
*Tap... Tap... Tap...
Dengan raut wajah yang datar dan tangan yang di masukkan ke saku celana, Ace berjalan sendirian di lorong hotel tempat koloninya tinggal tersebut.
Hingga pada suatu ketika, Ace tiba-tiba berhenti di depan sebuah kamar yang bertuliskan nomor 313 di pintunya.
*ceklek...
Tanpa basa-basi, Ace pun langsung membuka pintu kamar tersebut dan melihat seorang laki-laki yang sedang duduk menghadap ke arah jendela.
"Hmm? Biasakan untuk mengetuk pintu sebelum kau masuk ke dalam kamar seseorang" ujar laki-laki tersebut setelah menoleh ke belakang.
"Dimana kau saat itu?!" Tanya Ace dengan nada dingin nya.
"Saat itu? Kapan?" Tanya balik laki-laki tersebut seolah tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Ace.
"Jangan bercanda!! Hanya ada dua kelompok yang melawan George Devil, dan salah satunya adalah anggota kelompok ku!!" Seru Ace dengan nada marah.
Melihat Ace yang marah, laki-laki itu terlihat tidak takut sama sekali, dirinya justru terlihat santai menanggapi kemarahan Ace tersebut.
"Bocah yang memiliki Demon itu? Bukankah dia berhasil membunuhnya?" Sahut laki-laki tersebut.
"Alexander, Rapshody milikmu bisa menembak sejauh ratusan meter tanpa meleset, kenapa kau tidak membantunya?!!"
Ace benar-benar di buat geram dengan ucapan temannya yang bernama Alexander tersebut, Ace merasa geram karena Alexander terlihat menanggapi ucapannya dengan main-main.
"Ya memang benar Angel ku bisa melakukan hal itu, tapi bukankah Stardust milikmu juga bisa membantunya?" Tanya Alexander.
"Tch, aku tertahan di sebuah dimensi aneh berbentuk daging!!" Sanggah Ace.
Alexander pun terlihat tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Ace tersebut, ia lalu berbalik dan melihat ke arah jendela kembali.
"Apa kau tahu? Anggota kita hanya ada beberapa saja yang berguna, kita semua memiliki Angel tapi hanya beberapa dari kita yang memiliki nyali" ujar Alexander sembari melihat ke luar jendela.
"Apa maksudmu?" Tanya Ace yang merasa tidak paham dengan maksud Alexander tersebut.
"Apa kau tahu? Banyak dari teman-teman kita yang membenci bocah yang memiliki Demon itu?" Tanya Alexander balik.
"Arthur? Ya aku tahu ada beberapa anak yang tidak suka kepadanya" sahut Ace.
"Hmm, dan sekarang terlihat kalau orang yang mereka benci jauh lebih berguna dari mereka" tutur Alexander.
"Semenjak pemakaman kemarin banyak dari teman-teman kita yang merasa terpukul, mereka semua mengunci diri di kamar masing-masing" ujar Ace sembari melangkah menghampiri Alexander.
"Heh, mereka mungkin akan segera mati jika kita bertarung melawan hantu legenda lagi" timpal Alexander.
"Target kita selanjutnya adalah hantu legenda nomor 2, Scarecrow, tapi aku tidak tahu kapan tuan Fergie dan ketua lainnya akan mengirim kita untuk bertempur lagi" ujar Ace.
"Scarecrow ya... Dia lebih kuat dari George Devil, jadi aku rasa kali ini aku harus membantu kalian ketika bertarung melawannya" sahut Alexander.
"Bodoh!! Memang harus begitu!! Kau wajib membantu melawannya nanti".
Ace pun terlihat marah kembali setelah mendengar ucapan Alexander tersebut, sedangkan Alexander hanya tertawa kecil menanggapi Ace yang sedang marah kepadanya.
"Hah... Sudahlah" ketika sudah berhenti tertawa, Alexander tiba-tiba berjalan keluar meninggalkan Ace yang sedang berada di sampingnya.
"Hoi! Mau kemana kau?" Tanya Ace ketika melihat Alexander berjalan keluar.
Alexander yang sudah berada di ambang pintu pun tiba-tiba berhenti dan menoleh kembali ke arah Ace.
