The Legendary Ghost Curse

The Legendary Ghost Curse
PERINTAH MUTLAK



"Ya, tapi kau sama sekali tidak membantu Arthur ketika ia melawan George Devil!" Balas Ace.


"Lalu? Apa kau juga membantunya?" Ucapan Roberto itu langsung membuat Arthur seketika terdiam.


Arthur sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah Roberto membalik ucapannya, hal itulah yang membuat amarahnya membesar kembali. Ace benar-benar ingin menghabisi Roberto di sini sekarang juga, namun tentu saja Fergie tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"APA KALIAN BERDUA TIDAK MENGANGGAP KEBERADAAN KU DI SINI?!!" Bentak Fergie secara tiba-tiba.


Hal itu pun tentu saja membuat Ace dan Roberto terkejut, mereka seketika langsung terdiam mematung setelah Fergie membentak mereka berdua.


"Ingat!! Jangan sekali-kali berani menentang perintah dariku!! Jika aku bilang tidak ada yang boleh pergi maka tidak boleh ada yang menentangnya!!" Tegas Fergie.


Nampaknya, ketua koloni itu benar-benar sudah habis kesabaran menghadapi Roberto yang keras kepala. Alhasil, Fergie pun terpaksa membentaknya agar situasi tidak semakin parah.


"Maafkan saya, tuan Fergie" ucap Ace sembari menunduk.


Ace meminta maaf kepada Fergie atas kesalahannya, sedangkan Roberto tetap terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Keluar dari ruangan ini sekarang juga!!" Perintah Fergie kepada dua orang remaja itu.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Ace dan Roberto pun langsung berjalan berdua keluar dari ruangan itu. Setelah kedua anggotanya itu keluar, Fergie pun langsung duduk di kursinya sembari memijit pelipisnya.


"Ya Tuhan, jangan kau biarkan kutukan itu menjadi kenyataan" ucap Fergie ketika memijit pelipisnya.


...----------------...


Saat ini, Arthur dan Clara sedang berjalan-jalan bersama di luar hotel koloninya. Mereka berdua memutuskan untuk mencari angin segar sembari melepaskan luka di pikiran mereka.


"Clara, apa Medusa mu itu tidak bisa menyembuhkan luka jahitan ku ini secara instan?" Tanya Arthur kepada Clara yang berada di sampingnya.


"Apa?? Tentu saja tidak! Medusa ku tidak bisa melakukan itu!" Sahut Clara.


"Tapi... Bukankah ular dari rambutnya itu bisa membuat penawar racun untuk George Devil?" Tanya Ace kembali.


"Iya, tapi Medusa ku tidak bisa mengobati lukamu secara instan!" Timpal Clara.


Ucapan Clara itu hanyalah sebuah kebohongan semata. Sebenarnya, Medusa miliknya bisa mengobati luka apapun secara instan, namun Clara harus kehilangan kesadaran setelah ia melakukannya.


Posisi Clara dalam koloni ini bisa di bilang sebagai healer, dengan cara menggigit kan ular milik Medusa secara langsung ke luka, maka luka itu bisa langsung sembuh dalam sekejap mata. Bisa yang di miliki oleh ular di rambut Medusa bisa menyembuhkan luka apapun, namun dengan konsekuensi Clara akan pingsan setelah melakukannya.


Dan saat ini, Clara terpaksa berbohong kepada Arthur tentang kemampuannya itu karena ia tahu Arthur akan memintanya untuk menyembuhkannya jika ia tahu tentang kemampuan itu.


Clara tidak ingin Arthur ikut bertempur secepat ini, ia ingin Arthur beristirahat terlebih dahulu sebelum bertempur melawan hantu legenda ke 2, Scarecrow. Itulah alasannya ia berbohong kepada Arthur sekarang.


"Heh, padahal aku ingin cepat-cepat sembuh supaya pertempuran melawan Scarecrow bisa di mulai secepat mungkin" ujar Arthur dengan raut wajah kecewa.


"Beristirahatlah sejenak! Kau itu baru saja bertarung sendirian melawan George Devil!!" Tegas Clara, ia benar-benar merasa gemas kepada Arthur karena selalu ingin bertarung lagi.


