
"Yo Arthur! Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" Ace datang mengunjungi Arthur di kamarnya.
"Hmm, aku baik-baik saja!" Sahut Arthur yang masih terbaring di atas kasurnya.
Setelah menyapa Arthur, Ace pun pergi menghampiri Avis yang sedang asyik duduk sembari membaca buku di samping Arthur. Clara baru pergi dari kamar itu dan sekarang hanya tersisa Ace dan Avis saja yang sedang menjaga Arthur.
"Hai Avis" ujar Ace seraya mengelus-elus rambut Avis.
"Oh hai kak..." Avis nampak kebingungan ketika melihat Ace.
"Namanya Ace" ujar Arthur yang tahu kalau Avis belum mengenal Ace.
"Emm, hai kak Ace!" Avis pun meneruskan ucapannya yang menggantung.
"Kau sedang apa?" Tanya Ace dengan senyuman di wajahnya.
Arthur yang melihat wajah Ace tersenyum pun langsung melongo, baru kali ini ia melihat Ace akrab dengan anak kecil seperti Avis.
"Sedang membaca buku" jawab Avis.
"Baiklah, belajarlah dengan giat!" Ucap Ace seraya mengelus rambut Avis kembali.
Avis pun mengangguk dan langsung meneruskan bacaannya kembali. Setelah itu, Ace beralih pada Arthur yang sedang terbaring di kasurnya.
"Dia sangat lucu" ujar Ace sembari menunjuk Avis.
"Heh, ternyata kau juga suka anak kecil" sahut Arthur.
"Semua orang pasti suka anak kecil, hanya orang gila yang membenci mereka" timpal Ace.
"Oh iya, bagaimana obrolan mu dengan Tuan Fergie tadi?" Tanya Arthur.
Mendengar pertanyaan itu, Ace pun langsung mengambil sebuah bangku dan duduk di samping Arthur. Nampaknya, ada hal yang cukup penting yang ingin Ace sampaikan kepada Arthur.
"Itulah yang ingin aku bicarakan kepadamu, tuan Fergie benar-benar sangat kaget ketika aku berkata kalau Venus datang ke Curse Field" ujar Ace.
Arthur pun bangun dan menyandarkan punggungnya ke tembok, ia tidak ingin tiduran dengan santai saat membicarakan sesuatu hal yang penting seperti ini.
"Tentu saja, tuan Fergie juga pernah bertemu dengan Venus, dan ia juga tahu betapa kuatnya hantu legenda itu" sahut Venus.
"Kita hanya harus mengalahkan 3 hantu legenda lagi, setelah itu para ketua akan ikut turun bertempur bersama kita" tutur Ace.
"3 hantu legenda lagi?" Tanya Arthur dengan raut wajah kebingungan.
"Ya, Vampiro hantu legenda ke 3, Albert hantu legenda ke 4, dan Annabelle hantu legenda ke 5" jelas Ace.
"Kalau kita sudah mengalahkan mereka maka para ketua akan membantu kita untuk melawan hantu legenda nomor 6 dan seterusnya" sambung Ace kembali.
Arthur tertawa kecil menanggapi penjelasan dari Ace itu, entah apa yang membuatnya bisa tertawa seperti itu di saat Ace menjelaskan hal itu kepadanya.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Ace yang kebingungan dengan sikap Arthur.
"Tidak, aku hanya ingin tertawa saja" jawab Arthur.
"Arthur, kita akan di untungkan jika para ketua ikut membantu kita dalam pertempuran" ujar Ace kembali.
"Tidak Ace, jika memang ketua memutuskan untuk ikut bertempur maka lawan kita benar-benar hantu yang sangat kuat!" Sanggah Arthur.
"Berjuang sendirian?" Tanya Arthur.
"Kau tahu kan kita selalu terpecah ketika melawan hantu legenda? Padahal kita bisa saja meminimalisir jumlah korban jika kita semua bisa bekerja sama" tutur Ace.
"Kita memang memiliki tujuan yang sama, namun kita tidak memiliki mental yang sama, hanya beberapa orang saja yang benar-benar tak punya rasa takut" ujar Arthur.
Ace terdiam tanpa berkata-kata apa-apa, ucapan Arthur memang benar dan sesuai dengan kenyataan. Faktanya, memang banyak remaja yang bergabung dalam pasukan Fergie, namun hanya ada beberapa dari mereka yang memiliki mental besar dan tidak takut mati.
