
"Lan Long apa maksudmu dengan memberikan nya Mata Elang?."
Seekor harimau emas yang berada didalam kandang perak menatap tajam Naga biru yang berada di luar.
Harimau itu mengeram marah, dan semakin menatap Naga itu tajam seakan ingin memakan nya.
"Jin Hu, aku hanya ingin ia melewati kehidupan ini dengan lebih sedikit penderitaan."
Harimau itu memukul Kandang itu kesal, dan menatap Lan Long mengejek, "Dengan ingin membuat nya buta? Lan Long kau tau bukan setiap barang pasti ada harga nya? Dan harga dari Mata Elang, kau sangat paham, tapi kenapa kau masih memberikan nya?."
"Jin Hu, aku...aku mengintip catatan takdir Chu Yue dan Dewi Air mengatakan jika ia buta maka setidak nya penderitaan nya tidak terlalu besar."
Mendengar perkataan Lan Long, Jin Hu menendang Kandang itu semakin kuat, "Lan Long kau bodoh? Api dan air tidak akan bisa bersatu, dan kau malah menerima saran dari Dewi munafik itu? Lan Long kau sangat naif, sangaattt naif. Kemana kebijaksanaan mu itu?."
"Kau pemimpin kami, tapi sekarang? Aku tidak ingin mengakui mu lagi sebagai pemimpin." lanjut nya lagi dengan raut kecewa.
Perlahan air mata mengalir dari pelupuk mata nya, "Lan Long kau tau? Kehidupan dimana ia buta, dan suaminya selingkuh didepan nya tapi ia sama sekali tidak melihat itu. Atau ketika orang membohongi nya karena ia buta? Atau saat dia mati ditangan orang tua yang ia percaya bahwa mereka masih menyayangi nya?."
"Masing-masing kehidupan nya melahirkan sumpah. Sumpah untuk tidak membantu tanpa mendapat imbalan, sumpah tidak akan pernah setia, Sumpah akan membalas dendam pada siapapun yang menyakiti nya, Sumpah untuk tidak akan pernah baik lagi."
Harimau itu mengangkat pandangan nya menatap Lan Long, " Lan Long hanya untuk menjadi Dewi Langit, dia melewati setiap cobaan. Tapi bahkan langit sama sekali tidak berbelas kasih pada nya, setiap ujian itu dia mengingat penderitaan nya dengan jelas. Di makam ibu nya, dia menangis sambil memegang dada nya, menangis hingga air mata tergantikan dengan darah."
"Kali ini, Jika bukan karena Putra mahkota Langit bersedia menjalani siksaan Neraka ke 99. Apa Menurutmu Mereka Akan Membuat Dewi Melupakan Nya?."
"Dewi Ku itu sangat baik, hati nya serapuh permen kaca. Kau sentuh sedikit saja ia bisa hancur. Ia tau bahwa itu bukan mereka, namun tetap saja..."
Jin Hu terdiam sesaat kemudian ia menabrakkan diri nya ke kandang dan dengan sekali tabrakan Kandang itu hancur dan Jin Hu berlari dengan cepat bagaikan angin.
"Lan Long aku akan mendampingi Dewi Ku."
Lan Long terdiam membisu menatap angin yang membawa Jin Hu. Ia kemudian berubah menjadi manusia, sangat tampan, sangat berwibawa dan terlihat penuh kebijaksanaan.
Ya terlihat, karena kali ini dia mengambil keputusan yang salah. Dia.. Lupa. Dia lupa akan penderitaan dewi nya, dia lupa akan setiap keluh kesah dewi nya. Dia... hanya seorang Naga biasa yang panik karena keadaan.
..._&_&_...
"Yue ying apa kau sudah mendapatkan petunjuk nya?." tanya Xue Yang.
Chu Yue menggeleng, "Aku berusaha mencari nya namun aku belum dapat menemukan nya."
"Perjamuan, kalian pergi saja terlebih dahulu. Setelah aku mendapatkan jawaban nya, aku akan menyusul."
Xue Yang, Zhan Feng dan yang lain nya mengangguk, "Kalau begitu kami pergi dulu."
"Maka, aku akan berusaha mencari tau lagi."
Chu Yue kembali ke kamar nya dan kemudian ke Ruang kosong. Ia segera bermeditasi dan membaca buku yang diberikan guru nya.
Berusaha mencari tau bagaimana cara membasmi Makhluk itu.
..._&_&_...
"Ketua Lin, kudengar kali ini Tuan muda lembah keabadian juga datang membantu bukan?." Ucap Ketua Sekte Honglingjin.
"Benar, benar bahkan Tuan Menara pembunuhan juga akan datang." Balas Ketua Lin.
Ketua Sekte Tiankong minum kemudian ia mendesah pelan, "Jika saja ada generasi seperti 4 pendekar kelana, bukankah akan lebih mudah? Bahkan Tuan muda lembah keabadian sudah diminta kesini."
