarah ini.


"Paul" panggil Fergie yang mulai tenang.


"Ya tuan?" Sahut Paul.


"Kau akan menemani anak-anak melawan Albert besok" ujar Fergie.