
Mata Arthur terbelalak ketika Clara mengatakan siapa nama ayah kandungnya, alunan kata yang keluar dari mulut gadis itu bagaikan sebuah tombak yang menembus telinganya.
"Clara, apa yang maksudmu?" Tanya Arthur yang masih merasa kebingungan.
"Arthur, apa ucapanku kurang jelas? Nama ayah kandungku adalah Wilson!" Sahut Clara, gadis itu mulai meninggikan suaranya.
"Tuan Wilson adalah ayah kandungmu? Tapi jika memang benar ketua koloni ku yang dulu adalah ayahmu, bagaimana bisa kau berpisah dengannya?" Tanya Arthur kembali.
Clara pun mengusap air mata yang jatuh membelah pipinya, dirinya seolah merasa sulit untuk bercerita kepada Arthur tentang keluarganya.
"Aku tidak pernah bertemu dengan ayahku semenjak aku kecil, ibuku bilang ayahku sudah mati terkena kutukan, ibuku hanya bilang kalau nama ayahku adalah Wilson" tutur Clara dengan suara sesenggukan.
Arthur merasa sulit untuk mempercayai ucapan Clara itu, namun melihat tangisan Clara yang sesenggukan Arthur menjadi semakin kebingungan untuk memahami situasinya.
"Mmm... Tapi, bisa saja tuan Wilson ku adalah orang lain, banyak orang di dunia ini yang bernama Wilson" ujar Arthur, ia mencoba untuk menenangkan Clara dengan cara mengelus-elus rambutnya.
"Arthur, seorang anak akan merasakan sebuah sesuatu jika nama orang tuanya di ucapkan" ucap Clara.
"Aku merasakan sesuatu di hatiku ketika kau mengucapkan nama Wilson" sambungnya kembali.
"Tapi... Bagaimana dengan ucapan ibumu?" Tanya Arthur kembali.
"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu apakah ibuku yang berbohong atau memang ayahku yang berhasil selamat aku tidak tahu Arthur!!" Seru Clara, ia pun mulai menangis kembali setelah berteriak ke arah Arthur.
Arthur pun seketika terdiam setelah Clara berteriak kepadanya, Arthur tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan gadis yang sedang menangis itu. Arthur sendiri memang belum mengerti dengan situasinya Clara saat ini, tadi gadis itu masih bercanda ria dan memarahi Arthur namun kini tiba-tiba gadis itu menangis tersedu-sedu setelah Arthur mengatakan nama ketua koloninya.
"Clara, ayo kembali" Arthur memegang kedua bahu Clara dan membantunya untuk berdiri.
Clara pun kembali mengusap air matanya dan menuruti ucapan Arthur, ia pun berdiri di bantu oleh Arthur yang sedang memegang kedua bahunya.
"Tenang kan dirimu, kita pulang sekarang" Arthur pun melangkahkan kakinya untuk kembali ke koloni. Namun, ia langsung berhenti ketika menyadari kalau Clara tidak ikut melangkah.
"Clara?" Tanya Arthur kepada Clara yang masih tetap diam di tempatnya.
"Aku ingin bertemu dengan ketua koloni mu!!" Ucap Clara dengan nada tegas.
"Apa?! Tunggu dulu, kau itu bicara apa?" Arthur tentu saja merasa kaget setelah mendengar keinginan Clara itu.
"Aku ingin bertemu dengan ayahku!! Apa itu kurang jelas?!!" Bentak Clara.
"Clara, tuan Wilson belum tentu ayah kandung mu" sahut Arthur, ia mencoba untuk tetap sabar menghadapi Clara yang sedang marah.
"Oh, jadi maksudmu ayahku sudah mati?"
*Deg...
Ucapan Clara itu kali ini membuat dada Arthur berdegup kencang, Arthur tidak tahu kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya itu akan menyinggung perasaan Clara.
"Tidak! Bukan begitu maksudku.." Arthur mencoba untuk menjelaskan kepada Clara dengan maksud dari perkataannya.
*Plak...
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di wajah Arthur, dan orang yang melakukan itu adalah Clara. Gadis itu menampar wajah Arthur tanpa aba-aba apapun dan langsung berlalu pergi meninggalkan Arthur yang masih terpaku.
