
"Arthur?" Ucap Ace ketika menoleh ke belakang.
Nampaknya, orang yang memanggil mereka adalah Arthur. Melihat Arthur yang berjalan ke arahnya, Avis merasa sangat senang, ia langsung berlari menghampiri Arthur dan memeluk kakinya.
"Hei Avis ada apa? Kau terlihat senang sekali hari ini" ucap Arthur ketika memegang kedua bahu Avis.
"Kak Ace mengajakku melihat pemandangan yang indah" jawab Avis dengan riang.
"Ah begitu ya, itu bagus, Ace jaga dia untukku!" Ujar Arthur kepada Ace sembari mengedipkan sebelah matanya.
Ace tidak mengerti mengapa Arthur mengedipkan satu matanya ketika berkata seperti itu, namun ia tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh.
"Ya tentu saja, ngomong-ngomong kau mau kemana?" Sahut Ace yang lanjut bertanya kepada Arthur.
"Aku? Yah aku hanya ingin mencari udara segar di luar" jawab Arthur.
"Kalau begitu kenapa kau tidak ikut dengan kami saja?" Tawar Ace.
"Iya benar, kak Arthur ikut dengan kita saja!" Timpal Avis dengan penuh antusias.
"Ah! Hehehe, maaf tapi aku ingin keluar sebentar saja" tolak Arthur dengan sopan agar tidak menyakiti perasaan Avis.
Ace hanya menganggukkan kepalanya, namun Clara langsung memasang ekspresi curiga ketika mendengar ucapan Arthur. Ia seperti merasakan sebuah kebohongan yang tersirat di kata-kata yang keluar mulut Arthur.
"Aku ikut denganmu!" Ucap Clara dengan tegas.
"Clara?" Astrid dan Fiona sama-sama tak percaya ketika mendengar ucapan Clara.
Melihat akan ada drama yang terjadi, Ace pun langsung menuntun Avis pergi dan menghindar dari ketiga temannya itu.
"Ikut? Tidak! Kau tidak boleh ikut!" Tolak Arthur dengan tegas.
"Kau benar-benar mencurigakan!" Balas Clara.
Mereka berdua pun saling beradu tatapan satu sama lain, kejadian itu justru di salah artikan oleh Astrid dan Viona. Mereka berdua mengira kalau Arthur dan Clara sedang bertatapan karena jatuh cinta.
"Eh... Kami pergi dulu" Fiona memberikan isyarat kepada Astrid dengan cara menyenggol lengannya.
Astrid pun mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Fiona tersebut dan langsung pergi bersama Fiona.
"Iya, ada hal yang ingin kami lakukan" ucap Astrid yang sudah pergi sembari merangkul Fiona.
Clara paham betul apa yang ada di pikiran dua temannya itu, ia terus menatap mereka dengan tajam seiring Astrid dan Fiona melangkahkan kakinya.
"Aku pergi dulu" ucapan Arthur tersebut sontak langsung mengalihkan perhatian Clara.
Dengan sigap, ia langsung menghalangi langkah Arthur dan merentangkan kedua tangannya.
"Tidak! Kau hanya boleh pergi jika kau mengijinkan ku untuk ikut!" Ucap Clara.
"Clara aku mohon, aku tidak mau berdebat sekarang, aku butuh waktu untuk menyendiri" Arthur memohon kepada Clara agar membiarkannya lewat.
Namun, Clara tidak bergeming sama sekali dan tetap berdiri di depan Arthur. Ia tahu ada yang tak beres dengan Arthur, oleh karena itulah Clara tidak ingin membiarkan Arthur pergi sendirian.
"Kau sedang ada masalah ya? Ceritakan saja, aku akan mendengarkan mu" ujar Clara.
"Tidak tidak, aku tidak ada masalah apapun, aku hanya ingin mencari udara segar" Arthur mencoba untuk menyingkirkan tubuh Clara dari hadapannya.
Namun Clara tetap kekeuh dan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Arthur mulai kesal dengan tingkah Clara, namun ia masih mencoba untuk menghadapinya dengan sabar.
