
Arthur dan Clara pun tak tahu harus melakukan apa, mereka berdua hanya merenung sembari memandangi bangunan yang hanya tersisa puing-puingnya saja.
"Arthur, apa benar kalau kita tidak salah tempat?" Tanya Clara dengan wajah syok nya.
"Tentu saja tidak! Aku yakin sekali kalau ini adalah tempat tinggal koloni ku, tapi..." Arthur tidak mampu untuk meneruskan ucapannya.
"Kakak!!"
Secara tiba-tiba, seorang anak kecil berlari dari tengah-tengah reruntuhan bangunan dan menghampiri Arthur dan Clara.
"Avis, kau tidak apa-apa?" Arthur langsung berlari menghampiri anak kecil itu dan memeluk tubuhnya.
"Kakak! Aku takut!!" Anak kecil bernama Avis itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Arthur.
"Avis, kemana semua orang? Apa yang terjadi di sini?" Tanya Arthur sembari mengelus-elus kepalanya Avis.
"Hantu hitam! Hantu hitam datang menyerang kami, semua orang sudah meninggal!" Ucap Avis dalam tangisnya.
Bola mata Arthur dan Clara seketika membulat setelah mendengar ucapan Avis, harapan mereka untuk bertemu dengan Wilson tentu saja sudah hancur setelah Avis berkata kalau semua orang di koloni sudah mati.
"Bagaimana dengan ketua koloni mu?" Tanya Clara.
"Semua orang meninggal, termasuk juga orang tuaku" ujar Avis.
"Sialan!!!" Amarah Arthur seketika langsung pecah setelah mendengar jawaban itu.
Sementara Clara langsung meneteskan air matanya, harapannya untuk bertemu sang ayah telah pupus sekarang. Terlebih lagi ia telah mengetahui kalau ayahnya telah meninggal.
"Avis, kapan hantu itu menyerang dan bagaimana hal itu bisa terjadi?" Tanya Arthur, ia memeluk erat tubuh gadis kecil itu.
"Hantu itu menyerang kami kemarin, semua orang langsung menghilang ketika terkena serangannya, aku takut sekali dan orang tuaku menyuruhku untuk bersembunyi di bawah tempat tidur" tutur Avis, gadis cilik itu menceritakan semua kejadiannya kepada Arthur.
"Semua orang meninggal?" Tanya Clara.
"Iya, aku sudah memanggil manggil semuanya tapi tidak ada yang menjawab" ucap Avis.
Amarah Arthur benar-benar meledak sekarang, kedua tangannya mengepal sangat erat, sekilas ia pun mengingat momen ketika ia masih berada di koloni.
Dari awal ia di temukan oleh Wilson dan di ajak bergabung ke koloni, hingga saat Fergie datang mengajaknya untuk bertempur melawan hantu legenda. Semua kenangan itu membuat Arthur meneteskan air mata ketika mengingatnya.
"Arthur..." Clara juga meneteskan air mata dan ikut berpelukan bersama Arthur dan Avis.
Mereka bertiga berpelukan bersama dengan perasaan yang telah larut dalam kesedihan, rasa penyesalan yang teramat besar menyerang Arthur. Ia merasa menyesal telah meninggalkan koloninya sehingga membuat koloninya bisa di serang oleh hantu.
"Avis, ikutlah dengan kami" ucap Arthur sembari mengendurkan pelukannya.
Ia menatap dalam mata gadis cilik itu, Arthur merasakan rasa takut yang luar biasa ketika ia menatap mata Avis.
"Ikut kemana?" Tanya Avis yang tidak mengerti dengan maksud Arthur.
"Ikut ke koloni kami, tidak aman untukmu terus berada di sini" timpal Clara.
"Clara, apa kau bisa menghubungi tuan Joseph untuk menjemput kita sekarang?" Tanya Arthur.
"Iya, aku akan segera menghubungi tuan Joseph" sahut Clara.
Ia pun langsung membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah alat komunikasi, Clara pun mencoba untuk menghubungi Joseph menggunakan alat itu namun anehnya alat itu tidak dapat berfungsi.
"Clara" panggil Arthur.
"Sebentar, mungkin di sini tidak ada sinyal, aku akan segera memperbaikinya" sahut Clara.
"Clara!!" Panggil Arthur kembali dengan nada yang meninggi.
"Arthur!! Bersabarlah!!" Clara tidak menoleh ke arah Arthur dan terus berusaha untuk menghubungi Joseph menggunakan alat komunikasinya.
