
Arthur terombang-ambing di dalam black hole milik Stardust, ia tidak bisa melakukan apa-apa, tidak bisa berbicara dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Bahkan Arthur juga merasakan kalau Clara telah terlepas dari tangannya, namun Arthur tidak bisa mencari Clara karena ia tidak bisa melihat apa-apa.
'Ace! Dimana Kau!!' Arthur hanya bisa berteriak dalam hati.
Tak peduli sekeras apapun usaha Arthur untuk berteriak tetap saja suaranya tidak bisa keluar, tubuhnya pun juga terombang-ambing semakin masuk jauh ke dalam black hole.
*grep...
Hingga tiba-tiba, Arthur merasakan sesuatu yang menarik tangannya. Tubuh Arthur di tarik dengan kencang menuju ke sebuah cahaya yang terlihat di kejauhan.
Tubuh Arthur terus di seret hingga memasuki lingkaran bercahaya tersebut. Arthur ingin memberontak namun usahanya sia-sia, tubuhnya seolah-olah tidak mampu untuk melawan sesuatu yang sedang menariknya.
"Hah!!! Ah ya ampun, apa itu tadi" setelah Arthur di tarik masuk ke dalam lingkaran bercahaya tersebut, tubuhnya tiba-tiba terhempas ke sebuah ruangan misterius.
"Huh? Dimana ini?" Arthur terlihat kebingungan ketika melihat keadaan di sekitarnya.
"Kita masih berada di kota mati, namun saat ini kita sedang bersembunyi di salah satu bangunan" ucap Ace secara tiba-tiba.
"Ace?! Apa-apaan dunia hitam tadi!" Arthur yang melihat Ace sedang berdiri santai di belakangnya pun langsung meluapkan emosinya.
Arthur merasa marah akibat Ace yang seenaknya memasukkan Arthur ke dalam kekuatan milik Stardust lagi.
"Bodoh! Bukankah aku sudah bilang kalau tadi adalah black hole!" Timpal Ace dengan nada sama marahnya.
"Kau tahu, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku tadi, hingga Clara... Astaga Clara!!" Arthur langsung merasa panik ketika menyadari kalau ia telah kehilangan Clara.
"Di sana" ujar Ace sembari menunjuk ke belakangnya.
Arthur pun langsung melihat ke arah Ace menunjuk. Disana, ia melihat Clara yang masih pingsan dengan posisi duduk bersandar ke dinding.
"Clara!" Arthur pun dengan sigap langsung menghampiri Clara.
Arthur menepuk-nepuk pundak Clara untuk mencoba menyadarkannya, namun tentu saja usahanya itu sia-sia.
Setelah itu, Arthur melepaskan tasnya dan mengambil botol minumnya, ia ingin memberikan air kepada Clara agar gadis itu cepat siuman.
Ace yang melihat hal itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia baru sadar kalau baru kali ini Arthur melihat kekuatan Angel milik Clara.
"Arthur" panggil Ace sembari memegang bahu Arthur.
Arthur yang mendapatkan panggilan dari Ace pun langsung menoleh ke arahnya "ada apa?" Tanya Arthur.
"Percuma saja, Clara akan bangun dua puluh menit lagi" tutur Ace.
"Dua puluh menit? Memangnya kenapa bisa seperti itu?" Arthur tidak mengerti maksud dari ucapan Ace.
"Setiap Clara mengeluarkan kekuatan dari Angelnya, ia akan pingsan selama tiga puluh menit, itulah konsekuensi yang ia terima dari kekuatan Medusa" tutur Ace, ia menjelaskan kepada Arthur tentang kekuatan dari Medusa, Angel milik Clara.
"Konsekuensi?" Tanya Arthur dengan wajah heran.
"Iya, namun konsekuensi itu masih cukup ringan mengingat betapa kuatnya kekuatan dari Medusa" sambung Ace.
"Kekuatannya? Bukankah kekuatannya menjadikan hantu menjadi batu?" Arthur masih tidak mengerti, ia tidak tahu kalau gadis yang sedang pingsan itu memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.
"Medusa, tidak peduli hantu atau pun manusia, jika sampai ada yang tertarik dengan kecantikannya, maka ia bisa menjadi batu jika Medusa menatap ke arah matanya" Ace menjelaskan secara rinci tentang kekuatan Angel yang dimiliki oleh Clara.
Bola mata Arthur membesar ketika mendengar kalau kekuatan dari Medusa juga bisa berdampak kepada manusia.
"Oh iya bukan itu saja, bahkan hantu legenda pun bisa menjadi batu kalau mereka tertarik dengan kecantikan Medusa".
