
Aaron, Astrid dan Fiona berlari masuk ke dalam gedung seram itu tanpa rasa takut. Fiona yang sedari awal memang ingin masuk pun berada di depan, gadis itu terlihat sangat bersemangat untuk menjelajahi gedung tersebut.
Mereka bertiga telah sampai di halaman gedung, nampak sekali aura menyeramkan keluar saat mereka bertiga berdiri dan memandang ke arah gedung.
"Hehe, aku jamin kita akan menemukan banyak hantu di dalam nanti" ujar Fiona dengan penuh semangat.
"Hei! Seharusnya kita menyimpan tenaga untuk melawan George Devil!!" Bentak Astrid.
Gadis berambut pirang itu tetap kekeuh tidak setuju dengan rencana Fiona. Menurutnya, lebih baik mereka menyimpan tenaga dan energi mereka untuk melawan George Devil.
"Sudahlah, lagi pula dia kan hantu legenda yang paling lemah, jadi kita pasti bisa mengatasinya" Fiona tidak peduli dengan bentakan dari Astrid dan membalasnya dengan cibiran.
"Ya ampun ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat!" Aaron menyela pembicaraan antara Astrid dan Fiona sebelum terjadi perdebatan yang lebih besar.
"Bodoh! Apa kau lupa nasehat dari tuan Fergie? Kita tidak boleh meremehkan kekuatan hantu legenda walaupun yang paling lemah sekalipun!" Astrid mulai terpancing emosi setelah mendengar Fiona meremehkan kekuatan George Devil.
Aaron pun langsung memilih untuk masuk duluan ke dalam gedung, ia tidak ingin mendengar perdebatan antara dua gadis itu lagi.
"Hei Aaron tunggu!" Fiona bergegas ikut masuk ke dalam gedung tanpa menghiraukan Astrid yang terus mengoceh.
"Jangan pergi seenaknya!!" Astrid semakin merasa geram karena di tinggal oleh kedua temannya, mau tidak mau ia pun harus ikut masuk ke dalam sekarang.
Ketiga remaja itu saat ini kembali berjalan bersama, mereka berjalan secara berdampingan untuk menyusuri setiap lorong gedung tua itu.
Tidak ada apa-apa yang terjadi, mereka bertiga berjalan dengan santai tanpa ada gangguan-gangguan dari hantu yang menghuni gedung tua itu.
"Ya ampun terlalu lama! Ayo kita berpencar saja!" Ujar Fiona secara tiba-tiba.
Namun, idenya itu seketika langsung di tentang oleh Astrid.
"Tidak! Titik!" Astrid bersikeras tidak setuju dengan ide Fiona.
"Benar, terlalu berbahaya jika kita sampai terpisah, kita tidak tahu hantu apa yang menghuni gedung ini" timpal Aaron, laki-laki itu kini memilih untuk mendukung Astrid.
Melihat idenya di tolak mentah-mentah, Fiona pun merasa kesal dan tidak terima. Ia merasa kalau kedua temannya itu terlalu penakut dan tidak yakin dengan kekuatan Angelnya.
"Huh, ya sudah kalau begitu, kalian berjalan berdua saja, aku ingin mencari hantu itu sendiri!!" Ketus Fiona.
Gadis cantik bersurai hitam itu benar-benar sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran dari temannya.
"Ya sudah! Sana pergi!!" Astrid mempersilahkan Fiona untuk pergi sendirian.
Namun tentu saja Aaron menolaknya, ia tidak ingin berpisah dengan satu temannya karena tempat yang mereka pijak saat ini adalah tempat yang sangat berbahaya.
"Jangan! Fiona jangan lakukan itu!" Tegas Aaron sembari memegang lengan Fiona.
Namun, Fiona adalah Fiona, ia adalah gadis yang kerasa kepala sedari kecil. Ia tidak mau mendengarkan ucapan kedua temannya dan tetap kekeuh ingin berpencar.
"Biarkan aku pergi! Aku ingin membunuh semua hantu di kota terkutuk ini!" Fiona memberontak dan berhasil melepaskan genggaman tangan Aaron.
Setelah berhasil melepaskan tangannya, Fiona pun berjalan pergi meninggalkan Aaron dan Astrid. Ia melangkahkan kakinya menjauh dari kedua teman satu kelompoknya itu.
"Hei Fiona!!" Aaron berusaha untuk menyusul Fiona namun Astrid mencegahnya.
"Biarkan saja, selama dia tidak bertemu dengan George Devil aku yakin dia akan baik baik saja" ujar Astrid.
