Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 51



"Hei ... Ale-Ale, tunggu aku."


Aku terus melangkah maju, mengabaikan Alan yang terus mengekor di belakangku. Aku baru berhenti saat ia menarik lenganku dan berdiri di hadapanku.


"Apa lagi?" kataku, kesal.


Alan tersenyum lebar, seolah tak memiliki dosa. "Apa kau marah?" tanyanya.


Kau masih bertanya apa aku marah? Tentu saja aku marah, bahkan sangat marah. Sampai rasanya ingin mencekik lehermu hingga mati. Aku ingin memakinya seperti itu tapi percuma saja. Uangku tak akan kembali meskipun aku memukulnya hingga babak belur. Hu hu hu, uang seratus juta ku, satu-satunya tabungan yang kupunya, sekarang habis sudah. Semua itu gara-gara Cecunguk sialan itu. 'Jangan khawatir Alea, aku mengenal pemilik rumah sakit ini' setiap kali mengingat kalimat yang ia ucapkan saat itu, darahku seakan mendidih. Aku ingin menerjang dan mencabik-cabik Alan. Mengubahnya menjadi serpihan-serpihan kecil.


Aku mengutuk diriku sendiri karena mempercayai bualannya. Dasar bodoh. Kukira ia benar-benar mengenal petinggi di sini. Ternyata yang ia maksud dengan 'mengenal' hanyalah tahu namanya saja tanpa memiliki koneksi. Itu sama saja nol besar, tak mempengaruhi apapun. Dengan berat hati aku mengeluarkan seluruh uang yang kupunya untuk membayar biaya rawat inapku selama sepuluh hari di tempat ini. Oh, uangku sayang, kenapa kau juga pergi meninggalkanku, hiks hiks.


Aku menghela nafas panjang, sabar. Meskipun dalam hati masih sangat dongkol tapi aku harus tetap tenang, tak boleh meledak. Bagaimana pun berandal itu sudah menyelamatkan dan menjagaku selama aku di rawat di sini.


"Aku tidak marah. Sekarang menyingkirlah, jangan menghalangi jalanku."


Alan tak menggubris ucapanku. Ia masih saja berdiri di sana, memblokir jalan. Seketika aroma mint menyeruak, menyerang inderaku saat ia melangkah mendekat. Mengikis jarak di antara kami. Ia mengulurkan tangan, membelai puncak kepalaku. "Bagus, jangan marah. Ayo kita pulang," ajaknya seraya menarik tanganku.


Entah mengapa setiap kali ia menyentuhku atau saat jarak kami terlalu dekat, detak jantungku secara otomatis akan meningkat dan aku merasa linglung. Seperti saat ini, aku tak bisa menolak ajakannya. Begitu patuh dan juga pasrah saat ia menyeretku.


Saat kembali tersadar, tahu-tahu kami berdua sudah berada di parkiran. Alan membuka pintu mobil dan mendorongku masuk ke dalam.


Aku celingak-celinguk, memperhatikan interior mobil yang saat ini ku tumpangi. Mewah, satu kata yang terlintas di otakku begitu melihatnya. Satu kata itu sudah cukup untuk menggambarkan bagian dalam Volvo ini. Aku terkagum-kagum dengan desainnya. "Mobil siapa ini, Al? Apa kali ini kau mencuri mobil orang lagi?" Aku meliriknya yang saat ini sudah duduk di sampingku.


"Apa kau selalu bersikap seperti ini pada orang lain?" tanyanya seraya mengenakan sabuk pengaman.


"Apa?" tanyaku tak mengerti maksudnya. Aku mundur ke belakang saat ia menoleh dan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku. Aroma mint kembali menyerang inderaku. Jantungku kembali berdegup lebih cepat.


"Kau selalu menuduhku yang bukan-bukan. Saat pertama kali kita bertemu kau menuduhku, perampok. Tak lama kemudian kau mengataiku berandal yang suka mengganggu. Dan sekarang, untuk kedua kalinya kau menuduhku sebagai pencuri." Setelah terdengar bunyi klik, Alan kembali menjauhkan tubuhnya. Sabuk pengaman sudah melingkar di tubuhku. Tak bisa ku pungkiri, Cecunguk itu cukup perhatian. Ia bukan hanya membukakan pintu untukku tapi memasangkan seat belt juga. Sungguh romantis. Tapi Alan tetaplah Alan, dia menyebalkan.


Kami saling beradu pandang. Saat itu wajahnya tampak kesal. "Memangnya tampangku ini seperti seorang kriminal?"


Aku berpaling dari wajahnya, beralih menatap ke kakinya yang panjang. "Celana jeans sobek-sobek, rambut acak-acakan serta satu anting dan kalung rantai ini ...," Aku menunjuk dua benda itu bergantian.


"Apa menurutmu orang lain akan menganggapmu orang baik-baik? Bangun dan sadarlah, Al, tidurmu terlalu miring. Siapapun yang melihatmu dengan penampilan seperti ini pasti mengira kau seorang berandal, preman atau bajingan."


Aku memutar bola mata, malas. Dasar narsis.


Mobil pun melaju, membelah jalanan yang saat itu cukup padat.


Meskipun tidak terlalu mengenal jalanan di kota ini, tapi kalau rute menuju tempat tinggal kami, aku sangat hafal. Saat di lampu merah seharusnya Alan belok kiri, bukan ke kanan.


"Kita mau kemana, Al?"


"Pulang," sahut Alan tanpa memalingkan pandangannya dari jalan.


"Tapi ini bukan rute menuju tempat tinggal kita," kataku, yakin.


"Jangan sok tahu," ucapnya acuh tak acuh. Mobil terus melaju kencang. Jalanan di sekitar terasa sangat asing bagiku. Aku bahkan tidak tahu sekarang ada di daerah mana. Alan juga tak mengatakan apapun, fokus mengemudi.


Setengah jam kemudian Ia menepikan mobilnya dan berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan desain modern. Setelah mematikan mesin ia bergegas turun. Berjalan mengitari mobil dengan langkah anggun, lalu membukakan pintu untukku.


"Turun, kita sudah sampai," ucapnya.


Aku masih linglung saat keluar dari mobil. Otakku bekerja dengan keras, mencoba mencerna kalimat yang di ucapkan Alan.


Dia bilang kita mau pulang, tapi kenapa malah berhenti di sini? Dimana aku sekarang? Dan rumah siapa itu? Kenapa Alan berjalan menuju ke sana?


.


.


.


.


.