"Arthur, kau melihat Aaron mati di depan matamu sendiri, apa kau tidak trauma?" Tanya Clara balik.


Setelah mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Clara, Arthur pun seketika terdiam. Ia nampak merenung dan berpikir kalau ucapan Clara itu ada benarnya. Arthur baru saja melihat salah satu temannya mati di depan matanya sendiri tapi ia tidak merasa sedih ataupun trauma.


"Kau benar, mungkin karena aku belum terlalu akrab dengan Aaron makanya aku tidak merasa trauma" ujar Arthur.


"Hah? Apa kau perlu akrab dengan seseorang dulu baru bisa merasakan sedih atas kematiannya?" Tanya Clara.


"Hmm... Mungkin iya" sahut Arthur seolah tanpa dosa.


"Arthur!! Kau itu tidak punya hati atau bagaimana?! Bagaimana bisa temanmu mati di depan matamu tapi kau tidak merasa sedih sama sekali?! Lalu, jika nanti aku mati apa kau juga tidak merasa sedih?" Clara benar-benar tidak menyangka kalau Arthur akan berkata seperti itu.


"Hmm, maafkan aku, aku memang merasa sedih ketika melihat pedang George Devil menembus tubuh Aaron, tapi... Entah kenapa semenjak aku melihat kedua orang tuaku mati di depan mataku sendiri, aku jadi terbiasa ketika melihat kematian" tutur Arthur.


Clara pun seketika di buat tertegun setelah mendengar ucapan Arthur tersebut, ia sedari awal memang tidak menyadari bagaimana keadaan orang tua Arthur. Clara tidak pernah bertanya kepadanya dan Arthur pun juga tidak pernah menceritakan tentang orang tuanya kepada Clara.


"Kau... Melihat kedua orang tuamu mati di depan matamu sendiri?" Clara tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia bertanya kepada Arthur dengan raut wajah tak percaya.


"Iya, aku juga hampir di bunuh waktu itu tapi... Entah kenapa hantu itu tiba-tiba pergi setelah aku berteriak" jawab Arthur.


Clara benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, ia baru saja mendengar sedikit dari kisah tentang masa lalunya Arthur. Dan Clara tidak pernah menyangka kalau seorang Arthur memiliki masa lalu yang kelam seperti itu.


"Bagaimana... Bagaimana kau bisa hidup setelah melihat kedua orang tuamu mati di hadapanmu sendiri?!" Tanya Clara.


"Hmm, jujur saja aku hampir putus asa waktu itu, aku masih berumur 15 tahun dan harus hidup sebatang kara, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain orang tuaku, aku hampir mati kelaparan sebelum akhirnya tuan Wilson menemukanku dan mengajaknya ke koloninya" Arthur kembali menceritakan tentang masa lalunya kepada Clara.


"Wilson?!!" Ucap Clara secara tiba-tiba.


"Hmm, iya nama ketua koloni ku yang dulu adalah tuan Wilson, memangnya ada apa? Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu?" Tanya Arthur.


"Wilson? Nama ketua koloni mu yang dulu adalah Wilson??" Tanya Clara dengan wajah tak percaya.


"Iya namanya Wilson, ada apa? Kau mengenalnya?" Arthur merasa heran dengan tingkah Clara tersebut, ia tidak mengerti mengapa Clara tiba-tiba berubah sikap seperti itu.


Clara tidak langsung menjawab pertanyaan dari Arthur tersebut, secara tiba-tiba, kakinya tiba-tiba melemah dan Clara pun langsung jatuh terduduk di tanah.


Arthur yang melihat hal itu pun langsung merasa panik, ia tidak tahu kenapa Clara tiba-tiba terduduk lemas seperti itu.


"Hei Clara! Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Arthur dengan wajah khawatirnya.


Clara pun pelan-pelan menolehkan kepalanya ke arah Arthur, dan Arthur lagi lagi di buat terkejut ketika melihat Clara yang sudah meneteskan air mata.


"Arthur, nama ayahku adalah Wilson".