The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
PERTEMUAN YANG TERAKHIR?



"Kau jatuh cinta kepada Clara?!" Tanya Yong Sin yang terkejut bukan main setelah mendengar ucapan Arthur.


"Hehehe tidak aku hanya bercanda, ya sudah aku pergi dulu" Arthur berniat untuk pergi namun lagi-lagi Yong Sin mencegahnya.


"Kau mau pergi lewat mana?" Tanya Yong Sin sembari mencekal lengan Arthur.


"Huh? Tentu saja aku akan melompat dari lubang yang tadi" jawab Arthur dengan ekspresi kebingungan.


"Jangan! Kaki mu bisa patah jika kau langsung melompat" Yong Sin pun menyuruh Arthur untuk minggir dan ia merangkak melewati Arthur.


"Hmm? Tapi tadi kau melompat dan tidak kenapa-kenapa" ujar Arthur yang kebingungan.


"Itu karena aku memang sering melakukannya, jadi otot kakiku sudah lemas" sahut Yong Sin sembari membuka kembali penutup saluran udara.


Ia pun lalu menurunkan seutas tali ke bawah untuk membantu Arthur turun dari saluran udara itu.


"Pakailah tali ini!" Perintah Yong Sin.


"Hoe hoe sudah aku bilang aku tidak bisa merambat lewat tali" ucap Arthur dengan wajah datar.


"Ini tidak akan sulit seperti tadi, kau hanya harus memegangnya dengan kuat dan turun secara perlahan" tutur Yong Sin.


Arthur sebenarnya tidak ingin turun lewat tali karena menurutnya hal itu sangat merepotkan, namun ia juga tidak ada pilihan lain karena ia tak mau kakinya terkilir atau bahkan patah karena melompat dari tempat setinggi itu.


"Begini kan cara memegangnya?" Tanya Arthur ketika memegang tali yang di berikan oleh Yong Sin.


Yong Sin pun mengangguk dan Arthur mulai menurunkan tubuhnya secara perlahan sembari terus memegang tali itu dengan kuat. Arthur mulai melonggarkan pegangannya dan tubuhnya mulai turun secara perlahan-lahan, benar kata Yong Sin, turun menggunakan tali jauh lebih mudah dari pada memanjatnya, dan yang pasti hal itu jauh lebih aman dari pada melompat langsung dari saluran udara.


Setelah mencapai setengah, Arthur memilih untuk langsung melompat karena merasakan panas di kedua telapak tangannya.


"Mudah, tapi menyakitkan" ucap Arthur ketika melihat kedua telapak tangannya yang memerah.


"Sudah, pergilah sekarang sebelum ada orang yang melihat!" Seru Yong Sin sembari menggulung kembali talinya.


"Yaya baiklah, sampai ketemu lagi" ucap Arthur seraya berjalan pergi dari tempat itu.


Yong Sin hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi salam perpisahan dari Arthur.


...----------------...


"Hei Avis, kira-kira kemana perginya Arthur?" Tanya Ace kepada Avis.


"Mmm... Aku juga tidak tahu" jawab Avis.


Saat ini, Ace sedang berada di kamarnya Arthur bersama dengan Avis. Ia awalnya ingin mengunjungi Arthur dan melihat keadaannya namun sayangnya Ace hanya menemukan Avis sendirian yang sedang berada di kamar.


"Kak Ace!" Panggil Avis.


"Iya ada apa?" Sahut Ace yang langsung menoleh ke arah Avis.


"Apa kak Arthur baik-baik saja?" Tanya Avis dengan tatapan sendu ke arah Ace.


Melihat tatapan itu, Ace pun langsung mengelus-elus kepala Avis untuk menenangkannya. Ace paham kalau gadis kecil itu sangat khawatir dengan kondisi Arthur, sebab hanya Arthur lah yang paling di kenal oleh Avis di koloni ini.


"Iya tentu saja, dia sudah sembuh, dia pasti baik-baik saja" ucap Ace sembari tersenyum ke arah Avis.


