The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
BERSAMA-SAMA



"Pengabdi hantu?! Siapa dia?" Tanya Arthur dengan raut wajah tak percaya.


"Hmm itulah masalahnya, aku juga tidak tahu pasti" jawab Clara.


"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu jika kau sendiri tidak tahu siapa orangnya?" Arthur tentunya tidak paham dengan ucapan Clara.


Sebab, bagaimana bisa Clara tahu kalau ada seorang penghianat di dalam koloni jika ia sendiri tidak tahu siapa orangnya.


"Sulit untuk mengatakannya kepadamu, tapi percayalah! Ada seorang pengabdi hantu di dalam koloni kita" Clara tetap berusaha meyakinkan Arthur agar mau percaya pada ucapannya.


"Kau tidak boleh pergi Arthur, kau harus tetap di dalam koloni, kita harus menghadapi Vampiro bersama-sama" sambung Clara.


Tekad Arthur sempat goyah ketika ia mendengar ucapan Clara tersebut, bahkan Arthur juga sempat merasa bimbang untuk pergi atau tidak dari koloninya sekarang. Namun, Arthur langsung menepis rasa ragu nya itu dengan cepat dan kembali menguatkan tekadnya.


"Tidak, keputusan ku sudah bulat, aku akan pergi, dan aku mohon kepadamu jagalah Avis untuk ku" pinta Arthur sembari memegang kedua tangan Clara.


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu kepadaku?! Satu-satunya orang yang di kenal oleh Avis hanyalah dirimu seorang, dan kau tega meninggalkannya?!" Protes Clara dengan keras.


"Ya, aku tahu itu akan berat untuknya, namun ini semua demi era yang baru, aku tidak akan membiarkan generasi mendatang akan merasakan kutukan yang mengerikan ini" ucap Arthur.


Meskipun sudah bicara panjang lebar, namun Clara tetap tidak mau membiarkan Arthur pergi. Bahkan ia memegang erat lengan Arthur dan enggan untuk melepasnya.


"Biarkan aku pergi" Arthur mencoba untuk melepaskan tangan Clara dari lengannya.


"Malam satu suro akan tiba sebentar lagi!! Para hantu akan bertambah kuat ketika malam itu datang, kau seharusnya pergi setelah malam satu suro berakhir!" Seru Clara tepat di depan wajah Arthur.


"Sudah tidak ada waktu!!" Balas Arthur.


Mereka berdua langsung terdiam setelah saling berteriak satu sama lain, Arthur bisa merasakan tangan Clara yang bergetar setelah ia membentaknya.


"Biarkan aku pergi, untuk kali ini saja, aku mohon kepadamu" ucap Arthur dengan nada yang pelan.


Clara tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun, ia hanya menanggapinya dengan cara menggelengkan kepalanya. Clara masih belum merelakan Arthur untuk pergi.


"Clara, pengorbanan memang perlu di lakukan, misi kita adalah mengakhiri kutukan dari para hantu ini untuk selama-lamanya, lihatlah ke sekeliling kita, bumi kita benar-benar tidak layak untuk di huni karena banyak hantu yang berkeliaran mencari mangsa, dan tidak semua manusia memiliki kekuatan seperti kita, mereka tidak bisa membela diri mereka ketika bertemu dengan hantu, dan pada akhirnya mereka semua..." Arthur menggantung kalimatnya.


Ia mencoba untuk membuat Clara mengerti dengan maksud dari perbuatannya, Arthur melakukan ini demi kebaikan semua orang dan masa depan umat manusia. Sekarang, bagi Arthur waktu adalah harta yang paling berharga, entah kapan kutukan itu akan menimpa Arthur nanti. Namun yang pasti, kutukan itu pasti akan datang dan menimpa Arthur.


"Aku ingin, generasi kita adalah generasi terakhir yang memerangi para hantu itu, walaupun nyawaku jadi taruhannya, aku akan melakukannya dengan senang hati" sambung Arthur kembali.


"Kau akan kembali kan?" Tanya Clara secara tiba-tiba.


"Kembali?" Arthur mencoba untuk memahami kata-kata yang keluar dari mulut Clara.


"Setelah kau melawan Vampiro nanti, kau akan kembali ke koloni kan?" Jelas Clara.


