
"Yah, kau mungkin benar, andai saja dia tidak berhasil membunuh George Devil mungkin kita semua akan mati" imbuh Alexander.
"Kita sudah kehilangan banyak teman, dan bahkan Arthur menyaksikan Aaron terbunuh di depan matanya sendiri, mungkin hatinya juga terluka sekarang" ujar Clara dengan raut wajah sedihnya.
"Dalam pertempuran melawan hantu legenda selanjutnya, kita tidak boleh membiarkan dia bertarung sendirian lagi, apapun yang terjadi, kita harus ikut bertempur melawan Scarecrow nanti" tutur Ace.
Alexander dan Clara pun kompak menganggukkan kepala mereka setelah mendengar ucapan Ace, mereka bertiga benar-benar merasa bersalah kepada Arthur karena membiarkannya melawan George Devil sendirian.
"Ah, ayo kita duduk di sana" ajak Clara kepada kedua teman laki-lakinya itu.
Ace dan Alexander pun langsung berjalan ke sebuah sofa yang terletak di samping ranjang Arthur. Mereka bertiga duduk bersama sembari menjaga Arthur yang masih belum sadarkan diri.
Baru saja mereka bertiga duduk di sofa itu, Astrid dan Fiona tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan.
"Oh! Kalian berada disini?" Sapa Astrid setelah melihat Ace, Alexander dan Astrid duduk di sofa.
"Astrid dan... Fiona??" Mata Clara terbelalak ketika melihat Fiona ikut masuk ke dalam ruangan itu bersama Astrid.
"Hmm, tenanglah Clara, aku sudah tidak apa-apa" ujar Fiona dengan senyuman manisnya.
Namun, senyuman itu nyatanya tak mampu membuat hati Clara merasa tenang. Clara saat ini sedang menahan tangisnya karena tak tega melihat keadaan Fiona sekarang.
Walaupun sudah mampu untuk berjalan, namun tubuh Fiona masih dalam balutan perban dan belum sembuh total. Dan bukan itu saja, mulai dari sekarang, Fiona hanya bisa menggunakan tangan kanannya saja untuk beraktivitas, ia terpaksa memotong tangan kirinya sendiri karena terkena racun dari George Devil.
Andai saja waktu itu Fiona tidak memotong tangannya, mungkin saja ia tidak akan selamat dalam pertempuran itu.
"Bodoh! Kau itu tidak pandai berbohong tahu!" Ucap Clara sembari menahan tangisnya.
Ace dan Alexander yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam, mereka berdua juga merasa iba melihat keadaan Fiona sekarang. Gadis secantik dirinya harus hidup dengan satu tangan mulai sekarang.
Namun meskipun begitu, Fiona tetap terlihat tegar dan tidak mengeluh sama sekali. Ia menganggap kalau tangannya yang hilang itu hanyalah sebuah pengorbanan yang kecil.
"Mmm... Bagaimana keadaan Arthur sekarang?" Tanya Astrid yang seketika langsung memecahkan keheningan yang terjadi.
"Dia sudah membaik, meskipun begitu dia masih belum sadar hingga sekarang" sahut Ace.
"Hmm, syukurlah kalau dia mulai membaik, kami ingin berterimakasih kepadanya saat dia bangun nanti, aku dan Astrid berhutang nyawa kepadanya" imbuh Fiona.
"Tidak hanya kalian berdua, kita dan bahkan seluruh orang di koloni ini berhutang nyawa kepadanya" jelas Alexander, ia merasa kalau tidak adil hanya ada dua orang saja yang merasa berhutang.
"Yah memang begitu, mungkin Aaron sedang melihat kita dari surga sekarang" timpal Astrid.
Mendengar nama Aaron di ucapkan, Clara pun tidak bisa membendung air matanya lagi. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini sudah keluar dan turun membelah pipinya.
"Tenanglah Clara, dia sudah tenang sekarang, Aaron pasti senang melihat George Devil berhasil di kalahkan" melihat temannya menangis, Fiona pun langsung mencoba untuk menenangkannya.
Ia menggandeng tangan Clara dan membawanya keluar dari ruangan, Fiona tidak ingin suara tangisan Clara mengganggu Arthur yang sedang menjalani pemulihan, oleh karena itu ia membawanya keluar.