...----------------...
"Hei Ace, kau dengar suara-suara tadi? Suaranya sangat mirip dengan suara manusia" ujar Arthur, ia merasa kalau baru saja mendengar suara manusia.
"Iya, entah itu suara manusia atau hantu, yang pasti suara tadi berasal dari lantai bawah gedung ini" timpal Ace.
Mereka berdua sama-sama mendengar suara manusia yang berasal dari lantai bawah. Ya, suara yang mereka dengar adalah suara dari kelompoknya Aaron.
Dan bayangan manusia yang Aaron lihat tadi adalah Ace yang sedang menyisir ruangan-ruangan yang berada di gedung tersebut.
Biarkan aku pergi!! Aku ingin membunuh semua hantu yang berada di kota terkutuk ini!
Teriakan yang keluar dari mulut Fiona ternyata sampai terdengar ke telinga Arthur dan Ace. Mereka berdua juga merasa kaget setelah mendengarkan kata-kata yang terdengar dari teriakan tersebut.
"Ace, itu murni suara manusia" ujar Arthur setelah mendengarkan teriakan Fiona.
"Mungkin saja itu kelompok yang lain, aku akan memeriksanya, jagalah Clara di sini" sahut Ace sembari bangkit dari duduknya.
"Hmm? Bukankah kita berangkat dengan rute yang terpisah dengan kelompok lainnya?" Tanya Arthur yang merasa heran karena bisa bertemu dengan kelompok yang lain.
"Apa kau lupa? Aku memasukkan mu ke dalam black hole, kita sudah berpindah cukup jauh dari tempat kita melawan Jersey Devil tadi" timpal Ace.
"Eh? Jadi black hole mu itu adalah portal dimensi?" Tanya Arthur kembali.
"Nanti saja aku jelaskan, sekarang aku ingin melihat kelompok itu" Ace pun melangkahkan kakinya menuju tangga untuk turun ke bawah.
Kini, hanya tersisa Arthur sendirian yang sedang menjaga Clara. Gadis itu masih pingsan dan belum sadar hingga saat ini.
Sekarang, Arthur pun terpaksa harus menjaga Clara sampai gadis itu siuman. Arthur yang kini sendirian pun hanya bisa berharap tidak ada hantu yang datang menyerangnya.
Karena mustahil bagi Arthur untuk bertarung melawan hantu sembari menjaga Clara yang masih pingsan, apalagi jika hantu yang datang adalah hantu yang kuat.
"Hmm, sampai kapan kau akan pingsan?" Arthur bergumam kepada Clara yang sedang tidak sadarkan diri.
Click... Click...
Hanya suara tetesan air yang bisa terdengar, hening dan sunyi adalah hal yang di rasakan oleh Arthur sekarang.
Karena tidak ada teman untuk mengobrol, Arthur pun memilih untuk memejamkan matanya sembari bersandar pada dinding.
"Red Devil"
Tanpa ada angin ataupun hujan, Arthur tiba-tiba memanggil Angelnya, nampaknya, ia menyadari kalau ada bahaya yang sedang mengintai dirinya dan Clara.
"Keluarlah, aku tahu kau disana" ucap Arthur sembari membuka matanya.
Hahahaha....
Sesosok makhluk hitam membawa pedang tiba-tiba muncul dari kegelapan, makhluk itu terlihat tidak memiliki kaki dan melayang di udara.
Kau adalah anak yang di maksud oleh tuan George, anak yang memiliki kekuatan Demon...
Hantu itu berkata dengan suara yang menggema, Arthur terus menatap tajam ke arah hantu itu tanpa berkedip sedikitpun, ia sama sekali tidak memperlihatkan rasa takutnya.
"Sudah aku duga ada yang mengawasi aku semenjak tadi, tapi kau tidak mau menyerang karena ada temanku, kau tidak bisa melawan kami berdua kan?!" Seru Arthur kepada hantu tersebut.
Tuan George hanya memerintahkan aku untuk menangkap mu, bukan temanmu...
Hantu itu sudah bersiap dengan pedangnya. Arthur pun juga tidak mau kalah, Red Devil di belakangnya juga sudah siap dengan trisulanya.
Perlahan-lahan, Arthur melangkah maju untuk menjauh dari Clara. Ia tidak ingin gadis itu terkena efek dari pertarungannya nanti.
"Baiklah, ayo kita mulai sekarang!!" Seru Arthur dengan senyuman menyeringai di wajahnya.