The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
PENOLAKAN?



"Hei hentikan! Kalian berdua!" Clara histeris ketika melihat Arthur mengeluarkan Demon nya.


Semua orang yang melihat kejadian itu hanya melihat dengan diam tanpa ingin ikut campur sama sekali.


"Heh, itu dia Demon milikmu" Roberto tersenyum sinis memandang ke arah Red Devil.


"Majulah, akan aku hancurkan semua perisai milik Angel mu!!" Seru Arthur.


Baik Arthur maupun Roberto sudah bersiap untuk menyerang satu sama lain, mereka tidak peduli lagi kalau tindakan mereka itu bisa saja menghancurkan bangunan yang saat ini mereka tempati.


"Hentikan!!"


Sebuah suara lantang tiba-tiba muncul dari sesosok pria berjas hitam.


"Tuan Joseph?!" Roberto terkejut ketika melihat siapa orang yang datang untuk menghentikannya.


"Syukurlah" Clara mengelap keringatnya yang bercucuran membasahi wajahnya.


"Apa yang kalian berdua lakukan?!!" Bentak Joseph kepada Arthur dan Roberto.


"Tuan, kenapa anda menyetujui dia untuk bergabung dengan koloni kita?!" Seru Roberto sembari menunjuk ke arah Arthur.


"Apa masalahnya?" Tanya Joseph balik.


"Dia adalah manusia yang memiliki Demon, dia akan membawa kesialan bagi koloni kita!" Seru Roberto.


Joseph pun menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak menyangka kalau konflik yang terjadi saat ini hanya berasal dari alasan konyol itu.


"Kau berada di sini tapi kenapa kau diam saja, Joker!!" Seru Arthur kepada seorang pria yang duduk dan tersenyum.


"Hihi, jujur saja aku ingin melihat Demon anak itu bertarung" ucap Joker dengan cekikikan.


Joseph pun merasa geram mendengar jawaban dari Joker tersebut, ia mengepalkan kedua tangannya seolah ingin menghajar pria itu.


"JANGAN BERCANDA! KITA SEBAGAI PARA KETUA HARUS BISA BERSIKAP DEWASA, APA KAU PAHAM? JOKER!!" Bentar Joseph.


Semua orang yang mendengar bentakan itupun hanya bisa menunduk dan terdiam, bahkan Arthur pun sampai gemetaran karena bentakan dari Joseph tersebut.


"Hmm, iya-iya maafkan aku" bukannya merasa takut, Joker justru tersenyum dan meminta maaf layaknya anak kecil.


"Sudahlah! Jika sampai aku mendengar ada keributan lagi..." Joseph tidak meneruskan kalimatnya dan lebih memilih untuk pergi.


Semua orang menelan ludahnya ketika melihat Joseph pergi dengan amarah yang menyelimuti hatinya.


"Arthur!" Clara menghampiri Arthur yang sedang terdiam.


"Ah, iya?" Arthur tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah Roberto yang sedang berdiri di depannya.


"Kau beruntung bocah! Jika saja tuan Joseph tidak menghalangi, kau pasti sudah mati sekarang!" Geram Roberto.


"Hei sudahlah! Kenapa kau sampai begitunya!!" Bentak Clara.


"Dia benar Clara! Orang yang memiliki Demon sepertinya tidak boleh bergabung dengan kita!" Timpal salah satu laki-laki.


"Aaron? Kenapa kau mendukungnya?!"


"Heh, jadi kalian semua membenciku?" Arthur menatap ke arah meja, tempat semua remaja sedang berkumpul dan memandangnya.


"Tentu saja!! Manusia yang memiliki kekuatan Demon hanyalah sebuah legenda belaka!!"


"Orang tuaku bilang jika ada manusia yang memiliki Demon maka akan ada kesialan yang menimpa orang-orang di sekitarnya" tutur Roberto.


Arthur mulai merasa sedikit geram, ia terus menatap balik kepada semua orang yang memandangnya. Arthur tidak peduli lagi, bila perlu ia akan mengeluarkan Red Devilnya untuk membunuh semua orang yang tidak suka kepadanya.


"Hei Arthur, ayo ambil makanan dan kita makan di tempat lain saja" Clara berusaha menarik lengan Arthur untuk mengajaknya pergi.


Clara merasa khawatir ketika melihat Arthur melakukan kontak mata dengan semua anggota koloni yang memiliki kekuatan Angel.


"Lihat! Bukan aku saja yang membencimu" tutur Roberto, ia seolah-olah menunjukkan kepada Arthur kalau ia tidak di terima di sini.


