The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
KUTUKAN TELAH DATANG



"Jadi begitu, dengan begini semuanya sudah selesai" ujar Arthur sembari merebahkan tubuhnya di tanah.


"Mengorbankan satu nyawa demi mengalahkan dua hantu legenda, aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat" sahut Charlotte.


Arthur yang baru terbaring pun seketika langsung bangun kembali setelah mendengar ucapan Charlotte, ia langsung mengarahkan pandangnya ke segala penjuru untuk mencari tubuh Joseph. Dan pada akhirnya, Arthur melihat tubuh Joseph yang tergeletak tak bernyawa di atas tanah.


Arthur berdiri dan berjalan menghampiri jasad Joseph, ia duduk di samping jasadnya sembari menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Joseph.


"Tuan, jika anda tidak datang ke sini, mungkin saya dan Clara sudah mati dari tadi" gumam Arthur di sebelah jasad Joseph.


Charlotte pun menepuk pundak Arthur, ia mencoba menenangkan Arthur agar Arthur tidak merasa bersalah dan mempunyai beban pikiran.


"Joseph sudah memilih takdirnya sendiri, ini bukan kesalahan kalian berdua, yang paling penting sekarang kita sudah berhasil mengalahkan dua hantu legenda" tutur Charlotte.


"Hmm, apa yang akan aku katakan kepada tuan Fergie setelah ini, ia pasti akan sangat marah kepadaku" gundah Arthur.


"Katakan yang sebenarnya, aku akan membantumu berbicara kepada Fergie" ucap Charlotte.


Arthur menoleh ke arah Charlotte, ia melihat tatapan pria itu dengan wajah tak percaya.


"Kau... Akan ikut ke koloni ku?" Tanya Arthur.


"Ya, tentu saja, aku terlibat dalam pertempuran yang membuat nyawa Joseph melayang, jadi aku harus ikut bertanggung jawab" ujar Charlotte.


"Tapi... Bukankah tuan Joseph yang mengajakmu kesini?" Tanya Arthur kembali.


"Ya itu memang benar, Joseph meminta bantuan padaku untuk menyelamatkan kalian berdua, tapi aku harus tetap bertanggung jawab atas peristiwa ini" jawab Charlotte.


"Bagaimana tuan Joseph bisa tahu kalau aku dan Clara di culik oleh Vampiro ke sini?" Arthur merasa penasaran bagaimana caranya Joseph bisa mengetahui kalau ia dan Clara telah di culik oleh Vampiro.


"Huh, itu karena kekuatan dari Angelnya, sudahlah jangan bertanya lagi, lebih baik kita segera berlindung sekarang, ingatlah ini masih malam satu suro, jadi banyak hantu kuat yang berkeliaran" ujar Charlotte.


Arthur kembali berdiri dan menghampiri tubuh Clara yang tak sadarkan diri, ia mengangkat tubuh Clara dan menggendongnya menggunakan kedua tangannya.


"Kita harus berlindung dimana? Tempat ini berjarak sangat jauh dari koloninya tuan Fergie, kita tidak mungkin jalan kaki ke sana sekarang" ucap Arthur.


"Untuk sementara kita akan berlindung di dalam kastil itu" Charlotte menunjuk ke arah kastilnya Vampiro.


"Kita akan berlindung di sana sampai pagi datang, setelah itu serahkan semuanya kepadaku" sambung Charlotte sembari membopong jasad Joseph.


Setelah itu, mereka berdua pun segera berjalan menuju ke kastilnya Vampiro sembari menggendong Clara dan Joseph. Arthur menggendong Clara sementara Charlotte membawa tubuh Joseph yang sudah tak bernyawa.


Sampai pada akhirnya, mereka berdua sudah sampai di depan pintu kastil. Arthur langsung menendang pintu itu menggunakan kekuatan Red Devil hingga membuat pintu itu hancur berkeping-keping.


"Ck! Kalau kau menghancurkan pintunya sama saja seperti memberi pintu masuk bagi para hantu!" Decak Charlotte.


Ia merasa kesal kepada Arthur karena sudah menghancurkan pintu kastil, sekarang para hantu bisa masuk ke dalam kastil itu dengan mudah karena pintunya sudah di hancurkan oleh Arthur.


"Tenang saja, ini sudah hampir pagi, mungkin dalam empat jam ke depan kita sudah pergi dari sini" ujar Arthur sembari masuk ke dalam kastil.


Arthur berjalan ke sebuah kursi panjang dan merebahkan tubuh Clara di sana, kemudian ia langsung menyiapkan sebuah tempat untuk meletakkan jasad Joseph yang sedang di bawa oleh Charlotte.


"Letakkan jasad tuan Joseph di sini" pinta Arthur setelah menyiapkan sebuah tempat.


