The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
PERSETERUAN



"Jangan mengatakan omong kosong!! Kau hanya iri kepada Arthur karena semua orang menganggap dia sebagai pahlawan!!" Sanggah Clara.


Perseteruan yang terjadi di antara mereka itu pun juga tidak luput dari perhatian semua orang yang berada di ruang makan itu. Baik dari orang dewasa maupun remaja semuanya sama-sama melihat keempat orang yang sedang cekcok mulut itu.


"Aku iri?? Jangan bercanda dasar gadis sialan!!" Roberto pun langsung di buat murka dengan ucapan Clara tersebut.


Ia pun mengangkat tangan kanannya dan bersiap untuk menampar wajah gadis cantik tersebut. Namun, sebelum Roberto melayangkan tamparannya, Arthur dengan sigap langsung berdiri di depan Clara dan melindunginya.


"Jangan pernah berani mendaratkan tangan kotor mu di wajahnya!!" Arthur memperingatkan Roberto agar tidak main tangan kepada Clara.


"Kau mau jadi sok pahlawan lagi sialan??" Roberto merasa jengkel dengan Arthur yang menurutnya sok pahlawan.


*Grep...


Karena tak ingin masalah itu menjadi semakin besar, Ace pun langsung menarik tangan Roberto dan menyeretnya keluar dari ruang makan itu.


"Ace!! Lepaskan aku sialan!!" Roberto berusaha keras untuk melepaskan tangannya namun Ace sama sekali tidak bergeming dan terus menyeretnya keluar.


Arthur pun bermaksud ingin mengikuti mereka berdua namun Clara dengan sigap langsung mencekal lengannya.


"Sudahlah, kau di sini saja, biarkan Ace yang menyelesaikannya" tutur Clara.


"Tapi... Dia sudah keterlaluan kepadaku, aku ingin menyelesaikannya sendiri" balas Arthur.


"Menyelesaikannya sendiri? Bagaimana??" Tanya Clara dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


"Aku akan bertarung dengannya, dan siapapun yang kalah harus keluar dari koloni ini" jawab Arthur dengan nada dinginnya.


Jawaban dari Arthur itu pun tentu saja langsung membuat Clara marah, ia merasa marah karena Arthur yang seenaknya ingin bertarung kembali padahal tubuhnya masih belum sembuh total.


"Tidak boleh!! Kau tidak boleh bertarung sekarang dan kau juga tidak boleh seenaknya bertaruh untuk meninggalkan koloni ini!!" Seru Clara.


Melihat teman perempuannya itu marah, Arthur pun langsung mengalah dan mencoba untuk menenangkannya.


"Iya-iya, maafkan aku, aku terpancing emosi" ujar Arthur ketika meminta maaf kepada Clara.


"Kau itu harus mengerti dengan keadaanmu!! Jangan seenaknya saja bilang mau bertarung padahal tubuhmu sendiri masih dalam keadaan sakit!!"


*Bughhh...


Clara memukul pelan perut Arthur yang masih terdapat luka jahitan yang belum mengering, dan hal itu pun langsung membuat Arthur merasa kesakitan dan memegangi perutnya.


"Aduh!! Clara apa yang kau lakukan!" Arthur menunduk dan memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan.


"Lihat? Di pukul pelan saja kau kesakitan seperti itu, apalagi jika kau bertarung?" Bukannya meminta maaf, Clara justru lanjut mengomeli Arthur yang sedang kesakitan.


"Iya tapi jangan kau pukul langsung ke arah lukaku" ujar Arthur dengan nada merintih.


"Sudahlah, lanjut kan saja makan mu" suruh Clara.


"Aku tidak nafsu makan sekarang, perutku sakit" ucap Arthur.


"Lalu? Apa itu masalah?" Tanya Clara dengan tatapan tajamnya.


Melihat tatapan tajam itu, Arthur pun lagi-lagi terpaksa mengalah dan menuruti ucapan Clara. Dengan langkah kaki yang malas, ia pun berjalan kembali menuju meja makannya dan mulai memakan lagi makanannya.


