
Malam harinya, setelah pulang dari Mall, Alan mengajakku berkeliling. Menyusuri jalanan di kota M dengan sepeda motor.
"Di sana ada acara apa Al?"
Mataku tertuju pada sebuah tempat terbuka yang memancarkan cahaya dari lampu sorot yang berwarna-warni. Dari kejauhan bisa kulihat tenda-tenda dengan atap mengerucut yang mengelilingi lapangan itu.
Alan mengikuti arah pandanganku. "Itu festival tahunan yang digelar dalam rangka memperingati hari jadi kota M," jelasnya. Setelah itu menoleh ke arahku dan bertanya. "Mau lihat ke sana?"
"Ya," kataku seraya menganggukkan kepala.
"Baiklah."
Alan berbelok ke kiri, menuju ke tempat tersebut dengan kecepatan sedang. Begitu sampai, Alan lekas mematikan mesin dan memarkirkan motornya di pinggir jalan. Bersebelahan dengan puluhan sepeda motor lainnya.
"Apa tidak apa-apa parkir di sini?" tanyaku begitu turun dari motor dan melepas helm.
"Tidak apa-apa, aman," jawabnya seraya melepas pelindung kepalanya. Kemudian menggantungnya di spion.
Kami berjalan beriringan memasuki lapangan yang penuh sesak oleh manusia itu. Deretan pedagang memenuhi tempat tersebut. Mulai dari penjual makanan, baju, kosmetik dan aksesoris hingga peralatan rumah tangga ada di sini. Bahkan beberapa wahana seperti kora-kora, bianglala, ombak dan komidi putar juga ada.
"Ayo naik itu, Alea," ajak Alan seraya menunjuk salah satu wahana permainan paling besar yang menjulang tinggi.
Aku menatap bianglala yang sedang berputar itu. "Itu untuk anak kecil." Aku mengingatkan.
"Orang dewasa juga bisa, ayo..." ucapnya seraya menarik tanganku. Tanpa menunggu persetujuanku Alan langsung membeli tiketnya dan ikut mengantri dengan antusias.
"Al, aku tidak--"
"Sudah giliran kita, ayo naik," selanya sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Dengan terpaksa aku mengikuti kemauannya. Aku hanya bisa pasrah saat ia menyeretku masuk ke dalam sangkar burung berukuran raksasa itu. Ya, menurutku bianglala itu sama seperti sangkar burung yang memuat manusia.
Kami duduk berhadapan. Aku mencengkram pagar besi saat bianglala itu mulai bergerak naik dan sedikit berguncang. Jantungku berdebar kencang dan telapak tanganku mulai berkeringat.
"Takut?" tanya Alan. Tangannya memegangi lututku yang gemetar.
"Ya, aku takut ketinggian," kataku dengan mata terpejam. Aku bahkan tidak berani melihat ke bawah.
"Kenapa tidak bilang?" Alan terlihat kesal sekaligus cemas.
"Bukan tidak bilang. Aku berusaha memberitahumu sebelumnya, tapi kau tidak mau dengar," jelasku.
"Itu salahku, maaf." Alan mengakui. Ia menepuk sisi di sebelahnya saat menambahkan kalimat berikutnya. "Kemarilah... duduk di sampingku."
Aku menggeleng cepat. "Tidak. Kalau aku pindah nanti jadi tidak seimbang. Aku takut jatuh."
"Tidak akan, Sayang. Percaya padaku."
Aku menggeleng sekali lagi. Cengkraman tanganku semakin kuat saat sangkar yang kami tumpangi berguncang lagi. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku menjerit ketakutan.
Alan melompat ke arahku dengan hati-hati. Menaikkan kedua kakinya di kursi yang tadi ia duduki. Kemudian menarikku ke dalam dekapannya. Wajahku terkubur di dadanya.
"Jangan takut... ada aku di sini," ucapnya sambil membelai rambutku, menenangkannya.
Aku memindahkan tanganku ke pinggangnya, memeluknya erat-erat.
"Lihat... Tidak terjadi apa-apa kan? Ini sangat aman, Sayang--jangan takut." Alan terus menenangkan aku. Tangannya tak berhenti membelai kepalaku dengan lembut.