"Ketua Tian, jangan membicarakan masa lalu. Bahkan betapa hebat nya mereka pada akhir nya hanya kehancuran yang mereka dapatkan. Cinta abadi? Cuihh dia bahkan hamil tidak tau anak siapa." Ucap Ketua Sekte Mei.
"Ketua Mei, bukankah sangat keterlaluan mengatakan itu?."
Tiba-tiba Tetua Mu datang dengan wajah masam, diikuti 3 tetua lain nya dan juga Ketua Sekte Pusat.
Dibelakang mereka para tuan dan nona muda berjalan dengan langkah tegap, tatapan mereka seakan mereka di atas segala nya, kecuali Xia Zixin ia terlihat pemalu dan cenderung penakut.
Semua orang duduk sesuai dengan urutan kedudukan mereka, dan Tetua Mu duduk di depan sebagai pemimpin.
"Jika kalian membicarakan masa lalu, maka mari kita bicarakan." Ucap Tetua Jiang dengan bersemangat.
Ia kemudian menunjuk Ketua Sekte Mei yang merupakan seorang perempuan, "Ketua Mei, aku ingat dulu kau adalah Pelayan pribadi dari Mu Yue kan. Saat itu kau seusia nya, aih tapi kau mencintai Li Xuanyuan juga dan mengatakan keburukan nya pada Mu Yue hingga mereka berdua bertengkar."
Mendengar hal itu Ketua Mei memukul meja dengan keras, Tetua Jiang tertawa dan menggelengkan kepala nya. Saat tawa nya reda ia menggeleng pelan dan mendesah kecewa, "Tidak tau hal buruk apa yang dilakukan Mu Yue hingga mendapat pelayan seburuk itu. Bahkan dia menyebarkan raha--."
"PENATUA JIANG." Ketua Mei berteriak, wajah nya memerah malu, dan nafas nya memburu.
"Ei lihat sudah marah." Tetua Jiang berdecak pelan, dan kemudian menatap Ketua Mei dingin.
"Seperti nya ada perang dingin disini."
Seorang Pria berpakaian hitam dengan topeng yang menutupi setengah wajah nya datang dengan langkah pelan, setiap langkah bagaikan ia datang untuk mencabut nyawamu.
Saat salah satu sudut bibir nya naik seakan dia ingin menyiksamu.
Hawa gelap seakan menyebar ke seluruh ruangan. Benar-benar Tuan Muda Menara pembunuhan.
"Tuan Muda Zhang." Beberapa Ketua dan Tetua Sekte Iblis memberi hormat, dan dari Sekte kebenaran hanya sebagian yang memberi hormat selebihnya menatap Zhang Bingjie dengan tatapan tajam.
"Ketua Song, aku tidak terlambat bukan?."
Ketua Song segera menggeleng, "Tidak, kau sama sekali tidak terlambat."
Tak lama Xue Yang dan teman-teman nya datang. Hawa gelap yang tadi nya menyebar tergantikan dengan Aura Xue Yang yang seperti menyebarkan Cahaya.
Postur tubuh nya yang luar biasa, setiap Langkah yang di lalui nya seperti akan ada bunga yang akan mekar.
Wajah nya yang tanpa senyuman namun dapat membawa ketenangan. Hal ini benar-benar membuat orang jatuh hati.
"Salam Para tetua."
Xue Yang, Zhan Feng dan teman-teman nya memberi hormat dan tanpa sadar setiap orang juga berdiri dan memberi hormat.
Beberapa perempuan bahkan tidak memalingkan pandangan nya dari Xue Yang.
"Tuan Muda Xue Yang silahkan duduk." Ucap Ketua Lin ramah.
Ketua Lin menatap murid Sekte Jun satu persatu kemudian ia menatap Xue Yang yang sudah duduk.
"Ini Tuan muda, kemana Nona Yue?."
"Yue Ying akan menyusul dia masih mencari tau. Ketua Lin tenang saja kali ini ia akan datang." Jawab Xue Yang.
Ketua Lin tersenyum, "Kalau begitu aku tidak akan khawatir."
Ketua Lin berdiri dihadapan semua orang, "Selamat datang di Sekte Tian Long, kali ini di perjamuan ini kita akan membicarakan tentang bagaimana membasmi makhluk itu, mengembalikan ketenangan dan menciptakan kedamaian."
Para tamu bertepuk tangan, Ketua Lin kemudian melanjutkan, "Untuk hal ini mohon kerja sama dari berbagai pihak, saling membantu dan saling menghargai."
"Karena waktu yang singkat aku hanya dapat menanyai kalian semua tanpa mendapatkan jawaban nya, kali ini di perjamuan ini, aku ingin kalian menjawab hal itu."
"Ketua Lin, kau benar-benar serius?."
"Harta Sekte itu hanya bisa dipakai murid sekte itu sendiri."
"Ketua Lin dengan mengatakan hal itu bukankah hanya membocorkan rahasia kami?."
"Membocorkan apa? Rahasia apa? Bahkan dalam keadaan seperti ini, kalian masih ingin berdebat?."