
"Fufu... Anak-anak seusia mereka memang suka berdebat seperti itu" Vampiro memandangi sebuah cermin yang memperlihatkan Arthur dan Clara yang sedang berdebat.
Vampiro tersenyum puas setelah ia bisa melihat wajah Arthur dengan jelas dari cermin ajaib miliknya. Namun, ia tidak menatap cermin itu sendirian.
Di belakangnya sudah ada Annabelle yang sedang duduk dengan manis sembari memandangi cermin ajaib milik Vampiro tersebut.
"Aku ingin mencabik-cabik wanita itu!!" Annabelle tak bisa menahan sikapnya ketika ia melihat Clara.
Kekuatannya tak sengaja keluar dan membuat beberapa barang di ruangan itu terbelah menjadi dua. Tebasan tak kasat mata itu juga hampir mengenai cermin ajaib milik Vampiro, untungnya Vampiro masih sempat melapisi cermin itu menggunakan Auranya.
"Ya ampun jangan begitu, benang benang mu itu lebih tajam dari sebuah pedang, kau bisa menghancurkan kastil ku jika kau tidak bisa menahan dirimu" protes Vampiro.
"Siapa yang perduli dengan hal itu! Yang penting cepat pindahkan dua anak itu kesini sekarang!!" Tegas Annabelle.
"Hei sabar sebentar! Kita harus menunggu pangeran bodoh itu, apa kau lupa kalau dia juga bagian dari aliansi kita?" Tutur Vampiro.
Namun, Annabelle yang sudah kehabisan kesabaran memilih untuk bertindak sendiri. Ia menggerak-gerakan jari jemarinya dan muncullah banyak benang-benang yang sangat tipis dan hampir tak kasat mata.
Vampiro bisa merasakan kehadiran benang-benang milik Annabelle tersebut, ia juga bisa merasakan amarah Annabelle yang semakin memuncak.
"Yah, padahal sudah aku katakan tadi, kau tidak boleh bersikap seperti itu atau kastil ku akan hancur terkena benang-benang mu" ujar Vampiro sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
Mendengar ucapan itu, Annabelle pun tanpa ragu langsung mencakar Vampiro menggunakan benangnya. Namun, Vampiro dengan sigap langsung berubah menjadi seekor kelelawar kecil sehingga ia bisa menghindari benang-benang itu.
Vampiro berusaha terbang menjauh menggunakan wujud kelelawar nya, namun Annabelle kembali mengeluarkan benang-benang nya yang langsung menjerat Vampiro sehingga ia tidak bisa kemana-mana lagi.
"Baik-baik aku menyerah!" Vampiro langsung berubah kembali ke wujud manusianya setelah terkena jeratan benang.
"Aku lebih kuat dari mu, tapi kaulah yang bisa memindahkan manusia dengan kekuatan dimensi mu, jadi lakukan itu sekarang atau aku akan membunuhmu!!" Ancam Annabelle.
Vampiro tentunya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menuruti perintahnya Annabelle. Dan setelah Annabelle melepaskan tubuhnya, Vampiro langsung mengambil jubahnya dan keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Annabelle.
Mereka berdua menaiki anak tangga dan menuju ke ruangan kastil yang terletak di lantai paling atas, pintu ruangan itu terlihat sudah sangat tua dan lapuk. Ketika Vampiro membukanya, tercium bau anyir darah yang sangat menyengat, namun kedua hantu itu justru terlihat keenakan ketika mencium bau anyir tersebut.
"Ruangan apa ini?" Tanya Annabelle sembari mengendus-endus bau darahnya.
"Ini adalah ruangan tempat aku menyimpan darah, dengan semua darah ini, aku bisa memaksimalkan kekuatanku" ujar Vampiro sembari memamerkan darah-darah yang tersimpan di toples.
"Terserahlah, cepat pindahkan mereka sekarang!!" Annabelle sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Arthur dan Clara.
Tak ingin menerima kemarahan lagi, Vampiro pun langsung memulai ritualnya untuk memaksimalkan kekuatannya. Vampiro berdiri tepat di tengah-tengah ruangan sembari merentangkan kedua tangannya.
Perlahan-lahan wadah berisi darah yang berada di ruangan itu mulai bergetar dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuhnya. Melihat hal itu, Annabelle pun mundur beberapa langkah dan membiarkan Vampiro melakukan kegiatannya.
Tubuh Vampiro perlahan melayang di ikuti dengan darah yang keluar dari wadahnya dan masuk ke dalam mulut Vampiro, sebagian darah itu membentuk sebuah tulisan aneh yang melingkar di atas kepala Vampiro.
