
Perlahan Chu Yue membuka mata nya, kini tubuh nya terbaring tak berdaya. Ia seperti tidak punya tenaga untuk sekedar duduk saja.
Kemudian ia mendengar satu persatu suara kaki yang berlarian dengan cepat. Ia lalu menoleh menatap orang-orang yang kini perlahan berhenti dan menatap nya.
Chu Yue mengernyitkan dahi nya, kemudian ia melihat kebelakang nya lagi, ada banyak orang yang ia kenal namun ia seakan-akan lupa nama mereka semua.
"Mereka yang memakan tubuh Dewi harapan akan menjadi abadi?."
Bola Mata Chu Yue bergerak, mencari asal suara. Itu suara yang sering ia dengar, namun dia juga lupa suara itu milik siapa.
"Arkhh." Chu Yue mengeram sakit, seseorang menggigit kaki nya.
Perlahan satu persatu orang yang ia lihat mulai mengerubungi nya, menggigit dan mengoyak tubuh nya.
Chu Yue meringis kesakitan, namun tak ada yang perduli. Mereka bagaikan kawanan serigala yang memakan mangsa nya.
Ia ingin bangun, dan melawan. Atau setidak nya ia bisa mengeluarkan suara nya, namun bahkan bibir nya tak bisa terbuka.
Telinga nya berdengung lagi, Kepala nya tiba-tiba menjadi sangat sakit. Satu persatu ingatan muncul di kepala nya, namun....
Ini bukan ingatan nya.
Chu Yue kembali membuka mata nya, keringat membasahi seluruh tubuh nya. Kini ia tidak terbaring lagi, namun berada tak jauh dari tubuh yang kini sedang dipotong-potong bagaikan hewan.
Tangan Chu Yue terkepal erat, "KALIAN IBLIS."
Chu Yue berlari dan menyerang orang-orang yang memotong tubuh nya itu, namun tak bisa.
Ia terdiam dan menatap kepala yang tanpa tubuh itu. Menyadari sesuatu, ia terduduk dengan air mata yang satu persatu jatuh ke tanah.
"Kenapa begitu bodoh?."
"Kenapa begitu baik hati?."
"Kenapa?."
"Aku Dewi harapan akan mewujudkan keinginan kalian."
"Iblis itu tidak akan datang lagi aku berjanji."
"Aku akan mengajarkan kalian bagaimana menyerap energi murni bumi, agar setelah aku pergi kalian dapat melindungi diri kalian sendiri dari setiap masalah."
"Aku akan membantu."
"Maafkan aku, tapi tidak semua nya dapat menjadi Kultivator."
"Aku akan mencoba mencari cara nya."
"Maaf aku harus pergi namun aku berjanji akan kembali."
"Kenapa kau harus meminta maaf? Kenapa kau harus kembali? Harus nya kau tinggalkan makhluk serakah itu." lirih Chu Yue.
Kemudian seperti sebelum nya ia berpindah tempat lagi, didepan nya seorang gadis kecil berumur tujuh tahun dengan wajah yang mirip dengan nya itu menukar sejumlah sayur dengan makanan sisa.
Chu Yue lalu mengikuti gadis kecil itu, ia berjalan menuju ke tempat yang kumuh, dan memasuki sebuah rumah kecil dimana terdapat seorang wanita yang terbaring sakit.
Adegan didepan nya terus berjalan, gadis kecil itu berbicara dengan ibu nya lalu memberi nya makan.
Tak lama kemudian sebuah suara gertakan terdengar, membuat gadis kecil itu segera mengintip.
Chu Yue juga ikut melihat keluar, ada puluhan prajurit yang kini sedang menangkap orang-orang.
Gadis kecil itu dengan segera menyembunyikan ibu nya dibawah kasur, dan dia segera memasuki sebuah keranjang besar dan menutupi nya dengan rumput-rumput.
Sontak saja hal itu membuat gadis kecil itu melompat keluar dari keranjang dan memeluk ibu nya.
Gambaran nya berubah, gadis kecil itu kini dicambuk oleh seorang gadis seumuran dengan nya, gadis bangsawan itu menatap benci pada nya, "Kau tau wajahmu itu adalah aib."