Sekarang, hanya tersisa Ace, Alexander dan Astrid yang berada di dalam ruangan kamar Arthur di rawat. Mereka bertiga tampak merenung dan tidak ada yang berbicara sama sekali.
Ace sesekali menoleh ke arah Arthur yang sedang tertidur di ranjangnya, sedangkan Alexander dan Astrid terus diam seribu bahasa. Keheningan itu berlangsung selama beberapa menit hingga akhirnya Alexander membuka suara.
Ace dan Astrid pun hanya bisa melihat kepergian Alexander itu dengan heran.
"Ya!" Ucap Ace setelah Alexander keluar dari ruangan itu.
*Plak....
Belum sempat mulut Ace menutup, sebuah tamparan yang cukup keras tiba-tiba mendarat di wajahnya. Ace tentu saja terkejut bukan main setelah menerima tamparan itu, Ace tidak menduga kalau Astrid yang sedari tadi terus diam kini tiba-tiba menamparnya dengan keras.
"Astrid, apa maksudmu!" Ucap Ace dengan nada yang dingin, ia juga memegangi pipi kirinya yang baru saja terkena tamparan.
"Hiks... Kau!! Kalau saja kau keluar lebih cepat dari gedung itu Aaron pasti bisa selamat!!" Ujar Astrid dengan sedikit terisak-isak.
"Apa kau tidak mengerti bagaimana sulitnya beradu dimensi melawan hantu yang kuat??" Tanya Ace kepada Astrid, kedua tangannya kini mengepal karena menahan amarah.
"Apa kau mengerti bagaimana rasanya melihat temanmu tertusuk dan mati di depan matamu sendiri?!!" Balas Astrid, ia menatap tajam Ace dengan matanya yang sudah berlinang air mata.
"Tidak ada yang menginginkan jatuhnya korban, tapi kau pasti sudah paham kalau salah satu dari kita pasti akan mati jika melawan hantu legenda!!" Ace yang merasa geram pun mulai meninggikan suaranya.
"Kita bisa mencegahnya kalau kau datang dan ikut bertempur!!" Astrid juga tidak mau kalah, ia juga mulai meninggikan suaranya sekarang.
Cekcok mulut antara mereka berdua pun tidak bisa di hindari lagi, Ace merasa geram kepada Astrid karena menyalahkan dirinya atas kematian Aaron, sedangkan Astrid menyalahkan Ace karena tidak ikut bertarung melawan George Devil sehingga membuat Aaron terbunuh.
"Ace, kau benar-benar tidak berguna!!" Sebuah kalimat yang terdengar sangat menyakitkan tiba-tiba keluar dari mulut Astrid.
"Astrid, aku bisa membunuhmu di sini sekarang juga kalau aku mau!!"
Situasi semakin memanas, Aura-Aura gelap mulai muncul dari tubuh Ace. Kesabaran laki-laki itu hampir habis sekarang, ia merasa kalau Astrid sudah kelewatan kepadanya.
"Ya!! Bunuhlah aku sekarang! Cepat bunuh aku!!" Bukannya meminta maaf, Astrid justru menantang Ace untuk membunuh dirinya sekarang juga.
*Plak...
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi kiri Ace, Astrid menampar wajah Ace untuk yang kedua kalinya. Hal itu pun tentu saja membuat Ace semakin geram, Aura gelap yang muncul dari tubuhnya pun semakin banyak dan kesabarannya sudah habis sekarang.
"Ace, hentikan" sebuah suara yang lemah tiba-tiba terdengar dan mengejutkan Ace.
"Arthur?" Aura gelap dalam tubuh Ace pun seketika menghilang ketika ia melihat Arthur yang sudah bangun dan menatap ke arahnya.
"Arthur? Kau..." Astrid pun ikut tidak percaya melihat Arthur yang sudah sadar.
"Jangan melakukan hal yang bodoh, dan Astrid, jangan salahkan Ace" ucap Arthur dengan nada yang lemah.
Beberapa detik kemudian, Arthur tiba-tiba memejamkan matanya kembali.
"Arthur!!!"