Disisi lain kota mati, terlihat kelompok lainnya yang terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan. Mereka bertiga baru saja masuk ke dalam kota mati dan berjalan-jalan dengan santai tanpa takut dengan hantu yang menjaga kota terkutuk itu.
"Hei Aaron, dimana hantu legenda bernama George Devil itu? Aku sudah tidak sabar ingin membunuhnya" ucap salah satu perempuan berambut pirang di kelompok tersebut.
"Astrid, apa kau tahu kalau ucapan mu itu bisa saja di dengar oleh George Devil itu?" Timpal satu perempuan lainnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa satu kelompok dengan dua perempuan seperti ini" Aaron, laki-laki berkulit hitam itu terlihat pasrah karena satu kelompok dengan dua perempuan sekaligus.
"Aaron, apa kau meremehkan kami? Aku dan Fiona bisa saja membunuhmu di sini sekarang lo!" Gadis bernama Astrid itu merasa kesal karena Aaron yang terlihat meremehkannya.
"Benar sekali, dewi Athena milikku bisa mengalahkan Angelmu dengan sangat mudah" timpal gadis lainnya yang bernama Fiona.
Aaron kembali diam, ia menyimpan suaranya karena merasa sia-sia saja jika berdebat dengan wanita.
"Kenapa kau diam? Laki-laki itu benar-benar aneh" ujar Astrid setelah melihat Aaron terdiam.
Aaron merasa kesal dan lelah dengan tingkah kedua teman perempuannya itu, sebab mereka berdua terus mengoceh dan berdebat saat dalam perjalanan menuju ke kota mati.
Bahkan Sun Go Kong yang mengantarkan mereka sampai ikut marah karena kesal mendengar ocehan dari kedua gadis itu.
"Hei hei! Ayo coba kita masuk ke dalam sana" ujar Fiona secara tiba-tiba sembari menunjuk ke salah satu gedung.
Aaron dan Astrid pun kompak memandang ke arah gedung yang di tunjuk oleh Fiona tersebut.
"Kau mau memeriksa gedung sebesar itu?" Tanya Aaron.
"Iya, aku rasa kita akan menemukan hantu di sana" jawab Fiona dengan mantap.
"Heh, tapi aku malas sekali jika harus menjelajahi gedung sebesar itu" Astrid menggerutu kesal dengan ide Fiona.
Mendengar ada yang tidak setuju dengan ucapannya, Fiona pun langsung menatap Astrid dengan tatapan tajam.
"Kalau tidak mau maka biar aku dengan Aaron saja yang pergi!" Ketus Fiona.
Astrid pun tidak mau kalah, ia merasa tidak terima dengan perkataan Fiona kepadanya.
"Enak saja! Kalau kau mau pergi ke sana maka pergi saja sendiri!!" Balas Astrid.
Aaron hanya bisa terdiam dan menghela nafasnya ketika melihat kedua temannya itu kembali berdebat. Sungguh, andai saja jika tidak terpaksa Aaron tidak akan mau untuk satu kelompok dengan dua perempuan cerewet itu.
"Oke kita tanya saja pada Aaron, hei Aaron! Bagaimana menurutmu, kita perlu masuk ke dalam sana atau tidak?!" Tanya Astrid di sertai dengan tatapan tajamnya.
Aaron tidak langsung menjawab, ia kembali melihat ke arah gedung besar tersebut. Namun, Aaron merasa terkejut ketika k melihat bayangan manusia yang terlihat di salah satu jendela gedung tersebut.
"Hei, ada orang di sana" ucap Aaron sembari menunjuk ke arah gedung.
"Apa? Apa kau yakin?" Astrid pun ikut terkejut setelah mendengar ucapan Aaron tersebut.
"Heh?! Ayo cepat-cepat kita kesana!!" Tanpa pikir panjang, Fiona langsung berlari menuju ke gedung itu.
Aaron dan Astrid pun kembali di buat pusing karena tingkah dari Fiona tersebut.
"Hei Fiona tunggu kami! Astrid, ayo kita kesana sekarang" ujar Aaron sembari bergegas menyusul Fiona.
"Tch, baiklah!!" Dengan terpaksa, Astrid pun menuruti kemauan dari Fiona untuk masuk ke dalam gedung tersebut.
Mereka bertiga tidak sadar, kalau dari tadi ada sesosok makhluk hitam besar yang mengawasi mereka bertiga dari salah satu jendela gedung.
Hahaha.... Bagus, akan ada tiga lagi manusia yang masuk ke dalam rumahku.