Apa yang ia katakan seperti mantra yang sangat ajaib. Detak jantungku mulai melambat dan kembali teratur. Kakiku juga sudah berhenti gemetar. Berada dalam pelukannya membuatku merasa aman.
"Buka matamu, Alea," Titahnya seraya mengangkat wajahku dengan telunjuknya yang ia letakan di bawah dagu.
"Lihat sisi kirimu, pemandangannya bagus," imbuhnya.
Aku mengangkat kelopak mata secara perlahan dan memutar kepalaku ke kiri. Dari puncak sini bisa kulihat gedung-gedung tinggi serta bangunan-bangunan di kota M yang tampak seperti miniatur. Warna merah dan kuning dari lampu mobil berkedip di sepanjang jalan yang juga terlihat seperti mainan. Ribuan atau mungkin jutaan bintang menyebar di setiap penjuru, menambah keindahan langit malam itu.
"Wah... Indah sekali," gumamku.
"Kau lebih indah, Alea. Lebih cantik dari bulan sabit di sana."
Saat itu aku baru menyadari kalau Alan terus memandangi wajahku.
"Berhenti memandangiku, Al, kau membuatku malu," kataku seraya memalingkan wajah.
Alan tak menggubris ucapanku. Ia masih terus memandangiku, tanpa berkedip.
"Apa kau tahu... Kau terlihat lebih menggemaskan ketika sedang malu, Alea," ucapnya. "Lihat... wajahmu sangat merah, seperti udang rebus," imbuhnya dengan tawa kecil.
Alan terus menggodaku dengan mengatakan hal-hal memalukan seperti, "Aku sangat penasaran... seperti apa ekspresimu ketika malam pertama kita nanti. Saat aku menanggalkan seluruh pakaianmu dan men--"
Aku membungkam mulutnya dengan telapak tangan. "Tutup mulutmu, Al."
Bukan Alan namanya kalau dia patuh. Cecunguk itu justru bertindak semakin nakal dan juga tak tahu malu. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat telapak tanganku. Mau tak mau aku melepasnya dan ia mulai berbicara sembarangan lagi. Benar-benar menyebalkan.
Untung saja permainan itu segera berakhir. Saat itu barulah Alan berhenti. Setelah naik bianglala, Alan kembali mengajakku naik ombak banyu dan juga kora-kora.
Kedua wahana tersebut tidak terlalu menakutkan, karena tidak terlalu tinggi. Namun, tetap saja membuatku menjerit. Sementara Alan justru sangat menikmatinya. Bagaimana tidak senang, sepanjang permainan berlangsung aku terus memeluknya dengan erat. Yah, Cecunguk itu tidak akan pernah melewatkan kesempatan apapun.
Setelah itu kami kembali berkeliling dan melihat-lihat. Alan menghentikan langkahnya ketika berada di depan stand permainan lempar dart. Hadiahnya beraneka macam. Mulai dari minuman kaleng, snack, rokok dan lain sebagainya.
Alan mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu dari dompetnya dan menyerahkannya pada si penjaga yang kemudian ditukarkan dengan dua puluh anak panah berukuran kecil.
Aku mengangguk dan mengambil posisi. Kemudian melempar anak panah yang diberikan Alan.
"Yah... Meleset," gumamku saat anak panah itu melesat sangat jauh dari target.
"Bagaimana tidak meleset, caramu berdiri dan memegang panahnya saja sudah salah." Alan bergeser dan maju selangkah. Berdiri di sebelahku. "Lihat aku," titahnya. Aku lekas menoleh dan memperhatikannya.
"Tempatkan kaki kananmu di depan dan pegang panahnya seperti ini."
Aku mengikuti instruksinya dengan patuh. Seperti yang di contohkan Alan.
"Angkat ujung panahnya ke atas sedikit," titahnya lagi.
"Seperti ini?" tanyaku sambil meliriknya.
"Itu terlalu banyak, sedikit saja."
Aku kembali menurunkan ujung anak panahnya ke bawah.
"Segini?" tanyaku lagi.
"Itu menukik ke bawah, Alea. Kau mau memanah tanah?" Ia mulai tidak sabar.
Aku mengangkatnya lagi "Bagaimana kalau sekarang?"