Dan mereka yang tidak memiliki mental selalu gugur dalam pertempuran. Sebab, mereka lebih memilih kabur jika bertemu dengan hantu legenda. Sehingga memudahkan hantu itu untuk membunuhnya karena tidak perlu melakukan perlawanan yang sengit.
"Oh iya Ace, kapan kita akan melawan Vampiro?" Tanya Arthur di saat Ace masih terdiam.
"Secepatnya, berita tentang kekalahan dua hantu legenda pasti sudah terdengar ke telinga hantu legenda yang lainnya" jawab Ace.
"Hmm? Memangnya kenapa jika beritanya sudah tersebar?" Tanya Arthur yang kebingungan.
"Heh, bisakah kau membayangkan jika hantu legenda bekerja sama melawan kita?" Tanya Ace balik dengan senyuman sinis di wajahnya.
"Hehe, sepertinya menarik" sahut Arthur dengan tawa kecil.
Mereka berdua tidak sadar, kalau saat ini di suatu kastil yang terletak sangat jauh dari tempat tinggal koloni mereka, tiga hantu legenda telah resmi membentuk sebuah aliansi untuk melawan Fergie dan pasukannya.
Vampiro, Albert dan Annabelle, tiga hantu legenda itu bergabung dalam satu aliansi. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang besar dan sangat sulit untuk di kalahkan, apalagi sekarang mereka bertiga telah bekerja sama.
Tentu saja ini akan menjadi pr bagi Arthur dan teman-temannya, sebab dalam pertempuran selanjutnya, mereka akan menghadapi 3 hantu legenda sekaligus.
Namun, nampaknya hal itu tidak akan pernah terjadi. Kemungkinan, aliansi itu hanya akan tersisa dua hantu saja yang masih bergabung. Sebab saat ini, dalam perjalanan pulang, Albert sang hantu legenda ke 4, ia di hadang oleh tamu yang tak ia undang.
"Minggir lah Venus! Aku tidak ingin melawanmu di sini!" Seru Albert yang sedang berada di dalam kereta kudanya.
Ya, Albert yang sedang dalam perjalanan pulang tiba-tiba di hadang oleh Venus di tengah jalan. Venus menguping pembicaraan Albert bersama Vampiro dan Annabelle sewaktu di kastil tadi, dan ia memutuskan untuk mengikuti Albert dari atas agar Albert tidak menyadari kehadirannya.
"Aliansi? Itu adalah hal terbodoh yang pernah aku dengar dari mulut hantu legenda" ucap Venus seraya mengibaskan tangannya.
Tubuh Kusir, sang hantu tanpa kepala yang mengendalikan kereta kuda itu langsung terbelah menjadi dua bagian setelah Venus mengibaskan tangannya. Menyadari anak buahnya telah di bunuh, Albert pun memutuskan untuk keluar.
"Apa kau sadar kalau kau baru saja melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar?" Tanya Albert dengan nada yang dingin, ia sedang berdiri di atas kereta kudanya sekarang.
"Membentuk sebuah aliansi hanya demi menghadapi sekumpulan manusia pengguna Angel, apakah kalian selemah itu?!!" Seru Venus hingga mengeluarkan sebuah gelombang energi yang sangat besar.
"Tujuan kami hanyalah bocah pengguna Demon itu, bisakah kau tidak menghalangi tujuan kami?!" Seru Albert balik.
"Jangan konyol, tidak ada yang boleh menyentuh anak itu selain aku!" Tegas Venus.
Hantu legenda ke 12 itu pun mulai mengeluarkan kekuatannya. Samar-samar Morning Star mulai muncul dari belakangnya. Melihat hal itu, Albert pun juga mengeluarkan kekuatannya, ia mencabut pohon-pohon di sekitarnya tanpa menyentuhnya sama sekali. Pohon-pohon itu pun langsung memahat dengan sendirinya dan akhirnya membentuk runcing seperti sebuah pensil.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini" ujar Venus sembari melesatkan serangannya.
"Akulah yang seharusnya mengatakan itu!!" Pohon pohon runcing yang melayang itu pun langsung melesat menuju ke arah Venus berdiri.