Sedangkan Arthur terlihat tidak menggubris sama sekali ucapan Clara tersebut, ia terus memakan makanannya sendiri dengan raut wajah kesal.


...----------------...


"Jadi itu alasanmu membenci Arthur?" Tanya Fergie kepada Roberto yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


Ternyata, Ace menyeret Roberto pergi menemui Fergie yang berada di ruangannya. Ace membawa Roberto ke hadapan Fergie untuk melaporkan tentang perbuatannya kepada Arthur.


Dan saat ini, mereka berdua sedang di sidang oleh Fergie di ruangannya. Untung saja, hanya ada Fergie yang berada di ruangan itu dan tidak ada ketua lainnya. Jadi, Ace bisa dengan mudah melaporkan ulah Roberto tanpa harus di tentang oleh ketua lainnya.


"Tuan Fergie, orang tua ku itu tidak mungkin salah, ramalan itu benar!! Orang yang mempunyai kekuatan Demon akan membawa petaka kepada orang-orang yang berada di sekitarnya!!" Seru Roberto.


"Jaga nada bicaramu!!" Ace merasa marah kepada Roberto karena ia berbicara secara lancang kepada Fergie.


"Sampai kapan kau akan membelanya?? Aku yakin kalau kau juga pernah mendengar legenda kutukan itu kan?? Apa kau tidak mau mempercayai ucapan leluhurmu?" Tanya Roberto kepada Ace.


"Itu tidak penting!! Aku hanya akan mementingkan masa depan umat manusia sekarang, dan Arthur adalah sosok penting dalam koloni ini!" Sahut Ace.


Menanggapi perdebatan antara kedua remaja itu, Fergie berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengeluarkan emosinya. Ia mencoba untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


"Tenanglah kalian berdua, jangan gunakan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah" tutur Fergie kepada Ace dan Roberto.


"Tuan, bagaimana aku bisa tenang? Kutukan itu benar adanya!!" Lagi-lagi, Roberto tidak bisa mengontrol emosinya dan bersikap lancang kepada Fergie.


"Jaga nada bicaramu sialan!!!" Ace benar-benar sudah habis kesabaran.


Ia ingin sekali menghajar Roberto sekarang, namun tentu saja ia tidak bisa melakukan itu di depan Fergie.


"Ingat kata-kata ku! Arthur adalah bagian dari koloni ini dan akan terus begitu seterusnya, aku tahu akan kutukan itu tapi aku tidak akan pernah mengusir Arthur pergi dari koloni ini!" Fergie pun akhirnya mengambil sikap tegas.


Kata-katanya itu terdengar mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat lagi, Ace hanya terdiam setelah mendengarkan kata-kata dari ketua koloninya itu. Sedangkan Roberto masih kekeuh ingin Arthur di usir dari koloni ini.


"Tuan Fergie, aku selalu menghormatimu tapi kali ini aku akan menentang perintahmu!! Usir bocah itu atau aku yang akan pergi dari koloni ini!!" Entah kerasukan apa sampai Roberto tiba-tiba berani berkata seperti itu.


Sontak saja Ace dan Fergie terkejut setelah mendengar ancaman dari Roberto itu. Terlebih lagi Ace, ia benar-benar sudah kehabisan kesabaran sekarang.


"Kau pikir kau itu siapa sialan?!!"



Ace mengamuk dan mengeluarkan Angelnya, ia pun sudah bersiap untuk menyerang Roberto dengan Stardust miliknya namun tangan Buddha milik Fergie langsung menahan serangannya.



"Bicaralah dengan lancang lagi dan aku pastikan kau akan mati di sini sekarang juga!!" Ace benar-benar merasa geram kepada Roberto sampai seluruh badannya gemetar hebat.


Roberto pun sempat terkejut ketika melihat Ace akan menyerangnya, namun ketika ia melihat serangan Ace di tangkis oleh Fergie ia pun tersenyum sinis ke arahnya.


"Heh, coba saja bunuh aku, aku adalah tank koloni ini, Angel ku bisa menangkis serangan apapun dan aku adalah orang yang penting dalam misi menyelamatkan umat manusia!!" Ujar Roberto dengan senyuman sinisnya.