"Clara, aku mohon biarkan aku pergi, aku tidak akan kemana-mana, aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar di luar" Arthur terus memohon kepada Clara agar membiarkannya lewat.
Kesabaran Arthur sudah habis, ia pun akhirnya mengijinkan Clara untuk ikut agar ia bisa pergi sekarang.
"Yaya baiklah! Kau boleh ikut!" Decak Arthur.
"Nah begitu dong!" Clara pun akhirnya menyingkir dan memperbolehkan Arthur untuk lewat.
Dengan wajah kesal, Arthur melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan di ikuti oleh Clara di belakangnya. Firasat Clara memang benar, Arthur memang berniat pergi dari koloni ini sekarang untuk menghadapi Vampiro sendirian.
Bahkan, Arthur meminta ijin terlebih dahulu kepada Fergie sebelum ia melakukan ini. Arthur merasa bahwa percuma saja ia berbicara kepada Fergie, orang tua itu tidak akan pernah mengijinkan niatnya untuk pergi bertempur sendirian.
Karena itulah Arthur memutuskan untuk pergi sendirian tanpa ijin dari siapapun, namun sial ia harus menghadapi Clara sekarang.
"Arthur, kita mau kemana?" Tanya Clara setelah keluar dari gerbang.
"Jalan-jalan sebentar" jawab Arthur basa-basi.
Saat ini, Arthur sedang memikirkan sebuah cara bagaimana agar ia bisa berpisah dari Clara, Arthur tidak mau Clara mengetahui rencananya. Karena itu ia terus berpikir keras bagaimana caranya menyingkirkan gadis itu tanpa menyakitinya.
"Arthur, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau terlihat sangat murung seperti itu?" Tanya Clara kepada Arthur.
Ia merasa heran ketika melihat Arthur yang terus merenung dan memandang ke bawah. Clara tahu bahwa temannya itu sedang memikirkan sesuatu namun ia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Arthur.
"Tidak ada apa-apa" bohong Arthur.
"Jujur saja, aku tahu isi pikiran mu sekarang" ujar Clara secara tiba-tiba.
Arthur sempat terkejut ketika mendengar ucapan itu, namun ia langsung mengendalikan sikapnya agar Clara tidak merasa curiga kepadanya.
"Tidak ada yang aku pikirkan, dan kau juga tidak usah sok tahu!" Ledek Arthur.
"Kau itu tidak pandai berbohong sama sekali" timpal Clara.
"Aku tidak berbohong" sanggah Arthur.
"Huh... Kau sedang memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan aku kan? Agar kau bisa pergi dari koloni ini" ucap Clara dengan ekspresi lesu.
Langkah Arthur seketika terhenti setelah ia mendengar ucapan itu, tentu saja ia merasa kaget, bagaimana tidak? Clara ternyata tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Bahkan ucapan Clara seratus persen benar dan tidak meleset sedikitpun.
Clara melihat Arthur yang sedang terkejut, ia pun lalu menjelaskan tentang kekuatan dari Angelnya.
"Arthur, Medusa ku bisa melihat pikiran seorang laki-laki, jadi tidak ada gunanya berbohong kepadaku" tutur Clara.
"Kau punya kekuatan seperti itu? Tapi kenapa..."
"Aku sengaja merahasiakannya, aku tidak ingin kekuatan Angel ku di ketahui oleh banyak orang karena..." Clara tidak meneruskan kalimatnya.
Hal itu pun membuat Arthur kebingungan dan merasa penasaran, mengapa Clara menyembunyikan kekuatan yang sangat berguna seperti itu dari timnya sendiri.
"Karena apa?" Tanya Arthur yang sudah merasa penasaran.
"Karena ada seorang penghianat di dalam koloni kita" ucap Clara.
"Penghianat?!" Arthur kembali di buat terkejut dengan ucapan Clara.
"Iya Arthur, di dalam koloni kita, ada seorang manusia yang mengabdikan hidupnya kepada hantu" jelas Clara kepada Arthur.