"Kau bisa melemparnya sekarang--lurus."
Aku segera mengikuti perintahnya. Melemparkan anak panah itu ke depan. Namun, lagi-lagi melenceng.
"Aku bilang lurus, Alea. Mengapa kau membelokkan tanganmu." Alan tampak geregetan.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak membelokkannya."
"Itu akan mengenai target jika kau tidak membelokkannya." Alan kembali menyerahkan satu anak panah padaku. "Coba lagi, lempar yang lurus."
Aku mengambil ancang-ancang seperti yang di ajarkan Alan sebelumnya, lalu mulai melemparnya lagi. Hasilnya tetap sama, melenceng.
"Lurus, Alea, lurus... apa kau tidak mengerti seperti apa lurus itu!" Kesabarannya setipis tisu. Ia mudah kesal, seperti sekarang.
"Kau saja yang melempar, aku tidak bisa," kataku seraya mundur ke belakang.
Alan menatapku dengan dahi mengernyit. "Marah?" tanyanya.
"Tidak," kataku sambil menggelengkan kepala. "Aku haus, Al."
"Ayo beli minum," ucapnya seraya berbalik.
Aku menahannya yang hendak pergi. "Aku saja yang beli. Kau tunggu di sini dan lanjut main saja." kataku, m
"Baiklah," sahutnya setuju. Ia kembali ke posisinya. "Mau hadiah yang mana, Sayang?"
"Coba dapatkan itu dan yang itu juga." Aku menunjuk wafer keju dan keripik kentang, bergantian.
"Anak baik. Perusahaan sangat beruntung memiliki karyawan sepertimu yang sangat mencintai produk sendiri," ucapnya dengan wajah tersenyum.
Aku tertegun sejenak. Memandangnya dengan kagum. Alan begitu teliti dan daya ingatnya juga sangat bagus. Perusahaannya sudah memproduksi ratusan produk dan Alan mungkin mengenali semuanya. Sementara aku yang tidak memiliki begitu banyak pekerjaan... aku tidak tahu kalau itu produk dari perusahaan tempatku berkerja. Bersanding dengannya, aku benar-benar merasa sangat bodoh.
"Kalau begitu aku pergi dulu," kataku kemudian. Alan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Aku baru berjalan beberapa langkah saat Alan memanggilku.
"Alea, tunggu..."
Aku berbalik menghadapnya. "Ada apa?"
Alan mengeluarkan dompetnya dari saku celana dan menyodorkannya padaku. "Bawa ini."
Aku menggoyangkan telapak tangan, menolaknya. "Tidak perlu, Al. Aku bisa bayar sendiri."
"Pakai apa? daun?"
Aku menepuk jidat. Baru ingat kalau aku tak membawa apapun. Dompet maupun ponsel, semuanya tertinggal di rumah. Aku lantas mengambil dompetnya dan berlalu pergi.
Kedai minuman yang hendak aku beli cukup ramai, jadi harus mengantri dulu. Sembari menunggu aku membuka dompet Alan dan memeriksa isinya. Aku penasaran dengan apa yang ia katakan kemarin malam. Apa benar ia lebih tua dariku?
Aku mencabut kartu identitasnya yang terselip di dalam dompetnya itu. Ternyata benar, Alan tidak berbohong mengenai usianya. Dia benar-benar empat tahun lebih tua dariku. Tapi, bagaimana bisa dia masih terlihat semuda itu?
Saat aku sedang memikirkannya, seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dan berkata "Mbak, fotonya jatuh."
Aku menoleh ke arahnya. "Foto?" tanyaku dengan bingung.
"Iya, ini..." ucapnya seraya menyodorkan sebuah foto padaku. "Tadi jatuh pas mbak-nya ngambil KTP," imbuhnya.
"Ah..." Aku mengangguk mengerti. Aku lekas menerimanya. "Terima kasih," kataku dengan senyum tipis.
Orang itu ikut tersenyum. "Sama-sama, Mbak."
"Aku tidak menyangka orang seperti Alan juga menyimpan foto orang lain di dompetnya," gumamku saat berbalik. Aku terkejut saat memperhatikan foto itu lebih dekat. "Wanita ini..."