"Arthur ayo!" Clara menarik paksa lengan Arthur dan akhirnya berhasil membuat Arthur luluh.


"Sampai jumpa, pecundang!!"


"Kau sangat aneh, kau tidak di terima disini!!"


"Laki-laki aneh!!"


Namun, entah kenapa hati Arthur terasa sangat panas ketika ia mendengar suara-suara hinaan itu. Padahal Arthur masih bisa menahan emosinya ketika ia di hina oleh orang-orang di koloninya dahulu. Namun, saat ini, Arthur benar-benar hampir tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Mereka semua benar-benar serius membenci Arthur.


Sungguh, ini adalah hari pertama Arthur tinggal bersama koloni itu dan Arthur sudah menerima perlakuan yang tidak mengenakkan seperti itu.


"Sudah, jangan kau dengarkan" Clara berusaha untuk menenangkan Arthur.


Beruntungnya, ada Clara yang bisa menenangkan Arthur. Kalau tidak, mungkin saja sudah ada sebuah pertarungan yang terjadi sekarang.


"Hmm tidak apa-apa, aku sudah sering mendengar kata-kata itu" ucap Arthur dengan senyumannya yang dipaksakan.


Clara menyadari kalau senyuman itu hanyalah senyuman palsu, namun ia tidak ingin mempermasalahkannya lebih lanjut karena tidak ingin membuat Arthur tersinggung.


"Jadi, kita akan makan dimana?" Tanya Arthur setelah mendapatkan makanannya.


"Umm, bagaimana kalau kita makan di luar sana saja?" Clara menunjuk ke arah luar hotel.


"Hmm, baiklah" Arthur pun setuju dan berjalan keluar bersama dengan Clara.


Sewaktu mereka melewati orang-orang yang sarapan tadi, Arthur dan Clara kembali mendengar cacian dan makian yang mengarah ke Arthur.


"Pergi!! Pergi sana!!"


"Kami tidak butuh pengguna Demon seperti mu!!"


"DIAM!!"


Seorang remaja seumuran dengan Arthur tiba-tiba berteriak dan membuat semua orang yang memaki Arthur terdiam.


"Ace, apa yang kau lakukan?!"


"Apa kau berusaha untuk membela anak itu?!"


Laki-laki bernama Ace itu hanya tersenyum kecil dan berkata "kalian berisik sekali, orang rendahan seperti kalian tidak berhak memutuskan sesuatu!!".


"Ace sialan! Berani-beraninya kau berkata seperti itu kepada kami!!" Roberto tidak terima Ace memanggilnya orang rendahan.


Arthur hanya memperhatikan orang yang bernama Ace itu yang sedang cekcok dengan temannya, ia tahu kalau Ace sedang membelanya namun ia tidak ingin ikut campur lagi.


"Umm Arthur, ayo kita pergi saja" ajak Clara.


Arthur mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari hotel, meninggalkan Ace yang sedang berdebat dengan Roberto dan yang lainnya.


Clara mengajak Arthur makan di dekat pagar hotel, mereka berdua pun mengambil dua buah kursi dan duduk di atasnya.


"Clara, siapa laki-laki yang membelaku tadi?" Tanya Arthur.


"Hmm, dia bernama Ace" jawab Clara dengan wajah yang murung.


Arthur pun merasa heran mengapa wajah Clara yang ceria tiba-tiba berubah menjadi murung.


"Clara? Kenapa kau jadi murung begitu?" Tanya Arthur sembari mulai menyantap makanannya.


"Umm, tidak apa-apa" Clara berusaha untuk tersenyum kembali agar Arthur tidak curiga.


Arthur tau Clara sedang berbohong kepadanya dan Arthur tau ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.


Namun, Arthur tidak ingin mencampuri rahasia orang lain. Ia membiarkan Clara menyantap makanannya tanpa berbicara apa-apa lagi.


"Umm, Arthur" panggil Clara di sela-sela waktu makan mereka.


"Hmm?" Arthur menoleh dengan makanan yang masih ia kunyah di mulutnya.


"Apa mahkluk merah yang kau keluarkan tadi itu benar-benar Demon?" Tanya Clara dengan suara ragu.


Arthur menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Entahlah, setahuku dia adalah Angel, tapi tuan Fergie bilang kalau dia adalah Demon" jawab Arthur.


"Apa dia sangat kuat?" Tanya Clara kembali.


"Hmm, cukup kuat, aku beberapa kali membunuh hantu yang cukup kuat menggunakan Red Devilku" gumam Arthur.