"Aku ingin menjenguk bocah bernama Arthur itu" jawab Alexander.
"Kau mau menjenguk Arthur?" Tanya Ace dengan ekspresi tak percaya.
"Iya, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Alexander balik ketika menatap wajah Ace.
"Hmm, tidak apa-apa, aku ikut!" Ace pun langsung bergegas ikut berjalan keluar bersama Alexander.
"Yah, terserahlah" ujar Alexander setelah menutup pintu kamarnya.
Mereka berdua pun lalu berjalan bersama menuju ke tempat Arthur di rawat, untuk menuju kesana, mereka harus turun ke bawah menggunakan lift karena ruang medis berada di lantai 4 gedung ini.
Tak ada obrolan yang terjadi dalam perjalanan mereka, baik Ace maupun Alexander mereka berdua sama-sama diam tanpa bersuara.
Hingga saat mereka berdua telah sampai di tempat tujuan, mereka sedikit terkejut ketika melihat Clara yang sedang duduk di luar tempat Arthur di rawat.
"Clara? Kau sudah di sini?" Tanya Ace ketika melihat Clara yang sedang duduk sendirian.
"Oh Ace dan Alexander, kalian sedang apa di sini?" Tanya Clara balik ketika melihat dua teman laki-lakinya itu menghampirinya.
"Kami ingin melihat Arthur, apa dia masih di rawat di dalam?" Timpal Alexander.
"Ah iya, Arthur masih di rawat di dalam, tapi saat ini dokter sedang menyuntikkan obat kepadanya, jadi kita belum di izinkan untuk masuk" tutur Clara kepada dua temannya tersebut.
"Apa dia masih baik-baik saja?" Tanya Ace kembali.
Mendengar pertanyaan dari Ace tersebut, Clara terlihat sedikit ragu untuk menjawab. Ia menundukkan kepalanya dan *******-***** tangannya.
"Soal itu... Biarkan dokter yang menjelaskan" ucap Clara dengan nada yang ragu.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu di sini saja" ujar Alexander sembari menepuk pundak Ace.
Setelah itu, kedua laki-laki itu pun langsung duduk di kursi bersama Clara untuk menunggu Arthur selesai di obati. Satu menit kemudian, seorang pria tua yang memakai seragam dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
Melihat dokter yang sudah keluar, ketiga remaja itu kompak berdiri dan antusias ingin bertanya tentang keadaan Arthur sekarang.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Clara kepada dokter tersebut.
"Hmm, dia semakin membaik, untung saja penawar racun yang kami berikan mampu menghilangkan racun yang berada di tubuhnya, namun meskipun begitu, luka di perutnya sangatlah parah, beberapa tulangnya juga patah, bisa dikatakan ia sangat beruntung masih bisa hidup sampai sekarang" jawab dokter tersebut.
"Apa dia masih dalam keadaan pingsan?" Kini, giliran Ace yang bertanya ke dokter tersebut.
"Sayangnya belum, kami masih memberinya obat bius agar dia bisa beristirahat total, kalau sampai ia bangun sekarang maka ia akan merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya" tutur dokter tersebut.
Ketiga remaja itu pun langsung terdiam setelah mendengar penuturan dari dokter itu, orang yang telah membunuh George Devil harus mengalami penderitaan seperti itu sekarang.
Koloni itu benar-benar berhutang kepada Arthur, apalagi jika Arthur sampai meninggal, maka sudah dapat di pastikan kalau mereka akan kehilangan kartu As nya.
"Baiklah, kalau begitu saya ingin permisi dulu" Dokter itu pun melangkah pergi meninggalkan ketiga remaja itu.
Setelah itu, mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Arthur. Setelah berada di dalam, mereka bertiga melihat Arthur yang sedang terbaring di ranjang dengan balutan perban di seluruh tubuhnya.
"Dia terluka separah itu?" Alexander merasa tak percaya ketika melihat keadaan Arthur sekarang.
"Iya, dia sudah sedikit membaik sekarang" sahut Clara.
"Kita semua berhutang nyawa kepadanya, jika dia tidak berhasil membunuh George Devil waktu itu kita semua pasti akan mati" timpal Ace.