Kekuatannya benar-benar bertambah besar sekarang, hal itu bisa di rasakan langsung oleh Annabelle. Ia merasa kalau kekuatan Vampiro sekarang meningkat pesat dan bahkan hampir mengimbangi kekuatannya.
"Arghhhh!!!" Teriakan dari Vampiro menjadi tanda selesainya ritual itu.
Darah yang semula melayang-layang kini kembali dengan sendirinya ke dalam wadah, tubuh Vampiro juga sudah kembali menapak di atas lantai.
"Sudah?" Tanya Annabelle.
"Ya, mereka berdua sudah berada di sini" sahut Vampiro sembari menjilat darah yang tersisa di bibirnya.
"Lalu dimana mereka?!!" Bentak Annabelle.
"Mereka ada di luar kastil, tepatnya di hutan sebelah selatan, tenang saja mereka tidak berada jauh dari sini" tutur Vampiro.
"Kenapa kau tidak memindahkan mereka berdua langsung ke dalam sini?!" Protes Annabelle.
"Hmm, pertama mereka berada sangat jauh dari sini, kedua aku harus menghilangkan kutukanku di tempat ini dulu agar bisa memindahkan mereka ke sini, itulah sebabnya aku perlu menaikkan kekuatanku dulu di sini" Vampiro mencoba menjelaskan kepada Annabelle.
"Penjelasan mu tidak jelas sama sekali!!" Seru Annabelle sembari berjalan keluar dari ruangan itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Vampiro ketika melihat Annabelle pergi.
"Mendatangi mereka!!"
...----------------...
"K-kastil itu... Jangan jangan..." Clara terkejut bukan main ketika melihat kastil yang di maksud oleh Arthur.
"Hmm? Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu?" Tanya Arthur yang keheranan ketika melihat wajah Clara yang terlihat ketakutan.
Clara tidak mampu menjawab, tubuhnya jatuh terduduk di tanah sangking lemas nya. Clara tahu betul tempat mereka berdua sekarang, Clara juga tahu siapa yang tinggal di dalam kastil itu.
"A-Arthur..." Panggil Clara.
"Iya? Kau kenapa? Kau kembali bersikap aneh seperti sewaktu berada di Curse Field" ujar Arthur.
"Kita berada di Transylvania!!" Bentak Clara secara tiba-tiba.
"Heh?!" Arthur kaget bukan main ketika mendengar kalau tempat mereka berdua berada sekarang adalah Transylvania.
Arthur langsung membantu Clara untuk berdiri dan mereka berdua kembali menatap kastilnya Vampiro yang berdiri megah di tengah-tengah hutan.
"Kau yakin? Jadi itu adalah kastilnya Vampiro?" Tanya Arthur ketika menatap kastil.
"Iya aku yakin!! Kita tidak seharusnya berada di sini! Kita hanya berdua, ayo kita pergi sekarang!!" Clara menarik tubuh Arthur dan ingin mengajaknya pergi.
Namun Arthur menahan tubuhnya dan kembali menarik tubuh Clara agar mendekat kepadanya.
"Jangan! Kita sudah tidak bisa pergi lagi" ujar Arthur sembari menatap Clara.
"Arthur! Kita berdua tidak akan bisa mengalahkan Vampiro, dia terlalu kuat!!" Tegas Clara.
"Dengarkan dulu! Menurutmu siapa yang telah memindahkan kita berdua di sini? Vampiro sudah tahu kalau kita berada di sini, dan kita sudah tidak bisa pergi lagi, pilihan kita hanyalah melawannya!" Jelas Arthur.
Di saat Arthur sedang menjelaskan kepada Clara tentang situasinya sekarang, tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara sayatan yang semakin mendekat ke arahnya. Merasa ada bahaya yang mendekat, Arthur pun langsung mendorong tubuh Clara hingga mereka berdua terjatuh dan saling bertindih.
Firasat Arthur benar, baru saja mereka berdua terjatuh, pohon-pohon di sekitar mereka langsung terpotong karena terkena tebasan yang tak kasat mata.
"Apa?! Apa yang menebas pohon-pohon itu?" Arthur keheranan ketika melihat pohon-pohon yang terpotong.
Dan di saat Arthur masih di buat keheranan, Clara justru di buat ketakutan setengah mati ketika melihat sesosok anak kecil yang terbang menuju ke arah mereka.
"Arthur!! Dia!!..."