
Roberto terus berteriak meminta Arthur untuk membunuh dirinya sekarang, ia merasa sudah di permalukan oleh Arthur sekarang. Namun Arthur sama sekali tidak menghiraukan permintaan Roberto dan memilih pergi bersama Ace.
"Masalah mu kelihatannya sangat besar" ujar Ace sewaktu berada di dalam lift.
"Koloni ku sudah hancur" ucap Arthur.
Ace pun langsung kaget bukan main setelah mendengar ucapan Arthur, Ace memang menduga ada yang tidak beres dengan kedua temannya itu setelah melihat mereka kembali lebih cepat.
"Hancur? Jadi itu alasan kalian berdua kembali lebih cepat??" Tanya Ace dengan raut wajah tak percaya.
"Iya, hanya Avis lah yang masih selamat" timpal Clara yang sedang menggendong Avis.
Ace pun lalu mengalihkan pandangannya kepada gadis cilik yang sedang di gendong oleh Clara. Mendapatkan tatapan yang dalam dari Ace, Avis pun langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan Clara.
"Hei Ace! Kau menakut-nakutinya!" Ketus Clara.
"Hmm, aku hanya memandangnya saja" sahut Ace.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berempat sudah sampai di lantai paling atas. Pintu lift terbuka dan ketiga remaja itu langsung keluar untuk menuju ke ruangannya Fergie.
*Tok... Tok... Tok...
Arthur mengetuk pintu ruangan Fergie dan secara ajaib pintu itu langsung terbuka dengan sendirinya.
"Arthur Clara? Kalian kembali??" Fergie yang sedang duduk di kursinya pun langsung merasa heran melihat kedatangan Arthur dan Clara.
"Iya, ada hal yang ingin kami sampaikan" sahut Arthur.
"Ah iya, masuklah"
Setelah mendapatkan izin, Arthur, Ace dan Clara masuk ke dalam ruangan dan langsung duduk di kursi di depan Fergie.
"Hmm? Anak siapa yang kalian bawa itu?" Fergie pun juga ikut keheranan melihat Clara menggendong seorang anak kecil.
"Tuan, dia bernama Avis, dia adalah anak dari koloni ku yang lama, aku mohon izinkan dia bergabung dengan koloni ini" tutur Arthur.
"Bergabung? Bukankah dia merupakan anggota dari koloninya Wilson?" Tanya Fergie.
"Tuan, koloni tuan Wilson sudah hancur, dan hanya Avis lah orang yang selamat" ujar Arthur.
Tubuh Fergie sempat tersentak setelah mendengar kata-kata Arthur, orang tua itu tidak pernah menyangka kalau koloni milik Wilson ternyata sudah hancur.
"Hancur? Siapa yang telah menghancurkannya??" Tanya Fergie kepada Arthur.
"Soal itu..." Arthur menahan ucapannya, ia lalu menatap Avis dan memegang tangannya.
Arthur menyuruh Avis untuk menjawab pertanyaan dari Fergie tersebut. Meskipun awalnya merasa takut dan ragu, namun Avis akhirnya mau menjawab pertanyaan dari Fergie.
"Hantu hitam! Hantu hitam yang melakukannya!" Jawaban Avis masih sama, gadis kecil itu selalu menjawab hantu hitam ketika ditanya siapa yang telah menyerang koloninya.
"Hantu hitam?" Ace merasa kebingungan dengan jawaban Avis.
"Avis selalu menjawab seperti itu ketika kami bertanya" timpal Clara.
"Banyak sekali hantu di dunia ini yang berwarna hitam, dan akan memakan waktu yang lama untuk menemukan siapa pelakunya" ujar Fergie sembari memegang dagunya.
"Satu-satunya cara membalasnya adalah mengalahkan The Eternity! Kalau ia sudah mati maka semua hantu kutukan di dunia ini akan musnah!!" Ucap Arthur dengan nada geram.
"Kau selalu membahas soal Eternity, padahal besok kita belum tentu selamat melawan Scarecrow" timpal Ace.
Mendengar ucapan Ace itu, Clara pun kembali merasa sedih, ia sangat khawatir dengan kondisi Arthur yang sekarang. Apalagi hatinya baru saja terluka, Clara takut jika Arthur tidak bisa bertempur dengan maksimal dan akan terbunuh oleh Scarecrow.
"Hmm, mengingat kejadian ini, aku rasa aku akan menunda hari pertempurannya" ucap Fergie.
