The Legend Of Chu Yue

The Legend Of Chu Yue
Takdir pilihan nya



Raja Yi terus menatap Liang Chen, ia kemudian menghela nafas pelan, "Maafkan aku."


Tiba-tiba suara berisik datang bersamaan dengan muncul seorang Pria.


"Chenchen, apa yang terjadi?." Ucap nya segera menghampiri Liang Chen dan menatap nya.


"Hao'er kau bisa tenang?." Ucap Raja Yi dan mendapat gelengan keras dari Hao'er.


"Kultivasi nya menurun, dia tidak akan bisa sadar dalam waktu dekat. Bagaimana aku bisa tenang?." Ucap nya marah, "Katakan kenapa Chenchen bisa seperti ini?."


Sebelum Raja Yi menjawab, ia dengan cepat berkata, "Apa karena Yongshen itu? Dengan sifat Chenchen dia pasti mencari bahan untuk penawar racun Gu,"


Raja Yi mengangguk membenarkan.


"Kenapa kau tidak menghalangi nya untuk pergi?." ucap nya lagi menyalahkan Raja Yi.


Chu Yue menatap orang yang dipanggil Hao'er itu dengan seksama, "Kenapa aku seperti pernah melihat nya?."


"Hao'er apa kau tidak bisa bersikap sopan pada pamanmu?." Tegur Raja Yi.


Dengan cepat Hao'er diam dan merengut sambil duduk di samping Liang Chen.


....


"Yang Mulia, akhir nya kau bangun." Ucap Wu Jia dan dengan cepat membantu Pangeran Qing untuk bangun.


"Liang Chen." Panggil Pangeran Qing dengan lemah.


Wu Jia menggertakkan gigi nya, dan berucap dengan lembut, "Ini aku Wu Jia, Pangeran."


Mendengar hal itu, segera Pangeran Qing menggeser tubuh nya dari Wu Jia.


"Dimana Liang Chen?."


"Nona Liang Chen saat ini dalam pengasingan." Jawab Wu Jia.


Pangeran Qing diam, tak lanjut bertanya.


Setelah beberapa hari sembuh, Pangeran Qing berjalan-jalan disekitar kediaman nya.


Di Jalan ia melihat Wu Jia yang sedang mengobrol dengan Ibu nya dengan riang.


Pangeran Qing merasa sedikit kesepian, Liang Chen belum keluar dari pengasingan nya.


Dan ia belum boleh bertugas lagi.


"Yongshen, ayo bergabung." Ucap Ibu nya menarik Yongshen duduk di samping nya.


Pangeran Qing mengangguk dan tersenyum, "Seperti nya ada pembicaraan yang menarik."


"Memang, Wu Jia sering-sering lah kemari menghibur ibu."


Wu Jia tersenyum simpul dan mengangguk malu, "Aku akan."


"Aihh, Jika saja Wu Jia terlahir di keluarga Liang, lebih baik kau menikah dengan nya." Ucap Ibu Pangeran Qing sedikit mengeluh, "Liang chen itu tidak hanya tidak pernah menjenguk mu, bahkan seperti nya dia tidak peduli padamu."


"Liang Chen tidak pernah menjengukku?." Tanya pangeran Qing terkejut.


Ibu Pangeran Qing mengangguk, "Sekalipun tidak pernah."


Chu Yue yang mendengar pembicaraan itu merasa geram, ia ingin sekali menjahit kedua mulut wanita-wanita itu.


Bagaimana Liang Chen punya waktu untuk menjenguknya, dia terlalu sibuk untuk menyembuhkan kekasih nya.


Namun kemudian kekesalan Chu Yue tergantikan dengan rasa kecewa, "Bahkan hanya karena perkataan itu, dia mulai ragu. Dia tidak pantas untuk Liang Qing ."


Chu yue secara bergantian mengawasi Pangeran Qing dan Liang Chen. Ia semakin mengerti kenapa Liang Chen kecewa pada Pangeran Qing.


Wu Jia bahkan semakin berani untuk menggoda Pangeran Qing, dan Pria itu pun hanya menerima nya.


Sungguh mengesalkan hati.


....


Chu Yue kemudian berbalik dan hendak pergi melihat Liang Chen, namun tiba-tiba dunia disekitar nya seperti berputar.