"Bukan untuk sekarang, tapi untuk ke depannya" Avis mencoba untuk menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


"Untuk ke depannya?" Kini, Ace mulai tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaannya Avis.


Sontak saja Ace langsung kaget bukan main ketika mendengar pertanyaan Avis kembali, bagaimana bisa gadis sekecil itu bisa menanyakan hal seperti itu kepada orang yang lebih tua darinya.


"Avis, soal itu..." Ace tidak tahu harus menjawab apa.


Ace juga paham tentang kutukan yang akan menimpa Arthur, namun ia tak tega mengatakan hal itu kepada Avis. Ia terus berpikir keras bagaimana caranya menjawab pertanyaan itu tanpa harus menyakiti perasaan Avis.


"Mmm... Yah..." Ace masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab.


"Benar?" Avis menatap Ace dengan penuh harapan.


Hal itu pun membuat Ace semakin tak tega untuk menjawab, Ace tidak ingin berbohong kepada Avis namun ia juga tidak ingin membuat perasaan gadis kecil itu terluka kalau ia menjawab dengan jujur.


"Mmm... Ah begini saja, ayo ikut denganku sekarang!" Ace mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Ikut kemana?" Tanya Avis.


"Sudah ayo ikut dulu, kau pasti senang" Ace mencoba meyakinkan Avis untuk ikut dengannya.


"Mmm... Baiklah" sahut Avis.


Ace bernafas lega karena ia bisa keluar dari pertanyaan Avis, Ace juga sangat bersyukur karena Avis bisa di alihkan perhatiannya dengan mudah.


"Bagus! Baiklah ayo kita berangkat sekarang!" Ace pun menggandeng tangan Avis dan berjalan keluar dari kamar Arthur.


Tak lupa Ace menutup pintu kamarnya Arthur agar tidak ada orang lain yang masuk ke sana. Dan setelah itu, Ace langsung berjalan dengan menggandeng Avis di sebelahnya.


"Kak Ace, kita mau kemana?" Tanya Avis yang masih belum mengetahui tujuannya.


"Kita akan mengambil makanan di kantin, setelah itu kita akan ke atap untuk melihat pemandangan yang indah, bagaimana?" Ujar Ace dengan senyuman di wajahnya.


Sebuah senyuman manis pun terbit di wajah Avis setelah ia mendengar tujuan itu, sudah lama sekali ia itu tidak melihat pemandangan luar karena mendiang orang tuanya dulu terlalu takut untuk keluar dari koloni.


"Hmm, iya-iya aku mau!!" Ujar Avis dengan penuh antusias.


"Hehehe, baguslah kalau kau suka" Ace merasa bahagia ketika melihat Avis senang.


Mereka berdua terlihat seperti dua orang saudara sekarang, Ace terlihat sangat cocok bila menjadi kakaknya Avis, tidak salah jika Arthur mempercayakan Avis kepada Ace jika ia jadi pergi dari koloni nanti.


Dan dalam perjalanan, mereka berdua berpapasan dengan Clara yang baru saja keluar dari kantin bersama dengan Fiona dan Astrid yang berjalan di sampingnya.


"Kak Clara!!" Sapa Avis dengan senyuman manisnya.


"Hai Avis!!" Clara langsung berlari dan memeluk tubuh Avis.


"Kau sudah bisa menyapa ku ya, itu bagus sekali!" Clara mengelus-elus kepala Avis dengan perasaan yang sangat senang.


Melihat kejadian itu, Fiona bersama dengan Astrid pun menghampiri mereka dan ikut serta mengelus-elus kepala gadis cilik yang menggemaskan itu.


"Hai Avis! Senang bertemu denganmu" sapa Astrid sembari mengelus-elus kepala Avis.


Avis hanya menatap kedua gadis itu tanpa berkata apa-apa, Avis masih merasa asing dengan Astrid dan Fiona karena jarang bertemu dengan mereka.


"Dia Astrid, dan yang ini Fiona" Clara memperkenalkan kedua temannya kepada Avis.


"Hei kalian!!!" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kencang memanggil ke arah mereka semua.