"Tidak!!"
Clara sempat sumringah ketika mendengar Fergie akan mengundur tanggal pertempurannya, namun ekspresinya kembali berubah ketika melihat Arthur yang menolak hal itu.
"Anda tidak boleh mengundur pertempuran itu!" Ucap Arthur dengan tegas.
"Ya Arthur, aku berada di pihakmu" Ujar Ace yang mendukung keputusan Arthur.
"Kau yakin Arthur?" Tanya Fergie.
Arthur pun langsung menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Wajahnya pun tidak menampakkan rasa ragu sedikitpun.
"Baiklah, besok kalian akan berangkat ke Curse Field karena itu beristirahat lah hari ini, soal anak itu tenang saja, aku sendiri yang akan merawatnya" tutur Fergie.
"Curse Field?" Arthur masih belum mengerti maksud dari Curse Field.
"Curse Field, adalah sebuah ladang jerami yang terkena kutukan, dan ladang itu di kuasai oleh Scarecrow" Ace menjelaskan kepada Arthur tentang Curse Field.
"Hmm, begitu kah?" Sahut Arthur.
"Iya, ingatlah kali ini lawan kalian lebih kuat dari George Devil, jadi beristirahatlah dengan tenang dan persiapkan diri kalian sebaik mungkin" tutur Fergie sebelum ketiga remaja itu pergi.
...----------------...
...HARI PERTEMPURAN......
Seperti sewaktu melawan George Devil, semua remaja di kumpulkan di depan halaman hotel sebelum mereka di berangkatkan ke Curse Field.
Semuanya masih menggunakan sistem yang sama, para remaja di jadikan beberapa kelompok yang beranggotakan 3 orang. Dan Arthur masih tetap memilih kedua teman dekatnya, yaitu Ace dan Clara.
"Semoga kalian berhasil yaa" Fiona mendekati kelompok Arthur dan memberikan ucapan kepada mereka.
"Iya, terima kasih Fiona" sahut Clara.
"Hmm, andai saja tuan Fergie mengijinkan aku pergi" gumam Fiona.
Ya, Fiona memang tidak akan ikut dalam pertempuran ini di karenakan Fergie tidak mengijinkannya. Fergie tahu kalau Fiona tidak akan bisa bertarung hanya dengan satu tangan saja, oleh karena itu ia tidak mengijinkannya untuk ikut bertempur.
"Jangan gegabah, tuan Fergie tidak ingin kau mati Fiona" ujar Ace.
"Hei! Aku masih bisa bertarung walau hanya dengan satu tangan saja!!" Fiona langsung marah kepada Ace karena berkata seperti itu kepadanya.
"Tenang saja Fiona, aku pasti akan membunuh Scarecrow sama seperti aku membunuh George Devil" timpal Arthur.
"Hmm, iya Arthur, kami semua mempercayakan semuanya kepadamu" sahut Fiona.
"Dan aku juga berjanji kalau aku tidak akan berpisah lagi dengannya sewaktu di Curse Field nanti" timpal Clara.
Kedua gadis itu pun langsung tertawa bersama setelah mengingat kejadian sewaktu melawan George Devil di kota mati. Kenangan kelam di kota mati tentu saja belum bisa mereka lupakan, apalagi kematian Aaron yang terjadi tepat di depan mata Fiona.
Namun, mereka semua tidak ingin larut dalam kesedihan lebih lama. Arthur dan teman-temannya tahu kalau pengorbanan memang harus di lakukan untuk mengalahkan para hantu legenda. Itu semua mereka lakukan demi masa depan umat manusia.
"Apa kalian semua sudah siap?!!" Teriak Fergie dari atas.
Mendengar suara Fergie, para remaja pun langsung membentuk sebuah barisan yang rapi dan menghadap ke atas dimana Fergie sedang berdiri di salah satu balkon.
"Siap!!" Jawab semua remaja dengan serentak.
"Apapun yang terjadi, kembali lah dengan selamat, bertempur lah bersama-bersama, dengan begitu Scarecrow tidak akan bisa mengalahkan kalian!" Seru Fergie.
"Siap!!".
Merasa semuanya sudah siap, Fergie pun turun dari tempatnya dan menghampiri Joseph.
"Joseph" panggil Fergie.
"Baik" Joseph mengangguk dan maju ke balkon.
"SUN GO KONG!!!"