Arthur tetap terdiam sebelum pada akhirnya ia memegangi wajahnya yang baru saja di tampar oleh Clara. Tamparan itu seolah membuat waktu yang berada di sekitar Arthur terhenti.
Arthur tidak menyangka kalau Clara akan berubah sedramatis itu, Arthur sendiri tidak bermaksud ingin menyakiti hati Clara, namun gadis itu langsung merasa tersinggung setelah mendengar ucapan Arthur.
"Yah, apa boleh buat, kalau memang aku akan mati aku akan menerimanya dengan suka rela" ucap Arthur sembari memegangi perutnya.
...----------------...
"Tidak, kau tahu kan perjalanan kesana jauh dan sangatlah berbahaya? Di tambah lagi kami membutuhkanmu untuk pertempuran melawan Scarecrow sebentar lagi" tutur Fergie yang sedang duduk kursinya.
"Tuan, aku ingin bertemu dengan ayahku, aku mohon ijinkan aku pergi" ujar Clara.
Saat ini, Clara sedang berada di ruangan Fergie, ia berada di sana karena ingin meminta izin kepada Fergie untuk pergi ke koloni Arthur yang dulu. Clara ingin kesana untuk menemui Wilson yang ia bilang adalah ayah kandungnya.
"Clara, aku sudah pernah melakukan perjalan kesana untuk menjemput Arthur, dan percayalah, aku berhadapan dengan beberapa hantu yang sangat kuat, bahkan aku juga sempat di buat kerepotan" tutur Fergie.
Orang tua itu benar-benar tidak mengijinkan Clara untuk pergi sekarang. Tentu saja larangan itu bukan tanpa alasan, jarak tempat tinggal koloni Fergie dengan tempat tinggal koloni Wilson sangatlah jauh. Terlalu berbahaya untuk Clara melakukan perjalanan itu sendirian, di tambah lagi sebentar lagi pertempuran melawan Scarecrow akan di mulai.
"Tuan, aku pasti bisa menjaga diri, aku akan kembali ke sini secepat mungkin setelah aku bertemu dengan ayahku" Clara terus mencoba untuk membujuk Fergie agar mau mengijinkannya pergi.
"Clara aku tahu perasaan mu, tapi ini juga menyangkut soal keselamatan mu, kita sudah kehilangan cukup banyak anggota, dan aku tidak sanggup kehilanganmu, kau adalah orang yang penting dalam pertempuran nanti" tutur Fergie lagi.
"Aku mohon! Aku akan melakukan apapun!" Clara tiba-tiba bersujud menghadap Fergie demi memohon kepadanya.
Fergie sejujurnya tidak tega melihat Clara yang memohon sampai begitunya kepadanya, di tambah lagi terlihat di wajah gadis itu kalau ia sedang menahan tangis sekarang. Namun, Fergie tetap tidak ingin mengijinkan Clara melakukan perjalanan berbahaya itu.
"Tuan, ijinkan Clara pergi bersama saya"
Arthur secara tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dan membuat Fergie dan Clara terkejut.
"Arthur?" Clara tidak menyangka kalau Arthur akan mendukung keinginannya.
"Arthur, kau tahu kan kalau itu sangatlah berbahaya? Kalian bisa saja kehilangan nyawa, bagaimana mungkin aku bisa mengambil resiko seperti itu? Aku tidak ingin kehilangan kartu As ku" tutur Fergie kepada Arthur.
"Tuan, kami bisa pergi ke sana dengan secepat kilat menggunakan Angel milik tuan Joseph" sahut Arthur.
"Tidak mau" ucap Clara.
"Huh?"
"Aku sudah terlebih dahulu berbicara kepada tuan Joseph, dan dia tidak mau melakukannya jika tuan Fergie tidak mengijinkan aku pergi" tutur Clara dengan raut wajah sedihnya.
"Dan aku tidak mungkin akan mengijinkan kalian berdua pergi" timpal Fergie.
Keputusasaan nampak jelas sekali tergambar di wajah Clara, gadis itu merasa sedih karena keinginannya untuk pergi tidak di ijinkan oleh Fergie.
"Tuan" panggil Arthur.
"Iya? Ada apa lagi Arthur?" Tanya Fergie.
"Ijinkan kami berdua pergi atau... Aku tidak akan ikut dalam pertempuran melawan Scarecrow!".