Charlotte pun menurunkan jasad Joseph secara perlahan sembari di bantu oleh Arthur. Setelah semuanya selesai, Arthur dan Charlotte pun langsung merebahkan tubuh mereka ke lantai secara bersamaan.


"Huh, apa kau tidak lelah? Kau baru saja melawan hantu legenda sendirian, apa kau tidak terluka?" Tanya Arthur sembari menatap langit-langit kastil.


"Tidak ada kata lelah dalam keluarga Van Helsing, yah tapi aku memang terluka" jawab Charlotte tanpa menoleh sedikitpun.


"Jangan berlebihan, sudah menjadi kewajiban bagi ku untuk mengalahkan Vampiro" timpal Charlotte.


Setelah itu, keadaan pun langsung menjadi hening tanpa suara. Arthur memejamkan matanya sedangkan Charlotte terus menatap langit-langit kastil, Charlotte masih tidak menyangka kalau ia berhasil mengalahkan musuh bebuyutan keluarganya.


Sekarang mereka berdua hanya tinggal menunggu waktu untuk pergi dari Transylvania. Namun sayangnya, Arthur dan Charlotte merasa kalau mereka sudah berada di dalam kastil itu terlalu lama.


"Jangan kau pikirkan" ujar Charlotte secara tiba-tiba.


"Hmm? Apa maksudmu?" Tanya Arthur yang tak mengerti dengan maksud Charlotte.


"Jangan memikirkan pagi, di malam satu suro waktu memang terasa sangat lambat, jadi jangan kau pikirkan" jelas Charlotte.


"Aku sangat bosan, apa kau tidak mau mengobrol denganku?" Tanya Arthur sembari menoleh ke arah Charlotte.


"Terserah, aku juga bosan" sahut Charlotte.


"Apa kau keberatan jika aku meminta mu untuk bercerita tentang keluargamu?" Tanya Arthur.


Charlotte langsung bangun setelah mendengar pertanyaan Arthur, ia menoleh dan menatap Arthur dengan ekspresi datar. Arthur sedikit terkejut ketika Charlotte menatapnya, ia mengira kalau Charlotte tersinggung dengan pertanyaannya.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan mu, biarkan aku bertanya terlebih dahulu, apa kau keberatan?" Tanya Charlotte balik.


"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali, tanya saja sesuka hatimu" jawab Arthur.


"Aku ingin bertanya, apa kau sudah tahu tentang kutukan yang akan menimpamu?" Tanya Charlotte.


Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah anak panah yang melesat dan menembus gendang telinga Arthur, lagi-lagi Arthur harus teringat tentang kutukan mengerikan yang akan menimpanya.


"Ya, aku sudah tahu, karena itu aku ingin pergi dari koloni ku" jawab Arthur.


"Aku pernah membaca sebuah legenda yang di tulis oleh kakek buyut ku, dimana seorang manusia yang memiliki kekuatan Demon, suatu saat ia akan di kuasai oleh Demon nya sendiri" ujar Charlotte.


"Yaya aku juga sudah tahu tentang hal itu" potong Arthur.


"Aku belum selesai berbicara!!" Bentak Charlotte.


Arthur pun seketika ikut bangun setelah di bentak oleh Charlotte.


"Buku itu mengatakan, jika manusia sudah di kuasai sepenuhnya oleh Demon nya, ia akan mendapatkan kekuatan yang sangat dahsyat" Charlotte menceritakan isi buku yang di tulis oleh kakek buyutnya secara rinci.


"Tapi aku akan kehilangan kesadaran ku" sahut Arthur.


"Jika kutukan itu memang benar maka kau akan menjadi malapetaka bagi umat manusia, tapi kakek buyut ku juga menulis, kalau kekuatannya bisa mengalahkan The Eternity" timpal Charlotte.


Tiba-tiba, Arthur merasakan jantungnya berdegup sangat kencang tepat setelah Charlotte menyelesaikan ucapannya. Arthur meringis kesakitan sembari memegangi dadanya.


"Kau tak apa-apa?" Tanya Charlotte yang mulai merasa khawatir.


"Jantung ku!!" Arthur hampir tak sanggup berbicara.


"Arghhhh!!!" Arthur berteriak sangat kencang dan Aura Red Devil keluar dari dalam tubuhnya.


Akibatnya, tembok-tembok di dalam kastil pun sampai retak karena terkena Aura yang di keluarkan oleh Arthur. Melihat hal itu, Charlotte pun tak tinggal diam. Ia memegangi tubuh Arthur dan mencoba menenangkan dirinya.


"Sialan! Apa yang terjadi pada dirimu?!" Charlotte terkejut bukan main ketika melihat mata kiri Arthur berubah warna.