Raut wajah Arthur seketika langsung berubah setelah ia mendengar pertanyaan itu, Arthur memang bisa saja kembali lagi ke koloninya jika ia berhasil menang melawan Vampiro. Namun, Arthur tetap berpikir dua kali jika ia ingin kembali lagi ke koloninya nanti.


Pasalnya, Arthur sendiri tidak tahu kapan Red Devilnya akan mengambil alih tubuhnya. Dan Arthur khawatir jika nanti dirinya akan hilang kendali dan membunuh semua orang yang ada di koloni.


"Tidak Clara, aku tidak akan pernah kembali lagi" ujar Arthur dengan jujur.


"Hah?! Apa katamu?! Tidak boleh!!" Arthur tentu saja langsung menolak ucapan Clara tersebut.


"Harus boleh! Aku tidak mau tahu!!" Clara bersikeras ingin ikut dengan Arthur.


"Tidak bisa Clara! Kembalilah ke koloni sekarang sebelum harinya bertambah gelap!!" Pinta Arthur kepada Clara.


Dan di saat mereka berdua sibuk berdebat, tiba-tiba muncul sebuah lubang hitam yang terbentuk tepat di samping mereka. Arthur dan Clara sama-sama memperhatikan lubang hitam tersebut, mereka berdua mengira kalau lubang hitam itu di buat oleh Ace. Namun tidak ada orang yang keluar dari dalam lubang hitam itu.


"Ace? Kau kah itu?" Clara sedikit mendekati black hole tersebut dan mencoba memanggil Ace untuk keluar.


"Clara!!" Arthur tiba-tiba langsung menarik tubuh Clara.


"Apa?!" Tanya Clara yang merasa kaget dengan tingkah Arthur.


"Ini... Ini bukan black hole milik Ace!" Ucap Arthur dengan penuh keyakinan.


"Hah? Kalau bukan milik Ace, lalu milik siapa lagi?!" Tanya Clara yang merasa kebingungan.


"Entahlah aku juga tidak tahu, yang pasti ayo cepat pergi dari sini!!" Arthur memegang tangan Clara dan menyeretnya untuk pergi menjauh dari black hole tersebut.


Namun, betapa kagetnya mereka berdua ketika menyadari kalau mereka sudah berpindah tempat secara tiba-tiba. Arthur dan Clara terlalu fokus dengan black hole itu sehingga mereka berdua tidak menyadari kalau mereka telah berpindah dimensi. Mereka berdua pindah ke sebuah hutan yang sangat lebat, langit yang semula masih berwarna jingga kini sudah berubah menjadi hitam, pertanda jika hari sudah malam.


"Hah? Kita ada dimana?!" Clara langsung panik ketika menyadari kalau ia sudah berpindah dimensi.


"Sial! Jadi black hole itu hanyalah sebuah pengalihan" ucap Arthur ketika menyadari hal itu.


"Arthur, kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Clara yang kebingungan harus melakukan apa.


Mendengar pertanyaan itu, Arthur pun menyuruh Clara untuk tetap tenang dan tidak panik. Sebab kepanikan hanya akan mempersulit diri sendiri dan mereka tidak akan bisa menemukan jalan keluar.


"Tenanglah, ayo kita cari jalan keluarnya bersama-sama, dan bersiaplah untuk memanggil Angelmu setiap saat" ujar Arthur.


"Baik".


Mereka berdua pun mulai berjalan bersama menyusuri hutan untuk mencari jalan keluar. Arthur dan Clara juga tetap bersiaga karena mereka tahu kalau ini adalah ulah sesosok hantu. Namun mereka berdua tidak tahu hantu apa yang telah memindahkan mereka kesini.


"Tunggu dulu!" Arthur tiba-tiba menyuruh Clara untuk berhenti.


"Ada apa?" Tanya Clara yang merasa penasaran.


Arthur tidak menjawab dan langsung berjalan ke arah semak-semak, ia pun menyingkap semak-semak itu dan terlihatlah sebuah kastil yang berdiri dengan megah di pinggiran hutan.


"Itu kastil apa?" Tanya Arthur sembari menunjuk ke kastil tersebut.