"Liang Chen, hanya karena kau Putri Keluarga Liang yang asli kau tidak bisa seenak nya pada Wu Jia.".


Chu Yue mengernyitkan dahi nya ketika mendengar suara Pangeran Qing yang tampak marah dibelakang nya.


Ia berbalik lagi, kediaman Pangeran Qing dihias sedemikan rupa. Namun seperti nya keindahan itu tidak menarik perhatian ketika Pangeran Qing kini memarahi Liang Chen didepan umum.


"Seenak nya? Yongshen memang nya apa yang kulakukan pada nya?." Ucap Liang Chen membalas Pangeran Qing.


"Kau menyuruh nya mengambil makanan dan juga menyuruh nya mengambil hadiah, kau menyuruh nya berjalan ke sana dan kesini. Liang chen dia bukan pelayan lagi." Jawab Pangeran Qing dengan raut kecewa pada Liang Chen.


Liang Chen berdecak kesal sambil melirik tangan Pangeran Qing yang memegang tangan Wu Jia, "Seekor burung seperti nya sudah menganggap diri nya phoenix."


"Liang Chen." Tegur Pangeran Qing ketika Liang Chen menyindir Wu Jia.


Liang Chen yang ditegur seperti itu menatap tajam Yongshen, "Aku yang memberikan kedudukan nya saat ini, namun seperti nya dia melupakan nya. Dia menganggap nona muda yang asli, mencuri seluruh hati ayahku, dan sekarang kau..."


"Wu Jia... Kau seekor rubah licik." Ucap Liang Chen memandang Wu Jia rendah.


Plakk


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Liang Chen, Chu Yue membulatkan mata nya begitu pula Liang Chen, ia menatap tak percaya pada Pria didepan nya.


"Liang Chen, kau hanya mengejar Kultivasimu, tak perduli pada orang-orang disekitar mu. Bagaimana kau bisa berharap orang-orang akan mencintaimu?." Ucap Pangeran Qing kemudian menarik Wu Jia pergi, meninggalkan Liang Chen yang kini menjadi tertawaan semua orang.


Liang Chen terdiam kaku, mata nya mulai berair, pandangan nya mulai buram, ia segera berlari pergi dari tempat itu menuju hutan yang sepi.


Kepala nya mulai terasa berat dan dada nya terasa sakit, mata nya kini tak melihat lagi, ia meraba-raba sekitar nya dan kemudian sebuah tangan menarik tubuh nya dan memeluk nya.


"Guru, Apa aku akan menjadi tak berguna?." Ucap nya sebelum ia pingsan.


..._&_&_...


Chu Yue menatap Liang Chen dengan cemas, jika ia tak salah maka dalam waktu dekat Liang Chen akan bunuh diri.


Namun Apa hanya karena masalah itu?


Walau Chu yue tidak tau apa yang terjadi, namun dengan sifat Liang Chen, dia tidak akan menyuruh Wu Jia lagi karena dia menganggap Wu Jia sebagai adik nya.


"Paman, apa yang terjadi?."


"Kenapa Kultivasi nya menurun?." Ucap nya lagi memandang Liang Chen cemas.


"Hao'er." panggil Raja Yi.


"Qing Hao'er, harus nya kau tidak pergi kesini lagi. Kau masuk dengan tergesa-gesa dan pulang dengan wajah sedih, ini akan membuat orang lain curiga." Ucap Raja Yi dan mendapat tatapan tajam dari Qing Hao.


"Paman, beri tahu saja kondisi Liang Chen yang sebenar nya." Ucap Qing Hao kemudian melanjutkan, "Aku ingin Yongshen menyesal karena memarahi nya. Memang nya dia siapa? Dia bahkan menampar Liang Chen."


"Liang Chen tidak ingin siapapun khawatir akan kondisi nya."


"Tapi dia membuat semua orang memandang nya rendah." Ucap Qing Hao kemudian menghembuskan nafas pelan.


Ia mengelus wajah Liang Chen pelan dan memegang tangan nya, "Jika aku tau dia akan seperti ini, aku tidak akan melakukan nya."


"Ini bukan salahmu, tapi ini takdir pilihan nya." Ucap Raja Yi memandang Liang Chen dengan


tatapan yang tak bisa dimengerti.