The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
LUKA YANG TEROBATI



"Arthur!! Oe bertahanlah!!" Ace pun langsung merasa panik ketika ia melihat Arthur memejamkan matanya kembali.


"Biarkan aku istirahat sialan!" Ucap Arthur dengan nada yang lemah, ia pun juga membuka matanya kembali.


"Kenapa kau bisa bangun? Bukankah dokter sudah memberimu obat bius agar membuatmu tertidur?" Tanya Ace dengan wajah keheranan.


"Hehe, aku itu kuat tahu, apa kau pikir obat bius seperti itu akan mempan kepadaku?" Jawab Arthur dengan senyuman sinis di bibirnya.


"Arthur" panggil Astrid.


Mendengar namanya di panggil, Arthur pun langsung menoleh ke arah Astrid. Ia melihat gadis itu mengusap-usap air matanya dan berjalan mendekat kepadanya.


"Arthur, terima kasih dan maafkan aku" ujar Astrid sembari memegang tangan Arthur.


Astrid mengucapkan kata-katanya itu dengan kalimat yang tulus, matanya yang terlihat sembab seolah menjadi bukti bahwa ucapannya tidak main-main sama sekali.


"Ya sudahlah, kalian berdua jangan saling menyalahkan, lagi pula kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa di hindari, dan cepat atau lambat kita semua pasti juga akan mati, jadi untuk apa kita saling menyalahkan sekarang?" Tutur Arthur kepada kedua temannya tersebut.


Entah belajar dari mana dirinya sehingga bisa mengucapkan kata-kata yang terdengar inspiratif seperti itu, namun kata-kata yang keluar dari mulut Arthur itu sukses membuat Ace dan Astrid merenung.


"Hehe, berdamai lah, aku ingin istirahat lagi sekarang, perutku rasanya ingin meledak" ujar Arthur sembari menutup kembali matanya.


Melihat Arthur yang ingin beristirahat kembali, Ace pun langsung beranjak dari tempatnya berdiri sekarang dan berjalan menuju ke sofa. Ace pun langsung mendudukkan tubuhnya di sofa itu sembari menarik nafas panjang.


"Hah, bodoh! Syukurlah kalau kau benar-benar baik-baik saja, aku kira kau akan mati" ucap Ace setelah mengambil nafas panjang.


Ia merasa lega karena ternyata kondisi Arthur jauh lebih baik dari yang ia bayangkan sebelumnya. Dan sekarang, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai tubuh Arthur sembuh total.


Di lain sisi, Astrid masih berdiri dan merenung di samping ranjang Arthur. Gadis cantik itu terlihat diam mematung di tempatnya tanpa bergerak sama sekali.


Melihat hal itu, Ace pun langsung mencoba mengajak Astrid untuk berbicara, ia ingin berdamai dengan gadis itu seperti yang di ucapkan oleh Arthur.


"Hoe, duduklah di sini, aku sudah tidak marah kepadamu" ujar Ace kepada Astrid.


Setelah mendengar kata-kata itu, Astrid pun dengan penuh rasa ragu langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat Ace duduk. Setelah itu, Astrid pun langsung duduk di samping Ace tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


"Tidak usah minta maaf, lagi pula aku tidak mempermasalahkan nya" ujar Ace setelah Astrid duduk di sampingnya.


Ucapan Ace tersebut nampak kontras dengan ucapannya sewaktu bertengkar dengan Astrid tadi, emosi Ace sudah mereda sekarang karena Arthur, oleh karena itu Ace juga terlihat merasa bersalah sekarang karena pernah berucap akan membunuh Astrid.


"Soal ucapanku tadi itu hanya bercanda, aku tidak akan pernah membunuhmu" lanjut Ace.


"Tidak apa-apa, lagi pula tanpa kau bunuh pun aku nanti juga akan mati" sahut Astrid, gadis itu mulai berbicara kembali sekarang.


"Kau tidak akan mati, selama aku masih hidup aku jamin kau tidak akan mati dalam pertempuran melawan hantu legenda nanti" timpal Ace.


"Bodoh! Jangan berbicara omong kosong seperti itu!" Astrid seketika langsung membuang pandangannya setelah mendengar ucapan Ace tersebut.


Setelah itu, kedua teman itu pun saling tertawa bersama, mereka berdua kini sudah berbaikan dan bercanda ria bersama sembari menjaga Arthur yang sedang beristirahat.


Arthur pun melihat kedua temannya itu dengan perasaan senang, ia lega Ace dan Astrid sudah tidak bertengkar lagi sekarang.