Karena merasa kesal terus-terusan di panggil, akhirnya Clara pun langsung menoleh ke arah Arthur dan balik berteriak kepadanya.
"Kau ini tahu sabar atau tidak?!" Bentak Clara.
Clara pun sedikit terkejut ketika melihat Avis yang sudah berlindung di balik Arthur, gadis cilik itu terlihat ketakutan setengah mati sembari memeluk erat kaki Arthur.
"Arthur ada apa??" Clara pun langsung bangkit dan bertanya kepada Arthur tentang apa yang terjadi saat ini.
Arthur tidak menjawab, laki-laki itu hanya memandang kosong ke arah depan, dan di saat Clara mengikuti arah pandangan itu, ia terkejut ketika melihat sosok aneh yang terlihat di antara pepohonan.
Sosok itu hanya diam mematung di antara pepohonan, Arthur terus mematung dan menatap sosok itu dari kejauhan. Clara tidak tahu sosok apa yang sedang ia lihat itu sedangkan Avis terus bersembunyi di belakang Arthur karena takut.
"Dia benar-benar nyata" gumam Arthur dengan pandangan yang kosong.
"Nyata apa? Dia itu siapa?" Tanya Clara sembari menunjuk ke arah makhluk itu.
"Undead Twin Mage, hantu terkuat penunggu hutan angker" sahut Arthur.
"Kakak! Aku takut!!" Avis memeluk erat kedua kaki Arthur, gadis cilik itu bahkan tidak berani untuk membuka kedua matanya.
"Tuan Wilson pernah bercerita kepadaku kalau dia memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat, Avis, apa dia yang sudah menyerang kalian?" Tanya Arthur, ia mencoba untuk menenangkan gadis cilik yang sedang ketakutan itu.
Alvis tidak menjawab, dengan mata yang masih tertutup ia menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Arthur.
"Clara, jagalah Avis di sini, aku akan menghadapi hantu penyihir itu!" Arthur pun melepaskan Avis dari kakinya dan menyerahkannya kepada Clara.
"Baiklah, Avis kemarilah" Clara pun langsung menggendong tubuh Avis dan memeluknya dengan erat.
Ia mengelus-elus rambut gadis kecil itu dan menciumi kepalanya agar Avis bisa sedikit tenang. Setelah selesai menyerahkan Avis kepada Clara, Arthur pun langsung berjalan ke depan untuk menghadapi hantu bernama Undead Twin Mage itu.
Dengan Red Devil yang sudah berada di belakangnya serta dengan amarah yang masih memuncak, Arthur terus menatap tajam hantu itu ketika ia berjalan menghampirinya.
Tak ada rasa takut sedikitpun dalam hati Arthur, rasa marahnya soal koloninya yang hancur lebih besar dari pada rasa takutnya. Walaupun ia akan menghadapi hantu terkuat penunggu hutan angker itu, Arthur tidak gentar sama sekali.
Arthur tiba-tiba berhenti saat ia melihat Undead Twin Mage mengangkat tongkatnya. Dan dari atas tongkat itu muncullah sebuah gumpalan hitam mirip awan petir.
*Splash...
Dan di saat Undead Twin Mage melepaskan awan itu, Arthur langsung berpindah dimensi ke sebuah ruangan tanpa batas berwarna abu-abu. Dan Undead Twin Mage yang tadi berjarak cukup jauh darinya kini sudah berada di depan matanya.
Arthur, aku sudah mengamatimu selama bertahun-tahun, tuan Eternity menginginkan dirimu....
Ucap hantu itu tepat di depan wajah Arthur.
Arthur tidak menghiraukan ucapan itu, ia menoleh ke belakang untuk melihat Clara dan Avis, namun ia tidak bisa menemukan mereka.
"Oh, jadi kau punya kekuatan dimensi juga" ujar Arthur sembari menatap kembali Undead Twin Mage.
Kau tidak akan bisa lepas dari dimensi ku ini, dan aku akan membawa mu kepada The Eternity...
"Aku memang ingin sekali bertemu dengannya tapi sayang sekali, aku tidak berniat untuk bertemu dengannya sekarang" sahut Arthur.
Kau akan kalah di dimensi ku ini, temanmu tidak akan pernah bisa membantumu!!
"Heh syukurlah, akhirnya aku bisa bertarung dengan tenang!!!"
*Tzing....