Gadis itu menangis dengan diam, Chu Yue mengulurkan tangan ingin menghentikan, namun ia sadar itu kehidupan lain dan dia tidak bisa masuk kedalam nya.
Chu Yue terus melihat bagaimana gadis kecil itu bekerja keras, dia tidak menyalahkan siapapun atas nasib nya.
Ia bagaikan gadis bisu yang hanya bisa mengangguk dan menggeleng.
Tak pernah mengeluh, tak pernah berbicara, sekalipun dimarahi bahkan dipukul air mata nya tak lagi mengalir.
Perlahan ia mulai beranjak remaja, tak bisa dipungkiri Gadis remaja itu begitu cantik, walau belum sepenuh nya mekar namun kecantikan nya dapat membuat bunga menjadi layu berada didekat nya.
Karena itu juga ada banyak orang yang menyukai nya, dari seorang pelayan hingga bangsawan.
Setiap kali seorang bangsawan berkunjung ke kediaman Tuan nya, ia akan menjadi pusat perhatian bahkan saat pesta nona nya.
Walau ia hanya memakai pakaian yang lusuh pun, kecantikan nya tak bisa tertutupi.
Hal ini membuat Nona nya murka, ia memukuli nya dengan kejam, bahkan membakar wajah nya hingga ia menjadi cacat lalu ia dibuang ke jalanan.
Sekalipun hal itu terjadi, lagi-lagi gadis itu tak menangis, ia seperti sudah terbiasa dengan keadaan nya.
Di ujung tebing ia menatap pemandangan didepan nya dengan kosong, "Dunia bagaikan neraka, Kehidupan selalu diselimuti oleh kesakitan, jeritan tak dapat ku keluarkan, air mata bahkan tak dapat menetes. Dewa jika aku mati akankah aku mendapat surga?."
"Takdir sudah dituliskan, namun kebanyakan orang menyalahkan orang lain atas keadaan nya. Gadis yang bahkan tak pernah membandingkan nasib nya juga tak pernah menyalahkan takdir nya. Aku harap setidak nya dewa akan sedikit berbaik hati pada nya." Ucap Chu Yue.
Gadis itu menutup mata nya, merasakan angin dingin menerpanya , perlahan tubuh nya mulai jatuh ke tebing seperti bunga yang gugur dari pohon nya.
Chu Yue membulatkan mata nya, dengan cepat ia berlari ingin menggapai gadis itu namun terlambat tubuh nya telah terjatuh.
Kini ia berpindah tempat, entah apa yang terjadi setelah ia terjatuh namun tampak nya ia selamat karena kini gadis itu tengah menumbuk sebuah tanaman obat dengan menggunakan cadar.
Ia merawat seorang Pria dengan baju yang penuh darah, tatapan nya tampak dingin tak bernyawa.
Namun kebaikan nya tetap ada.
Waktu berlalu dengan lambat, namun bagi Chu Yue itu hanya sekejap mata, begitu cepat.
Gadis remaja dengan mata dingin itu perlahan mulai menghangat karena pria yang ia tolong, benih-benih cinta mulai terlihat.
Chu Yue tersenyum kosong, "Pria yang ditemui tanpa sengaja, tak yakin apakah dia akan tetap disisinya?."
Kata cinta pun saling terucap, namun sayang sang Pria kemudian pergi tanpa berpamitan.
"Mereka berdua sama-sama menderita, yang satu harus meninggalkan orang yang dicintai nya dan satu lagi ditinggalkan tanpa tau alasan. Entah kenapa menyangkut cinta mereka selalu tak pernah jujur. Tidak tau apakah aku yang tak paham atau mereka yang memang ingin kesakitan?."
Sang wanita yang kini kembali kesepian, hidup nya kembali merana, tak tau tujuan akan masa depan nya.
Apakah hanya duduk sendirian menunggu kematian?
Didepan gubuk nya, ia menutup mata nya kembali seperti ke tahun dimana Chu Yue melihat nya bunuh diri.
Namun kali ini....
Ia ditangkap oleh beberapa prajurit yang entah dari mana asal nya. Wanita itu tak melawan, dan hanya bisa pasrah mengikuti keadaan.
Cadar nya kemudian terbuka menampakkan kecantikan yang sangat mempesona.
Tanpa sadar Chu Yue memegang wajah nya, "Apa ini kehidupan ku yang sebelum nya?."