"Ace bodoh, ternyata kau juga bisa jatuh cinta" gumam Arthur dengan nada yang sangat pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menjalani pemulihan selama satu minggu lamanya, tubuh Arthur pun kini sudah bisa bergerak kembali. Ia sudah bisa berjalan dan beraktivitas dengan normal sekarang, meskipun begitu, namun terkadang perutnya masih sering merasakan sakit karena luka jahitannya belum kering total.


"Hei Arthur, aku tidak menyangka kalau kau bisa sembuh secepat ini" ujar Clara kepada Arthur.


"Tapi luka jahitan mu belum kering total kan? Katamu kau masih sering merasakan sakit di perutmu" timpal Ace.


Ketiga orang remaja itu sedang makan bersama sekarang, mereka bertiga duduk dalam satu meja dan menyantap hidangan mereka masing-masing.


"Iya, terkadang rasanya sangat sakit sekali, sepertinya aku masih belum siap untuk bertempur lagi sekarang" ujar Arthur sembari memegangi perutnya.


"Heh? Jangan gegabah seperti itu! Setidaknya kau harus masih beristirahat total selama satu bulan agar jahitan mu kering total" timpal Clara, ia menjadi orang yang paling perhatian kepada Arthur semenjak laki-laki itu menjalani pemulihan.


"Tapi... Kalau tuan Fergie memerintahkan aku untuk ikut bertempur, aku pasti akan menurutinya" sahut Arthur.


"Tidak boleh!! Kalau kita akan bertempur dan kau masih belum sembuh total maka kau tidak boleh ikut! Titik!!" Clara benar-benar melarang keras Arthur untuk ikut bertempur.


"Tenang saja, tuan Fergie dan para ketua lainnya tidak akan memulai pertempuran lagi sebelum kau sembuh total" timpal Ace secara tiba-tiba.


"Hmm? Dari mana kau tahu hal itu?" Tanya Arthur.


"Aku yang meminta hal itu, dan mereka semua setuju" jawab Ace.


"Yay!! Ace memang selalu bisa untuk di andalkan" Clara berjingkrak kegirangan setelah mendengar ucapan Ace.


Sekarang, Arthur bisa fokus untuk menyembuhkan lukanya tanpa harus memikirkan tentang pertempuran selanjutnya. Dan semua itu berkat teman baiknya yang bernama Ace, ia meminta para ketua untuk mengundur pertempuran melawan Scarecrow sebelum Arthur sembuh total dari lukanya.


"Ace, kenapa kau melakukan hal itu?" Arthur tidak mengerti mengapa Ace membuat permintaan seperti itu.


"Kau adalah ujung tombak kami, Angel kami tidak sekuat Demon mu, jadi kau adalah orang yang sangat penting dalam misi ini" tutur Ace.


"Hoi Hoi!! Lihat siapa yang ada di sini, dia adalah orang yang telah membunuh hantu legenda!!"


Suara yang sangat keras itu tiba-tiba terdengar dan mengganggu semua orang yang sedang asyik makan. Ace dan Clara pun langsung menoleh ke sumber suara itu berasal, mereka berdua paham betul siapa pemilik suara itu.


"Roberto" gumam Ace setelah melihat ke sumber suara.


"Hoi hoi bocah, ayo cepat katakan kepadaku bagaimana caranya mengalahkan hantu legenda" seru Roberto sembari berjalan mendekati Arthur dan dengan Angelnya yang sudah berada di belakangnya.



Arthur pun langsung merasa kesal karena acara makannya harus terganggu akibat ulah dari Roberto, ia pun memutar badannya ke belakang dan menatap ke arah orang yang menggangunya tersebut.


"Apa maumu?" Tanya Arthur kepada Roberto.


"Mau ku? Aku mau kau pergi dari koloni ini!!" Jawab Roberto.


"Jangan bercanda!! Roberto kau tidak berhak mengusir Arthur dari koloni ini!" Clara pun bangkit dari duduknya dan mencoba untuk membela Arthur.


Begitupun juga dengan Ace, ia langsung ikut berdiri dan memasang badannya untuk melindungi Arthur.


"Jangan melakukan hal yang bodoh!!" Seru Ace.


"Akulah orang yang seharusnya membunuh George Devil, bukan bocah ini!!" Balas Roberto.


Arthur pun tetap diam saja di tempat duduknya, ia sama sekali tidak terpancing dengan Roberto yang sudah berada di depannya.


"Ingatlah!! Anak ini membawa kutukan, cepat atau lambat kita semua akan musnah karenanya!!" Seru Roberto kepada seluruh orang yang berada di sana.


Nampaknya, Roberto ingin menghasut semua orang yang berada di sana untuk ikut membenci Arthur.